
Usia kandungan Diana memasuki enam belas minggu, berat badan Diana belum juga naik. Diana dan Gemal hanya bisa berserah diri.
Air mata Diana menetes, dirinya sudah lelah memakan apapun saran Salsa, bahkan bergonta-ganti susu ibu hamil.
Pelukan Gemal erat, meminta Diana tidak terlalu memikirkannya, periksa ke dokter untuk kesekian kalinya.
Bahkan Di sudah berganti dokter, di rumah sakit yang berbeda. Ada dokter yang menyarankan Diana untuk mengugurkan kandungannya, karena terlalu berbahaya untuk dipertahankan.
Hanya Salsa satu-satunya dokter yang masih menyemangati Diana hingga kehamilan bulan ke empat.
"Sayang, sudah jangan menangis. Kita temui Salsa, meminta sarannya terakhir kali. Jika memang masih tidak bisa dipertahankan, kita lepaskan saja. Insyaallah diberikan lagi." Tangan Gemal menakup wajah Diana yang masih menangis.
"Diana mengecewakan semua orang, pada akhirnya anak kembar Di tidak bisa bertahan." Tangisan Diana semakin kuat, hatinya hancur untuk melepaskan anaknya.
Tangan Diana mengusap perutnya yang sudah membuncit, ukuran kandungan Di juga tidak normal karena pertumbuhan janin yang tidak berkembang baik.
"Maafkan Mimi ya nak, masih gagal menjaga kalian." Di langsung memeluk erat Gemal, hatinya sakit harus mengugurkan kandungannya.
Suara panggilan di ponsel Diana masuk, Salsa meminta pertemuan diundur. Diana bisa menemuinya keesokan harinya, karena kondisi perut Salsa keram.
"Pemeriksaan diundur."
"Kita periksa dokter lain."
"Tidak mau, hati Diana hanya akan terluka mendengarkannya." Di memutuskan tetap di rumah dan beristirahat.
Diana meminta Gemal tetap bekerja, tidak harus selalu berada disisinya, membuat Di semakin terbebani.
Sekuat mungkin Gemal berusaha menutupi kesedihannya. Baik di dalam pekerjaan, bahkan di depan orang tuanya.
Sikap Diana dan Gemal terlihat normal, keduanya hanya menangis saat hanya berdua. Saling menguatkan dan berpikir positif.
Tidak membebani siapapun, terlihat sangat kuat demi agar tidak ada yang khawatir melihat kondisi Diana dan kandungnya.
"Ke mana Gem? hari ini jadwal periksa Diana." Mam Jes tersenyum melihat putranya keluar kamar.
"Besok Ma, Salsa sudah menghubungi kita. Gemal ke kantor dulu." Senyuman Gemal terlihat, langsung pergi.
__ADS_1
Tatapan Diana melihat ke arah jendela, menatap mobil suaminya yang meninggalkan kediaman. Hubungan Diana dan Gemal lurus saja, hampir tidak memiliki hambatan apapun.
Sejak pertama bertemu, belum ada hal yang buruk menimpa, bahkan sampai pernikahan juga terasa lancar.
Ujian pernikahan keduanya melalui anaknya, sejak awal hamil Diana sudah merasakan perasaan tidak enak, berkali-kali mimpi buruk pembantaian keluarganya.
Saat pemeriksaan pertama kalinya, Diana sudah firasat buruk, dirinya juga seorang dokter dan sangat memahami ekspresi.
Cara bicara Salsa sudah bisa Diana baca, jika kandungannya dalam keadaan tidak baik, demi mempertahankan anaknya, Diana tetap bertahan hingga usia empat bulan.
"Bagaimana aku bisa siap mengugurkan? tidak bisakah kalian bertahan Nak." Di mengusap air matanya, mengusap perutnya.
Di naik ke timbangan, langsung menangis lagi, melihat foto USG anaknya yang terlihat kembar, meksipun tidak terlihat jelas.
"Mimi ingin bertemu kalian, tidak bisakah kita dipertemukan." Di langsung terduduk lemas.
Bayangan kematian Amora melintas dipikirkan Diana, langsung melihat keluar jendela. Di menatap Tika yang berdiri di balkon kamar.
Diana langsung keluar dari kamarnya, tersenyum saat melihat Mam Jes yang sedang membicarakan dengan Anggun.
"Ke mana Di?"
Senyuman Tika terlihat, meminta Diana naik dan akan membawanya berkeliling untuk menenangkan pikiran.
"Kak Di sedang hamil Tika."
"Hamil, dan sebentar lagi digugurkan. Naik saja kak Di, jangan terlalu sensitif menjaganya." Tika menarik tangan.
Diana langsung naik, air matanya menetes. Tika juga bahkan tahu jika anaknya tidak bisa dipertahankan.
Sepanjang perjalanan Diana menangis, Tika hanya diam saja masih tersenyum membawa kendaraannya.
"Kita mau ke mana?" Di memakai topi agar kepalanya tidak panas, Tika juga menggunakan topi dan kacamata hitam.
"Pergi ke surga." Tika langsung tertawa mempercepat laju kendaraannya.
Mata Diana terpejam, merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Rambut Diana berterbangan, semakin cepat laju sepeda, keluar juga beban hati Diana.
__ADS_1
Selama.beberapa minggu Tika melihat Maminya menangis, merasa sedih memikirkan kondisi Diana. Bukan hanya Maminya, seluruh orang sedang bersedih, tapi saling menutupi agar tidak membebani pikiran Di.
"Tika lelah melihat satu-persatu orang meneteskan air mata, betapa berharganya bayi yang belum lahir." Tika menghentikan laju sepedanya.
"Kak Diana tidak ingin kehilangan mereka. Kak Di ingin melahirkan kedua anak kak Di." Tangan Diana memeluk erat pinggang Tika.
Atika menatap ke tempat arah pemakaman, meninggalkan Diana di sepeda, langsung berlari kencang ke arah makam adiknya.
"Air mata tidak akan mengembalikan sesuatu yang seharusnya sudah pergi." Tika mengusap nisan adiknya.
Jika tidak bisa memilih, dirinya juga tidak ingin kehilangan. Tetapi apa yang terjadi sudah menjadi yang terbaik, daripada dipertahankan.
"Kamu membenci Kak Di atas kepergian Mora, apa ini balasan untuk kak Di?" Diana duduk di samping Tika.
Kepala Tika menggeleng, dirinya tidak pernah menyalahkan siapapun atas Kepergian adiknya, karena mungkin yang terbaik bagi Mora.
"Tika hanya ingin kak Di sekuat dulu, berdiri tegak meskipun berlumuran darah, bukan mengurung diri dengan banjir air mata."
Kepala Di mengangguk, meminta maaf di depan makam Mora. Menyesal atas apa yang terjadi, tapi Diana juga manusia biasa hanya bisa bertahan, tapi tidak selalu bisa mempertahankan.
Dirinya dan Gemal sudah berjuang untuk mempertahankan, dan sisanya membiarkan takdir yang memilih terbaik untuk mereka.
"Jika memang dedek bayinya ingin lahir, dia akan bertahan sampai akhir, tapi jika tidak kak Di bisa memiliki lagi di tahun yang berbeda." Tika mengusap kepala Diana agar berhenti bersedih.
Air mata Diana menetes, menatap pemakaman yang sangat sunyi dan hening. Setiap orang akan menemui kematian, seharusnya dirinya sadar tidak bisa mempertahankan yang sebenarnya bukan miliknya.
Apapun yang ada di dunia hanyalah titipan, Di dan Gemal sangat mencintai anak mereka, tapi yang maha memiliki lebih berhak dan pantas menentukan yang terbaik.
"Mimi tidak menyerah untuk kalian, tapi apapun yang terjadi di akhir nanti, Mimi tetap mencintai kalian." Di mengusap perutnya, menatap Tika yang memejamkan matanya berdoa di makam adiknya.
Mulut Tika bergerak, tapi tidak ada air mata yang keluar. Menunjukkan dirinya yang sangat kuat, tidak membiarkan ada yang bisa menjatuhkannya meksipun seberat apapun ujian.
"Kak Di sudah hidup di dunia ini puluhan tahun, ujian apa yang belum kak di hadapi. Jangan jadikan anak kelemahan kak." Tika tersenyum mengusap air mata Diana.
"Tika sudah hidup di dunia ini hanya berapa belas tahun, jangan merasa hebat. Suatu hari kamu akan merasakan beratnya bertahan."
"Tika tidak akan bertahan, jika Tika tahu tidak mampu. Lebih baik dilepaskan, menangis sesaat lalu mulai lagi. Bukannya tujuan hidup untuk mendapatkan ujian." Senyuman manis Tika terlihat.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira