
Tatapan mata Aliya berkeliling melihat Altha yang mengumpulkan semua barang bukti. Al masih tidak menyangka jika Papanya juga pengedar narkoba bersama ibu tirinya.
"Kamu ikut aku untuk periksa." Al meminta Aliya mengikutinya, tapi ditolak secara spontan.
"Kirim surat perintah, baru aku akan ikut." Al langsung melangkah ke kamarnya, mengemasi barang-barang ke dalam koper untuk meninggalkan kediaman masa kecilnya.
Aliya sangat yakin, rumah pasti sudah dijual, manusia licik seperti ibu tirinya tidak bodoh yang rela menyisakan sedikit harta untuk dirinya.
"Kamu ingin melarikan diri?"
"Tidak ada alasan aku ingin melarikan diri, dapatkan surat perintah baru tindaklanjuti." Aliya mengambil ponsel Altha, langsung memasukan nomornya melakukan panggilan.
"Ini nomor nona Al, jangan lupa hubungi aku." Al tertawa, menepuk pundak Altha.
Pergelangan tangan Aliya ditahan, Altha langsung menarik tidak akan membiarkan Aliya melarikan diri.
"Hei tuan Al, jangan kasar." Aliya meminta dilepaskan, tapi Al mendorongnya ke dalam mobil.
"Kalian urus sisanya, aku akan membawa wanita ini ke kantor polisi." Altha menjalankan mobilnya, bibir Aliya langsung monyong, mengirimkan lokasinya kepada Avi untuk dilacak.
"Tuan Al, apa benar kamu ingin bercerai?"
Altha menatap Aliya tajam, tidak memberikan jawaban sama sekali. Aliya terus mengoceh membuat Altha memukul setir mobilnya
"Apa benar anak tuan Al ada tiga? kenapa banyak sekali?"
"Kamu bisa diam tidak?"
"Tidak bisa, Nona Al punya mulut gunanya untuk bicara."
Altha akhirnya mengabaikan Al, membiarkannya mengoceh tidak ada hentinya. Panggilan masuk, tangan Altha menutup mulut Al sampai ke hidungnya membuat Aliya susah nafas.
"Ais sial." Al memutar balik arah mobil, Aliya membuka mulutnya mencari udara.
Aliya memilih diam, melihat reaksi wajah Altha yang tiba-tiba berubah sangat serius, membuat Al sedikit tegang.
Mobil memasuki area hotel mewah, sedang ada pesta besar di dalamnya. Altha langsung mengganti bajunya melupakan keberadaan Aliya.
Secepat kilat, Altha sudah menjelma menjadi pemuda tampan dengan pakaian berjas, melangkah masuk ke dalam hotel.
Aliya juga sudah keluar, membuka jaketnya menguraikan rambut, memerahkan bibirnya langsung melangkah masuk.
Penjagaan cukup ketat, tapi bukan hal sulit bagi Al untuk tetap masuk. Di dalam tamu sangat ramai, sudah pasti bukan orang-orang sembarang.
Al melihat Altha bertemu seseorang, Aliya langsung mengikutinya melihat ada Citra juga, tapi Altha tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Altha dijebak." Aliya menahan tawa, tapi masih tetap mengikuti.
Tatapan Aliya tajam, dua rombongan yang saling menjebak, antara tim Altha dan tim lawan. Sungguh Al tidak tahu apapun yang terjadi, tapi dirinya sangat penasaran.
Sungguh luar biasa, di tengah pesta ada transaksi antara bandar dan pengedar. Al rasanya ingin bertepuk tangan melihat sesuatu yang pertama kalinya, kagum juga melihat Altha yang sangat pemberani.
Satu hal yang paling mengejutkan dalam hidup Aliya, melihat sahabatnya yang ternyata bandar sesungguhnya.
Al melihat ponselnya, langsung menghapus pesan mengikuti Avi yang melangkah pergi meninggalkan Al sendirian di dalam kamar.
Hotel langsung membunyikan alarm, di lobi sudah penuh mobil polisi, semuanya terjebak di dalam hotel.
Beberapa polisi sudah berlarian, Al masuk ke dalam kamar melihat dari pintu beberapa polisi berlarian untuk melakukan penangkapan.
"Aku tidak pernah menyangka ternyata kak Avi seorang bandar, dia memanfaatkan kak Dimas. Sungguh tega kamu berpura-pura mendukung, padahal menikam." Al memejamkan matanya, sungguh sulit melihat orang baik di dunia ini.
Yandi berlarian mencari Altha, mereka terpaksa mengirim Al yang jaraknya lebih dekat dari hotel untuk menghentikan transaksi.
"Di mana Altha?"
"Seharusnya dia bersama kita, mungkin sudah turun ke bawah."
"Aku tidak melihat Altha di bawah, kalian jangan main-main." Alip langsung melihat ke beberapa tempat mencoba menghubungi Altha.
Wajah Aliya terlihat kaget melihat Altha yang sempoyongan, duduk di lantai bersandarkan ranjang.
Mata Altha tertutup, tubuhnya sangat lemas karena terkena bius yang disuntikkan oleh Avi.
"Kamu tahu apa yang baru saja terjadi, suntikan yang masuk ke tubuh kamu bukan bius, tapi obat terlarang. Besok kamu akan merasakan reaksinya." Aliya membantu Altha untuk tidur di atas ranjang.
Meskipun tubuhnya lemah, Al bisa merasakan apa yang Aliya lakukan. Altha tidak bisa melakukan apapun jika ucapan Aliya benar, cukup berisiko jika dirinya diketahui banyak orang.
"Good night tuan Al."
***
Pagi-pagi Altha terbangun, kepalanya masih pusing menatap wanita yang tidur dalam pelukannya.
Cepat Al menyingkirkan Aliya dari sampingnya, melihat baju mereka berhamburan di lantai.
Secara tiba-tiba pintu terbuka, Yandi dan Alip berteriak kaget. Mereka mati-matian mencari Al, tapi yang dicari asik bercinta dengan seorang wanita.
"Altha." Citra yang merasakan khawatir, karena seluruh pengunjung diperiksa karena ada transaksi obat terlarang.
Citra merasakan khawatir saat mendapatkan kabar Al menghilang, mereka mengecek seluruh kamar ternyata Al asik bersama wanita lain.
__ADS_1
"Citra."
"Kita tunggu di luar Al, gunakan baju kamu." Yandi dan Alip langsung keluar kamar.
"Citra, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu lihat."
"Bagaimana Nona Citra? aku bisa membuktikan jika suami kamu bisa ada di atas aku. Uppzs salah, maksudnya mantan suami." Aliya membalik badannya, menarik selimut sambil tersenyum.
"Silahkan diambil, aku tidak membutuhkannya." Citra langsung keluar membanting pintu.
Altha menatap tajam Aliya, langsung memungut bajunya dan ke kamar mandi.
Aliya tidak memikirkan apapun, lanjut memejamkan matanya. Satu rencananya berjalan mulus, meksipun banyak keterkejutan yang terjadi dalam satu hari.
Papanya bersama ibu tirinya seorang pengedar, sedangkan sahabatnya seorang bandar. Al tidak tahu lagi harus mempercayai siapa, semuanya memiliki rahasia.
Altha langsung menggunakan sepatunya ingin melangkah pergi, mengabaikan Aliya yang masih berselimut. Wajah Altha terlihat sangat kesal, melihat lehernya penuh tanda merah.
"Tuan Al, apa yang terjadi tadi malam sudah aku rekam. Silahkan cek ponsel anda, untuk menontonnya." Aliya tersenyum membuka matanya.
"Kamu tidak malu?"
"Tidak, aku suka menghacurkan hidupku."
"Kamu menghancurkan hidupku juga bodoh." Altha mulai kesal, menatap Aliya yang tersenyum manis.
"Kamu sedang mengancam?"
"Iya, nikahi aku tuan Al, jadikan aku nyonya di keluarga Rahendra." Tubuh Aliya rasanya sakit semua, langsung duduk menutupi tubuhnya.
"Mimpi." Altha menatap sinis tidak memperdulikan Aliya.
"Aku tidak main-main, aku juga khawatir akan mengandung anak kamu, karena obat yang masuk ke tubuh kamu digunakan untuk penyubur. Biasanya digunakan untuk menjebak klien, dan terkadang ada obat penggoda sehingga lebih bersemangat dalam bercinta." Nada Aliya sangat halus, menggunakan bahasa yang sangat sopan membuat Altha tertawa.
"Benarkan, maka aku akan menikahi kamu jika kamu hamil. Aku tidak merasa menyentuh sedikitpun." Altha langsung membanting pintu kuat.
Aliya langsung teriak, dia tidak ingin hamil.
Panggilan dari Avi terlihat, Aliya langsung menjawabnya.
"Pengkhianatan."
***
JANGAN LUPA VOTE DAN HADIAHNYA
__ADS_1