ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DUA BERSAUDARA


__ADS_3

Tubuh Genta banjir keringat selama perawatan di rumah sakit, Papa Calvin terlihat khawatir karena kondisi Genta stabil hanya saja mengalami mimpi buruk.


Suara Genta mengigau terdengar, memanggil Mama dan Papa juga Adiknya yang masih kecil. Air matanya juga menetes tanpa bisa dikendalikan.


"Pa, apa yang sebenarnya dulu terjadi kepada Genta?" Gemal mengusap keringat, membangunkan Genta yang masih menangis.


"Entahlah Gem, Genta hanya dekat dengan Kakek Ken." Kepala Papa Calvin menggeleng, dirinya terlalu sibuk mengobati istri juga mencari anaknya yang hilang.


Calvin mengetahui keberadaan Genta, hanya sekedar tahu. Tumbuh kembang Genta berada dalam pengawasan Kakek Ken.


Keinginan Genta yang menguasai bela diri sempat ditolak oleh Kakek Ken karena terlalu bahaya, tapi Genta sulit dihentikan hingga akhirnya mendapatkan izin.


"Sekarang Papa mengerti, kenapa dulunya Genta dijauhkan dari bela diri, mobil tua, api yang sedang berkobar. Dia memiliki trauma besar yang tidak mampu dirinya terima.


"Jangan bawa adikku!" Genta terbangun sambil berteriak.


"Gen, tenanglah." Gemal memberikan air minum agar tenang.


"Kenapa suka sekali masuk rumah sakit Nak? dulu Gemal sekarang giliran kamu." Tangan Mam Jes menggenggam jari jemari Genta yang masih menatap wajah Mam Jes.


"Mereka menculik adik Genta Ma, membunuh Papa dan Mama." Air mata menetes dari balik pelipis matanya.


"Jangan menangis, ada alasan kenapa kamu lupa dan sekarang ingat. Genta sudah dewasa, jangan jatuh karena masa lalu." Air mata Mam Jes juga menetes, bisa merasakan kesedihan Putranya.


Apapun yang terjadi di masa lalu, alasan kejadian terlupakan sesuatu yang baik. Dua puluh tahun yang lalu, mungkin Genta hanya seorang anak kecil berusia enam tahun, masih terlalu muda untuk melihat kematian orangtuanya.


Melupakan kejadian menyakitkan pilihan terbaik yang Genta ambil, saat ini dirinya mengingat sedikit kepingan ingatan yang tersembunyi juga memiliki alasan karena sudah waktunya Genta tahu. Hati dan pikirannya harus menerima setiap keping ingatan.


"Kamu sudah siap untuk ingatan itu, jangan salahkan kegagalan kamu karena itu bukan gagal, tapi hanya tertunda. Buah kesabaran sangat nikmat jika kamu ikhlas menjalani." Mam Jes mengusap air matanya membiarkan Genta menangis.

__ADS_1


Suara tangisan Genta terdengar sesenggukan di dalam pelukan Mam Jes, meluapkan segala kesedihannya. Hanya hitungan detik, tawa berubah menjadi air mata.


Genta kecil sangat bahagia menjemput kepulangan Adiknya dari rumah sakit setelah lahir, tapi pertemuan pertama mereka berakhir perpisahan.


"Adik Genta diculik Ma, dia mengambil bayi yang Genta letakkan. Seharusnya Genta gendong adik kecil." Bayangan kedatangan seseorang yang tidak bisa Genta ingat wajahnya.


"Hebat juga kamu bisa menggendong bayi kecil," ucap Gemal keceplosan.


"Papa yang mengajari aku untuk menjaga adik saat pulang, kecelakaan terjadi dan dia menangis. Aku membawanya menjauhi mobil, tapi langsung meledak. Mama dan Papa di sana." Kedua tangan Genta mengusap wajahnya, menatap tangannya yang sempat menggendong adiknya yang dibalut kain tebal.


Suara pintu terbuka terdengar kuat, Shin langsung terduduk lemas kehabisan tenaga saat mendengar Kakaknya mengalami kecelakaan. Air mata Shin banjir membasahi wajahnya, Diana membantu Shin untuk berdiri karena tidak tega melihatnya panik dan histeris.


"Kak,"


Senyuman Genta terlihat, air matanya tidak tertahankan memikirkan bayi kecil yang sudah tumbuh besar dengan penuh luka penderitaan.


"Kak, Kenapa bisa terluka?" Shin berjalan dibantu oleh Di untuk mendekati Genta.


Tangisan Shin langsung pecah, tidak kuasa menahan ketakutan dan kesedihan mendengar Kakaknya kecelakaan. Shin bahkan menyalahkan dirinya yang menyebabkan Genta terluka.


Mendengar tangisan keduanya, Diana juga tidak kuasa menahan air matanya yang ikutan menetes merasakan kehancuran dua bersaudara.


"Apa Shin dan Genta saudara kandung?" Mam Jes menatap Papa Calvin yang menggelengkan kepalanya tidak tahu menahu.


"Sudah Diana katakan sejak pertama melihat Shin, wajahnya mirip dengan seseorang. Saat bertemu Genta, Di langsung tahu jika mereka memiliki wajah yang sama. Satu tampan dan satunya cantik. Di dan Kak Gem selalu bertengkar karena ini." Diana mengusap dadanya yang terlalu lama menahan rasa penasarannya.


"Masalahnya, tiga tahun yang lalu hasil DNA berbeda. Siapa yang menutupi identitas Genta dan Shin?" Gemal menatap Genta yang menghapus air mata Adiknya.


"Sejak kapan kamu tahu hubungan kita? pantas saja selama ini tidak ada pertanyaan." Tangan Genta mengusap kepala Shin lembut.

__ADS_1


"Aku tahu sudah lama, hanya saja tidak mempercayai dan takut berharap. Aku tidak memiliki siapapun, kehilangan sesuatu hal yang paling menakutkan. Jika diam bisa membuat kita bersama, akan Shin lakukan." Tangisan Shin kembali terdengar, meminta maaf karena mungkin keberadaannya akan semakin membahayakan Genta.


Papa Calvin meminta bukti jika Genta dan Shin bersaudara, jika benar kemungkinan ada orang dalam yang mengawasi Genta sehingga Gemal gagal membuktikan hubungan Genta dan Shin.


"Apa berbahaya Gen?" Gemal melihat sekeliling mereka.


Kepala Genta mengangguk, kebenaran soal Genta dan Shin masih dalam penyelidikan. Siapa yang menghalangi hasil tes, siapa yang mengawasi bahkan alasan Shin dibawa pergi.


Genta masih mengumpulkan segala bukti agar suatu hari dirinya bisa membuktikan kepada Shin jika Genta tidak diam saja dan berjuang untuk menemukannya. Genta tidak tahu jika Shin juga tahu soal dirinya.


"Bagaimana kamu bisa tahu Shin?" Di menatap Shin yang masih menangis.


"Aku mencari identitas tiga tahun yang lalu, hanya penasaran saja dengan sosok Mama dan Papa. Ada yang mengatakan untuk tidak mencarinya, ada juga yang mengatakan mereka, sudah tiada." Shin menghela napasnya karena dirinya menyerah di tengah jalan.


Saat kembali, Shin melihat foto Mamanya Genta, tetapi berpura-pura cuek dan mengabaikan, sebenarnya Shin melakukan penelitian sendiri soal identitasnya dan Genta yang ternyata bersaudara.


"Aku ingin mengatakan, tapi apa ada yang percaya? aku melangkah mundur saat hasil tes Kak Genta salah. Saat itu Shin tahu ada yang menyembunyikan kebenaran, demi keselamatan Kak Gen, Shin memilih diam." Kepala Shin tertunduk, menahan sesak dadanya.


"Oke, kita sembunyikan ini. Jika sampai hubungan Shin dan Genta bocor, salah satu dari kita yang membocorkan." Papa Calvin menatap istri, anak dan menantunya untuk merahasiakan kepada siapapun.


Papa Calvin yang akan melindungi Shin selama Genta mencari kebenaran. Apapun yang ditemukan harus melapor karena keselamatan Shin dan Genta menjadi tanggung jawabnya.


"Pa, apa Kakek tidak meninggalkan jejak apapun?"


"Tidak tahu Genta, aku hanya mendengar Papa meminta beberapa orang mengawasi kamu. Papa juga tidak pernah cerita identitas kamu, atau mungkin aku yang terlalu sibuk." Papa Calvin meminta maaf karena dirinya yang lalai dalam menjaga keluarga.


Seharusnya Calvin mengetahui segala hal soal Genta, sehingga bisa melindunginya seperti Papanya terdahulu yang sangat menyayangi Genta.


"Sudahlah, kita kumpul keluarga seperti sudah cukup untuk Mama. Genta jangan sakit lagi Nak, bisa tidak aman jantung Mama." Mam Jes menggenggam tangan Genta dan Shin yang masih saling menggenggam.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2