ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENGINGAT SEMUANYA


__ADS_3

Acara berjalan dengan lancar, sesi berfoto juga terlihat sangat bahagia. Seluruh keluarga tersenyum bahagia begitupun dengan kedua pengantin yang bahagia menyambut status baru mereka.


Saat makan bersama juga terasa hangat, tidak ada yang menyadari jika ada permasalahan dalam keluarga. Melupakan sejenak kondisi Shin yang bisa tertawa bersama keluarga.


Senyuman Shin terlihat menatap ke arah Tika yang bisa memahami kesedihan Shin. Pelukan Tika lembut meminta Shin cepat pulih, mereka ingin merayakan pernikahan bersama-sama dan berusaha bahagia.


"Apa aku bisa Tika? ini menakutkan." Air mata Shin hampir menetes kembali, tapi ditahan oleh Tika yang memeluknya erat.


Permasalah Shin juga masalah Tika, perasaan Tika juga sakit. Berat bagi Tika berpura-pura kuat karena hatinya masih penuh kegelisahan.


"Jika kamu tidak bahagia, maka aku juga akan terluka. Shin, kita berbagi disetiap masalah, maka bertahan seperti aku yang mencoba bertahan." Senyuman Tika terlihat, mengusap air matanya.


Sampai acara selesai tidak terjadi masalah yang dikhawatirkan, keluarga juga pulang ke rumah masing-masing. Hanya tersisa Genta dan Juna yang masih berdiri di depan pintu rumah, sedangkan Tika dan Shin sudah kembali ke kamar masing-masing.


"Jun, kenapa hari ini begitu tenang? setelah ijab kabul tidak ada kekacauan sama sekali,"


Juna berjalan ke dalam rumah setelah mengunci pintu, ucapan Genta benar. Tika lebih banyak diam dan mendengarkan, begitupun dengan Shin.


Seharian Isel juga tidur karena kepalanya sakit, sedangkan Ria lebih sibuk berfoto sendiri sampai fotografer lelah mengikutinya.


Langkah Juna terhenti melihat ke lantai atas, hatinya sudah siap menerima apapun yang akan Shin pertanyakan. Seharian Shin menahan diri dengan kebingungannya atas apa yang terjadi, Juna cukup bersyukur dia tidak bertanya di tengah keramaian.


"Kak Gen, sudah ingin tidur?"


"Kenapa?"


"Bisa kita minum bersama, aku belum mengantuk." Juna melangkah mengambil minuman.


Di ruang tamu, Genta dan Juna hanya duduk berdua tanpa mengobrol apapun, Genta sibuk melihat beberapa kasus yang baru dan memikirkan apa yang terjadi.


"Kak Gen, kematian Dina terlalu cepat,"


"Semua manusia akan mati Jun, tanpa bisa kamu duga. Dan kondisi Dina memang tidak memungkinkan untuknya bertahan." Genta menunjuk hasil penyelidikan Dina.


"Dia meninggal menyebabkan masalah besar, rasanya aku belum puas." Kertas hanya ditatap oleh Juna tanpa berniat membacanya.

__ADS_1


Kening Genta berkerut, masalah besar yang Juna katakan tidak dapat Genta mengerti. Semuanya sudah selesai, Dina meninggal dan orang-orang yang dipekerjakan sudah menanggung akibat dari kejahatan mereka.


"Apa ada masalah lain lagi Jun?"


"Bagaimana soal Reza?"


Kondisi Reza dalam keadaan tidak baik, dia meminta kesempatan untuk bertemu seseorang namun pihak kepolisian tidak mengizinkan. Reza menolak mengatakan apapun, meminta bertemu dengan Juna untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Segala cara sudah dilakukan, Reza bahkan sudah babak belur namun tidak mengatakan apapun. Dia memilih bungkam dan tidak menerima pengacara.


"Mommy Anggun sudah berusaha menemuinya? tapi pertemuan gagal." Kedua pundak Genta terangkat tidak ingin melanjutkan masalah Reza lagi, kejahatan Reza juga cukup banyak.


"Mommy ingin menemui Reza, kenapa?"


"Entahlah, Mommy tidak mengatakan apapun. Dia hanya feeling Reza menyembunyikan sesuatu, dan tidak terlibat dengan kasus terakhir Dina." Seorang pengacara punya cara tersendiri untuk mengetahui ekspresi penjahat, bahkan Daddy Dimas sempat bertengkar karena Mommy Anggun ingin membela Reza.


Juna paham watak Mommy Anggun, sejak Juna kecil dia selalu membela apa yang menurutnya benar, tidak memandang meskipun lawannya keluarga sendiri.


Setiap kasus yang Anggun tangani selalu mendapatkan hasil yang memuaskan salah satunya Mama Citra. Di saat Juna dan Tika mengabaikan, Anggun satu-satunya yang melakukan pembelaan juga meminta keringanan atas sebuah kesalahan.


Helaan napas Juna terdengar, berjalan menaiki tangga. Perasaannya ragu untuk membuka kenop pintu, apalagi melihat ekspresi Shin yang menolak menatapnya.


Pintu terbuka, Juna melangkah masuk melihat Shin yang duduk di atas tempat tidur. Tatapan matanya kosong, meremas bajunya.


"Kamu sudah mengingat semuanya?"


Air mata Shin menetes, kepalanya mengangguk. Cengkraman semakin kuat bahkan menembus tubuhnya. Kuku Shin yang panjang sampai patah.


"Kenapa melakukan ini? kenapa? kenapa menikahi Shin?" Tatapan mata tajam, juga merah banjir air mata


Hati Juna hancur melihat kondisi Shin yang sangat terpukul, dia menahan diri karena tidak ingin mengecewakan keluarganya.


"Kita pindah ke apartemen saja, jika di sini terlalu banyak yang terluka." Juna ingin mendekati Shin, tapi Shin langsung berdiri melangkah keluar kamar sambil membanting pintu.


Rambut Juna sudah acak-acakan, mengambil kunci mobilnya untuk segera pindah ke apartemen. Jika Shin dan Juna bertengkar di hari pertama mereka, pasti sangat mengejutkan Tika dan Genta yang juga masih pengantin baru.

__ADS_1


Saat Juna dan Shin keluar rumah, Tika yang haus melihat keduanya. Tatapan mata Shin yang tajam sudah dapat Tika mengerti.


Tidak ingin ikut campur, Tika memilih bersembunyi, menatap punggung dua orang yang satunya emosi dan satunya lagi berusaha untuk tenang.


Mobil Juna melaju, sepanjang jalan Shin hanya menangis meremas kedua tangannya memukuli dirinya sendiri yang merasa jijik.


Juna juga memilih diam, tidak mungkin bisa menghentikan Shin yang sedang emosi. Juna sudah memperkirakan apa yang akan terjadi.


Sesampainya di apartemen, barang-barang di atas meja berhamburan. Shin teriak histeris menatap tajam Juna.


"Apa begitu menyedihkan sampai kita harus menikah? kenapa Kak Juna mengorbankan diri sendiri hanya untuk bertanggung jawab?" Shin melempar Juna menggunakan ponselnya.


"Bertanggung jawab soal apa? jika ada yang membuat marah duduk dan kita bicara baik-baik." Juna duduk di sofa, menatap Shin yang meremas rambutnya.


Melihat kondisi Shin cukup mengkhawatirkan Juna, kejadian di hotel membuatnya benar-benar terpukul meksipun Juna tidak mempermasalahkannya.


"Aku hanya wanita kotor, aku bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri, apa yang terjadi aib dan merusak kehormatan keluarga. Seharusnya jangan lakukan ini? pernikahan tanpa cinta, hanya karena rasa kasihan." Shin duduk memeluk lututnya.


"Apa yang kamu ingat?"


"Aku ingat semuanya, baju aku semua dilepas tanpa bisa melawan ...."


"Apa kamu melihat wajahnya? siapa yang membuka dan sejauh mana?" Juna berteriak memegang pundak Shin, meminta menatap mata.


Juna tahu Shin tidak melihat siapa pelakunya, dia tidak menyadari sejauh mana semuanya terjadi.


"Ada Reza di sana?"


"Tidak ada Reza di sana, hanya aku yang melihat kamu dan menyentuh kamu. Alasan kita menikah karena aku yang salah, aku yang merusak kamu. Jika ingin memukul, sakiti saja pria dihadapan kamu daripada menyakiti diri sendiri. Kenapa kamu harus terluka karena ingatan tidak jelas? aku yang salah, dan marah saja kepadaku." Juna memeluk erat Shin yang memukul punggungnya.


"Bohong! Shin tahu siapa kak Juna,"


"Aku tidak bohong. Aku sendiri tidak mengetahui bagaimana karakter aku. Maafkan aku yang sudah melukai kamu," Juna masih memeluk erat meksipun Shin meminta dilepaskan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2