ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SENTUHAN TANGAN


__ADS_3

Suara teriak Altha terdengar menggema di dalam rumah, Aliya yang sedang makan tersedak langsung membawa makanannya.


"Kamu, bocah pengacau." Alt ingin menangkap lengan Aliya yang berhasil menghindar.


"Anak-anak diculik." Al tersenyum masih sempat menyendok makanan ke mulutnya.


Altha terdiam, wajahnya terkejut sekali. Matanya menunjukkan kemarahan membuat Aliya panik, langsung cepat menghabiskan makanannya.


"Di mana anak-anak?"


"Di culik Mamanya." Al berlari mengambil minuman dari tangan Dimas langsung menghabiskannya.


"Kenapa membawa anak-anak tanpa pemberitahuan?" Al mengecek ponselnya, hanya ada pesan singkat dari Citra.


Aliya dan Dimas saling pandang, hubungan Altha dan Citra semakin memanas, bahkan sulit dicairkan.


Senyuman Al terlihat, Dimas langsung menatap tajam meminta Aliya menjelaskan semuanya.


Al menggelengkan kepalanya, dia tidak suka berbagi rahasia dengan siapapun. Meskipun Al sangat mempercayai Dimas, memiliki banyak luka mengajari Al untuk mempercayai diri sendiri.


"Kenapa kamu membuat kacau perusahaan?"


"Jangan terlalu dipikirkan, aku sudah membereskan semuanya." Al tersenyum langsung duduk melanjutkan makan.


Seharian Al belum makan, perutnya sangat lapar dan tidak bisa berpikir. Ocehan Dimas menjadi lagu untuk Al yang makan sambil menggoyangkan kepalanya.


"Lima tahun yang lalu aku tidak menahan kamu, karena masih di bawah umur." Alt menatap tajam Aliya yang menghentikan makannya.


Senyuman Aliya terlihat, mendekati wajah Altha. Lima tahun yang lalu, ataupun sekarang Altha tidak akan pernah bisa menangkapnya.


Aliya tidak pernah melakukan kejahatan apapun, dirinya hanya memanfaatkan momen kejahatan untuk keuntungannya.


"Kamu membantu pelarian Hariz, apa itu bukan kejahatan?" Alt menatap tajam, melihat mata istri mudanya yang pecicilan.


"Apa kamu punya bukti? jika tidak ada jangan bicara sembarang nantinya jadi fitnah." Al mengusap wajah suaminya, tapi langsung ditepis.


Dimas memijit pelipisnya melihat pertengkaran Aliya dan Altha, keduanya seperti kucing dan tikus tidak ingin mengalah, bahkan Altha menjadi cerewet setelah bertemu Aliya.


"Kalian berdua bisa diam tidak?" Dimas berteriak, tidak dipedulikan oleh pasangan suami istri.

__ADS_1


"Sebaiknya aku pulang, tidak ada gunanya bicara dengan kalian." Ucapan Dimas benar-benar tidak dihiraukan.


Perdebatan keduanya akhirnya berhenti, Altha memilih mengalah dan ingin bicara baik-baik bersama Aliya.


Senyuman Al terlihat, duduk di samping Alt menjelaskan semuanya soal perusahan, tapi hanya sebatas saham King grup, tidak menceritakan jika Citra tidak ada sangkut pautnya lagi dengan AT grup.


Apa yang Aliya lakukan, memang yang terbaik untuk perusahaan. Alt tidak bisa berbohong jika Aliya sangat cerdas dalam menipu orang.


"Sejak kapan kamu menjadi seorang hacker?"


"Aku bukan hacker, hanya sekedar bersenang-senang." Al menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap wajah Altha.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan? saat mengetahui jika kita kontrak satu tahun, kamu terlihat biasa saja, tidak ada keterkejutan. Boleh aku tahu alasan?" Suara Altha sangat pelan, bahkan hampir tidak terdengar.


Suara helaan nafas panjang terdengar, Aliya tidak punya alasan untuk terkejut, marah, kecewa atau apapun.


Perjalanan hidupnya terlalu pahit, tidak ada yang tahu sakitnya dirinya hidup di dunia. Merasa kecewa sudah biasa, sakit hal biasa, marah setiap hari terjadi, tubuhnya sudah kebal.


"Aku tidak perduli apa yang terjadi hari esok apalagi satu tahun yang akan datang. Bisa hidup dan bertemu besok sudah sesuatu keberuntungan, atau sesuatu kesialan." Al melangkah pergi meninggalkan Altha yang menatap punggungnya.


"Aliya, aku punya satu pertanyaan terakhir?"


Al melihat ke arah Altha, senyuman terlihat menatap lelaki tampan dihadapannya. Pertanyaan Al di malam dirinya tidak sadarkan diri, apa mungkin terjadi sesuatu diantara mereka?


"Bohong." Altha bergumam di dalam hatinya, perlahan Altha bisa membedakan tatapan tajam Aliya saat berbohong dan jujur.


***


Kening Juna berkerut melihat seorang pria mampir ke apartemen Mamanya, tatapan mata lembut dan penuh kesedihan.


"Ma, ada tamu."


Citra langsung berlari setelah membuatkan makan malam bersama anak-anaknya, air mata Roby terlihat menatap Tika dan Mora yang sedang bermain.


"Roby kenapa kamu datang?" Citra menarik keluar dan meminta Roby tidak lancang, karena jika Altha tahu hidup Citra akan hancur.


"Aku ingin melihat dia."


"Aku mohon jangan, berikan aku sedikit waktu untuk menyiapkan diri. Aku mohon Roby, demi kebaikan anak-anak." Citra meneteskan air matanya, tidak tega melihat pria sebaik Roby tersakiti.

__ADS_1


Langkah kaki tidak berarah, Roby berjalan pergi setelah melihat anaknya untuk pertama kalinya.


"Daddy tega sekali menghancurkan hidup Roby, ya Allah sebesar ini dosa yang aku lakukan, tapi aku tidak menyadarinya." Roby terduduk di dalam lift, tidak tahu berapa banyak air mata yang tumpah.


Sepanjang jalan Roby melangkah pergi, dirinya berpikir dia tidak memiliki kesalahan kepada siapapun, bahkan dengan bangganya mengajari siswa soal agama, padahal dirinya tidak berkaca.


Ayahnya seorang bandar, sedangkan dirinya seorang lelaki yang menghamili istri orang meskipun bukan keinginan dirinya, lahir seorang anak yang tidak berdosa.


Tubuh Roby terduduk, bersujud di jalanan sambil menangis histeris memukulkan tangannya kuat sampai terluka.


"Apa yang bapak lakukan? bersujud berharap ada uang jatuh?" Al mengunyah sate yang baru dia beli, tidak jauh dari kediaman Altha.


Roby mengusap air matanya, tidak menjawab pernyataan Aliya. Tatapan matanya kosong melihat ke depan.


Aliya tahu penyebab Roby terpukul, Hariz sungguh kejam kepada putranya sendiri. Al memilih pergi tidak ingin ikut campur lebih jauh soal Citra dan Roby, tapi melihat keadaan gurunya yang sedang terpuruk dan hancur membuat hati Al tidak tega.


"Pak, banyak hal yang terjadi di luar batas kemampuan kita bahkan di luar logika, tapi ini kenyataannya yang harus dihadapi. Menangis dan terpuruk bukan solusinya, apa yang terjadi tidak bisa diulang, bapak hanya perlu memperbaikinya, meskipun itu tidak mudah. Al melangkah mundur, membiarkan Roby bangkit berdiri.


"Saya tidak pantas menasehati siapapun, aku malu hidup seperti ini."


"Jika bapak malu hidup, maka mati saja. Bapak hanya memiliki dua pilihan, hidup dengan penderitaan atau mati melawan takdir." Al langsung berlari untuk pulang ke rumah.


Pilihan yang Aliya berikan bukan untuk Roby, tapi dirinya sendiri. Mati melawan takdir, berarti takdir bisa diubah.


Suara langkah kaki Aliya berlari terdengar, langsung membuka pintu. Al tidak menyadari kehadiran Altha yang menunggunya pulang.


"Aliya, Tika menghubungi kamu." Alt mengejar Al ke kamarnya yang langsung tidur tengkurap di atas ranjang.


Suara teriak Tika terdengar memanggil Mami, Al melihat Altha yang berdiri menatap penuh tanda tanya.


"Kamu baik-baik saja?"


"Tidak, Aliya beli sate sepuluh, harganya naik hanya dapat sembilan. Membuat kesal saja."


"Aku rasa bukan jumlahnya dari penjualannya yang berkurang, tapi kamu makan sepanjang jalan." Alt tersenyum menyentuh bibir Aliya yang ada bekas sate.


Mata keduanya bertemu, Aliya melihat tangan Altha yang membersihkan bibirnya tanpa sadar jika Citra melihat mereka dari panggilan video yang langsung mati.


***

__ADS_1


VOTE LIKE COMENT DAN HADIAHNYA DITUNGGU UNTUK MENSUPPORT KARYA BARU


***


__ADS_2