ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BEKERJA SAMA


__ADS_3

Di rumah sakit Altha sudah melihat hasil laporan sambil memperhatikan kondisi korban, keadaannya penuh luka pukul yang sudah cukup lama ditubuhnya.


Orang tua korban mengatakan jika anak suka mabuk, menggunakan obat terlarang. Sudah berkali-kali dihentikan, namun korban memberontak.


Segala cara sudah dilakukan untuk menghentikan aksi tawuran yang selalu dilakukan, bahkan orang tuanya selalu membayar ganti rugi, karena ulah anaknya yang pergaulannya sudah salah.


Altha tidak terlalu mempercayai, menghubungi timnya untuk mencari tahu soal kebenaran kenakalan korban.


Dari kejauhan Aliya hanya mendengar percakapan dari gerakan mulut, senyumannya terlihat langsung melangkah pergi ke kamar jenazah.


"Hai," sapa Al tanpa ada jawaban.


"Kematian sudah menjadi pilihan, selamat menikmati kebebasan adik kecil. Kamu tidak ingin berjalan bersamaku melihat dunia yang gelap ini." Al tersenyum membuka penutup jenazah, melihat detail luka di tubuh korban.


Akibat ditabrak oleh mobil, luka paling parah terjadi di kepala yang mengakibatkan pendarahan.


Karena kecepatan mobil masih normal, tidak mungkin membuat tubuhnya remuk, luka di bagian tekuk leher terlihat aneh.


Al melihat bagian perut, menatap dada yang penuh luka. Mata Aliya terpejam, langsung berpegang kuat di pintu.


Pelukan seseorang membuat Aliya tersadar, Altha sudah ada di kamar jenazah melihat Aliya mandi keringat.


"Kamu dilarang masuk." Alt langsung menarik Aliya untuk melangkah keluar, sebelum ada yang melihatnya.


"Dia korban pelecehan secara brutal, pelakunya bukan hanya satu dua tiga empat, ada banyak orang yang melakukan secara bersamaan." Aliya langsung merinding, duduk di ruang tunggu.


"Tidak ada tanda-tanda itu Aliya, aku sudah melihatnya. Dia selalu tawuran, banyak luka ditubuhnya karena aksi ...."


"Lakukan visum, aku yakin dia memutuskan bunuh diri karena depresi." Al sangat memahami pergaulan bebas, juga sudah banyak melihat jenis pelecehan.


Melakukan visum membutuhkan waktu cukup lama, korban meninggal juga karena kecelakaan.


Keluarga korban tidak mungkin mengizinkan, Altha tidak bisa berbuat banyak apalagi tidak ada bukti.


Aliya hanya bicara sesuai pendapatan, tidak tahu pasti kapan pelecehan terjadi. Melakukan penyelidikan juga bukan hal yang mudah, juga tidak tahu awal mulainya.


"Tidak ada yang bisa dilakukan, dugaan kekerasan juga dianggap akibat tawuran, bukan sengaja di sakiti. Kasus ini akan ditutup sebagai kecelakaan, dan aksi bunuh diri." Alt menundukkan kepalanya.


"Kamu tahu kenapa aku membenci orang seperti kalian? katanya pelindung masyarakat, tapi nyatanya kalian bekerja hanya untuk atasan. Peraturan menjadi alasan." Aliya tersenyum langsung melangkah pergi, menatap Dimas yang baru muncul.

__ADS_1


Tangan Dimas menahan Al untuk berhenti ikut campur, apapun yang Al lakukan tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati.


"Jika kamu ingin menolong dia, seharusnya selamatkan dia saat masih hidup. Cara bicara kamu membuat dia memutuskan untuk mati." Dimas menatap tajam, laporan yang didapatkan Al beberapa kali menemuinya.


Senyuman Al terlihat, menepuk pundak Dimas yang terasa seperti tamparan jika yang Al lakukan hanya membuang waktu.


Altha mengerutkan keningnya melihat punggung Al pergi, menatap Dimas tajam yang membuat luka hati Al.


Meksipun Aliya terlihat tersenyum, tapi di dalam hatinya merasakan luka atas ucapan Dimas yang meremehkan.


Aliya datang menemui korban dengan niat baik agar tidak mengikuti jejaknya, tapi tujuan tulus Al tidak dihargai.


"Kenapa bicara seperti itu? Dimas kamu orang yang jauh lebih lama mengenal dia, tapi kamu juga tidak memahaminya."


"Aliya akan selalu disalahkan Altha, niat baik dia disalahartikan menjadi orang jahat. Di mata banyak orang, dia hanya pengacau yang merusak hidup orang lain." Tatapan Dimas tajam, dia sangat menyayangi Aliya sehingga tidak ingin Al berlarut-larut dalam lukanya.


"Kematian korban semakin membuat Aliya terluka, kamu tidak tahu setiap ada yang meninggal Al menyayat tubuhnya sendiri, menghukum dirinya yang gagal." Dimas langsung meminta maaf, jika dia sulit memahami Aliya yang memiliki trauma besar.


"Apa kamu ingin mengatakan jika Aliya seorang psikopat?" Alt mencengkram kerah baju Dimas, ingin melihat bukti apa saja kejahatan Al.


"Aku tidak mengatakannya, karena aku tidak melihat Aliya membunuh orang, tetapi dia membunuh dirinya sendiri berkali-kali."


"Ayo kita pulang."


"Ayo." Aliya tersenyum langsung berjalan di depan Altha sambil lompat-lompat tersenyum.


"Kenapa tidak menangis saja? aku tahu kamu terluka." Alt tersenyum melihat tawa Aliya yang terlihat palsu.


"Ayang, aku ingin tidur sebentar, nanti bangunkan ya." Al memejamkan matanya, kehabisan kata-kata untuk berbicara.


Mobil melaju menuju kediaman mereka, sesekali Altha menatap ke arah Al yang tidur dengan tenang.


Sesampainya di rumah Alt langsung menggendong ke kamarnya, membiarkan Aliya tidur lebih lama.


Pikiran Alt masih mengingat ucapan Aliya soal korban yang meninggal, mungkin orang yang mati tidak bisa hidup kembali, tapi setidaknya alasan dia mati jelas.


Altha langsung mencari tahu apa yang Aliya curiga, meksipun harus melanggar peraturan.


"Ayang Alt, kenapa tidak membangunkan? aku ingin memeluk Mora yang sudah seharian tidak menyentuhnya."

__ADS_1


"Aliya, apa kamu yakin soal pelecehan secara brutal? pelaku harus dihukum karena merusak mental korban sampai merusak hidupnya." Alt menyerahkan beberapa lembar kertas.


"Kamu mempercayai aku? atau hanya kasihan."


"Aku mempercayai keadilan, juga kamu." Senyuman Altha terlihat, duduk di samping Aliya yang mengerutkan keningnya.


"Aneh, kamu bukan Altha."


Suara Altha tertawa terdengar, dia ingin melihat akhir dari apa yang Aliya katakan soal korban. Jika memang Aliya benar, setidaknya harus ada satu orang yang mempercayainya.


Meksipun banyak orang berpikir jika Aliya psikopat kecil, bagi Altha Al gadis muda yang jenius. Dia memiliki kecerdasan, kemampuan, keberanian.


Sikap keras, ego, juga kejam bukan karena dirinya jahat, tetapi ini cara dirinya melindungi diri dari kejahatan orang lain.


"Ayo kita tangkap pelakunya, aku akan melindungi kamu."


Aliya tertawa lucu, Altha selalu mengatakan untuk melindunginya. Jika Aliya ingin mudah baginya untuk mengungkap kejahatan, tapi siapa yang akan mempercayai dirinya.


Dimas benar, kebaikan Aliya diartikan kejahatan. Sebaik apapun Al, dia tidak akan pernah benar-benar baik.


"Ayang percaya apa yang Al katakan?"


"Tidak, aku akan mencari buktinya. Mulai sekarang jika kamu melakukan sesuatu beritahu terlebih dahulu, jangan bertindak sendiri. Kita selesaikan masalah bersama-sama." Tangan Alt mengusap kepala Aliya, memintanya segera mandi.


Kening Al berkerut, tidak percaya jika Altha bisa mengatakan apa yang Al harapan dari setiap orang yang dia kenal.


"Sepertinya aku harus berhati-hati."


"Kenapa? aku akan melindungi kamu." Alt membukakan pintu melihat Mora berjalan tertawa melihat Aliya.


"Takut, ada pencuri." Al menyambut putrinya langsung mencium Mora yang tertawa bahagia.


"Tenang, aku akan menangkapnya." Altha tertawa melihat kecantikan Mora, meskipun ada rasa kecewa karena bukan darah dagingnya.


"Hatiku yang dicuri oleh pak polisi, lalu siapa yang akan ditangkap?" Al tersenyum melihat Altha yang tertawa.


***


DONE 2BAB

__ADS_1


__ADS_2