ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERSANTAI


__ADS_3

Secara tiba-tiba hujan turun lebat, Shin menatap Tika yang sudah membuka kaca mobil membiarkan air hujan menerpa wajahnya.


"Kita mau pergi ke mana Tik?"


"Biasalah, hati aku dalam keadaan tidak baik. Ada rasa sakit di dalamnya, ada kecewa dan amarah." Mata Tika terpejam, mengusap wajahnya yang basah air hujan.


Kepala Shin mengangguk, tidak terasa sudah cukup lama Shin kembali tetapi bukan kebahagiaan yang datang melainkan berada dalam kegelapan cukup lama, saat semuanya terang penyemangat Shin menjauh.


Hubungannya tidak ada titik baiknya, dan Shin juga kesulitan untuk bisa mengungkapkan perasaan kepada siapapun.


"Bagaimana jika Tika tahu, lelaki yang aku cintai Kakaknya? takdir kenapa membuat suasana semakin sulit?" Shin menghela napasnya, bicara di dalam hatinya.


Hujan semakin lebat dan tidak ada tanda akan reda, perjalanan Shin dan Tika juga sudah terlampau jauh sampai akhirnya bisa tiba di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai." Shin keluar mobil, berlari ke warung yang menjadi tempat favoritnya.


"Arshinta ... ini kamu. Astaga sudah lama sekali tidak melihat kamu ke sini." Ibu pemilik warung tersenyum melihat Shin yang datang setelah bertahun-tahun.


"Hai Bu, sepertinya sudah hampir tutup. Shin terlambat datang." Senyuman Shin terlihat, mencium tangan ibu pemilik warung.


"Hujan Shin, biasanya ramai tapi karena hujan lebih baik di rumah berselimut tebal." Tawa ibu pemilik warung terdengar.


Shin juga tertawa, membenarkan ucapan Ibu yang selalu menyambutnya dengan baik. Seandainya Shin sudah menikah, dia juga lebih baik berselimut masuk ke dalam pelukan suaminya.


Tatapan Shin melihat sekitar, sudah banyak yang berubah. Saat pertama Shin menemukan warung hanya ada satu penjaga dan setelah bertahun-tahun memiliki banyak karyawan.


Suasana sekitar juga sudah ramai, bukan hanya satu-dua warung yang berjejeran di pinggir jalan. Suasana hujan membuat tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang minum santai menghangatkan tubuh.


"Semuanya banyak berubah Ya Bu?"


"Iya, sahabat kamu juga sudah berubah. Dia pernah datang ke sini bersama pria tampan."


Wajah Shin langsung terkejut, mendengar cerita ibu warung jika Tika datang bersama seorang pria tampan. Keduanya terlibat pertengkaran, dan langsung menyudahi makan tanpa menghabiskan.


Tidak berselang lama, prianya kembali memesan makanan. Mempertanyakan kesukaan kekasihnya, bahkan meminta maaf kepada beberapa orang yang berpikir buruk tentangnya.

__ADS_1


"Ibu tidak salah lihat? dia sahabat Shin. Atika manusia cerewet." Shin masih tidak percaya.


"Iya, siapa lagi sahabat kamu? pria yang bersamanya sangat dingin, tetapi romantis. Kamu cepat mencari pacar sebelum ditinggal menikah."


Tatapan Tika sinis berdiri di belakang Shin, suara tawa Ibu pemilik warung terdengar karena tidak punya perjanjian untuk menjaga rahasia dari Shin.


"Ibu ... mulutnya bocor." Tika menghentakkan kakinya kesal.


"Kalian berdua duduk, ibu siapkan makan. Atika, jaga pacar kamu, dia sangat mencintai kamu."


Mata Shin memicing tajam, Atika tidak pernah mengatakan kepadanya jika memiliki seorang pria. Dan Shin juga tidak pernah melihat Tika bertemu pria.


"Siapa yang kamu bawa ke tempat makan kita? dasar tidak setia kawan." Shin menatap kesal.


Kepala Tika menggeleng, bersumpah belum pernah pacaran. Pria yang bersamanya bukan seseorang yang penting hanya rekan kerja Tika di kantor.


"Aku hanya ada urusan penting di daerah sini, dan kebetulan dia yang bertanggung jawab karena kangen makanan sini akhirnya mampir." Tangan Tika mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu pikir aku bodoh, mana ada bawahan marah kepada bos. Cari alasan yang masuk akal Tika, kita kenal buka satu dua hari." Shin melipat tangannya di dada, mengerutkan keningnya menunggu Tika bicara jujur.


Bibir bawah Tika digigit pelan, Tika binggung menjelaskan kepada Shin jika pria yang bersamanya Genta. Mereka berdua makan bersama. Tika tidak ingin Shin mengetahui soal perasaan yang terpesona dengan pria dingin seperti Genta.


"Jangan dibahas lagi, kita makan sekarang." Senyuman Tika terlihat, mengambil minumnya.


Helaan napas Shin terdengar, dirinya tidak bisa memaksa Tika karena pada kenyataannya Shin juga tidak bisa jujur soal perasaannya kepada seseorang.


Satu-satunya rahasia yang Shin sembunyikan soal perasaan, Shin tidak tahu sampai kapan menyembunyikannya.


"Tik, kira-kira kapan Rindi akan muncul kembali?"


"Tidak tahu, saat ini kita bisa bernapas karena mereka sedang melangkah mundur. Habiskan waktu untuk bersenang-senang sebelum perang." Tika memberikan mie ke mulut Shin.


"Kalian berdua bukan hanya tambah cantik, tapi semakin saling menyayangi." Ibu warung duduk diantara Tika dan Shin.


Senyuman Tika dan Shin terlihat, tertawa bersama bercerita masa muda mereka saat menghabiskan waktu bersama. Tika dan Shin selalu bolos sekolah kabur ke warung hanya sekedar untuk menikmati mie.

__ADS_1


Ibu warung juga merindukan keduanya karena Shin dan Tika pelanggan setia juga orang yang membantunya membangun warung lebih kuat dan kokoh hingga bisa bertahan.


"Maafkan Ibu ya Tika, saat kamu datang kita tidak banyak bicara karena ada kekasih kamu."


"Tika mengerti Bu, dia memang pria dingin tapi sangat penyayang." Tangan Tika menutup mulutnya melihat Shin yang melotot.


"Tempat ini tidak ada yang berubah, hanya kalian berdua saja yang semakin dewasa sehingga terasa berbeda." Senyuman ibu terlihat berharap dua wanita yang sangat dikaguminya terus bersama.


Kepala Shin mengangguk, Dirinya menyadari jika kedewasaan membuat suasana berubah. Bukan usia yang mengubah dewasa, tetapi pola pikir.


"Datanglah ke sini saat kalian sudah memiliki suami, dan juga anak. Semoga saat itu tiba, ibu masih hidup."


"Apa itu akan terjadi? mungkinkah kami akan datang bersama mereka." Tika tersenyum membayangkan dirinya datang bersama suami dan anaknya.


"Hari yang indah, masa muda, dewasa, hingga tua. Mungkinkah anak-anak kami akan pergi ke sini hanya sekedar makan mie." Tawa Shin terdengar memukul kepalanya yang membayangkan terlalu jauh.


Cukup lama Shin dan Tika mengobrol santai dengan penjaga warung, menghabiskan waktu membayangkan masa depan yang bahagia.


"Sudah waktunya kami pergi, Bu. Sampai jumpa lagi." Tika memeluk lembut.


"Kalian berdua harus kembali ke sini."


"Pasti, kita akan kembali bersama suami dan anak. Sekarang kita harus berjuang melewati kedewasaan hingga menemukan kebahagiaan." Shin melambaikan tangannya.


Mobil Shin melaju pergi menuju hotel yang sudah Tika pesan, lokasi dekat pantai sehingga pagi-pagi bisa menikmati pantai sambil berpikir rencana selanjutnya untuk menyerang lebih dulu.


Sampai di hotel Tika meletakkan laptopnya yang baru di beli, langsung menghidupkan untuk mengecek CCTV hotel.


"Tika, misi kita mulai." Shin mengedipkan matanya melempar sebuah flashdisk.


Senyuman Tika terlihat, lompat ke atas ranjang ingin tidur. Shin menarik kaki Tika memintanya mandi sebelum mengotori tempat tidur.


"Biarkan aku tidur sampai bermimpi bertemu suami dan anakku. Sampai bertemu di mimpi Tika."


"Baiklah, ayo kita bertemu di mimpi." Tika memeluk erat Shin yang sudah tertawa cekikikan.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2