ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

Di rumah Aliya sibuk memainkan laptopnya untuk mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah.


Pintu rumah terbuka, Arjuna sudah pulang sekolah padahal belum waktunya.


"Ada apa Juna? kamu tidak menghubungi Mami jika sudah pulang sekolah." Al melangkah mendekati putranya yang langsung mencium tangan.


"Juna pikir mami kuliah, seluruh siswa dipulangkan secara dadakan." Arjuna juga tidak tahu alasannya.


Al langsung menatap Anggun yang masih sibuk menyelidik soal kasus penganiyaan, juga beberapa hal yang bersangkutan dengan bisnis.


Suara Anggun memanggil Aliya terdengar, meminta Al menjelaskan soal bisnis yang dijalani oleh suaminya Erna.


Al tidak menemukan sesuatu yang aneh, bisnis yang dijalani hanya restoran kelas menengah. Tidak ada hal yang disembunyikan, dan hanya memiliki beberapa cabang.


"Statusnya sangat bersih Al."


"Tidak ada orang bersih di dunia ini kak, pasti ada hal curang kecil maupun besar apalagi soal persaingan." Al tersenyum menatap Anggun yang menyipitkan matanya.


"Bagaimana kita bisa mengetahui soal kejahatannya?" Anggun mengaruk kepalanya.


Kejaksaan sudah menghilangkan seluruh bukti, tidak ada yang bisa Anggun lakukan. Kasus ditutup dengan mudahnya.


Arjuna menghentikan langkah kakinya, menatap Maminya yang tersenyum licik. Juna kembali menuruni tangga dan duduk di dekat Anggun yang masih mengecek bekas-bekas yang dia selidiki.


"Apa yang Aunty cari tidak akan ada di sini? jika kejaksaan sudah menyita polisi hanya bisa angkat tangan, apalagi Aunty." Juna tersenyum menutup seluruh berkas Anggun.


Al mendekati putranya, mempertanyakan dalam satu minggu berapa hari korban masuk dan tidak masuk.


"Mami masih ingat kejadian saat Juna hampir kecelakaan bersama korban yang bunuh diri?"


Aliya menganggukkan kepalanya, kejadian yang tidak akan pernah Aliya lupakan, karena hampir mencelakai putranya.


"Sita juga salah satu anak yang dibully." Juna menatap Maminya, tapi respon orang tua Sita berbeda dengan Mami dan Papinya.


Sekalipun Sita mengadu, tidak pernah mendapatkan dukungan dari Ayahnya. Juna tidak tahu persis hubungan Sita dengan ibunya.


Al mengerti, karena Erna tidak diizinkan untuk menemui Sita. Jika sampai datang dia akan di laporan, dan Sita tidak diizinkan keluar rumah lagi.


"Apa mereka tidak memiliki pembantu?" Anggun menatap Aliya yang menggeleng.


Helen membenarkan ucapan Aliya, dia mengenal semua asisten rumah tangga di perumahan Altha, tapi tidak ada satupun asisten rumah tangga.


Elen hanya sering melihat dua mobil yang keluar di jam tujuh pagi, kemungkinan satu mobil ayahnya Sita, dan satunya mobil yang mengantar Sita sekolah.


Juna tidak membenarkan jika Sita memiliki supir, dia selalu diantar Ayahnya. Dan dijemput Ayahnya tidak pernah ada orang lain.

__ADS_1


"Lalu mobil siapa satunya?"


"Mobil pelaku yang sebenarnya." Al tersenyum, berharap Citra tidak ada hubungan dengan kasus yang baru saja terjadi.


Juna menatap Aliya, membuka tasnya dan memberikan beberapa surat.


"Dari mana surat ini Juna?"


"Aunty Alin, dia selalu menerima surat tapi mengabaikannya. Aunty juga meminta Tika dan Juna tidak boleh membuka surat ini." Arjuna menyerahkan semuanya kepada Maminya.


Al langsung membuka isi surat, tapi seluruh isinya hanyalah lembaran kertas kosong. Ada sepuluh surat yang tidak memiliki satupun tulisan.


Anggun ingin meremas, tapi al menahan tangan Anggun untuk tidak menyentuh dan merusaknya.


"Elen, tolong ambilkan air." Helen langsung berlari mengambil botol minum.


Aliya menatap tajam, dia tidak ingin minum. Juna langsung berdiri mengambil air menggunakan wadah yang cukup besar untuk Maminya, juga penjepit kertas.


"Putraku lebih pintar dari kamu Elen." Al ingin mencubit Elen kesal.


"Namanya juga putra Aliya, bukan putranya Helen." Senyuman Elen terlihat meminta maaf.


Aliya mencelupkan kertas, dan mengangkatnya. Sepuluh kertas dicelupkan dan menunggu kering.


"Hebat, kamu juga pintar Juna."


"Ini akhirnya menjadi kasus pembunuhan berantai." Al mengaruk kepalanya melihat beberapa kode rahasia.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Helen tidak mengerti apapun.


Anggun menganggukkan kepalanya, dia sekarang mengerti. Ibu korban mengetahui jika putrinya selalu mengirim surat untuk Aliya, sebenarnya itu bukan surat yang sebenarnya.


Ada seseorang yang kemungkinan ingin menjebak Altha dari awal, tapi Alina berhasil menghentikan, namun tidak bisa membantu Sita.


"Siapa orang yang ingin menyakiti suamiku? kalian mencari masalah." Al tertawa lucu langsung mengambil laptopnya untuk memecahkan kode yang ada di tulisan.


Arjuna langsung melangkah ke kamarnya untuk mengganti baju, selama di kamar Juna masih memikirkan soal teman sekolahnya yang meninggal menyedihkan.


"Sayang."


"Iya Mi." Juna menatap Aliya yang memeluknya erat.


Aliya tidak melarang Juna dengan rasa penasaran, tapi putranya masih terlalu kecil untuk ikut campur dan menyelesaikan masalah.


Al tidak menginginkan Juna menjalani kehidupan seperti Altha yang sibuk mengejar penjahat. Jujur Al sangat takut jika bersangkutan dengan putranya.

__ADS_1


"Mami mengkhawatirkan kamu, lupakan soal Sita."


"Mi, kita mempunyai mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan, lalu kenapa Juna harus menutupnya?"


Aliya terdiam mendengar ucapan Juna, sikap Juna sama seperti Altha yang diam saja tanpa ada yang tahu apa yang dia pikirkan, tapi hasil yang dia tunjukkan nyata.


"Mami akan menyelesaikannya."


"Sekalipun selesai, semuanya belum berakhir Mami. Juna tahu apa yang Mami pikirkan, dan Juna juga yakin Papi mengetahui ini." Senyuman Juna terlihat, meminta Maminya segera menyelesaikan soal kasus temannya dan menyelematkan ibu temannya yang sebentar lagi akan menjadi korban berikutnya.


Al menghela nafasnya, mengecek tas Arjuna yang sudah Aliya duga jika Sita sering meminta tolong kepada Juna, berkali-kali juga Juna datang ke rumah Sita untuk membantunya.


"Apa yang kamu lakukan membuat mereka ingin menjatuhkan Papi?"


"Mi, Papi selalu mengatakan siapapun yang ingin menjatuhkan Papi maka lakukanlah, karena kebenaran akan selalu Papi ungkap." Juna bangga kepada Papinya meskipun dirinya tidak sehebat panutannya.


Al memeluk Juna, dirinya akan selalu ada di depan Juna untuk melindungi.


"Siapa pemilik mobil yang selalu keluar di jam tujuh pagi?"


"Emh, Juna tidak melihat wajahnya, tapi dia seorang wanita. Mami harus masuk ke rumah itu, agar bisa menemukan bukti yang tertinggal."


"Juna tahu?"


Kepala Arjuna menggeleng, dia tidak mengerti apapun soal barang bukti dan tidak ingin masuk jika hanya untuk merusak barang bukti yang tertinggal.


Aliya tersenyum, Altha ternyata sudah mengajari banyak hal kepada Juna dan akan menjadikan Juna seperti dirinya untuk membela kebenaran.


Suara pintu diketuk terdengar, Tika langsung masuk dengan wajah binggung.


"Mi, kenapa ada Aunty Anggun? sepertinya Mami ingin berperang. Tika boleh ikut?"


Aliya langsung menggeleng, tidak mengizinkan Tika keluar rumah.


"Boleh dong mami, Tika tidak akan menyusahkan. Tika janji hanya akan berdiri di belakang mami. Boleh ya? please." Tangan Tika memohon.


Aliya hanya bisa menepuk jidat, putrinya sangat menggemaskan. Membawa Tika sama saja membuat perang ketiga, sudah pasti Altha akan marah.


***


follow Ig Vhiaazara


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


hari Senin waktunya vote vote vote.

__ADS_1


__ADS_2