
Suara barang berjatuhan terdengar, Tika dan Shin memutuskan untuk kembali di tengah malam untuk mengambil buku-buku penting yang masih tertinggal.
Sampai dini hari buku berhasil dipindahkan semuanya, beberapa buku sengaja Shin bawa ke apartemennya yang berada di restoran.
Sebuah mobil berhenti di depan Shin dan Tika, seorang pria keluar menggunakan baju serba hitam, juga topi hitam.
"Om tua, kenapa ada di sini?" Tika menatap Genta yang membuka topinya.
"Aku meminta bantuan kak Genta untuk mempercepat proses pemindahan buku, dan besok kepolisian akan menyelidiki rumah." Shin tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Genta.
"Kamu yakin tidak ada yang tersisa?" Genta tidak ingin saat pembongkaran, polisi menemukan beberapa barang penting.
Kedua bahu Shin terangkat, dirinya tidak mengetahui apapun soal rumah. Apapun rahasia lama rumahannya, Shin berusaha untuk mengabaikannya.
"Kalian berdua boleh pulang, Kak Genta akan mengecek ke dalam." Genta berjalan masuk ke bangunan yang sudah roboh.
Atika juga melangkah mengikuti, hanya Shin yang memilih menunggu di luar. Dirinya terlalu takut untuk tahu kebenaran soal dirinya.
Hidupnya sudah terlalu sulit, dan tidak ingin semakin sulit dengan terungkapnya fakta baru yang pastinya menyakitkan.
Kepala Genta menoleh ke arah Tika, melarangnya untuk masuk lebih dalam karena kemungkinan ada benda berjatuhan.
"Kenapa Om tua begitu baik kepada Shin? aku hanya ingin tahu hubungan kalian?" Tika masuk ke bangunan bawah tanah, diikuti oleh Genta.
Masih sama seperti sebelumnya, Genta tidak memberikan jawaban dari rasa penasaran Tika. Apapun alasan Genta hanya dirinya yang boleh tahu.
"Jika Om tidak menjawab, terpaksa aku ikut campur." Tangan Tika menahan Genta.
"Ada banyak hal yang tidak harus kamu ketahui Tika, dan aku tidak suka ada orang asing yang ikut campur dalam kehidupan pribadiku." Genta melepaskan tangan Tika yang matanya menatap sinis.
"Apa Om menyukai Shin?"
Kening Genta berkerut, cukup lama terdiam melihat Tika yang menunggu jawabannya. Genta tidak mengerti dengan hubungan pria dan wanita, karena semua orang hanya menangapi sikap perhatian bagian dari rasa suka.
Tidak ingin banyak perdebatan, Genta menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Tika jika dirinya menyukai Shin.
Wajah Tika terlihat sangat terkejut, dirinya tidak menyangka jika Genta jatuh cinta kepada Shin.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu keluar, tempat ini sebentar lagi gelap." Genta meraba dinding sambil memukul pelan.
Tatapan Tika melihat ke sebuah lubang kecil yang ada di dinding, merabanya pelan. Ketukan Tika terdengar ke arah dinding, sebuah ruangan kecil terbuka.
Genta dan Tika saling pandang, melihat sebuah lorong kecil. Tika langsung berjongkok, memasukkan kepalanya, tetapi lorong gelap, tidak ada penerangan.
Lampu senter Genta hidup, terarah ke dalam terowongan kecil. Genta memasukkan kepalanya, tangannya terulur ke dalam untuk mengambil sebuah kota yang tersembunyi di dalamnya.
"Tunggu, saat Ria menekan tombol bangunan roboh, kamu tidak ingin berpikir sebelum bertindak? bagaimana jika kita berdua terkubur di dalamnya?" Tika menahan tangan Genta, wajah keduanya sangat dekat saling tatap.
Senyuman sinis Genta terlihat, dirinya sudah berpikir sebelum bertindak. Robohnya reruntuhan, sebuah kunci untuk menemukan kotak yang tersimpan.
Jika bangunan tidak roboh, kemungkinan besar lubang kecil yang Tika lihat, tidak pernah diketahui keberadaannya.
"Orang zaman dulu, bukan hanya kuat tetapi sangat jenius. Mereka bisa menyembunyikan sesuatu di dalam lubang semut yang harus melalui sarang ular." Genta mengambil kotak.
Bibir Tika langsung cemberut, mengambil ponsel Genta untuk memberikan penerangan. Genta tidak membuka langsung, hanya membolak-balik saja.
Tangan Tika memukul kepala Genta sangat kuat, suara Genta meringis terdengar. Tika mengambil alih kotak, langsung mengguncang pelan.
"Apa sekarang kita harus melewati sarang harimau? kotak ini menggunakan sandi." Tika menginjak dengan kakinya.
"Bukan sandi, tapi kunci kode. Kamu perhatikan ini, jika di sini ada beberapa tulisan yang sudah pudar." Tangan Genta menunjukkan ke arah beberapa kode.
Kepala Tika mengangguk, membenarkan ucapan Genta. Mereka berdua harus segera keluar.
"Tika, di mana pintu keluar?" Genta melihat tangga yang sudah menghilang, tidak ada jalan sama sekali untuk keduanya.
Mulut Tika menganga, langsung menepuk jidatnya. Melihat ke arah Genta yang sudah mengacak-acak rambutnya.
Keduanya sibuk melihat kode, tapi tidak ada satupun yang menyadari jika tangga secara otomatis naik.
"Di mana ponsel tadi? kita bisa pecahkan kode sekarang." Genta mengambil ponselnya, langsung mencari tempat duduk santai.
Kedua tangan Tika menekan dagunya, memperhatikan Genta yang bekerja sendiri untuk memecahkan kode, terlihat sekali jika Genta sudah berpengalaman dalam teknologi.
Senyuman Tika terlihat, menganggukkan kepalanya membenarkan semua pekerjaan Genta.
__ADS_1
"Butuh bantuan?" Tika mendekati Genta, menunjukkan kode yang kemungkinan sesuai dengan teka-teki yang Genta kumpulkan.
Tatapan Genta dan Tika saling pandang, setelah satu jam mengasah otak, akhirnya keduanya berhasil membuka kotak.
"Ternyata kamu yang membobol CCTV rumah, dan juga mematikan seluruh sistem keamanan." Genta melihat Tika yang tersenyum malu-malu.
"Aku pikir kamu cukup licik Om tua, Tika pikir membutuhkan bantuan, ternyata Om mengetes Tika secara langsung." Tangan Tika menyentuh hidung Genta membuatnya mundur.
"Tika, jangan terlalu terobsesi dengan teknologi, kamu tidak akan puas." Genta mengeluarkan sebuah kunci.
Di mata Genta, hidup Tika sudah tenang dengan keluarganya yang harmonis, juga penuh kasih sayang.
Genta tidak menyangka, jika Putri seorang Altha, memilih menguasai hal mengerikan dengan pertarungan.
"Setiap orang memiliki masa lalu Om, begitupun Tika. Ada beberapa hal, yang harus dibayar atas perbuatan masa lalu."
"Aku tahu, tapi menghentikan kejahatan tidak ada habisnya, aku sudah melihat banyak kejahatan, dari kasus ringan sampai paling berat. Hukum juga tidak sepenuhnya adil, dunia menjadi tempat permainan." Kepala Genta menunduk, dirinya terjebak di dalam masalah yang tidak ada jalan keluarnya.
Atika langsung berdiri, mengambil kunci untuk menurunkan tangga. Bagi Tika tidak ada masalah tanpa solusi.
Sejak awal munculnya masalah, dimulai dari diri sendiri. Apapun konsekuensinya, memiliki hukuman, juga jalanan yang berbeda.
"Om tua punya masalah, tapi tidak tahu apa masalahnya. Sama Atika juga, aku mencari jarum yang jatuh ditumpukkan jerami. Kapan dan apa akhirnya? aku tidak tahu." Kedua tangan Tika terangkat, tersenyum manis ke arah Genta yang masih memegang sebuah buku.
"Aku akan menemukan penyebab masalah, dan kamu carilah jarumnya agar bisa memperbaiki hati yang tersakiti." Genta berjalan menaiki tangga.
Senyuman Atika terlihat, langsung mengejar Genta, menarik tangannya untuk berjalan di belakang.
Pelan-pelan Tika membuka pintu, melihat sekitar yang cukup aman untuk keduanya melangkah keluar.
Tubuh Tika langsung dibalik, Genta menutup pintu dengan tatapan tajam. Tubuh Tika dan Genta berjarak sangat dekat, bahkan hembusan napas keduanya terasa.
"Ada apa Om?"
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1