
Kesibukan Altha semakin banyak, selain bekerja dia harus bolak-balik rumah dan rumah sakit untuk menjenguk anak dan istrinya.
Arjuna akhirnya sudah bisa berjalan setelah hampir tiga minggu dirawat, kepulangan Juna juga bersamaan dengan pulangnya Dean.
Salsa menjadi dokter pribadi Anggun untuk mengawasi Dean yang sudah bisa keluar dari tabung inkubator, bahkan Dimas dan Anggun sudah bisa menggendong.
Diana tidak ingin menggendong adiknya, karena sibuk menggoda dokter tampan yang menangani Juna.
"Dok, kita pulang dulu ya. Tunggu Diana agar kita bisa bekerja bersama." Senyuman Diana sangat manis.
Dimas menarik telinga putrinya sangat kuat, bibir Di cemberut sepanjang jalan karena Dimas tidak mengizinkan Di menjalani hubungan pacaran.
Sampai di rumah Altha membukakan pintu dengan tulisan Wellcome baby twins, Tika langsung lompat-lompat kesenangan.
Aliya yang menggendong Riana hanya bisa tersenyum haru, menatap putranya yang ada dalam gendongan Helen.
Air mata Al menetes, tidak ada sosok ibu dan ayah, keluarga yang menyambut kepulangan mereka. Altha dan Aliya hanyalah yatim piatu yang harus menjadi orang paling tua diantara lainnya.
Suara tiupan terompet terdengar, Susan datang bersama Udin, dan Tio menuliskan kata-kata penyemangat untuk Aliya.
Kedua orang tua Helen juga membawakan kue untuk Aliya yang sudah menjadi ibu seutuhnya, air mata Al tidak berhenti menetes.
"Subhanallah cantiknya, mirip Papinya." Ibu Helen menyentuh putri Aliya.
"Ibu, dia mirip Al." Al mengusap air matanya.
"Jangan menangis anak cantik, kamu sudah menjadi ibu memiliki tugas dan tanggung jawab besar."
Aliya menganggukkan kepalanya, menyerahkan putrinya kepada ibunya Helen yang gemes sekali melihat Riana.
Al menatap Tio yang baru saja kembali dari luar negeri, dua tahun tidak bertemu temannya sudah banyak yang berubah.
"Apa kabar Al? selamat menjadi ibu." Tio memeluk Al diikuti oleh Udin dan Susan.
Altha langsung menarik Tio dan Udin untuk melepaskan istrinya, rasa cemburu Altha semakin besar.
"Al, kenapa kamu menikahi polisi yang menangkap kita dulu? seperti tidak ada laki-laki lain." Tio menatap sinis Altha.
Aliya hanya tertawa, dia juga tidak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti saat ini, apalagi lelaki yang dulu dia benci, menjadi ayah dari anak-anaknya.
__ADS_1
"Sekarang Tio, Udin sudah berubah. Kalian semakin tampan." Al tersenyum melihat Altha yang melotot melihat istrinya memuji pria lain.
Suara tawa Susan dan Helen terdengar, mereka semua memang sudah berubah. Aliya sudah menjadi ibu dari empat buah hatinya, Tio hampir menyelesaikan kuliahnya, Udin memiliki bisnis kecil-kecilan dan kuliah, sedangkan Susan seorang karyawan di perusahaan besar.
"Terkadang rezeki datang di tempat yang berbeda, Susan kerjanya menggunakan AC, dan Helen bekerja mengurus anak-anak, tapi gajinya sama besarnya. Bahkan Helen paling kaya diantara kita." Udin geleng-geleng sambil terheran-heran.
"Apa bisnis kamu merugi Din?"
"Tidak, hanya saja aku bisa gaji karyawan, tapi aku tidak memiliki gaji." Udin garuk-garuk kepala karena jalannya masih panjang.
Altha tersenyum sinis, lebih mending Udin yang bisa memiliki kesempatan mengejar mimpinya dan memberikan pekerjaan untuk orang lain, meringankan beban orang lain sudah menjadi rezeki terbesar.
Susan juga sama memiliki tanggung jawab yang besar, mungkin orang melihat dia memiliki gaji besar, selalu bahagia padahal ada beberapa kali dia depresi karena pekerjaan tanpa ada orang yang tahu.
"Elen juga memiliki beban dalam pekerjaan, tingkat kesabaran sangat tinggi dan ada saatnya dia kecewa, kesal dan ingin menyerah, hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara dia mengatasi beban kerja yang berat." Alt memberikan jempol kepada Helen.
"Lalu kamu mengatakan aku beban?" Tio menatap Altha tidak suka.
"Mungkin, kamu masih membutuhkan lima sampai sepuluh tahun lagi untuk memiliki nama." Altha tersenyum sinis, dia juga tidak menyukai Tio.
"Lalu bagaimana dengan Al?" Aliya menakup wajahnya melihat Altha yang tersenyum.
Aliya juga tersenyum bahagia, dia memang paling beruntung karena keluarganya sudah lengkap.
Aliya melihat ke arah rumah Anggun yang juga heboh, Dika membagi tempat menyambut Aliya dan Anggun yang baru menjadi ibu.
Suara teriakan Dika dan Kenan terdengar sangat besar, memberikan selamat kepada Aliya yang sudah menjadi ibu.
Melihat kehebohan di depan rumahnya, Aliya sudah kehilangan Tika yang tidak tahu kapan menghilang.
Suara teriakan Tika terdengar di rumah Anggun memanggil adiknya Riana untuk bermain bersama Dean dan Diana.
Altha dan Aliya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putri mereka yang tidak bisa diam.
***
Sudah larut malam Altha belum juga tidur, satu kamarnya penuh karena ada ketiga anaknya. Bahkan Tika menyingkirkan tempat Papinya.
Alt membuka pintu kamar Juna, melihat putranya yang belum tidur karena masih belajar untuk mengejar ketertinggalannya.
__ADS_1
"Jangan terlalu memaksa diri Juna, kamu perlu banyak istirahat." Alt mengusap kepala putranya.
"Iya Pi, ini juga sudah selesai." Juna langsung melangkah ke atas ranjangnya.
Altha duduk di pinggir ranjang, membuka baju Juna melihat bekas luka tusukan.
"Jun, bekas luka ini mungkin tidak akan hilang sampai kamu tua, dan traumanya juga mungkin besar. Juna bisa takut darah ataupun senjata tajam." Alt menghela nafasnya melihat kondisi bekas luka diperut putranya.
Juna hanya tersenyum, dia tidak trauma sama sekali karena yang terluka dirinya bukan Maminya.
"Biarkan luka ini menjadi bekas Pi, akan Juna jadikan pelajaran agar cukup Juna yang terluka jangan sampai tiga wanita kita." Senyuman Juna terlihat, menarik selimutnya untuk tidur.
"Terima kasih Juna, kamu anak yang sangat kuat. Terima kasih nak, sudah menerima Mami, menyayangi dan menyelamatkan Mami." Altha mengusap matanya yang rasanya ingin menangis.
"Juna bahagia, saat papi bahagia. Jika Mami kebahagiaan Papi, maka itu juga kebahagiaan Juna dan Tika. Sekarang ada Juna, Tika, Riana dan Juan." Mata Juna langsung terpejam mengucapakan selamat malam.
Altha mematikan lampu, langsung meninggalkan putranya sendiri yang sudah mulai tidur.
Alt kembali ke kamarnya, mengangkat satu persatu baby untuk pindah ke ranjang bayi. Membiarkan Tika tidur dalam pelukan Aliya.
"Ayang, bagaimana kondisi Juna?"
"Emh ... aku rasa dia tidak trauma." Altha memeluk Aliya dari belakang.
"Bagaimana soal pelaku?" Al menatap wajah suaminya.
Altha meminta hukuman mati untuk Ayahnya Citra, dia bukan hanya membunuh kedua orang tua Altha, tapi juga berencana membunuh Istri dan anak-anaknya.
"Bagaimana dengan Citra? dia tahu kondisi Juna dan ayahnya." Al menghela nafasnya.
Altha tidak mengizinkan ada yang mengatakan kepada Citra, tapi soal Ayahnya hukuman mati setelah melarikan diri sudah tersebar, kemungkinan besar Citra sudah tahu.
"Sayang, kita lupakan soal mereka. Kita fokus ke anak-anak." Alt tersenyum memeluk erat istrinya.
***
follow Ig Vhiaazara
Senin waktunya VOTE
__ADS_1