ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RAHASIA RUMAH


__ADS_3

Mobil Atika kebut-kebutan di jalanan, dirinya sangat penasaran hubungan Genta dan Shin yang secara tiba-tiba bisa dekat.


Saat tiba di rumah Shin, mobil Genta keluar meninggalkan kediaman. Tika mengumpat kasar, dirinya gagal bertemu Genta.


"Atika, aku di sini." Shin melambaikan tangannya dari lantai atas.


Tika keluar mobil, langsung masuk ke dalam rumah. Langkah Tika terhenti saat melihat seisi rumah hancur.


Banyak barang yang berhamburan tidak berada pada tempatnya, suara langkah kaki Shin juga terdengar menuruni tangga.


"Apa yang terjadi di sini?"


"Mami datang, mencari surat rumah." Shin tersenyum, meminta Tika duduk.


"Jadi rumah ini dijual, kamu dikhianati?" kepala Tika geleng-geleng.


Kepala Shin hanya mengangguk, dirinya tidak mempermasalahkan soal rumah, tapi setidaknya Maminya menyapa. Mempertanyakan kabar Shin setelah bertahun-tahun ditinggalkan, berjuang sendiri untuk bertahan.


Bukan harta yang ingin Shin pertahanan, tetapi meminta alasan kenapa dirinya dibuang, tidak dianggap ada di dunia.


"Shin, kebenaran sangat menyakitkan. Jika tidak siap dengan kebenaran sebaiknya jangan pernah mencari tahu." Tika meminta Shin memikirkan rencana kedepannya.


Sesaat Shin diam, ucapan Tika sama dengan Genta. Shin tidak harus memikirkan alasan kedatangan Maminya, tapi mempersiapkan langkah selanjutnya untuk bertahan.


"Apa yang harus aku bawa dari rumah ini?" Shin langsung berdiri, tidak ada barang berharga, kecuali perabotan.


"Kamu ingin pindah ke mana?"


"Restoran, di sana jauh lebih aman."


Kepala Tika mengangguk, setuju dengan keputusan untuk pindah ke restoran love. Di sana juga penjaga ketat, apalagi ada ruangan pribadi Tika.


"Kenapa tadi ada mobil Om tua?"


Senyuman Shin terlihat, menatap Tika dengan pandangan menggoda. Tika terlihat penasaran sekali dengan pembicaraan Shin dan Genta.


"Kenapa? cemburu. Sekarang sudah mulai mengagumi pria." Mata Shin menyipit, telunjuknya menyentuh hidung Tika.


Pukulan Tika sangat kuat, Shin langsung meringis kesakitan. Tubuhnya yang belum pulih total masih perlu waktu untuk penyembuhan.


Atika langsung cemas dan meminta maaf, dirinya tidak sengaja menyakiti Shin. Tika hanya tidak suka digoda apalagi bersangkutan dengan Genta.


"Kak Genta menyelidiki identitas aku, apapun alasannya aku tidak tahu? apa manfaatnya untuk Om tua juga tidak tahu?" Helaan napas Shin terdengar.

__ADS_1


Dirinya tidak ingin bertanya banyak hal, apapun yang Genta selidiki pastinya ada sebuah kasus yang sedang dalam proses penyelidikan.


"Shin, kamu tidak berpikir buruk soal Genta?"


"Tidak, lebih tepatnya aku tidak peduli." Senyuman Shin terlihat, langsung masuk ke ruangan perpustakaan.


Shin berencana membawa seluruh buku untuk disumbangkan ke museum bawah tanah milik Papa Calvin, karena menurut cerita Diana banyak buku sejarah yang sedang dicari.


"Buku sebanyak ini?" Tika kebingungan cara membawanya.


"Bantu aku bongkar semuanya, perpustakaan ini mungkin memiliki rahasia." Shin mengumpulkan buku untuk dirapikan, dan berpidah tempat.


Kening Tika berkerut, langsung menurunkan seluruh buku yang ada di atas rak, Tika tidak tahu kapan selesainya, karena bukunya terlalu banyak.


Shin memilih beberapa buku penting yang akan dirinya ambil, selainya diikat untuk pindah ke perpustakaan baru.


Suara Tika tertidur terdengar, pintu terbuka Juan muncul setelah pulang sekolah bersama saudaranya.


Ria langsung lompat di atas buku, ikut tiduran bersama Tika yang tidur nyenyak di atas tumpukan buku.


"Sudah berapa lama kak Shin bongkar buku?" Dean langsung duduk di atas buku.


"Sekitar lima jam, dan beberapa buku sudah diangkut." Senyuman Shin terlihat.


Banyak sekali buku soal pengobatan, Shin hanya mengambil beberapa yang penting, sisanya akan di urus oleh Papa Calvin.


"Kak Shin, Ria lapar."


"Baiklah, Kak Shin masak dulu sebentar." Shin meninggalkan ruangan perpustakaan untuk menyiapkan makanan anak-anak.


Kepala Dean melihat ke tas rak yang sudah kosong, melihat sebuah tombol yang sudah kusam juga hampir tidak terlihat.


"Kak Juan, itu apa?" Dean menunjuk ke atas rak.


"Tombol sesuatu, kira-kira apa?"


Ria juga melihat ke arah yang sama, langsung memanjat rak menekan tombol kecil membuat Juan dan Dean berteriak meminta Ria turun.


Atika langsung terbangun, menatap adiknya yang berada di atas. Ria lompat ke atas tumpukan buku, Tika menarik Ria untuk menjauh.


Seluruh Rak mulai berjatuhan, Tika meminta Juan dan Dean keluar. Ria juga berlari kencang. Atika menutup pintu gerbang perpustakaan.


Rumah langsung bergetar, barang-barang berjatuhan. Tika berteriak memanggil Shin untuk keluar dari rumah.

__ADS_1


"Suara apa Tika?"


"Kita semua keluar." Tika meminta adik-adiknya berlari.


Dari luar rumah Shin dan Tika terkejut melihat rumah mulai hancur, Ria memeluk Kakaknya Juan ketakutan, karena menghacurkan rumah mewah Shin.


Satu-persatu bangunan berjatuhan, Shin mengigit bibir bawahnya memikirkan buku-buku yang masih tertinggal.


"Maafkan Ria, aku yang menghancurkan rumah." Tangisan Ria terdengar.


"Kamu tidak sekuat itu Ria, rumah ini sudah tua, jadi sudah wajar saja hancur." Shin tersenyum sangat manis menenangkan Ria.


Tatapan Shin melihat Atika, bangunan jatuh dengan santainya. Jika memang dibuat untuk diledakkan pasti ada bunyi dentuman.


Bangunan hanya jatuh perlahan, seperti ada benda yang sudah lama tertanam, jika sudah waktunya hanya perlu menekan tombol maka bangunan hancur.


"Ada benda yang tertanam di setiap pondasi rumah, ini seperti penjara yang bisa dihancurkan dalam beberapa menit." Dean bertepuk tangan.


"Dean tahu dari mana?" Shin menatap bocah di sampingnya.


"Tadi ada tombol yang ditekan Tika, pasti ada remote pengendali. Ini rumah orang jahat, tempat menyembunyikan banyak barang terlarang." Dean menutup mulutnya, meminta maaf kepada Shin jika dirinya lancang.


Shin melihat sekitar, rumahnya berada di pusat kota, tapi tidak ada satupun orang yang terkejut dengan kehancuran rumah.


Banyak misteri dari rumah lama Shin, pantas saja orang sekitar terlihat cuek saja. Melewati rumah seakan rumah Shin tempat yang menakutkan.


"Ayo kita masuk, selamatkan buku-buku tersisa." Tika melangkah maju.


Shin menahan pergelangan tangan Tika, memintanya untuk sebaiknya pergi apalagi ada anak-anak terlalu berbahaya.


Mungkin saja bisa ada barang yang berjatuhan, Shin tidak ingin mengambil resiko apalagi ucapan Dean ada benarnya.


"Kamu yakin, lalu bagaimana dengan buku." Tika menatap Shin. tajam.


"Nanti malam saja, saat keadaan sunyi. Kita hentikan dulu pengiriman buku. Hari ini sungguh melelahkan." Shin merangkul Dean dan Juan untuk melangkah pergi.


Tika langsung mengandeng tangan Ria untuk pergi, perasaan Tika tahu jika Shin sedang banyak pikiran soal dirinya.


Di dalam mobil Shin hanya diam, dirinya bertanya-tanya siapa dia sehingga bisa berada di rumah yang begitu memiliki banyak rahasia.


Bodohnya dirinya yang tidak pernah penasaran tentang asal-usul dirinya. Shin sekarang binggung ingin tahu kebenaran, atau menguburnya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2