ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ULANG TAHUN MAMA


__ADS_3

Kue yang Shin buat hampir selesai, Tika hanya duduk diam saja setelah pulang dari kantornya. Banyak pekerjaan yang menumpuk membuat kepala Tika pusing.


"Untuk siapa kuenya?"


"Kamu tidak tahu untuk siapa?"


Kepala Tika menggeleng, isi kepalanya sudah penuh tidak punya waktu lagi untuk berpikir soal kue. Hal yang membuat pikiran Tika soal Genta yang tidak pernah membahas soal pernikahan, padahal seluruh keluarga sudah memberikan restu.


"Kenapa setelah mendapatkan restu semua orang Kak berubah? dia hanya sibuk bekerja, tidak berniat membahas soal pernikahan." Tika menatap Shin yang menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa kamu berpikir sejauh itu? masalah harus diselesaikan satu-persatu, apalagi kondisi Mama Citra yang terus memburuk." Shin melihat ke arah Tika yang terduduk lemas, pikirannya semakin kacau.


"Aku ingin Mama Citra melihat pernikahan kami, apa permintaan aku terlalu berlebihan?"


Helaan napas Shin terdengar, menarik tangan Tika untuk bersemangat. Mereka harus merayakan ulang tahun Juna yang berdekatan dengan ulang tahun Mama Citra.


Tangan Tika menepuk jidatnya, ucapan Shin benar, jika Kakaknya akan berulang tahun di hari yang hampir sama dengan Mamanya.


"Tidak menyangka Kak Juna sudah tua,"


"Kita juga." Shin tertawa diikuti oleh Tika.


Semangat Tika kembali, membantu Shin menyiapkan kue untuk Kakaknya juga Mamanya. Banyak jenis kue yang Shin buat, Atika menjadi orang yang mencicipinya.


Bermalam-malam Tika dan Shin tidak tidur, sibuk menyelesaikan membuat kue untuk kejutan. Ria juga sudah memberikan kabar jika ada acara selamatan rumah baru Juna dan Genta.


"Assalamualaikum,"


"Ayang, sini." Tika memanggil Genta yang pulang bekerja dini hari langsung menyempatkan waktu menemui Tika.


Genta menegur Shin dan Tika yang seharusnya menjawab salamnya, bukan langsung bicara hal lain.


"Ini kue kita bawa sekarang?"


"Iya, pagi-pagi Kasih kejutan untuk Mama Citra, tengah malamnya acara ulang tahun Kak Juna?"


Shin menyusun rencana bersama Tika dan Genta, nanti akan dibantu oleh Ria yang sudah mengatur Dean, Juan, Gion dan Iyan untuk mengatur yang di rumah.


Apapun rencana Genta ikut-ikutan saja, dia hanya membantu apa yang diinginkan Adiknya juga kekasihnya.


***


Pagi-pagi suara keributan terdengar, Citra yang sudah bangun melangkah menggunakan kursi rodanya keluar dari kamar melihat kejutan untuk dirinya.

__ADS_1


Seluruh orang berkumpul, membawa hadiah masing-masing untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Citra.


Senyuman bercampur air mata terlihat, Citra tidak menyangka masih ada yang mengingat ulang tahunnya yang sudah puluhan tahun dia lupakan.


Atika berjalan membawa hadiahnya, berlutut di kaki Citra mencium tangannya. Senyuman Tika terlihat mendoakan Mamanya agar sehat selalu dan bahagia.


"Maafkan Tika jika banyak salah,"


"Terima kasih sayang, Mama bahagia sekali." Citra memeluk tubuh Putrinya.


"Cepatlah Kak Tika! giliran Isel juga." Tatapan mata Isel tajam membuat Tika ingin mencolok matanya.


Isel tersenyum menatap Citra, dia tidak bisa memberikan hadiah besar karena tangannya patah, tidak kuat membawanya.


"Kenapa tangan Isel bisa patah?"


"Jatuh. Isel anak nakal, patah tangan belum seberapa, jika patah leher baru bahaya." Isel melangkah pergi meninggalkan kadonya.


"Ya, kamu memang Putrinya Alina." Citra tersenyum terheran-heran.


Citra memeluk Ria erat, dia sangat menyayangi Putri Aliya yang bungsu. Citra sepemikiran dengan Ria dan memiliki hobi yang sama.


"Selamat ulang tahu Mama, sehat selalu, berkah dunia akhirat, paling penting harus sehat dan panjang umur." Juan mencium tangan Citra.


Giliran Dean yang menyerahkan kadonya, Citra terdiam menatap Putra semata wayang Dimas. Sikap dinginnya sama seperti Daddynya yang selalu menatap dingin.


Hanya menunjukkan senyuman kecil, Dean menyerahkan kado, mencium tangan tanpa mengatakan apapun.


"Dean, maafkan Mama Citra,"


"Untuk apa?" Dean menatap Citra yang meneteskan air matanya melihat Dean yang tumbuh sehat. Dean terpaksa lahir prematur ulah papanya Citra.


"Kamu tumbuh dengan baik, maafkan."


"Maaf untuk masa lalu, Dean merasa baik lahir sebagai anak Daddy dan Mommy. Tidak ada yang perlu di sesali, Dean sangat baik, lahir tanpa kurang." Dean menunjukkan dirinya yang tumbuh sehat.


Pukulan kuat di punggung Dean, Ria memarahi Dean yang tidak sopan. Tatapan Dean tajam melihat Ria yang selalu memukulnya.


"Aku lebih tua dari kamu, bersikap sopan." Ria meminta Dean menyingkir.


"Hanya beda jam, kita bertiga lahirnya sama." Dean melangkah pergi.


Senyuman Citra terlihat, menatap si kembar dua, Iyan terlihat pendiam sedangkan Gion lebih aktif dan banyak bicara. Doa Gion sangat panjang membuat Iyan geleng-geleng.

__ADS_1


Shin menepuk pundak Gion, meminta menyudahi doanya yang membuat semua orang tertawa.


"Gion,"


"Belum sudah, semoga sehat, murah rezeki, banyak yang suka, rajin ibadah, tidak sakit terus, semakin cantik, kuat, ...."


"Gion!" semua orang teriak-teriak meminta segera berhenti.


"Gion belum selesai tahu!" hentakan kaki terdengar, menunjukkan catatan untuk doa yang capek dia hafalkan dan diminta berhenti.


"Lanjutkan Nak, Mama Citra ingin mendengar doa Gion sampai selesai." Citra mengusap kepala Gion yang lanjut membaca doanya.


Tika dan Shin menunjuk ke arah Ria, seharusnya Gion berada di urutan terakhir. Sampai lebaran monyet tidak mungkin selesai.


"Gion, ayo cepat. Ada cewek cantik yang menghubungi kamu." Ria menunjukkan ponselnya.


Tangan Gion masih menadah, mulutnya masih komat-kamit, tapi matanya melihat ke arah Ria.


Suara tawa sudah terdengar melihat Gion menyudahi doanya jika membicarakan wanita cantik.


"Anak siapa itu?" Diana menatap sinis suaminya.


Juna tersenyum melihat Shin yang membawakan kue, meminta Citra berdoa di dalam hatinya. Mata Citra tertutup, berbisik pelan kepada Shin semoga berhasil meluluhkan hati Juna.


Mata Shin terbuka lebar, mengigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepalanya. Merasa malu jika Mama Citra mengetahui perasaannya.


"Mama, tolong jangan dibahas. Perasaan ini tidak boleh terbalaskan." Shin berbisik pelan, meminta Citra meniup lilinnya.


"Kamu wanita yang unik Shin, hanya lelaki bodoh yang menolak cinta kamu." Mama Citra tersenyum karena orang itu Putranya.


"Sekarang waktunya kita makan, Mama Citra masih makan bubur sama seperti Isel yang masih minum susu." Ria memakan kue di tangan Shin.


Semua anak-anak kumpul, mengambil kue untuk makan. Mereka semua sangat menyukai kue buatan Shin, karena tidak bisa di dapatkan di manapun.


"Kak Citra, malam ini kita acara syukuran juga doa, ada beberapa orang penting yang akan datang ke sini." Al mendorong kursi roda, meminta Citra sarapan buburnya.


"Siapa Al? apa kalian akan membicarakan soal Tika?"


"Bukan, Al ingin mengenal calon untuk Juna, dia wanita baik dan taat. Juna juga sudah lama mengangumi dia, Kak Citra juga pasti menyukainya." Senyuman Aliya terlihat, sedangkan Citra melihat ke arah Juna dan Shin yang ternyata memang sulit bersatu.


Selain hubungan Tika dan Genta, perasaan Shin juga terhalang wanita lain. Shin memilih mengalah dan menyembunyikan perasaannya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2