
Tepukan seseorang membangunkan Gemal yang tertidur di kantor polisi, pulang subuh dan langsung terlelap.
"Aku masih hidup?"
"Ada apa Gem? kamu tidak kita temukan di lokasi." Yandi duduk di hadapan bawahannya yang terlihat sempoyongan.
"Bagaimana bulan madunya kak? Gem lelah bertahan sendiri." Kepala Gemal pusing, tubuhnya juga terasa remuk tidak bertenaga.
Tangan Yandi memukul pundak Gemal, satu-satunya anak muda yang tersisa di tim mereka. Gemal memang bekerja paling keras, karena Altha yang sudah jarang bergabung, Dimas yang lebih sering di kantor, dan Yandi yang baru pulang bulan madu.
Ada tiga anggota lagi yang tersisa, tapi tidak dekat dengan Gemal kecuali ada pengejaran secara besar-besaran.
Gemal melihat ponselnya yang memiliki banyak panggilan, matanya langsung melotot melanjutkan tidurnya.
"Gemal."
Tatapan Gemal melihat ke arah suara, Dimas meminta seluruh anggota segera berkumpul untuk melacak keberadaan tersangka.
"Ya Allah, aku belum puas tidur, belum juga mandi dan makan." Langkah Gemal tidak bersemangat masuk ke dalam ruangan rapat.
Altha sudah tiba lebih dulu, menatap tajam satu-persatu anggotanya yang duduk diam. Mereka semua tahu jika Altha sudah turun tangan, berarti masalah besar.
"Gemal, dari mana kamu tadi malam?" Alt menatap tajam, karena hampir subuh Gemal tidak bisa dihubungi.
Gemal langsung berdiri meminta maaf, dia sudah menuju lokasi tetapi ada kecelakaan kecil yang menimpanya dan kehilangan sinyal sehingga tidak bisa memberikan kabar.
Altha menegur Gemal yang tidak bisa menjaga diri sendiri, sehingga gagal juga menyelesaikan tugasnya.
"Sejak awal aku sudah mengingatkan kamu, tim ini diisi oleh orang-orang yang sudah terlatih, profesional, dan sangat berpengalaman. Kamu sulit untuk mengejar." Alt menatap Gemal yang beberapa kali terluka dalam misinya.
"Maafkan saya pak."
"Kamu tahu apa yang paling penting? menjaga diri sendiri, jika kamu mati maka kita semua gagal. Ini peringatan terakhir, jika kamu menghilang tanpa kabar, aku akan memberikan sanksi keras." Alt meminta semuanya fokus untuk mulai rapat.
Gemal menatap tajam, teringat wajah Diana yang membuatnya menyasar di hutan sampai tidak bisa menghubungi anggota lain.
Dimas membuka laptopnya, meminta semuanya menatap layar. Ada empat orang yang mereka tahan, namun tidak ada satupun yang mengakui mengenal wajah asli pengedar.
Kening Altha berkerut, hanya dalam waktu tiga puluh menit lokasi kosong padahal seluruh pemakai ditahan.
"Gem, kamu interogasi mereka. Kamu yang memberikan kabar soal lokasi, tapi kamu juga yang tidak datang." Alt meminta tiga anggota lain melakukan pengintaian di beberapa titik yang sudah dicurigai.
__ADS_1
Altha melangkah bersama Dimas, Yandi dan Gemal untuk melihat interogasi salah satu orang yang tangkap di restoran.
"Gem, Altha marah karena mengkhawatirkan kamu. Saat tahu jika kamu tidak hadir, konsentrasi Dimas dan Altha buyar karena keselamatan tim lebih diprioritaskan." Senyuman Yandi terlihat, merangkul pundak Gemal terus menyemangatinya.
Gemal sangat mengerti dan meminta maaf, karena dia tidak berhati-hati. Berusaha untuk selalu memberikan kabar.
Altha dan Dimas hanya melihat dari ruangan khusus, membiarkan Gemal yang melakukan interogasi.
"Apa kamu yakin Alt Gemal bisa?"
"Segala sesuatu tidak bisa langsung, dia harus banyak belajar. empat tahun sudah cukup hebat bagi dia yang selalu melangkah sendiri." Tatapan Altha tajam melihat sikap tenang Gemal yang bertemu secara langsung dengan seorang pemakai juga pengedar obat terlarang.
Senyuman Gemal terlihat, memberikan minuman. Gem tidak memaksa untuk mendapatkan kesaksian.
"Aku tahu kasus obat terlarang tidak akan pernah bisa dihentikan, aku juga tahu jika kalian berjuang untuk keluarga, tapi pikirkan lagi resikonya." Tatapan mata Gemal langsung tajam.
Kedua tangan tahanan gemetaran mendengar penjelasan Gemal, tatapan mata juga tidak fokus langsung membuka suaranya.
Gemal langsung melihat ke arah kamera, Altha dan Dimas pasti mendengar apa yang mereka bicarakan.
Secara tiba-tiba tahanan langsung muntah darah, Gemal berdiri mencoba menyadarkan.
"Ke rumah sakit Gem!" Suara Dimas terdengar.
Gemal langsung membawa tahanan yang sudah muntah-muntah ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit, tangan Gemal bahkan penuh darah.
"Kasus ini cukup berbahaya, berhati-hatilah." Dimas menatap Gemal dan Altha yang fokus melihat mobil sudah melaju.
***
Anggun berkali-kali menarik tangan Diana agar segera bangun, dia harus pergi ke rumah sakit untuk bekerja.
"Sayang bangun."
"Lima menit lagi Mommy." Di terjatuh lagi ke atas ranjang.
"Ayo bangun sayang, Mommy harus mengantar adik kamu sekolah." Anggun membantu Diana ke kamar mandi.
Diana langsung bergegas mandi, sarapan bersama adiknya yang menatapnya sinis. Di masih seperti anak kecil.
"Kak Di tidak boleh bangun siang, Daddy saja sudah pergi bekerja."
__ADS_1
"Datang tepat waktu hanya berlaku untuk orang biasa, orang luar biasa dia yang terlambat dan selalu ditunggu kedatangannya." Di menjulurkan lidahnya, meminta Dean mempercepat pertumbuhan agar bisa merasakan menjadi orang penting.
Di langsung mencium pipi Mommynya, langsung berlari ke luar untuk pergi bekerja.
Kebut-kebutan di jalanan sudah biasa bagi Di, tubuhnya rasanya sangat lelah karena berurusan dengan Gemal sampai hampir subuh.
Sesampainya di rumah sakit, Diana langsung melihat mobil polisi melarikan seorang pasien. Di mengabaikan begitu saja, langsung melangkah ke ruangannya.
Panggilan masuk, Diana langsung mengambil jas putihnya. Masih bersikap santai menyiapkan keperluan untuk pemeriksaan.
Suara high heels Di menggema, sikap sombong dan angkuh sudah menjadi ciri khasnya. Jika tidak hal yang darurat, tidak ada yang berani memanggil Di.
Pintu ruangan terbuka, Diana melihat pasien yang mengalami over dosis obat keras. Di meminta borgol dilepaskan.
"Tidak bisa di berbahaya." Gemal menatap tajam Diana.
"Maka bawa dia pergi dari sini, kami dokter hanya menangani orang yang sakit, bukan gila." Di langsung ingin melangkah pergi.
Gemal terpaksa membuka borgol, masih mengawasi Diana yang sibuk memeriksa bahkan sudah membedah sumber dari keracunan.
"Apa ada obat yang kalian temukan?" Di menatap Gemal yang menyerahkan obat.
Senyuman Diana terlihat, langsung membedah, mengambil sesuatu dari perut korban.
"Lanjutkan perawatannya, dia tidak akan mati dengan mudah." Di meminta Gemal mengikutinya.
"Dia orang yang ditahan tadi malam, aku yang memberikan obat ini agar dia ketakutan sampai ingin melakukan bunuh diri." Di juga menyerahkan sebuah benda kecil ke tangan Gemal.
Kepala Gemal menggeleng, Diana bekerja sangat cepat dan bisa menghasut orang sampai ketakutan.
"Dari mana kamu tahu jika di dalam perutnya ada benda ini?"
"Gampang, aku melihat ada bekas jahitan. Gemal, kamu harus lebih peka terhadap keadaan, bukan cuman modal nekat. Sudah aku katakan jika aku jauh lebih tahu dunia kejahatan." Di tersenyum mencium bau tubuh Gemal yang belum mandi bahkan tidak ganti baju.
"Pria jorok, belum mandi." Di langsung melambaikan tangannya melangkah pergi.
"Perempuan sialan, pekerjaan dia hanya merendahkan aku." Gemal langsung mual mencium bau bajunya.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1