ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DIMAAFKAN


__ADS_3

Mata Genta terbuka, melihat sekitarnya. Tika tidur di kursi sambil memegang tangannya, sedangkan Shin ada di atas sofa juga terlelap tidur.


Pelan-pelan Genta melepaskan genggaman tangan Tika, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Penglihatan Genta fokus kepada tanggal pernikahannya.


Tanggal pernikahan semakin dekat, sedangkan Tika dan Genta jauh dari kata siap. Mereka belum melakukan fitting baju pengantin, belum merencanakan bagaimana dengan pesta, bahkan soal mas kawin juga belum dibahas.


"Maafkan aku Tik, kamu pasti sangat kecewa karena pernikahan kamu tidak sesuai harapan." Genta mengusap wajahnya merasa bersalah karena tidak bisa mempersiapkan pernikahan seperti impian Tika.


"Kak, kenapa menghela napas terus?" Shin duduk saat terbangun dari tidurnya.


Senyuman Genta terlihat, menggelengkan kepalanya. Hanya ada sedikit kekecewaan soal pernikahan, diundur sudah tidak mungkin, tapi kasihan melihat Tika yang pasti memiliki impian untuk hari bahagianya.


Shin berjalan ke arah ranjang, memeluk kakaknya yang bisa kembali dalam keadaan baik dan bisa berkumpul bersama mereka lagi.


"Mama dan Kak Di sudah turun langsung menggantikan Kak Gen untuk semua persiapan, sebelum hari H sempatkan waktu untuk merawat diri." Pelukan Shin erat, takut sekali kehilangan kakaknya.


"Yang, kenapa? apa ada yang sakit?"


"Semua badan aku sakit karena menggendong kamu,"


Tawa kecil Tika terdengar, naik ke atas ranjang memeluk Genta yang hanya bisa menyambut pelukan. Hati Genta sangat bahagia jika bisa memeluk dua wanita yang sangat dicintainya.


"Ayang, cium." Bibir Tika monyong, tamparan di mulutnya mendarat.


"Sudah jangan bertengkar, kita di rumah sakit. Shin, tidak boleh memukul Kakak ipar kamu." Genta mengusap-usap kepala adiknya yang masih ingat memukul mulut Tika.


Secara tiba-tiba Atika diam, jika Shin adik iparnya maka Juna Kakak ipar Genta. Jika Juna dan Shin menikah, Shin berubah menjadi kakak ipar Tika, sedangkan Juna menjadi Adik ipar Genta. Kepala Tika berdenyut sakit.


Memikirkan siapa yang menjadi Kakak dan menjadi adik membuat kepada Tika ingin meledak, hubungan mereka sangat membingungkan lebih kacau lagi jika Genta sampai tahu.


Shin berpikir hanya dirinya yang tahu soal perasaannya, sedangkan Juna berpikir hanya dia yang memiliki perasaan kepada Shin. Tidak ada yang memikirkan soal Tika yang tahu keduanya, dan hanya Genta yang beruntung tidak tahu apapun.


"Soal Deli jangan di pikirkan Tika,"


"Tidak ada yang memikirkan Deli Om, Tika memikirkan diri sendiri?"

__ADS_1


"Kak sebenarnya apa motif Deli kepada kita semua?" Shin duduk ingin mengetahui detail.


Kebenaran yang Genta dapatkan, Deli memiliki dendam lama terhadap Aliya juga Diana. Keluarga berantakan, Dina yang masih kecil hanya tahu jika orang yang menghancurkan keluarga salah tanpa tahu penyebabnya.


Kedua orang tua Dina berpisah, Ibunya mengejar cinta Altha yang berakhir menikahi Aliya, sedangkan Papa Dina menjadi bawahan Diana dan tewas dalam misi.


"Lalu apa sekarang dia berniat balas dendam kepada Mami?" Juna melangkah masuk setelah melihat CCTV jika Genta terbangun.


"Tidak, dia tahu jika tidak mungkin bisa menyentuh Aliya apalagi Diana." Dia hanya memiliki amarah, tapi tidak ingin bertindak gegabah.


"Dia memanfaatkan Kak Ana?"


"Ana tidak salah Shin, hubungannya dan Dina memang baik dan kedekatan keduanya juga bukan dengan sengaja." Genta yakin, Dina tidak berniat mencelakai Ana.


Dimata mata Hana Dina wanita yang sangat baik, itulah kebenarannya. Dina sangat baik, dibesarkan di panti, berjuang hidup hingga memiliki sahabat baik.


Salah Dina dia hanya menyimpang untuk menghasilkan sesuatu lebih cepat, Dina menjual dirinya sendiri agar bisa mendapatkan kehidupan mewah meksipun hanya anak yatim-piatu.


Demi hubungan baiknya dengan Hana, maka hadirlah sosok Dini yang selama ini Shin temukan.


"Bukan sesuai dosis, rencananya Dina hanya membuat Ana pingsan sehingga dia memiliki peluang bergabung lebih dekat dengan keluarga." Genta mengusap waja Shin yang terlihat emosi.


"Apa yang dia rencanakan jika berhasil masuk?" Juna menjadi penasaran karena lawannya bukan orang lemah.


"Membatalkan pernikahan aku dan Tika, lalu dia yang mengantikan Tika. Jika masih gagal, mungkin akan mendekati Juna menyalahkan Shin atas gagalnya hubungan dengan Ana." Keluarga akan semakin pecah belah jika ada salah satu yang batal menikah.


Senyuman Tika terlihat, rencana yang sangat bagus, tapi sayangnya dia tidak tahu siapa Tika yang sebenarnya.


"Apa dia mempunyai komplotan?"


"Hanya Am, sedangkan yang lainnya hanya orang bayaran." Genta mengusap wajahnya jika semuanya sudah berakhir. Berharap hal buruk tidak menimpa mereka lagi.


Kepala Juna mengangguk, paham tidaknya hanya mengangguk saja. Juna juga berharap perasaan semakin jelas sehingga tidak membingungkan dirinya.


"Istirahat saja dulu Kak, jika matahari sudah muncul ruangan ini hancur. Shin kamu pindah ke ruangan aku saja, kepala kamu masih pusing. Tika Kak Juna memantau kamu lewat CCTV." Tangan Juna menunjuk ke arah CCTV.

__ADS_1


Senyuman Tika terlihat, mematikan CCTV terlalu mudah baginya. Dia bahkan tidak peduli jika semua orang tahu tidur satu ranjang dengan calon suaminya.


"Kenapa bukan Tika yang tidur di ruangan kamu Juna? kenapa harus Shin?"


"Isel membuat Shin gegar otak ringan, dia membutuhkan tempat tidur yang nyaman. Aku tidak mungkin memiliki pikiran buruk,"


Tawa kecil Genta terdengar, dia tidak pernah memikirkan hal buruk soal Juna. Lelaki yang paling Genta percaya menjaga Shin hanya Juna dan saudara lelakinya.


Jalan Shin pelan mengikuti Juna, hawa dingin terasa seperti saat pertama mereka kenal. Juna menjadi kutub Utara yang selalu mengabaikan Shin.


Pintu ruangan terbuka, Shin melangkah masuk. Juna mempersilahkan ke ruangan kamar khusus dirinya.


"Ay,"


"Tidurlah, aku juga ingin beristirahat." Juna melewati Shin, menutup gorden untuk tidur di sofa.


"Ay Jun, Shin ingin meminta maaf karena sudah berkata kasar juga membentak." Shin mengintip Juna yang sudah memejamkan mata.


"Sudah aku maafkan, lain kali jangan diulangi." Juna mengabaikan Shin yang berjalan ke atas ranjang untuk melanjutkan tidurnya.


Senyuman Juna terlihat, merasa lega karena Shin sudah tidak salah paham lagi. Sebenarnya Juna juga kebingungan cara memulai bicara, suasana terlalu canggung.


"Ay, kenapa ... kenapa pertunangan dibatalkan?"


"Tidurlah, aku tidak ingin membahasnya." Senyuman Juna semakin lebar, menyukai suara lembut Shin yang terdengar manja.


"Shin hanya penasaran," tidak ada jawaban dari Juna, Shin menghela napasnya merasa Juna masih marah.


"Ay ... ay Jun." Berkali-kali panggilan Shin tidak terjawab, berpikir Juna sudah tidur karena lelah bekerja.


Mata Juna masih terbuka lebar, dia sengaja tidak menjawab agar Shin diam. Seandainya Shik tahu dialah alasan Juna membatalkan semuanya.


"Kenapa hubungan ini rasanya rumit?" Juna memejamkan mata memaksa untuk tidur.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2