
Sudah satu minggu Shin di rumah sakit, matanya sudah jauh lebih baik karena perawatan yang Shin jalani.
"Hari ini mata kamu dibuka, aku bahagia juga khawatir." Tika tersenyum menatap keluarga yang lain duduk diam dalam keadaan khawatir.
Dokter melangkah masuk, mempertanyakan kesiapan Shin untuk membuka matanya. Diana melangkah mendekati Dokter yang menangani Shin.
"Dok, apa sudah waktunya?" Di meminta penjelasan detail.
"Melihat dari pemeriksaan sudah waktunya Dokter Diana, kita sudah melakukan yang terbaik." Dokter meminta Diana yang membuka.
Senyuman Shin terlihat lebar, merasakannya kain penutup matanya di buka. Tidak ada khawatir sama sekali di wajah Shin, dirinya sangat yakin pasti baik-baik saja.
"Jangan dibuka dulu Shin ... pelan-pelan buka matanya, jangan memaksa." Dokter memberikan instruksi.
Kepala Shin mengangguk, membuka matanya perlahan-lahan sampai terbuka sepenuhnya. Senyuman Shin terlihat, dirinya tidak bisa melihat apapun. Semuanya terlihat gelap gulita tanpa cahaya.
Suara panggilan di ponsel terdengar, Shin mengingat ucapan Juna yang pernah memperingatinya. Kemungkinan buruk sangat mungkin ada, tetapi hal baik juga jauh lebih besar.
Mata Shin tertutup kembali, mengingat saat pertama kali bertemu Juna di bandara. Pertemuan enam tahun yang lalu saat kepergian Kakek Ken, bertemu kembali setelah Juna dan Shin dewasa.
"Buka mata kamu, jangan mencari cahaya. Buka saja, dan bayangkan orang-orang yang ingin kamu lihat."
"Aku ingin melihat kamu," Shin tersenyum manis.
Matanya langsung terbuka, melihat seseorang di balik pintu yang menatapnya tajam. Nada bicara dingin, mudah marah tetapi membuat Shin semakin mencintainya.
"Aku bisa melihat kamu, terlihat sangat jelas." Shin tersenyum melihat senyuman pria dihadapannya.
"Shin ... kamu bisa melihat kita tidak?" Tika melambaikan tangannya di hadapan Shin.
"Minggir Tika, menganggu saja." Shin menyingkirkan tangan Tika, Juna tidak terlihat lagi di pintu.
Tatapan Shin langsung tajam melihat Tika, kesal karena kehilangan kesempatan lebih lama melihat senyuman Juna.
__ADS_1
"Shin, kamu bisa melihat Kak Di?"
"Tatapan Shin melihat ke arah Diana, matanya langsung melotot, melihat seluruh keluarga ada di dalam ruangan. Shin langsung turun dari ranjang mencari kaca memperhatikan matanya yang melihat dirinya sendiri.
"Wow ... ini mimpi atau tidak? aku bisa melihat semuanya." Shin lompat-lompat kesenangan.
Suara keluarga yang tegang langsung teriakan bahagia, Mam Jes langsung memeluk Shin sangat erat, mengucapkan syukur karena Shin kembali bisa melihat mereka semua.
Air mata Shin menetes, pertama kalinya dirinya melihat banyak orang yang mengkhawatirkannya dan menyambut bahagia kesembuhannya.
"Tika, aku rindu kamu." Shin memeluk erat sahabatnya yang juga memeluk tidak ingin melepaskan.
"Aku bahagia melihat kamu kembali, jangan pernah terluka lagi. Ini meyakinkan Shin, sayap aku sampai patah." Pelukan Tika sangat erat tidak ingin melepaskan sahabatnya.
"Terima kasih semuanya, mengalami luka membuat Shin sadar siapa kawan dan lawan? siapa keluarga dan orang lain. Terima kasih." Tubuh Shin membungkuk, mencium tangan semua orang sambil memeluk erat.
"Melihat kamu tersenyum lebar dan menatap dengan mata indah membuat kita semua bahagia." Al mengusap kepala Shin lembut.
"Terima kasih Mami, terima kasih memberikan Shin kesempatan merasakan sebuah keluarga. Terima kasih." Tangisan Shin langsung pecah, tidak bisa menutupi rasa harunya.
"Terima kasih Ghiselin, kamu cucu kesayangan keluarga Leondra. Kamu memberikan ruangan untuk kak Shin tinggal di dalam nama itu." Shin memeluk lembut Isel yang mengusap air matanya.
"Kata Nenek, Isel cucu kesayangan, Mama menantu kesayangan, Aunty Shin Putri kesayangan. Isel nomor satu, iyakan Nenek?" tatapan Isel melihat ke arah Mam Jes yang menganggukkan kepalanya.
Kepala Shin masih tertunduk, menggenggam tangan Isel yang kecil. Saat seumuran Isel, Shin pertama kali melihat kejahatan dan berpikir semuanya hanya halusinasi. Sekarang Shin sadar, metalnya sudah rusak sejak kecil.
"Kamu anak yang beruntung Isel,"
"Semua anak yang lahir beruntung, hanya saja ujian hidup mereka yang berbeda. Ada yang bahagia saat kecil, remaja, dewasa, hingga tua. Hidup tidak selamanya mulus Shin, semuanya ada masa jatuh, bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi. Tergantung kemampuan masing-masing bisa tidak bertahan." Papa Calvin memeluk Shin.
Calvin sudah tahu sejak pertama melihat Shin, kejiwaannya terganggu tapi masih ditutupi dengan senyuman. Seandainya Shin dilatih menjadi psikopat, bisa saja dia menjadi orang yang menakutkan.
Kehadiran Tika membuat kewarasan Shin kembali, perlahan menikmati hidupnya karena memiliki teman. Melawan sakit bertahun-tahun berhasil Shin lewati.
__ADS_1
"Kamu punya Papa, apapun masalah katakan."
"Pa, terima kasih. Ucapan terima kasih tidak cukup untuk mengutarakan betapa Shin bersyukurnya bertemu keluarga ini." Shin mencium lama tangan Papa Calvin.
Tidak ada yang Shin inginkan, dirinya sudah mendapatkan kasih sayang dan tidak akan rela ada yang menyakiti orang-orang yang dirinya sayangi.
"Shin akan meyelesaikan masalah ini sebatas kemampuan, jika tidak mampu Shin akan mengadu. Aku tidak akan terluka lagi, ini terakhir kalinya." Shin meyakinkan Calvin untuk tidak membalaskan sakitnya Shin yang menjadi incaran oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Papa percaya, kamu, Diana, Gemal, Genta dan ketiga cucuku memiliki kemapuan yang berbeda dan mampu menyelesaikan masalah kalian. Permintaan Papa hanya satu, jangan pernah terluka. Satu anggota keluarga terluka, maka kita semua goyah dan kebahagiaan berubah kesedihan." Senyuman Papa terlihat, memberikan Shin kebebasan untuk menyelesaikan masalahnya asalkan bisa menepati janjinya.
Kepala Shin mengangguk, memberikan jari kelingkingnya untuk membuat janji tidak akan pernah terluka dan tahu kapan harus berhenti.
"Oke, satu anak selesai. Masih ada satu lagi yang masih belum bicara setelah tiga hari bangun dari sakitnya." Dokter Calvin langsung pamit undur diri.
Mam Jes meminta Shin pulang dan beristirahat, Mam Jes masih harus menjenguk Genta yang dijaga oleh Gemal.
Keluarga yang lain juga pulang setelah menjenguk Genta, meksipun kondisi Genta sudah membaik dia masih belum bicara.
"Bagaimana kondisi kak Genta?" Shin duduk di samping Tika yang merapikan baju-baju Shin.
Kepala Tika menggeleng, Genta sudah sadar lebih dari tiga hari. Proses pengobatan juga cepat, masalahnya hanya satu. Genta belum bicara dengan siapapun, jika ada yang menjenguk Genta memilih menutup matanya.
"Bagaimana kondisi Kak Juna? dia tidak ada di sini."
"Jangan membicarakan Kak Juna, Tika kesal kepadanya. Dia tidak ingin mengobati kamu, bahkan Mami juga tidak bisa membujuknya. Kak Juna terlalu keras kepala." Hentakan kaki Tika terdengar, kesal jika teringat Kakaknya.
Senyuman Shin terlihat, melangkah keluar kamar bersama Tika untuk menjenguk Genta. Di jalan keduanya melihat Juna yang melangkah.
Juna hanya melewati saja, seakan-akan tidak mengenal Shin dan Tika sama sekali. Teriakan Tika terdengar, mengutuk Kakaknya.
"Kenapa semakin jauh? kesempatan untuk memiliki semakin sulit." Shin menatap punggung Juna dengan tatapan lemas.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira