
Acara ijab kabul dan menyantuni anak yatim berjalan lancar, tidak ada hambatan yang besar. Tersisa acara pesta yang diadakan di hotel.
Seluruh keluarga sudah berkumpul makan bersama, lalu istirahat dan lanjut malam. Begitupun dengan pengantin yang beristirahat lebih dulu.
Gemal mengikuti Diana masuk ke kamar Di, tatapan Gemal berkeliling karena kamar Di sangat rapi dan bersih.
Suasana nyaman, Di menempel poster soal medis, juga fashion. Penampilan Diana seusai dengan seleranya.
"Aku keluar sebentar, ganti baju. Susah membukanya." Di sudah risih dengan kebaya yang dia kenakan.
"Sini, aku bantu membukanya." Gemal mengulurkan tangannya.
"Tidak mau, aku tahu isi otak kamu yang kotor." Di menepis tangan Gemal, langsung berlari keluar.
Gemal hanya tertawa melihat Diana, peperangan dalam pernikahan akan segera dimulai.
Tangan Gemal mendorong dinding, dugaan Gemal benar. Diana memiliki ruangan pribadi yang sesekali dikunjungi.
Pintu terbuka, Gemal hanya berdiri melihat dari luar. Tidak ingin masuk, karena ada privasi Diana yang mungkin harus dijaga.
Dekorasi ruangan pribadi Di lebih tenang, bernuansa warna putih, ada lukisan dan wallpaper juga terlihat bagus.
Lukisan abstrak pemandangan banyak di dinding, terlihat menarik, indah dipandang mata.
Banyak keunikan yang Gemal lihat dari luar, membiarkan ruangan pribadi Diana terbuka. Gemal langsung membuka bajunya, mengambil kaos dan duduk di ranjang.
Pintu kamar terbuka, Diana melihat ruangan pribadinya terbuka, tanpa ditutup kembali.
"Kenapa tidak ditutup? nanti Ac-nya keluar." Di langsung menutup ruangan.
"Tidak ada bom di dalamnya?" senyuman Gemal terlihat.
"Gila, bisa hancur rumah ini." Di langsung mengambil bajunya berjalan ke kamar mandi.
Baru saja Gemal berencana menyusul Diana ke kamar mandi, pintu kamar sudah terbuka. Dugaan Gemal sudah tepat.
Bocah tengil muncul, langsung menekan remote yang Diana sembunyikan dan melangkah masuk ke ruangan yang baru Gemal temukan.
"Ria, apa yang kamu lakukan?" Gemal langsung mengikuti Ria ke dalam kamar.
Senyuman Ria terlihat, mengambil mainannya yang tertinggal di ruangan Diana. Tatapan Gemal terdiam melihat ruangan kaca yang unik.
"Siapa mereka?"
"Mana, kak Gemal ingin kenalan?" Ria membuka ruangan kaca.
"Ria, keluar." Diana melotot melihat Gemal dan Ria yang masuk ke ruangan pribadinya.
__ADS_1
Diana menarik telinga Ria yang selalu masuk ruangan pribadinya, meksipun remote sudah disembunyikan. Ria masih bisa menemukannya.
Tatapan Diana melihat ruangan kacanya, Di menciptakan keluarganya menggunakan cahaya yang terbentuk sempurna.
"Apa ini sayang?" Gemal memeluk Diana dari belakang.
"Hanya uji coba saja, mengingat tragedi puluhan tahun yang lalu." Di mematikan cahaya, dan semuanya menghilang.
Tangan Ria ditarik keluar, Di memintanya segera pergi dan melarangnya masuk kembali ke dalam ruangan pribadinya.
"Ria, ini terakhir kalinya kak Di memperingati kamu?"
"Benarkah, berarti besok Ria masuk sudah boleh. Kak Di tidak akan melarang lagi."
"Kamu tahu tidak artinya larangan?" Diana berjongkok, menatap bocah kecil yang memiliki wajah mirip Papinya.
"Tahu, tapi Ria suka melanggar larangan. Besok Ria akan datang lagi. Ria main dulu." Ciuman Ria mendarat di pipi, langsung keluar kamar.
Mata Diana terpejam, menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Ria memang tidak ada tempat takutnya.
Pelukan Gemal erat, meminta Diana membiarkan Ria. Dia hanya sedang mencari teman, karena Tika sudah mulai besar.
"Diana dan Tika bisa berteman, kita berdua kompak. Berbeda dengan Ria yang selalu membuat darah naik." Di mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya.
Sekilas Gemal mencium bibir Diana, Di langsung melepaskan pelukan. Melangkah menjauhi Gemal.
Langkah Gemal mendekati pintu, mengunci dan mengambil kuncinya langsung dilempar ke laci make up Di.
"Memangnya kenapa kalau siang?"
"Aku akan membunuh kamu?" Di berteriak kuat.
Tangan Gemal dilipatkan di dada, mengigit bibir bawahnya menatap Diana yang sudah mengganti baju.
Jantung Diana berdegup kencang, dia tahu kuatnya tenaga Gemal. Meskipun dirinya melawan, tidak akan berhasil mengalahkan Gemal.
Di langsung lompat ingin ke kamar mandi, Gemal juga langsung berlari menarik tangan. Menahan pintu kamar mandi, tidak mengizinkan Diana masuk.
"Daddy, Mommy lihat Gemal. Dean tolong kak Di." Gedoran pintu terdengar.
Senyuman Gemal terlihat, menutup mulut Diana karena jika ada yang mendengar memalukan.
Tendangan Diana kuat, Gemal berhasil menghindar. Di langsung bersiap untuk bertarung.
"Aku benar-benar akan membunuh kamu!" Di menajamkan pandangannya.
Melihat Diana melawan, Gemal tersenyum sinis. Tatapan lebih tajam, melangkah mendekat memukul pintu membuat Diana terpojok.
__ADS_1
"Gemal, jangan melihat Diana seperti itu. Aku takut." Di menundukkan kepalanya, memejamkan mata.
"Iya maaf, aku hanya becanda. Takut ya jika aku marah." Tawa Gemal terdengar, memeluk lembut istrinya.
Di memeluk erat, pelukan keduanya lengket tidak ada yang ingin melepaskan.
"Aku tidak akan pernah menyakiti kamu, tapi aku suka karena kamu bisa membedakan ekspresi. Di selama ini orang hanya tahu aku pria yang sangat ceria, tanpa tahu sakit apa yang diderita."
"Tentu Diana tahu, kamu memiliki dua karakter. Diana menyukai keduanya, Gemal yang jahil, Gemal yang dingin. Aku menyukai semua yang ada pada suamiku." Tangan Diana memeluk erat pinggang, tidak ada jarak sedikitpun antara keduanya.
Suara gedoran dari balkon terdengar, Di dan Gemal kebingungan karena Dean ada di balkon.
Gemal langsung membuka pintu, melihat Dean yang ngos-ngosan. Kecapean memanjatkan balkon.
"Apa yang kamu lakukan Dean? nanti jatuh."
"Kak Diana teriak-teriak, pintu dikunci. Tepaksa Dean manjat."
Diana langsung melihat ke bawah, menarik tangan Tika yang masih berusaha naik. Ada Juan juga manjat dan terakhir makhluk nakal yang ikut-ikutan.
Senyuman Diana terlihat menatap suaminya, Di lupa jika dia menyadap kamar Dean demi keamanan. Kemungkinan ada Juna yang mengetahuinya sehingga anak-anak bisa mendengar suara Di teriak.
"Kalian tidak takut jatuh?"
"Kita sudah biasa memanjat, Dean yang lama karena berat membawa perut." Tika memukul perut Dean.
Kepala Gemal langsung gatal, membiarkan anak-anak ikut istirahat di kamarnya. Gemal juga memejamkan matanya sesaat sambil memeluk istrinya.
Semuanya tidur tanpa ingat waktu, Dimas berhasil membuka pintu kamar. Anggun melangkah masuk dan melihat di atas ranjang sudah penuh.
Diana tidur memeluk Tika dan Ria, sedangkan Gemal tidur memeluk Juan dan Dean.
"Mereka masih tidur."
"Aku berpikir kebersamaan dengan Diana mungkin akan berkurang, tapi ternyata salah besar. Kita menambah satu anggota lagi. Keputusan Calvin pindah rumah, karena tidak ingin memisahkan kita." Dimas merangkul istrinya yang tersenyum.
"Anggun, Diana belum bangun?" Mam Jes melihat ke dalam kamar sambil tersenyum.
"Terima kasih karena tidak memisahkan mereka." Dimas tersenyum melihat Jessi yang menganggukkan kepalanya.
"Putri kalian juga putri kami, bahagia dia menjadi kebahagiaan kami." Mam Jes tersenyum melihat putranya.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya
***