
Di depan kaca Aliya melihat Tika sedang menari menggunakan gaun yang sudah selesai, putrinya sangat cantik mirip princess.
Aliya juga selesai mengukur bajunya, gaun gold yang menjadi pilihannya untuk menyambut pesta pernikahan.
"Mami, Tika cantik tidak?" senyuman Atika terlihat menunjukkan dirinya yang anggun menggunakan gaun.
Kepala Aliya mengangguk, merentangkan tangannya memeluk Putri kesayangan yang sangat cantik dan cerdas.
Al menggendong Tika sambil berputar, gaun mewah yang keduanya gunanya juga langsung mengembang.
Semuanya yang melihat keduanya juga bahagia, apalagi Tika dan Aliya yang jauh lebih bahagia.
Alt melihat dari kejauhan tersenyum sambil mengusap setetes air matanya, kebahagiaan yang sudah lama Alt nantikan.
Selesai mencoba baju, Aliya dan Tika langsung menemui Altha dan Juna yang sudah menunggu keduanya.
"Papi, Tika sudah selesai. Bajunya bagus sekali, Tika suka." Senyuman Atika terlihat, menatap kakaknya yang mengerutkan kening.
Altha mengusap kepala Tika, dia juga senang jika Tika menyukai bajunya. Al juga langsung masuk mobil, memasang sabuk pengaman.
Alt mendekat dan memasangkan sabuk, tatapan mata keduanya bertemu.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku." Altha tersenyum mencium tangan Aliya yang menatapnya sambil senyum-senyum.
Mobil melaju menuju ke tempat yang sudah lama Aliya ingin kunjungi, meksipun ada kesedihan karena gagal mempertahankan Mora.
Al melihat ke arah belakang, Tika sudah tidur memeluk kakaknya. Juna juga memejamkan matanya sambil merangkul adiknya.
Altha menatap wajah Aliya yang terlihat sedih, menggenggam tangannya. Alt yakin anak-anak akan tumbuh baik tanpa Citra di sisi mereka.
"Ayang, Al tidak bisa mengantikan sosok ibu untuk mereka, Tika dan Juna anak yang cerdas bisa melihat mana benar dan baik." Al memeluk lengan suaminya.
Altha tahu, tapi lebih baik mereka kehilangan sosok ibu sejak usia muda daripada saat dewasa tidak bisa dikendalikan.
Luka yang membekas bukan hasil pukulan, tapi apa yang dilihat dan terus diingat. Altha tidak ingin anaknya menyimpan luka di dalam hati dan pikirannya.
"Al, kita tahu bagaimana rasanya menyimpan luka yang menakutkan? meksipun kita tidak bisa menghindarinya." Alt menatap Aliya yang sangat mengerti sakitnya.
Memisahkan anak-anak dari Citra pilihan yang berat Altha ambil, tapi mungkin itu juga yang terbaik bagi mereka.
Sesampainya di pemakaman, Al tidak tega membangunkan keduanya dan langsung melangkah keluar bersama Altha.
__ADS_1
"Mami, kita sudah sampai?" Tika membuka matanya, menguap sangat besar. Matanya juga terlihat merah, dan rambutnya berantakan.
Altha membukakan pintu, menggendong Tika yang masih mengantuk. Juna juga bangun dan langsung keluar.
Aliya menggenggam jari-jemari Juna, melangkah bersama mengikuti Altha yang berjalan lebih dulu.
Al tidak kuasa menahan air matanya, langsung menangis mengusap batu nisan Amora. Al masih mengingat jelas saat kecelakaan terjadi dan melihat Mora yang berada di kamar jenazah.
"Maafkan Mami sayang, Mora bahagia di sana ya." Al menutup matanya yang meneteskan air matanya.
Bibir Tika langsung manyun, memeluk erat Papinya yang masih memangku. Alt mengusap punggung putrinya yang sudah menangis merindukan adiknya.
Alt meminta mengikhlaskan kepergian Mora, dia sudah tenang dan sembuh dari sakitnya. Semoga Allah mengganti kesedihan mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Sudah jangan menangis." Alt mengusap air mata istri dan putrinya.
Juna terlihat lebih tegar, dia masih tersenyum demi dua wanita di sisinya.
"Papi, nanti kita buat Dede lagi ya?" Tika mengusap ingus, menginginkan adik perempuan yang lucu seperti Mora.
Kening Juna berkerut, dia menginginkan adik laki-laki agar rumah tenang, cukup punya satu Tika yang sangat berisik.
Atika berteriak tetap memaksa ingin adik perempuan, memukuli kakaknya yang juga tidak ingin mengalah.
Juna untuk pertama kalinya tidak ingin mengalah kepada adiknya, dia tidak sanggup mempunyai adik perempuan lagi.
"Apa mereka pikir memiliki adik bisa request? kita membuat saja belum." Aliya tersenyum lucu melihat Tika yang sudah duduk di depan mobil dengan wajahnya yang cemberut.
Altha langsung menggendong putrinya, menasehati Tika mau perempuan ataupun laki-laki sama saja.
"Tika maunya perempuan, nanti Tika tidak punya teman."
"Ada mami sayang." Al mengusap wajah gemes Tika.
"Memangnya Mami mau menjadi adiknya Tika?" tatapan Atika tajam, tidak ingin duduk di samping Juna yang menyebalkan.
Aliya hanya tertawa kecil, Tika sama seperti Altha yang sebenarnya keras jika menginginkan sesuatu.
Di dalam mobil Al menegur Juna jika laki-laki ataupun perempuan sama saja, tidak boleh memaksa kehendak.
"Juna, kamu mendengarkan mami tidak?"
"Iya, tapi jika bisa maunya laki-laki saja." Tatapan Juna sinis melihat adiknya yang melotot menantangnya.
__ADS_1
Altha meminta Tika dan Juna berhenti bertengkar, membuat adik untuk mereka membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa langsung jadi.
"Tidak bisa dipercepat saja Papi, Tika ingin melihatnya."
"Kamu masih kecil Tika, nanti adiknya harus dikandung dulu selama sembilan bulan." Altha menjalankan mobil, masih mendengar ocehan putrinya.
Atika menunjukan sembilan jarinya sambil terkejut, Al hanya bisa tertawa melihat kelucuan Tika.
"Tiga saja lama Papi, kenapa harus sembilan? Tika minta yang satu bulan saja Papi tidak sanggup menunggu lama." Tika memaksa tanpa mengerti apa yang Papinya jelaskan.
Aliya memeluk putrinya gemes dan ingin rasanya mengunyahnya, Al menjelaskan jika dirinya masih ingin menghabiskan waktu bersama Atika, belum ingin membagi waktu bersama yang lain.
Saat ini Tika menjadi putri satu-satunya, kapan akan diberikan anak tidak masalah bagi Al. Cukup ada Juna dan Tika sudah membuat bahagia, jika ditambah lagi kebahagiaan bertambah lebih besar lagi.
"Emh, Tika tidak harus mempunyai adik cepat ya Mami, berarti Aunty Anggun sama Uncle saja yang membuat." Tika meminta Altha menghubungi Dimas, jika dia akan menunda mempunyai adik, dan meminta Dimas membuat lebih dulu.
"Tika, aunty sama Uncle belum boleh?"
"Kenapa? Aunty Alin saja yang membuat dedek, dia tidak punya pekerjaan Mami kerjanya hanya makan sama seperti Tika." Suara tawa Atika terdengar mengejek dirinya sendiri.
Al menatap Altha, menarik baju suaminya untuk menjelaskan kepada putri mereka agar berhenti membahas cara membuat adik.
"Sayang, membuat anak tidak seperti membuat kue. Hanya orang yang memiliki status suami istri saja."
"Tika meminta adik Papi bukan anak?"
Aliya langsung melongo, Altha sudah menggaruk kepalanya pusing memikirkan cara menjelaskan kepada Atika yang lebih pintar.
Tatapan Juna melihat kedua orangtuanya yang binggung, menghela nafasnya langsung meminta Tika duduk di sampingnya.
Atika dengan polosnya pindah ke belakang, menatap kakaknya yang melihatnya dengan tatapan tajam.
"Colok ya mata kak Juna, Tika tidak suka melihatnya." Tangan Tika mendekati mata Arjuna.
Juna memasang earphone kepada adiknya, meminta Tika mendengar penjelasan jika semua yang memiliki ayah dan ibu itu namanya anak.
"Atika anak mami dan Papi, berarti adiknya Tika juga anak Mami dan Papi. Lalu masalahnya apa?"
Altha, Aliya dan Arjuna melihat Atika yang mengangkat bahunya tidak mengerti.
***
DONE dua bab
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara