ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SALAH LUBANG


__ADS_3

Beberapa hari kediaman terasa tenang, empat wanita sibuk dengan aktivitas masing-masing. Isel dan Ria fokus sekolah tanpa drama, Tika juga sibuk dengan persiapan lamaran sedangkan Shin tidur panjang tanpa berkesudahan hanya makan lalu tidur lagi.


Beberapa mobil mewah datang, Tika yang berada di ruang tamu bersama Diana saling tatap. Melangkah keluar melihat tamu yang datang dan bisa masuk perumahan dengan bebas.


"Innalilahi, pengacau satu lagi datang." Tika menatap kaget melihat Rindi dan Hendrik kembali.


Diana menatap lemas, bukan tidak senang satu lagi menantu Leondra datang, Rindi sudah cukup membuat stres orang di mansion, sekarang membuat pusing datang ke rumah.


"Kak Hendrik, apa ini?" Di berjabatan dengan Hendrik.


Senyuman Hendrik terlihat, menyakinkan Diana jika Rindi aman tidak akan membuat masalah jika tidak ada yang memancing lebih dulu.


"Hai Tika, kangen." Rindi memeluk Atika yang juga memeluknya erat.


"Ayo masuk, kamu pasti lelah." Tika merangkul pundak Rindi untuk masuk ke dalam rumah.


"Sayang, ayo masuk. Nanti Rindi kangen,"


Tika menghentikan langkahnya, melihat ke arah Rindi yang menatap suaminya. Hendrik masih berbicara dengan beberapa orang.


"Suami kesayangan kamu tidak akan hilang." Tika menatap Rindi yang terlihat lebih sopan.


Rindi menyempatkan waktu menyapa Mam Jes bahkan memeluknya, menyalami tangan Papa Calvin. Kedatangan Rindi dan Hendrik disambut baik keluarga yang juga merindukan mereka untuk berkumpul.


"Halo Aliya,"


"Kurang ajar, panggil lebih sopan." Al memeluk Rindi yang terlihat lebih baik.


"Rindi masuk duluan, ingin mencari kawan kecil." Senyuman Rindi terlihat mengingat Isel yang sangat dirindukannya.


Tika dan Rindi melangkah masuk rumah, berjalan ke arah kamar Shin yang berantakan karena pemiliknya sedang tidur.


Melihat kamar berantakan, Rindi mengambil bantal, menyusunnya rapi. Bagian meja rias juga dirapikan, baju Shik di susun di dalam lemari.


"Hanya ada sampah yang menganggu." Rindi menarik Shin masuk ke kamar mandi.


Tawa Tika sudah terdengar, merasa lucu mendengar Shin diguyur air ulah Rindi yang membersihkannya.


Teriakkan Shin menggema, memukuli Rindi yang juga memukul agar segera bangun. Rindi melangkah keluar membiarkan Shin menyudahi mandinya.

__ADS_1


"Sekarang kamu banyak perubahan Rindi, hebat." Tika bertepuk tangan melihat Rindi yang tersenyum manis.


Dari dalam kamar mandi Shin sudah mengamuk sambil mengumpat kasar Rindi yang menyiramnya menggunakan air.


"Perempuan sialan! cari mati kamu!" Shin keluar hanya menggunakan handuk, bergegas mengganti bajunya.


"Kamu belum berubah Shin, semakin pemalas dan tidak punya semangat hidup." Tatapan Rindi sinis melihat Shin yang matanya tajam.


"Bagaimana dengan kamu Rin? emh ... tidak berniat memberikan satu pengacau." Godaan Tika membuat Rindi tertawa lucu.


"Apa maksudnya kamu?"


"Ternyata kamu juga belum berubah Rin, masih bodoh." Shin duduk di meja rias, menatap Tika dan Rindi yang saling tatap.


Kepala Rindi tertunduk, dia tidak menginginkan anak. Melihat perjuangan Hendrik mengobatinya, Rindi takut jika suatu hari dia menyakiti anaknya sendiri karena sikap obsesinya yang berlebihan.


Mendengar ucapan Rindi, kepala Shin dan Tika tertunduk. Merasa kasihan dengan Rindi yang terkadang sulit mengendalikan dirinya sendiri.


"Kamu tidak akan tahu jika tidak mencobanya?"


"Aku sudah mencobanya Shin, aku sangat menyayangi seekor burung, dia tidur juga di kamar. Satu bulan bersama membuat kami semakin dekat, tapi setelah Kak Hendrik mengusap kepalanya beberapa jam kemudian aku membunuhnya." Tawa Rindi terdengar, menatap kedua tangannya.


Kepala Rindi menggeleng, Hendrik secara langsung meminta dokter lain memberikan obat agar istrinya tidak hamil. Selama Rindi tidak rela apa yang menjadi miliknya disentuh maka tidak baik bagi anaknya.


"Kak Hendrik bahkan pernah berniat mengangkat rahim,"


"Tujuan Kak Hendrik baik, dia ingin kamu tidak terluka." Shin menatap Tika yang binggung melihat Rindi bersedih.


"Setiap suami menginginkan anak, menginginkan penerus. Aku tidak bisa memberikannya, maka wanita yang tidak bisa memberikan keturunan tidak layak menjadi ibu." Wajah Rindi mendadak sedih, menutup matanya agar tidak menangis.


Tangan Tika mengusap punggung Rindi agar tenang, kedatangan Rindi bukan membawa kebahagiaan namun kesedihan. Tika bisa memahami hancurnya hati seorang wanita yang belum bisa memberikan anak, apalagi kondisi Rindi yang memiliki obsesi tinggi terhadap sesuatu.


"Sudah jangan bersedih, kamu datang ke sini jangan membawa duka." Shin menutup wajahnya.


Tangisan Rindi terdengar, memeluk Tika yang mengusap kepalanya. Rindi berusaha untuk sembuh agar bisa membahagiakan suaminya, meksipun dia belum berhasil menjadi wanita baik untuk suaminya.


"Sabar Rin, banyak berdoa saja karena ketulusan hati akan memberikan jawaban terbaik." Tika mengusap air matanya melihat Rindi yang menangis sesenggukan.


Seketika suasana hening, Rindi mengambil ponselnya menunjukkan kepada Tika. Mata Tika langsung terpejam, melihat foto Rindi berciuman dengan suaminya.

__ADS_1


"Jangan tunjukkan kepadaku, tidak enak." Tika duduk menjauh ke arah pintu.


"Setiap hari kita melakukan ini, tapi kenapa Rindi tidak hamil. Padahal rencana pengangkatan rahim dibatalkan." Rindi menunjukkan kepada Tika dan Shin.


"Apa maksudnya Tika?" Shin menatap Tika yang kebingungan.


"Tunggu Rin, kamu dan suami hanya sebatas ciuman bibir?"


"Tidak, ada leher, kening, juga pipi. Sama seperti di film." Rindi mengecek handphone dan tidak memiliki video Karena Hendrik melarangnya.


Tangan Tika menggaruk kepalanya, menatap Rindi yang masih memperhatikan foto. Bahkan Rindi pernah tidak menggunakan baju sama sekali.


"Tika, kenapa aku merasa kita bodoh?"


"Rin, kamu belum pernah melakukan seperti yang di video sampai akhir?" Tika menatap tajam.


Kepala Rindi menggeleng, suaminya sudah beberapa kali meminta namun Rindi takut jika apa yang ada di video tidak sesuai kenyataan.


Melihat Irish secara langsung teriak kesakitan, dan setiap video teriak-teriak maka Rindi memutuskan untuk tidak melakukannya.


"Lalu caranya kamu memiliki anak?" Shin terlihat emosi.


"Dengan berciuman Shin bodoh,"


Pukulan Shin kuat menghantam meja make up, barang-barang berjatuhan. Pukulan Tika juga kuat menghantam pintu. Air mata yang Tika tumpahkan hanya untuk meratapi kebodohan Rindi.


Sampai lebaran kodok, Rindi tidak mungkin hamil. Sampai mati sekalipun, anak tidak keluar dari mulutnya.


"Kamu harus di ruqyah Rindi, anak kamu tidak lahir dari mulut. Kamu salah lobang bodoh." Kedua tangan Tika ingin sekali meremas Rindi.


"Salah lobang, memangnya lubang yang mana?"


Shin dan Tika berteriak ingin membunuh Rindi yang menikah berbulan-bulan, tapi belum berhubungan sama sekali. Tidak bisa Tika bayangkan nasib Hendrik yang benar-benar sabar menahan diri demi tidak menyakiti dan memaksa.


"Istri seperti ini sebaiknya diceraikan" Tika meremas rambutnya, melangkah keluar.


"Jika aku bukan hanya diceraikan, sudah aku tewaskan dia. Rindi sialan, tidak sekalian dia mengeluarkan anak dari lubang hidungnya." Shin memukul dingin meluapkan amarahnya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2