ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PANGGILAN


__ADS_3

Mobil tiba di rumah, Alt meminta Aliya dan Juna turun. Dirinya ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat korban.


Tangan Aliya menahan Altha, meminta menunggu dirinya sebentar untuk bicara dengan Juna.


Pintu kamar terbuka, Juna langsung menutup keras membuat Aliya menghentikan langkahnya.


Lebih dari lima belas menit Aliya berdiri di depan kamar, Altha yang berniat pergi mengurungkan niatnya.


Tatapan Alt fokus melihat punggung Aliya yang berdiri sambil menundukkan kepalanya, perhatian Al melebihi Citra, kasih sayang dia tulus untuk anak-anaknya.


Al bisa dewasa soal anak-anak melebihi umurnya, ada banyak luka yang Al pendam, tidak ada yang tahu sebesar apa rasa traumanya.


Perlahan Aliya melangkah masuk melihat Juna yang baru selesai mandi, duduk diam di pinggir ranjangnya.


"Kamu takut?" Al menatap punggung putranya yang masih diam.


"Kenapa dia bunuh diri?" pandangan Juna melihat ke lantai.


Senyuman Aliya terlihat, meminta Juna mendengarkan dirinya yang ingin menceritakan seorang monster yang bermain dengan kematian.


Tatapan Juna langsung terarah kepada Aliya, melangkah mendekatinya ingin mendengar cerita monster.


"Lima belas tahun yang lalu ada pembantaian di sebuah rumah mewah, rumah yang berada jauh dari jangkauan penduduk." Al tersenyum, menceritakan suasana hutan yang gelap, tapi ada kehidupan keluarga yang sangat dingin.


Di sana tinggal sepasang suami-istri, juga kedua anaknya. Ibu mereka wanita yang sangat pendiam, jarang berkomunikasi hanya sibuk dengan pekerjaannya.


Sedangkan ayah mereka jarang pulang, saat pulang dia membawa wanita lain untuk menggantikan istrinya.


Keributan terjadi, pertengkaran bahkan saling pukul antara suami istri. Istri muda tertawa melihat pertengkaran, bahkan anak-anak mereka juga tertawa.


Tembakan terdengar menembus kepala, istri pertama tewas. Suasana langsung panik dan menakutkan.


Hujan turun dengan derasnya, suara tembakan kembali terdengar menembus dada suami, tembakan ketiga kembali terdengar sampai tembakan kelima.


"Apa kamu takut Juna?" Al tersenyum melihat ekspresi Arjuna.


"Sedikit, karena itu hanya mitos. Seandainya Juna ada di sana pasti sangat menakutkan?"


"Jika kamu satu-satunya orang yang selamat, apa yang akan kamu lakukan?"


Juna terdiam sesaat, mungkin gila dan depresi. Membayangkannya saja sudah mengerikan dan bisa membuat trauma, sulit hidup dalam bayangan gelap.


"Siapa yang disalahkan? Arjuna hidup kita terkadang ada waktu sialnya, sama seperti kamu hari ini. Menjadi dewasa itu tidak mudah, kamu harus melihat dunia nyata yang penuh kekerasan, kekejaman, kasih sayang, juga cinta." Al mengusap kepala Juna, memintanya untuk melupakan yang terjadi meskipun sulit.


Kepala Juna mengangguk, dia baik-baik saja meskipun awalnya menakutkan. Rasanya nyawa Juna saat itu sedang ada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Juna ingin tidur, rasanya hari ini melelahkan."


"Baiklah, beristirahatlah." Al langsung berdiri ingin melangkah pergi.


"Boleh Juna bertanya tiga pertanyaan?"


Al menoleh langsung mengangguk kepalanya, mengizinkan Juna untuk bertanya, Al akan menjawab sebisanya.


"Apa cerita tadi nyata? jika nyata apa ada yang selamat? jika ada apa sekarang dia masih hidup?" Juna langsung menarik selimut, menunggu jawaban Aliya.


Senyuman Al terlihat, langsung melangkah pergi tanpa memberikan jawaban. Pintu tertutup, Aliya langsung terjatuh karena kakinya terasa lemas.


"Itu nyata, dia selamat dan masih hidup, tapi dia mirip Monster. Dia bukan manusia, dia ...."


"Dia cantik, baik dan penyayang. I love you Mami." Tika berlari langsung memeluk Aliya yang tersenyum menyambutnya.


Suara Atika mengomel terdengar, memarahi Al yang semalaman tidak pulang, karena dirinya ingin bercerita sesuatu.


Helen tersenyum menggendong Tika, membiarkan Maminya pergi karena masih ada perkejaan.


"Mami jangan pulang malam."


"Iya sayang, hanya sebentar." Al berlari keluar, melihat Altha masih menunggunya meskipun sangat lama.


Mobil langsung melaju menuju rumah sakit, Altha hanya diam saja sepanjang perjalanan. Al sangat penasaran melihat wajah tegang Alt.


"Jijik aku mendengarnya." Altha menatap sinis.


Aliya langsung tertawa, mencubit lengan Altha yang tidak memiliki daging isinya otot semua, karena sangat keras.


"Jangan khawatirkan Juna, dia baik-baik saja."


"Aku percaya Juna baik-baik saja, tapi aku tidak percaya kamu juga baik." Altha menghela nafas kasar.


Aliya tersenyum meminta Altha berhenti mencari tahu soal kejadian lima belas tahun yang lalu, Al sudah menutupnya untuk selamanya.


Tangan Altha menggenggam tangan Aliya erat, tidak ada kata-kata yang keluar hanya genggaman yang semakin erat.


"Kamu sudah berusaha untuk menyelematkan gadis itu, karena kalian bernasib sama." Alt tersenyum, memuji Al yang memiliki hati yang baik meskipun sulit dimengerti.


"Apa kamu berpikir aku seorang pembunuh?"


"Entahlah, aku tidak tahu dan aku percaya kamu sebenarnya baik."


Al menganggukkan kepalanya, tidak ada orang yang mempercayai dirinya orang baik. Bagi banyak orang dirinya hanyalah benalu yang merusak ketenangan orang lain.

__ADS_1


"Terima kasih, karena sudah mengatakan aku baik meksipun aku tidak tahu apa mungkin kita akan berakhir happy ending." Apapun yang terjadi Al akan menjaga anak-anak Altha, memastikan mereka memiliki akhir yang bahagia.


"Happy ending, bahagia hanya ada di awal sedangkan akhirnya semua akan terluka. Kita semua akan tetap berpisah oleh kematian, tidak sekarang mungkin nanti, tidak ada bahagia yang abadi. Al, hidup ini memiliki dua jalan, aku berharap kamu memilih jalan yang benar." Senyuman Altha terlihat, ingin mengetahui lebih dalam sosok Aliya.


Senyuman Al terlihat, ucapan Altha ada benarnya jika kebahagiaan dan penderitaan akan berakhir oleh kematian.


Tatapan mata Al fokus melihat tangannya yang masih digenggam, perasaan Aliya terlindungi dan aman saat bersama Altha.


Tidak ada rasa takut, karena Al selalu mengatakan dia akan melindungi.


"Ayang."


"Jijik aku Al, berhenti memanggil seperti itu."


"Lalu aku harus panggil apa?"


"Apapun asal jangan Ayang, baby, sayang dan kawan-kawan."


"Kakak, usia kita hanya beda delapan tahun. Aliya lebih suka memanggil Oppa." Aliya langsung tertawa.


"Turun dari mobil."


"Iya-iya, hanya bercanda juga." Al tersenyum melihat Al yang merasa geli dengan panggilnya.


Sepanjang perjalanan Altha dan Aliya hanya berdebat soal nama panggilan, berkali-kali Altha meminta Al keluar mobil.


Altha sangat merasa geli dengan panggilan lebai Al yang berlebihan, suara tawa Aliya memenuhi isi mobil, juga kemarahan Altha menjadi kesenangan Aliya.


"Boleh ya panggil Ayang, please."


"Aku jijik Aliya."


"Al suka."


"Oke, kamu boleh memanggil itu, tapi hanya saat kita berdua saja. Di depan anak-anak juga tidak boleh apalagi di depan orang lain, jika kamu memanggil nama menyebalkan itu di depan orang aku tidak akan merespon." Alt mengancam Aliya yang sudah joget-joget kesenangan.


"Thank you Ayang." Al berbicara pelan di telinga Altha membuatnya menggosok telinga.


Bibir Al ingin menyentuh pipi suaminya, tapi yang dia dapatkan bibirnya. Altha langsung berteriak menutup mulutnya.


"Niatnya pipi, dapat bonus menoleh. Lumayan rasanya manis." Aliya tertawa langsung keluar dari mobil sebelum teriakan Alt semakin besar.


***


Hal yang paling menyebalkan saat menulis, menahan ngantuk. MAAFKAN TYPE YA.

__ADS_1


Aliya sama Altha romantis, aku ngantuk.


***


__ADS_2