
Tangisan Diana terdengar, dirinya tahu Citra melakukan kesalahan besar. Sebesar apapun kesalahannya tidak sebanding dengan kejahatan Diana.
Di bukan membunuh satu dua orang, dia membunuh banyak orang dan sampai kapanpun, tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Meksipun memiliki salah yang tidak termaafkan, Diana ingin bahagia, dia ingin memperbaiki diri.
Kesempatan kedua belaku untuk Citra, dia punya hak untuk memperbaiki diri. Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu, karena yang terlihat sehat bisa saja berpulang lebih dulu.
"Kak Di tahu kamu bukan marah karena kejahatan Mama Citra, tapi kamu marah karena kehilangan Mama Citra. Sama dulu aku juga marah, karena diperlakukan tidak adil, sehingga lepas kendali." Diana memeluk Tika sangat erat, mengusap punggungnya.
Aliya juga meneteskan air matanya, melihat mata Putrinya yang tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Ria dan Juan juga sudah menangis sesenggukan, karena ketakutan.
Hanya Tika yang mati rasa, tidak ada rasa kasihan sama sekali. Rasa benci Tika, sudah menutupi hatinya.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Shin muncul dengan nafas ngos-ngosan. Langsung melihat ke arah Citra yang menangis hancur.
"Tika, ayo kita pergi." Tangan Shin menggenggam tangan sahabatnya, langsung membawa Tika melangkah mundur.
Genggaman tangan Shin sangat kuat, meminta Tika melepaskan kemarahannya. Bertahun-tahun Tika menahan amarah, dan sekarang meluap bukan hanya menghacurkan satu orang, tapi seluruh keluarganya.
Tika langsung pergi bersama Shin, meninggalkan rumah keluarganya. Tatapan Shin penuh kesedihan melihat Tika yang hanya diam sambil tersenyum.
Tangan Tika keluar kaca mobil, merasakan angin malam yang menyentuh kulitnya. Rasanya semua beban sudah lepas, Tika tidak menyesal sudah mengeluarkan masalah di hatinya.
"Ayo, kita makan Tik?"
"Nanti saja Shin, aku tidak lapar." Atika tersenyum manis melihat sahabatnya.
Tangan Shin mengacak rambutnya, langsung menghentikan mobilnya di jembatan tempat keduanya bertarung.
Pintu mobil terbuka, Shin langsung keluar membukakan pintu Tika, menarik tangannya untuk keluar.
"Ayo kita bertarung saja." Shin menarik tangan Tika untuk bersemangat.
Suara pertarungan keduanya terdengar, pukulan Tika sangat kuat. Wajah Shin sampai mengeluarkan darah, tanpa ada langkah mundur keduanya masih saling menjatuhkan.
Berkali-kali Shin terkena pukulan, tanpa belas kasihan Tika memukul secara membabi-buta. Dirinya meluapkan sengala kemarahannya.
Sekuat tenaga Shin masih mencoba bertahan, dia tidak ingin melepaskan Atika begitu saja.
Hampir satu jam pertarungan, Tika hanya mendapatkan sedikitpun pukulan. Berbeda dengan Shin yang wajahnya penuh darah, beberapa bagian tubuhnya penuh lebam.
__ADS_1
"Maafkan aku Shin, aku hampir membunuh kamu."
"Tidak masalah, karena kamu akan menjadi orang pertama yang aku hantui." Senyuman Shin terlihat, tapi langsung meringis menahan sakit di wajahnya.
"Berdiri sekarang, aku antar ke rumah sakit." Tika membantu Shin berdiri.
Setelah masuk mobil, Shin melarang Tika untuk membawanya ke rumah sakit. Apapun masalah Tika dengan keluarganya, Shin ingin Tika pulang agar tidak menambah kesedihan.
Kemarahan Tika hanya untuk dirinya sendiri, dia tidak boleh menghukum keluarga lainnya hanya karena rasa ego.
"Kamu harus pulang Tika."
"Iya, ini juga aku ingin pulang." Senyuman Tika terlihat, merasa bersalah menyakiti wajah cantik sahabatnya.
Shin bernafas lega, puluhan tahun waktu yang sangat lama bagi Tika untuk memaafkan dirinya sendiri. Shin percaya Tika wanita yang sangat kuat.
***
Di kediaman Altha masih hening, Juna mengobati tangan Diana yang terluka cukup dalam.
Aliya juga tidak bisa berhenti menangis, memikirkan Tika yang mungkin sedang menangis menahan rasa sakit hatinya.
"Maafkan aku Aliya, seharusnya kita mengikuti saran Altha. Tidak seharusnya aku datang." Kepala Citra masih tertunduk.
Diana yakin Tika bisa mengatasi dirinya sendiri, semakin dewasa dirinya maka harus semakin banyak ujian hidupnya.
"Aku tidak kuat Di jika harus melihat Tika menangis, aku tidak bisa."
"Ya, Tika tahu itu. Maminya tidak bisa melihat dirinya menangis, karena kelemahan Tika ada pada kamu. Dia tidak akan meneteskan air mata, kecuali air mata bahagia." Diana menghela nafasnya.
Ria langsung memeluk Maminya, memenangkan Maminya agar berhenti menangis, dirinya sangat sedih melihat Maminya sedih.
"Mama, siapa yang menyakiti Mama?" suara besar Isel terdengar membawa pedang mainan.
"Kenapa kamu belum tidur Isel? di mana Papa?" Diana menatap tajam Putrinya yang terlihat kesal.
Suara Isel marah-marah terdengar, menunjuk ke arah semua orang yang mungkin saja menyakiti Mamanya sampai tangannya dibalut.
"Siapa gadis lucu ini?" Citra tersenyum mengulurkan tangannya kepada Isel.
"Nenek siapa? kenapa bisa ada di rumah Aunty Al?" pedang Isel mengarah kepada Citra.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar Isel, Mama patahkan leher kamu." Diana meminta Putrinya pulang.
Isel mendekati Ria, memintanya mengatakan pelaku yang menyakiti Mamanya. Ria menjawab jika Kakaknya Tika, Isel langsung terdiam kaget.
Kepala Isel menggeleng, tidak mungkin bisa Atika yang sangat menyayangi Diana tega menyakiti Mamanya. Isel masih tidak percaya.
Isel langsung duduk di lantai, menatap Citra dengan wajah binggung. Tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi kepadanya.
"Assalamualaikum." Pintu rumah terbuka, Tika langsung melangkah masuk ke dalam rumah diantar oleh Shin.
"Atika, kamu pulang sayang." Aliya langsung memeluk Tika erat, menciumi seluruh wajah Putrinya.
"Maafkan Tika Mami, pasti Mami kecewa sekali." Atika memeluk erat, mengusap punggung Aliya.
Aliya langsung menangis, dirinya sangat memahami kondisi Tika. Al yang meminta maaf, karena dirinya tidak bisa memahami isi hati Putrinya.
"Kenapa wajah kak Shin babak belur?" Isel mengarahkan pedang ke arah topi Shin.
"Shin permisi pulang, Tante dan semuanya." Shin menepuk pundak Tika, pamit untuk pulang.
"Terima kasih Shin, dan maafkan Tika." Atika menatap Kakaknya, langsung memeluk Juna meminta maaf atas ucapannya.
"Kamu istirahat sekarang, besok kita bicara lagi." Juna mengusap wajah adiknya lembut.
Tika langsung berlutut di arah Diana, mengambil tangannya meminta maaf karena sudah menyakiti. Tika tidak bermaksud melimpahkan amarahnya kepada Di.
"Ini baru Tika yang sebenernya, gadis kuat yang mengakui betapa tangguhnya dia." Diana mencium kening Tika.
Altha langsung memeluk Putrinya, meminta Atika beristirahat. Tatapan Tika melihat kearah Citra, memintanya untuk memberikan dirinya waktu agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Tangisan Citra pecah, menganggukkan kepalanya. Memahami perasaan Tika yang membutuhkan waktu untuk dirinya, setidaknya Citra lega melihat Putrinya pulang.
"Kak, tolong obati Shin yang babak belur karena ulah Tika." Senyuman Tika terlihat menatap Kakaknya.
Isel mengejar Tika, ingin adu silat karena sudah menyakiti Mamanya. Diana menarik rambut Isel agar duduk diam dan tidak mengusik Tika sementara waktu.
Al langsung memeluk Altha, setidaknya Tika pulang, dan memutuskan menyelesaikan masalah di rumah.
Arjuna langsung keluar rumah, melihat Shin yang muntah di dekat mobilnya. Memegang perutnya yang terasa sakit.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira