
Tangan Mam Jes menyentuh wajah Shin, terlihat ada bekas memar. Aliya juga menyadarinya, menatap wajah Tika yang baik-baik saja.
"Kalian berdua bertengkar lagi?" Al menatap Shin dan Tika.
"Iya,"
"Tidak,"
Tika dan Shin saling pandang, ucapan keduanya tidak sama. Pertama kalinya keduanya tidak kompak. Aliya melipat tangan di dada meminta keduanya jujur.
"Kita hanya bertengkar kecil Mami, biasalah mengasah kemampuan. Iya kan Shin?" Tika tersenyum memeluk Shin.
"Iya Mam, kita hanya berlatih. Tika kemampuan bela dirinya semakin hebat. Shin sampai kewalahan, awas saja nanti." Shin tersenyum mengusap wajah Tika.
Suara langkah kaki masuk terdengar, Genta mengucapkan salam langsung berjalan ke arah kamarnya.
"Ada apa lagi Genta? sejak kamu memiliki hubungan emosi kamu tidak stabil. Bawa wanita itu kepada Papa." Papa Calvin mengangkat tangan Genta yang penuh luka.
Melihat kepala tangan Genta terluka, Papa Calvin tahu jika Genta tidak pernah berbohong.
"Kamu memukul siapa?"
"Anu Pa,"
"Masih ingin disembunyikan, wanita ini cukup membuat kamu kacau Genta. Jika dia memang baik untuk kamu, perkenalkan kepada orang tua, bukan menyembunyikan." Mam Jes melihat tangan Genta yang penuh luka di bagian tangannya.
"Sudahlah Ma, Papa juga berikan Genta waktu. Semua orang yang mencintai, pasti tidak akan rela jika wanitanya disakiti." Gemal duduk di samping istrinya tanpa menyadari sudah mengungkap masalah Genta.
Tangan Diana memukul paha suaminya, semua orang melihat ke arah Gemal meminta penjelasan detail. Kepala Genta sudah geleng-geleng.
"Kenapa kalian semua penasaran masalah anak muda? fokus saja ke Kak Hendrik yang ingin menikah." Gemal mengelak melihat baju untuk dirinya.
Senyuman Genta terlihat, berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Atika juga melangkah pergi begitu saja, tidak ada yang menyadari Tika pergi menemui Genta.
Pintu kamar dibuka, Genta kaget menarik selimut menutupi tubuhnya yang baru saja membuka baju. Tika nyegir, menutup kembali pintu.
"Aku mau mandi." Genta membuka pintu setelah memakai baju.
"Om memukul orang yang hampir menabrak Tika?"
Genta diam saja, membiarkan Tika meniup tangannya. Mengambil obat, membersihkan luka.
__ADS_1
"Maafkan Tika, Om sulit menyembunyikan hubungan ini."
"Santai saja, aku menunggu kapan kamu siap." Genta menarik tangan Tika untuk keluar kamarnya karena Genta ingin mandi.
"Tika ingin mandi berdua," bibir Tika monyong, melihat pintu sudah tertutup.
Teriakkan Tika kuat, melihat Rindi berdiri di belakangnya. Tatapan Rindi tajam, seakan-akan langsung tahu apa yang baru saja dilihatnya.
Senyuman Tika terlihat, sudah tidak peduli lagi berapa banyak yang akan tahu hubungannya. Tika sudah siap untuk mengakuinya di saat yang tepat.
Persiapan pernikahan sudah hampir selesai, Keluarga sudah mencoba baju pilihan masing-masing. Rindi juga sudah mencoba baju pengantin yang cocok untuknya.
"Malam ini juga tidak ikut ke hotel karena ada operasi Mama Citra, besok paginya Juna menyusul." Juna menyerahkan bajunya kepada Maminya untuk membawanya ke hotel.
"Maaf ya Jun, aku tidak bisa ikut mengawasi." Hendrik menyemangati Juna agar Mamanya pulih dengan baik.
Shin menatap Tika yang tidak bersedia ikut menemani Mamanya, bahkan cuek saja tidak peduli sama apapun yang Juna lakukan demi Mamanya.
"Shin dan Tika akan ikut Kak Juna menemani Mama Citra, iya kan Tika?"
"Kapan aku mengatakannya?" mata Tika menatap tajam, langsung menolak.
"Shin dan Kak Genta saja,"
"Semangat Juna, kamu anak yang baik. Kita kirim doa untuk Citra." Gemal merangkul Juna yang tersenyum sangat yakin operasinya berhasil.
***
Semuanya tiba di hotel, pelaminan dan tempat ijab kabul sudah dipersiapkan. Rindi tersenyum manis melihat pernikahan sesuai impiannya.
"Ma, Hendrik meminta sederhana, ini kenapa heboh sekali?"
"Ini sederhana di mata wanita Hendrik,"
Suara high heels tinggi terdengar, Ria berjalan dengan anggunnya. Gion menjadi fotografer yang mengikuti setiap langkah Ria.
Aliya geleng-geleng melihat putri remaja yang bergaya mengalahkan artis profesional, Tika berbanding kebalik dengan Tika, meskipun emosi keduanya sama.
"Mi, waktu menikah dulu kita tidak pesta mewah seperti ini." Tika memeluk Aliya.
"Mami menikah di atas kertas, perjanjian yang akan diceraikan setelah satu tahun menikah." Al menatap sinis Altha yang tersenyum.
__ADS_1
"Dulu juga pesta setelah satu tahun menikah,"
"Pernikahan siapa yang paling mewah diantara Kak Diana, Mami Aliya, Mommy Anggun?"
Anggun dan Aliya menunjuk ke arah Diana yang sudah melambaikan tangan, Al dan Anggun memilih lelaki tua untuk menjadi suaminya sehingga tidak suka sesuatu yang baru, berbeda dengan Diana yang menikahi pria muda selera mereka juga gaya muda.
"Makanya Shin, cari saja brondong. Satu hal yang paling penting, harus kaya." Di mengajari jika wanita tidak boleh munafik.
"Untuk apa yang kaya, jika yang dicari Kebahagian. Harta kita cari bersama, karena ada namanya rezeki istri juga rezeki anak." Anggun mengusap kepala Diana yang sudah memeluknya.
"Diana hanya bercanda Mommy, Daddy pria terbaik untuk Mommy, Di dan Dean."
"Kamu baru saja mengejek Daddy Tua Di, dan Mommy kamu lebih kaya dari Daddy." Dimas memeluk Putrinya yang meminta maaf.
"Siapapun yang kaya mau Mommy apapun Daddy, harta warisan milik Dean." Senyuman Dean terlihat mengejek Kakaknya.
Pukulan kayu tepat di kepala Dean, Isel memarahi Uncle satu-satunya yang berani mengejek Mamanya.
"Semuanya milik Isel tahu, Uncle harus kerja sendiri. Tidak boleh menjadi penikmat harta keluarga, kecuali para wanita." Isel menjulurkan lidahnya mendapatkan dukungan dari para wanita jika harta pria milik wanita.
"Kenapa anakku matre?" Gemal melangkah masuk lebih dulu.
"Sama seperti kamu Gemal yang suka menghabiskan uang wanita, ingat dulu aku yang bayar bahan bakar kendaraan, juga mie." Di melotot melihat suaminya yang merasa dipermalukan.
"Sudah aku bayar Diana, kamu yang matre hanya makan mie saja ditagih."
"Kak Gemal membuat malu saja." Genta menepuk pundak Kakaknya.
Tawa Shin dan Tika terdengar, mengejek Gemal yang dulunya suka memanfaatkan wanita.
"Itu dulu waktu miskin," Gemal merengek ke arah Mam Jes.
Mam Jes mengusap kepala Gemal, saat pertama mengenal suaminya Mam Jes juga yang bayar karena Calvin lupa membawa uang. Biaya makan juga mahal pada masanya.
Mendengar ucapan istrinya, Calvin menyerahkan uang. Setelah puluhan tahun, pertama kalinya Istrinya menagih uang makan.
"Ingatlah para wanita, jangan pernah ingin membayar laki-laki dengan alasan akan diganti. Dia bukan lelaki yang tepat karena uang saja tidak ada apalagi ketulusan. Jangan percaya nanti aku ganti, itu semua bohong." Ria geleng-geleng kepala tidak akan pernah mudah percaya laki-laki.
"Jadi dia harus mengatakan apa Kak Ria?" Gion menatap Ria yang berdiri di sampingnya.
"Sayang, ambil apapun yang kamu mau aku yang bayar sambil menyerahkan ATM." Tatapan Ria licik, Gion mengulangi ucapan Ria untuk menggoda wanita.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira