ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERINGATAN TERAKHIR


__ADS_3

Di restoran sudah terdengar suara berisik anak-anak, satu kelas Aliya semuanya datang atas undangan Dimas.


Kenan dan Dika juga bergabung, tapi Dimas tidak bisa ikut karena masih ada pekerjaan penting.


Makanan mewah sudah tersedia, Aliya tersenyum manis mempersilahkan semua teman-temannya makan.


"Al, om tampan yang membayar semua makanan, sekaligus yang mengambil hasil kelulusan kamu apa dia sugar Daddy kamu?" suara tawa mengejek terdengar, karena semua orang tahu jika orang tua Al tidak pernah perduli kehidupan Aliya.


Suara tawa Aliya terdengar, dia menganggukkan kepalanya, menahan tangan Kenan agar tidak terpancing emosi.


"Kenapa? kalian ingin berkenalan. Maaf ya Om tampan tidak tertarik dengan wanita yang wajahnya hitam dekil, banyak kutu, koreng lagi." Susan tertawa menjulurkan lidahnya.


"Kamu benar sekali San, Aliya itu langit dengan kecantikannya yang bisa menaklukan banyak orang. Hati-hati saja nanti bapak kalian bertekuk lutut." Helen menatap tajam, tidak terima Aliya di permalukan.


Aliya langsung makan tidak mempedulikan pertengkaran, Udin memukul meja meminta semua orang diam untuk makan.


"Kalian semua diam, makanan bisa keluar lagi dari dalam mendengar nama binatang di sini."


Susan langsung memukul punggung Udin membuat semua orang tertawa, karena makanannya keluar.


"Jorok." Tio menendang Udin agar pergi jauh dari rombongan.


Beberapa anak-anak memutuskan untuk pergi, merayakan kelulusan dengan cara mereka. Aliya menatap keempat temannya.


"Orang yang menghina orang lain belum tentu hidupnya lebih baik." Dika merangkul Al yang terlihat sangat santai.


"Sudahlah, jangan diperdulikan. Mereka buka lawan Al, tidak ingin membuat masalah khusus hari ini. Kita harus bersenang-senang merayakan kelulusan setelah hampir lima tahun." Tawa Al terdengar sangat bahagia, karena dia tidak membutuhkan pendidikan lagi.


"Perut kenyang, mata mengantuk." Kenan meletakan kepalanya di pundak Al.


"Kak Al, rumah lama sudah disita polisi, sekarang kak Al tinggal di mana?" Tatapan Susan kosong, menjadi anak orang kurang mampu membuatnya tidak bisa membantu banyak.


"Jangan khawatirkan aku, kalian bisa lanjut kuliah dan memiliki teman baru."


"Helen tidak kuliah, karena harus bekerja menafkahi diri sendiri."


"Emh, aku juga ingin mengatakan sesuatu. Ini hari terakhir kita bertemu, karena besok aku pindah ke luar negeri untuk lanjut kuliah." Kepala Tio tertunduk, dia sebenarnya tidak ingin pergi jauh, tapi tuntutan orang tuanya memaksanya untuk pergi.

__ADS_1


"Selamat berjuang Tio semoga kamu sukses di negara luar, Udin, Helen, Susan kalian juga semoga sukses dengan dunia pekerjaan." Al bahagia mengenal teman-temannya yang selalu mengikuti kegilaan Aliya, tapi Al ingin teman-temannya menjadi orang benar, tidak mengikuti jejaknya.


"Kita masih bisa bersama kak Al."


"Aku tidak yakin, intinya aku ingin kalian membuktikan jika kita orang tidak memiliki apa-apa bisa menjadi orang yang membanggakan. Berjuang memang tidak mudah, tapi bisa membuat kita banyak belajar. Jangan pernah menyerah." Aliya memeluk teman-temannya langsung pamit pergi.


Kenan dan Dika menatap Al yang tersenyum melambaikan tangannya, melangkah kembali ke mobil untuk pergi ke tempat biasanya Al meluapkan emosinya.


"Al, kamu menasehati orang tapi tidak berkaca."


"Aku tahu kak Kenan, tapi Al sudah bahagia hidup seperti ini." Al tersenyum menghidupkan rokok.


"Aliya berhentilah merokok!" Dika mengambil rokok Al, langsung membuangnya.


"Tidak cukup kamu membuat masalah menjebak Altha, menikah tanpa cinta, sekarang apa lagi yang kamu inginkan?" Tatapan Kenan juga tajam, tidak menyukai Aliya yang sangat sulit diatur.


"Berhenti." Aliya mengeluarkan Kenan dan Dika langsung membawa mobil sendiri.


***


"Sialan." Al langsung melangkah masuk ke dalam rumah dalam keadaan sempoyongan.


Pintu terbuka, Altha sudah berdiri di depan pintu menggeleng kepalanya melihat Aliya pulang mabuk.


"Tuan Al." Aliya langsung memeluk Altha, menatap wajah tampan suaminya.


"Aku tidak bisa membiarkan kamu, jalan hidup kamu sudah terlalu berantakan." Altha menarik tangan Al ke kamar sebelum anak-anak terganggu dengan ocehan Aliya.


"Mandi sekarang." Tangan kuat menarik Aliya sampai masuk ke dalam bathtub, meminta mandi dan mereka harus bicara.


Kepala Altha terasa pusing, menunggu Aliya yang belum juga keluar dari kamar mandi.


"Aliya, aku minta kamu mandi bukan tidur." Suara Altha teriak terdengar, membasahi wajah Al yang tidur mengorok dalam air.


Bermalam-malam bahkan sampai subuh Altha tidak tidur masih sibuk bekerja, sambil menatap Aliya yang sudah tidur selesai mabuk-mabukan.


Altha juga binggung cara menghentikan Aliya, dia tidak punya hak ikut campur karena penikahan mereka bukan karena cinta. Jika waktu bisa Altha putar kembali, tidak akan pernah dia mengambil keputusan untuk menikahi wanita pemabuk seperti Aliya.

__ADS_1


"Tuan Al? apa hubungan kalian berdua?" Mata Aliya terbuka, menatap suaminya yang masih duduk di sofa.


"Siapa? sudah sadar kamu dari mabuk? sekali lagi aku melihat kamu pulang mabuk, aku pastikan kita bercerai." Ancaman Altha terdengar serius.


Aliya langsung duduk, memegang kepalanya yang terasa pusing. Mendengar ancaman Altha membuat Aliya takut.


"Aku tidak bisa janji, tapi boleh mabuk tanpa pulang ke rumah."


"Mulai sekarang kamu tidak boleh pulang lewat jam sembilan malam, tidak ada minuman dan rokok lagi, pagi-pagi harus bangun, gunakan baju yang sopan, tidak ada acara dugem. Jika sampai masih minum dan merokok aku talak tiga kamu. Ingat Aliya aku tidak pernah main-main, rumah ini ada anak-anak jangan rusak pikiran mereka dengan melihat tingkah gila kamu. Ini peringatan terakhir aku, jika sampai terulang kembali kamu sudah siap dengan konsekuensinya." Mata dingin Altha menatap Aliya yang terlihat lesu, menganggukkan kepalanya, akan mengikuti aturan Altha.


"Boleh tidak pulang jam sepuluh malam, jam sembilan masih sore." Al memohon.


"Sembilan lewat satu di rumah." Altha tidak ingin melakukan penawaran apapun, menolak apapun kesepakatan Aliya.


"Baiklah, Al tidak akan keluar malam."


"Itu lebih bagus." Altha menatap tajam.


"Aku ingin bertanya sesuatu?"


"Aku tidak menjawab pertanyaan yang tidak penting."


"Ada hubungan apa kamu dan kak Dimas? siapa sebenarnya kak Dimas?" Al duduk memeluk guling, melihat Altha yang masih mengecek beberapa berkas.


"Kamu sudah lama mengenal dia, seharusnya kamu tahu siapa dia? jangan bertanya kepadaku. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu membawa mobil tanpa izin?"


"Aku menemukan ini di gudang, kamu pasti tahu gudang yang aku maksud. Sejujurnya Aliya tidak ingin ikut campur, tapi tanpa disengaja bukti mulai terungkap melewati mata Aliya. Tolong jawab tuan Al siapa Dimas sebenarnya?" Aliya menunjukan sesuatu kepada Altha yang sudah menghentikan aktivitasnya.


"Jika kamu ingin tahu tanya langsung kepadanya, aku tidak punya hak membocorkan informasi pribadi. Serahkan memori kepadaku." Altha melangkah mendekati Aliya yang menolak memberikan memori.


"Apa benar kak Dimas sebenarnya detektif yang bekerja sama bersama kamu, itulah alasannya kamu tidak pernah menangkapnya." Al mendorong Altha agar menjauhinya.


***


JANGAN LUPA VOTE DAN HADIAHNYA UNTUK MENSUPPORT NOVEL BARU


***

__ADS_1


__ADS_2