ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KESIANGAN


__ADS_3

Tangan Aliya melambai, melihat Citra angkat kaki dari rumah mereka saat tengah malam. Al menunggu serangan balik Citra soal meminta hak asuh seluruh anaknya.


Al sudah menduga ini akan terjadi, dan sudah mempersiapkan sesuatu yang istimewa untuk Citra agar dia tahu diri jika Al bukan lawan yang imbang untuknya.


Altha masih duduk di pinggir ranjang, penasaran dengan hubungan Aliya dan Citra yang sama-sama aneh.


"Seberapa banyak rahasia yang tidak aku ketahui?" batin Alt dalam hati.


Ancaman Citra terdengar nyata, bahkan penuh keyakinan, tetapi Aliya juga terlihat sangat santai dan masih bisa mengancam balik.


"Memikirkan apa? memang kedua orang tua kamu meninggalkan karena apa?" Al duduk di samping suaminya, melarang Altha menjawab jika memang sulit untuk diceritakan.


Aliya sangat mengerti jika mengungkit masa menyakitkan keluarga bukan hal yang mudah, Al juga tidak ingin tahu. Hanya saja ucapan Citra mungkin ada sesuatu yang tersembunyi.


"Lebih baik kita istirahat, seharian ini cukup melelahkan. Perlahan aku akan ceritakan soal keluarga aku." Al langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Al langsung memejamkan matanya untuk tidur, dia memang sangat lelah seharian melihat banyak drama.


Tangan Al meremas seprai ranjang, merasakan belaian tangan Alt bahkan merasakan ciuman hangat di keningnya.


Mata Aliya masih tertutup, membiarkan Alt melakukannya bahkan menyentuh bibirnya.


Altha langsung memejamkan matanya, menarik selimut menutupi tubuh mereka sambil memeluk erat.


Al merasakan kehangatan berada dalam pelukan Altha, rasanya dirinya benar-benar menjadi seorang istri meskipun tidak melakukan kewajibannya.


***


"Altha ... ayang." Aliya berteriak kuat memeluk erat suaminya.


"Ada apa Al? kepala aku pusing sekali kurang tidur." Al mengacak-acak rambutnya.


"Ada tuyul memeluk di belakang?" Al mengeratkan pelukannya, bahkan bisa mencium aroma tubuh suaminya.


Altha masih memejamkan matanya, hari libur akan menjadi tidur yang panjang baginya tidak mempedulikan rengekan Aliya soal tuyul.


Pintu kamar terbuka, Juna meletakkan adiknya Mora di atas ranjang langsung lompat ke atas tubuh Papinya.


Mora melanjutkan tidurnya di atas tubuh Alt, sedangkan Aliya memeluk erat, Tika ada di belakang Aliya juga asik tidur.


"Ini sudah jam sembilan, sedangkan kalian masih tidur." Juna mengunyah roti Mora, membenarkan kaki Tika yang hampir jatuh.


Juna langsung naik ke ranjang, memeluk punggung Papinya juga adiknya Mora yang masih ingin lanjut tidur.


Tangan Juna mencubit tangan Maminya yang memeluk erat, memintanya untuk segera bangun.


"Sakit, ingin aku potong tangan kamu?" Al bergumam.

__ADS_1


Arjuna tersenyum, ini pertama kalinya tidur di atas ranjang berlima. Perlahan mata Juna terpejam.


Matahari sudah tinggi, ketukan pintu diabaikan. Dimas membuka perlahan menatap di atas ranjang sudah full.


"Astaghfirullah Al azim, apa mereka tidur seperti ini?" Anggun tersenyum melihat sebuah keluarga yang harmonis.


"Kenapa? kamu juga ingin tidur?"


"Tidak, aku hanya ingin menjadi seorang ibu, juga Istri." Senyuman Anggun terlihat.


Mata Altha perlahan terbuka, melihat Aliya memeluknya erat bahkan wajah Al ada di lehernya.


"Al bangun, sakit semua badan aku." Alt kesulitan bergerak.


Aliya membuka matanya, mencium bibir suaminya yang masih protes karena badannya tidak bisa bergerak.


"Al, minggir."


"Sudah Al lepaskan." Aliya melihat pinggangnya dipeluk erat.


Tatapan Al melihat monster kecil yang ada di atas tubuh Alt, dan juga ada tangan memeluk pinggang Altha.


"Siapa di belakang aku?"


"Arjuna." Aliya tersenyum memeluk Altha lagi.


"Bangun semuanya, tubuh Papi tidak bisa bergerak." Altha berteriak saat kesadaran penuh.


"Tika turun kasihan Mami, Juna lepaskan Papi. Ambil Mora dari atas tubuh Papi." Alt merasakan tangannya sakit tertimpa.


Juna langsung bangun, mengambil adiknya yang juga terbangun. Aliya dan Tika duduk dengan rambut acak-acakan.


Altha berteriak kaget melihat rambut Tika dan Al, langsung duduk melihat mereka berlima tidur bersama.


"Good morning Mami Papi." Tika tersenyum mengusap iler.


"Pagi Tika, kenapa kamu ada di sini?" Altha mengusap wajahnya melihat Juna dan Mora duduk sambil memejamkan matanya.


"Good night semuanya," Dimas menahan tawa.


Anggun tersenyum manis melihat kebahagiaan keluarga Aliya, sungguh membuat hatinya bahagia.


Aliya dan Altha kaget melihat Dimas dan Anggun ada di kamar mereka, bahkan duduk sambil minum kopi.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Berkerja, apa lagi. Tidak ada hari libur untuk kita yang sedang dalam penyelidikan." Dimas melangkah keluar, meminta Altha segera menyusulnya.

__ADS_1


Alt melihat jam sudah pukul satu siang, mereka sudah melewati pagi dan terlalu banyak tidur.


"Mami, Tika lapar."


"Ayo kita mandi, lalu makan." Al turun dari ranjang, menggendong Mora untuk segera mandi.


"Juna kamu jangan tidur lagi, sana kembali ke kamar." Altha berlari ke kamar mandi.


Anggun menggendong Tika, mengikuti Aliya ke kamar anak-anak.


"Al, di sini tidak ada baby sister?"


"Ada kak, tapi ini hari libur mereka juga butuh waktu untuk bersama keluarga." Senyuman Al terlihat, membuka pintu kamar.


Selesai memandikan Mora dan Tika, Al langsung merapikan rambut keduanya untuk diikat.


"Kamu bisa menjadi ibu yang baik Al."


"Iya, karena aku sudah berjanji akan membalas jasa masa lalu. Anak-anaknya akan aman bersamaku." Al mencium pipi kedua putrinya langsung keluar untuk menyiapkan makan.


Anggun melangkah melihat kemampuan Al mengurus anak-anak, tidak ada kendala sama sekali.


"Ada kasus apa lagi kak Dimas?"


Anggun menatap Dimas dan Altha yang sedang bicara, saat subuh Dimas dan tim melakukan penangkapan terhadap bandar, juga salah satu pelaku pelecehan dan penganiayaan.


Altha yang mengirim alamat, ada tujuh pria yang melecehkan, bahkan ibu korban salah satu pelaku yang menjual.


"Anak remaja yang bunuh diri hampir membawa Juna mati mengalami depresi, dia tidak mendapatkan kasih sayang juga diperlakukan kasar sehingga memilih jalan salah." Kepala Anggun tertunduk, meskipun kasus sudah di meja hijau, tidak ada yang bisa menyelamatkan hingga kematian.


Al meremas tangannya kuat, hatinya terasa remuk meraksasa apa yang dirasakan gadis remaja.


Bukan salah anak lahir ke dunia, tapi salah orang tua yang gagal menjaga dan mendidik.


"Kak Anggun ingin tahu kenapa Al lama tidak lulus?" Al menatap serius, melihat kedua putrinya yang asik makan.


Anggun langsung memeluk Aliya, Anggun tahu Al memiliki banyak rahasia tidak ada yang bisa mengerti dirinya.


"Al, kamu punya kak Anggun untuk dipercaya, janji seorang kakak untuk setia." Jari kelingking Anggun terlihat, menyambut jari Aliya.


"Kak Anggun berjanji tidak akan berkhianat?"


"Iya, kak Anggun janji." Air mata Anggun menetes.


"Janji, akan mempercayai Al sekalipun dunia menyalahkan." Al mengigit bibirnya.


"Janji."

__ADS_1


"Kak, Al bukan anak bodoh yang menetap tinggal kelas selama dua tahun, tapi demi mereka." Al menunjukkan sesuatu kepada Anggun yang terkejut melihatnya.


***


__ADS_2