
Sebelum membaca episode ini, silahkan baca ulang episode 258-259. Ada kesalahan update antara novel DENDAM ANAK TIRI DAN ISTRI MUDA PAK POLISI.
Reader yang binggung dengan episode tidak nyambung, silahkan dibaca ulang, biar ceritanya nyambung, tapi bagi yang merasa episode sudah benar lanjut saja. Karena kendalanya di jam malam.
Maaf atas kesalahannya membuat binggung, lanjut lagi.
***
Suara tawa terdengar berlarian, Diana menghela nafasnya mengejar Isel yang makan sambil bermain.
Isel tidak ingin makan jika bukan Mama atau Papanya, karena Gemal pergi terpaksa Diana harus menyuapi.
Di bersyukur kedua Putranya mandiri sejak kecil, karena memiliki adik perempuan yang menguasai orangtunya.
Isel tidak akan mengizinkan Diana ataupun Gemal memanjakan kedua kakaknya, kecuali dirinya.
"Kamu bisa berhenti tidak Isel?"
"Mama kejar Isel." Bibir Isel manyun dari kejauhan.
"Mama sudah tua Isel, sebentar lagi sakit pinggang. Kamu sudah besar, berhentilah bercanda. Mau makan duduk, atau tidak makan." Di menatap tajam Putrinya.
"Tidak makan." Isel langsung berlari membawa mainannya, dua penjaga langsung mengejarnya untuk menjaga.
Melihat Putrinya pergi, Diana langsung terduduk lemas. Putrinya tidak takut sedikitpun kepadanya.
"Bagaimana rasanya? seorang psikopat tidak ditakuti. Begitulah nasib Al menjaga Ria." Al mengusap dadanya, lemas jika membicarakan anaknya.
Senyuman Juna terlihat, langsung memeluk Maminya. Al mengusap kepala Putranya yang sudah besar, Juna menjadi pria yang sangat tampan seperti Papinya.
Al meminta Juna duduk, menceritakan aktivitas setiap harinya. Al sangat merindukan Putranya.
"Panjang Mami, tidak berkesudahan. Intinya Juna dalam keadaan baik."
"Syukurlah, cepat pulang. Mami ingin kita berkumpul lagi seperti awal." Al mencium kening Putranya.
Diana menepuk pundak Juna, waktu sangat cepat berlalu. Juna sudah dewasa, bahkan menjadi dokter termuda.
"Terima kasih Juna untuk tiga tahun yang lalu, Kak Di tidak akan melupakannya." Senyuman Diana terlihat, langsung memeluk lembut Arjuna.
Tangan Juna menepuk pelan, mereka keluarga sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu, karena jika anggota keluarga bahagia, menjadi kebahagiaan Juna.
__ADS_1
Arjuna menyerahkan sebuah amplop putih, Aliya langsung membukanya melihat uang. Al langsung tertawa melihat Putranya memberikan uang.
"Apa ini Jun? uang kamu jangan berikan kepada Mami. Juna harus bisa menjaga keuangan sendiri." Al meneteskan air matanya, memeluk Putranya yang menyerahkan seluruh gaji untuk Maminya.
"Juna tahu jika Mami tidak kekurangan, begitupun Juna. Kita beruntung hidup lebih dari berkecukupan, bisa dikatakan mewah." Tangan Juna menghapus air mata Mami Al.
Suara Gemal pulang terdengar, menyerahkan sesuatu untuk Arjuna. Gemal baru pulang bersama Hendrik, dan dia menitipkan hadiah untuk murid terbaiknya.
Tangan Gemal terulur, mengucapkan selamat kepada Juna yang memang sangat jenius. Tidak mudah mencari Dokter sebaik Juna apalagi dengan usianya yang baru dua puluh tahun.
"Kamu hebat Juna."
"Empat tahun Kak Gem, itu termasuk lama." Di tersenyum melihat suaminya yang mengerutkan kening.
"Masa iya sayang, perasaan Hendrik mengatakan Juna termasuk cepat." Kepala Gemal geleng-geleng melihat istrinya tertawa.
"Empat tahun cepat Kak Gem, Juna membutuhkan waktu sekitar tiga tahun lagi untuk menjadi Dokter spesialis." Juna membuka hadiah dari Hendrik.
Senyuman Juna terlihat, dirinya sudah mendapatkan izin untuk menjadi dokter tanpa harus menetap. Hendrik sudah mengirim Juna untuk kembali, dan menjadi Dokter muda.
Al langsung mengambil kertas, menyerahkan kepada Diana. Tangisan Al terdengar, Juna bisa kembali bersama mereka, karena pindah tugas.
Diana dan Aliya langsung berpelukkan, akhirnya berpisah empat tahun, Juna kembali untuk pindah tugas.
Juna langsung berdiri menundukkan kepalanya, mengucapkan terima kasih. Harapan Juna memang pulang, karena Maminya selalu gelisah soal Atika.
Diana bertepuk tangan, target awal sepuluh tahun. Juna berhasil mempercepat hingga enam tahun, sekarang mendapatkan jaminan dan bisa bertugas hanya dengan empat tahun.
"Jun, kita lakukan operasi bersama-sama." Di berjabatan tangan dengan Juna yang terlihat sangat bahagia.
Suara langkah Isel berlari terdengar, langsung duduk dipangkuan Gemal. Mata Isel melihat Juna yang tersenyum, langsung Mendekatinya.
"Kakak ganteng," sapa Isel.
Juna langsung memangku Isel, hidung Isel mengendus mencium bau wangi tubuh Juna.
Ciuman Isel mendarat ke pipi, langsung memeluk Juna yang juga memeluknya.
Tangan Diana mencubit paha suaminya, Isel sangat mengenali pria tampan apalagi wangi pasti langsung dicium.
"Genit banget kamu Sel?" Al menepuk jidat.
__ADS_1
"Daddy, Kakek Vin, Kakek Dimas, Uncle Altha, Uncle Dika, Kak Juna semuanya wangi. Isel suka sekali, tapi kak Dean bau ketek." Bibir Isel langsung cemberut.
"Boleh saja cium cowok wangi, tapi tidak boleh sembarang lelaki. Hanya boleh keluarga." Juna memperingati Isel.
Mam Jes meminta semuanya berkumpul untuk sarapan, karena sarapan mereka spesial dimasak koki terbaik, dan terenak.
Suara Isel teriak terdengar, dia sangat menyukai masakan kakak cantik. Langsung berlari ke arah ruangan makan.
Semuanya happy, perdana Shin memasak untuk semua keluarga yang kebetulan berkumpul, tanpa ada yang pergi.
"Juna panggil Uncle Hendrik, sama Kak Genta untuk makan bersama." Gemal merangkul istrinya untuk segera ke ruangan makan.
Di tersenyum melihat meja sudah dikelilingi oleh anak-anak, mendengar kabar Shin yang masak langsung bersemangat untuk makan.
Satu persatu makanan di susun di meja, Hendrik langsung menyapa seluruh keluarga, duduk di samping Papa Calvin.
"Di mana Genta?" Mam Jes tersenyum melihat Genta datang.
Shin melangkah dengan penampilan yang cantik, membawa sebuah kue. Semua orang terdiam, menatap kue yang belum tahu siapa pemiliknya.
Atika langsung memeluk Shin dari belakang, bahagia karena sahabatnya diam-diam mendengarkan curahan hati Tika yang ingin merayakan ulang tahun kakaknya yang sudah lewat.
Lilin angka 2 dan 0 di pasang di tengah kue, Tika tersenyum melihat cantiknya kue buatan Shin.
"Aku mendengar Tika mengatakan Kakaknya ulang tahun satu minggu yang lalu, belum ada yang sempat mengucapkan, karena ada kabar duka." Shin meminta maaf jika dirinya lancang, memberikan kue untuk kakaknya Tika.
"Thank you Shin, kamu yang terbaik." Al memberikan dua jempol, diikuti senyuman seluruh orang.
Semua orang bertepuk tangan saat Juna muncul, Shin langsung berbalik melihat Tika yang memanggil kakak sambil memeluknya erat.
Suara heboh mengucapkan selamat ulang tahun tidak terdengar oleh Shin, dirinya terkejut saat melihat wajah yang berdiri di depannya.
Shin menatap kue, lilin mati setelah ditiup oleh Juna. Jantung Shin berdegup kencang. Pria yang dirinya kagumi, berjarak sangat dekat dengan dirinya.
"Juna, ucapkan terima kasih kepada Shin, dia yang membuat kue." Al memeluk Putranya.
Kepala Juna tertunduk, memotong sedikit kue memasukkan ke dalam mulutnya. Kepala Juna mengangguk memuji rasanya.
Tangan Tika melambai di depan mata Shin memintanya fokus.
"Kak Juna lebih tampan dari suami khayalan kamu." Tika tersenyum mengejek.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira