
Kepala Calvin tertunduk, menyimak pembicaraan Salsa melalui panggilan. Tarikan nafas Calvin terdengar, langsung melihat ke arah istrinya yang mengerutkan kening.
Meksipun Jessi tidak mengerti banyak, tetapi memahami inti dari ucapan jika kandungan Diana sudah hampir turun.
Rahim turun saat masa kehamilan akan membuat rahim beserta isinya (yaitu janin) jatuh ke bagian mulut bagian intim. Hal ini yang kemudian menyebabkan kelahiran prematur bahkan keguguran.
Aliya juga terdiam sesaat menatap Anggun yang sudah memalingkan wajahnya. Al tidak terlalu mengerti pembicaraan Salsa, tapi ada beberapa kata yang dirinya tahu.
Anggun juga sama seperti Aliya, beberapa istilah yang Salsa ucapan Anggun mengerti.
Calvin berjalan mendekati Salsa, memintanya merekomendasikan dokter terbaik untuk Diana, apalagi sakit yang Diana rasakan sudah sangat parah.
Siap tidaknya, mereka harus tetap mengeluarkan bayi, daripada mengambil resiko besar.
Di bukan hamil tunggal yang diselamatkan hanya satu, tetapi ada dua bayi yang harus diselamatkan.
Calvin tidak ingin mengorbankan keselamatan Diana, hanya karena mempertahankan kandungannya.
"Ada masalah apa Pa?" Mam Jes mendekati suaminya yang berbicara bahasa asing dengan sangat serius.
"Diamlah, jangan banyak tanya." Tatapan mata Calvin tajam.
"Maafkan Salsa Dokter Calvin, tapi Salsa tidak bisa membiarkan Diana melahirkan sekarang. Usia kandungan masih terlalu muda, tunggu sampai dua bulan lagi setidaknya satu bulan saja. Meskipun harus prematur, setidaknya mereka semua selamat." Salsa tidak ingin ada yang memberikan pendapat.
Meskipun Calvin juga seorang Dokter, Salsa jauh lebih paham soal kandungan. Dirinya bukan hanya lima enam tahun menjadi dokter kandungan, banyak hal kehamilan yang sudah dia tangani.
Keputusan Salsa tidak ingin diganggu, meksipun resikonya besar. Hanya Diana yang punya hak untuk kapan waktunya dilahirkan, dengan rekomendasi dokternya.
"Aku melakukan ini demi keselamatan Diana."
"Keselamatan Di, maupun anaknya urusan Allah, tapi Salsa yang bertanggung jawab untuk mereka." Nada bicara Salsa tegas.
Diana masih diam, keputusan Calvin tidak salah, jika Gemal tahu juga pasti mengambil tindakan yang sama. Dia tidak akan membiarkan Diana mengambil resiko.
Masalahnya hati Diana juga setuju dengan Salsa, jika masih bisa bertahan maka mereka harus mengambil kesempatan sekecil apapun.
Menghentikan perdebatan, Calvin langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan Salsa.
Anggun meminta Salsa beristirahat, jangan terlalu memikirkan soal Diana. Apapun akan dilakukan demi kebaikan Di.
__ADS_1
Salsa meminta waktu tiga hari, jika sakit perut Diana semakin memburuk harus menghubungi Salsa secepatnya.
"Di, jika ada bercak darah kita ikuti saran Om Calvin, tapi jika dalam tiga hari hanya sakit kita coba melakukan rawat jalan." Salsa menggenggam tangan Diana.
Senyuman Di terlihat, meminta Salsa untuk melakukan pemulihan terlebih dahulu. Di langsung pamit pulang untuk beristirahat, kemungkinan dirinya juga kelelahan.
Mam Jes dan Diana langsung pamit pulang, meninggalkan Anggun yang menjaga Salsa bersama suaminya.
Tangan Mam Jes menggenggam jari jemari Diana, mengusap perut besar Di yang sudah turun.
"Apa yang harus Diana lakukan Ma? jika kak Gem tahu, dia tidak akan membiarkan Diana tetap mengandung. Mama tahu sendiri sikap Gemal." Di memejamkan matanya, merasa lelah berpikir.
Sesampainya di rumah Diana langsung tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang mulai merasa cemas dengan dua pilihan.
Saat Gemal pulang kerja juga tidak Diana sadari, tidurnya sangat pulas sampai magrib belum juga bangun.
Melihat tidur nyenyak istrinya, Gemal tidak tega membangunkan apalagi sudah mendapatkan kabar dari Papanya soal kondisi Di.
Hanya satu persen kemungkinan bayi yang lahir di usia kandungan enam bulan yang mampu bertahan, dan Gemal tahu jika mereka gagal menjaganya.
"Kak Gem sudah pulang?" Di langsung memeluk suaminya.
Teriakkan Diana terdengar, Gemal langsung melangkah masuk saat melihat darah di celananya.
Gemal memeluk lembut, meminta Diana bicara serius soal kondisinya. Melihat darah yang sudah keluar menjadi pertanda jika tidak busa dipertahankan lagi.
"Tiga hari saja Ayang." Di memohon, langsung memeluk Gemal erat.
"Satu hari saja aku tidak bisa Di, ingat perjanjian kita keselamatan kamu jauh lebih penting." Gemal menatap tajam, meminta Diana meyelesaikan mandinya dan segera ke rumah sakit.
Air mata Diana menetes langsung menyelesaikan mandinya, menatap darah merasakan sesak dadanya.
Gemal sudah menemui Papanya, meminta persiapan di rumah sakit. Diana sudah mengalami pendarahan, tidak banyak kesempatan waktu untuk menunggu.
Mam Jes meneteskan air matanya, kelahiran di usia enam bulan tidak punya banyak kesempatan untuk bertahan.
"Kamu sudah yakin Gem, jika bayi dilahirkan sekarang. Kemungkinan besar ...."
"Gemal tidak perduli, keselamatan Diana jauh lebih penting." Gemal langsung melangkah ke kamar, mobil dan perlengkapan lainnya sudah di siapkan.
__ADS_1
Diana dan Gemal hanya diam di dalam mobil, keduanya menatap ke arah luar jendela, merasakan kesedihan masing-masing.
Kedua tangan saling menggenggam, hati hancur meksipun dari luar harus terlihat kuat dan tersenyum.
"Kak, ada air minum tidak?" Di merasa tenggorokannya kering.
Gemal meminta supir berhenti di mini market, langsung keluar untuk membeli minum. Diana juga keluar melihat seseorang yang berlari mengejar mobil.
Langkah Diana terus menjauh, jalan cepat mengikuti gadis yang berteriak memanggil Papa, tapi tidak ada yang mempedulikannya.
Gemal kembali ke mobilnya, dan terkejut karena Diana tidak ada di mobil. Supir menyangka Diana menemui Gemal.
Cepat Gemal kembali ke mini market, berkeliling mencari Diana, tetapi tidak ada di dalam mini market.
"Nona sudah kembali ke mobil belum?"
"Belum tuan."
Umpatan Gemal terdengar, langsung menggunakan identitasnya untuk memeriksa CCTV. Diana tidak masuk ke dalam mini market, tetapi berjalan ke arah lain.
"Mau ke mana kamu Di?" Gemal langsung menghubungi Papanya jika Diana menghilang.
Sepanjang jalan yang Diana lalui sudah Gemal telusuri, tetapi Diana tidak terlihat keberadaannya. Tepaksa Gemal meminta bantuan agar lebih cepat.
Diana menghilang bagaikan ditelan bumi, Gemal sampai terduduk di pinggir jalan, masalah apalagi yang menghampirinya.
"Belum ketemu Gem?" Calvin dan Mam Jes tiba di lokasi.
"Seluruh CCTV sudah di cek?" Mam Jes langsung panik.
Kepala Gemal hanya mengangguk, CCTV sudah dicek, tetapi Diana menghilang di kegelapan malam. Tidak tertangkap lagi oleh CCTV lain.
Dimas dan Altha juga datang, mengirim bantuan untuk menemukan keberadaan Diana yang mengejar anak kecil, menurut penuturan orang sekitar, anak kecil yang Di ikuti sudah gila, selalu mengejar mobil mencari orangtuanya.
"Diana mengalami pendarahan, dan sekarang menghilang. Apa yang harus Gemal lakukan?" Tangan Gemal meremas rambutnya.
Alt menenangkan Gemal, mereka tidak bisa menemukan Di jika dalam keadaan emosi. Banyak tim yang diturunkan untuk menyelusuri tempat, Di pasti bisa ditemukan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira