ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
WANITA GILA


__ADS_3

Pintu ruangan Papa Calvin terbuka, Genta dan Shin mengucapkan salam sebelum keduanya masuk. Mam Jes tersenyum, langsung berjalan mendekati Shin, memeluknya lembut penuh kasih sayang.


"Mama dengar kalian bersenang-senang semalaman sampai tidak pulang?" Mam Jes mencium kening Shin.


"Maafkan kita Ma, ada sedikit masalah sampai akhirnya harus menginap." Genta menundukkan kepalanya, melangkah mendekati Papa Calvin yang sudah menunggu di mejanya.


Calvin menatap Shin dan Genta yang terlihat sangat tenang, tanpa ada yang Calvin tutupi jika Lian akan di penjara secara diam-diam di tempat hukuman yang setimpal.


Melly dan Irish dikembalikan atas keinginan Genta, juga perintah dari Altha. Mereka akan dihukum sebesar kesalahan mereka yang berlipat-lipat. Calvin memastikan jika keduanya tidak akan pernah bebas.


"Shin, Papa tahu ini tidak sebanding dengan luka kamu, tapi kita hidup di negara hukum Nak." Kedua tangan Calvin menggenggam tangan Shin.


"Aku baik-baik saja Pa, tidak ada hukuman yang Shin inginkan selain bisa bersama Kak Genta. Shin bahagia dan menerima masa lalu Shin." Senyuman manis Shin terlihat, mengucapkan terima kasih karena keluarga Leondra sudah banyak membantunya.


Shin bukan hanya mendapatkan perlindungan, namun cinta dan kasih sayang yang tidak ada ukurannya.


"Gen, Papa Calvin meminta maaf kepada kamu karena lalai menjaga kamu, sampai kasus ini terlalu lama. Papa salah tidak pernah menyelidik soal kamu." Kepala Calvin tertunduk, merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang mengabaikan Genta kecil karena terlalu sibuk menyembuhkan istri juga mencari anaknya.


"Jangan katakan Maaf Pa, Genta beruntung ada di di bawah nama keluarga ini. Terima kasih sudah menjaga dan melindungi Genta dan Shin." Tangan Genta mencium tangan Papa Calvin sebagai ungkapan terimakasihnya.


Mam Jes tidak kuasa menahan air matanya, Shin sudah mengusap tangan menenangkan, menyakinkan Mam Jes jika dirinya baik-baik saja dan sangat bahagia.


"Mama kecewa sekali dengan cara mereka memperlakukan kamu, jujur Mama tidak menyukai Rindi, tapi dia jauh lebih menyedihkan. Mama sangat mencintai Hendrik, Gemal, Genta, Diana, kamu juga Shin dan semua cucu Mama. Hati Mama hancur jika salah satu dari kalian disakiti." Mam Jes memeluk erat Shin.


"Ma, kita akan berubah sebagai cara orang memperlakukan kita, Shin menyadari ada amarah, dendam, juga luka di dalam hati Shin. Saat ini semua itu sedang terkubur, dan Shin mencoba menguburnya demi bahagia. Jika Shin sakit, terlalu banyak orang yang juga merasakan sakit. Mama juga pasti memahami perasaan Rindi yang sebenarnya haus kasih sayang, sama seperti Shin." Air mata Shin juga menetes, memeluk Mam Jes yang mengusap air matanya.


Papa Calvin berdiri dari kursinya, memeluk istrinya dan juga Putrinya. Calvin tahu beratnya ujian apalagi usaha untuk bertahan. Dulu dirinya berjuang untuk satu anaknya, dari rasa lelah bertahan juga berusaha dirinya diberikan tiga Putra sekaligus, satu Putri dan menantu juga cucu yang membuatnya bahagia.


Rasa sakit masa lalu langsung hilang saat melihat istri, anak dan cucu bahagia. Air mata Shin juga luka bagi Calvin meksipun tidak ada ikatan darah, Calvin dan Jessi tulus menyayangi Shin sejak pertama bertemu.

__ADS_1


"Shin, saat kamu bertengkar dengan Tika, Papa sudah jatuh hati melihat betapa kuatnya kamu dan ingin sekali menjadikan kamu Putri Papa. Mulai sekarang, apapun masalah dan keluhan katakan kepada Papa. Kamu punya Papa, dan sebagai Putri semata wayang kamu harta paling berharga dalam hidup kami. Jangan pernah merasa sendiri." Papa Calvin memeluk erat, mengusap punggung Shin yang sudah menangis sesenggukan.


Kepala Shin mengangguk, kata-kata yang juga pernah Hendrik katakan jika Kakak Shin bukan hanya Genta, tapi dirinya juga sehingga apapun masalah harus mengatakan kepada ketiga Kakaknya.


Sebagai Kakak tertua, Hendrik ingin menjadi orang pertama yang mengetahui masalah adik-adiknya meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.


"Kak Hendrik mengatakan Shin sakit," tangisan Shin terdengar.


Pintu ruangan terbuka, Gemal melangkah masuk melihat Shin yang menangis sesenggukan.


"Sakit apa?" Gemal menatap Shin yang langsung tersenyum memeluknya erat.


"Kak Gem, Shin takut."


"Kenapa kamu takut? keluarga kita memiliki banyak dokter, Kak Hendrik pasti akan mengobati kamu, ada Kak Gemal dan Genta juga di sisi kamu. Jadi apa yang ditakutkan?"


"Shin hampir membunuh Irish, bahkan Shin tidak menyadarinya."


"Dengarkan Kak Gemal, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Kamu hanya perlu bahagia, agar bisa melepaskan penyakit hati." Pelukan Gemal lembut, menenangkan Shin agar berhenti menangis.


Senyuman Genta terlihat, langsung memeluk Gemal yang bahkan meninggalkan anak dan istrinya memilih untuk pulang karena merasakan khawatir.


"Terima kasih Kak Gem,"


"Kamu baik-baik saja, ada luka? Kenapa seharian tidak memberikan laporan?" Gemal menarik telinga Genta yang tersenyum sambil mengusap air matanya.


Ketukan pintu terdengar, Papa Calvin menutup wajahnya melihat Hendrik yang melangkah malas, tidak punya semangat hidup.


"Kenapa Kak? ada masalah?" Gemal menatap Hendrik yang geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kak Hendrik akan menikah," Shin menahan tawa.


"Wow, Alhamdulillah ya Allah. Bagus, siapa wanita yang berhasil membuat dokter Hendrik jatuh cinta." Gemal bertepuk tangan, memeluk Shin dan Genta.


Kepala Genta sudah tertunduk menahan tawa, Papa Calvin sudah memalingkan wajah. Shin dengan semangat menyebut nama Rindi.


Gemal yang mendengar langsung terdiam, tidak bisa berkata-kata berharap dirinya salah pendengaran.


"Aku rasa telinga mulai tuli, coba diulang Shin. Aku harap bukan Rindi, wanita gila itu." Gemal mengusap telinganya.


"Calon istrinya Kak Hendrik, Rindi. Wanita yang membuat Kak Genta ketakutan karena pernah dicium." Shin tertawa lepas.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, berita duka apa ini Kak? Pikirkan lagi Kak Hendrik, wanita normal banyak. Cukup Gemal yang menikahi wanita gila, mana aku yang tergila-gila. Punya satu Putri tunggal nauzubillah." Gemal mengusap dadanya, menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Kamu pikir aku mau. Gemal tolong selamatkan aku, minta bantuan Diana untuk mengusirnya, bukan mengusir tapi menjaga jarak. Aku bisa gila." Hendrik memeluk Gemal yang manis belum percaya.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Rindi berteriak mencari teman saat mengetahui Gemal datang ke mansion.


"Hai adik ipar, Di mana teman Rindi? di mana Isel?"


Gemal mengucek matanya, mengusap dadanya melangkah mundur melihat Shin dan Papa Calvin sudah tertawa lepas.


"Ma, lakukan sesuatu. Diana, Shin, Isel sekarang ditambah satu lagi. Bisa hancur keluarga Leondra." Gemal merinding ngeri.


"Di mana teman Rindi?"


"Tidak tahu! Diana jangan bawa Isel ke mansion." Gemal menghubungi istrinya sambil berteriak-teriak.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2