ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ANAK TIRI


__ADS_3

Panggilan masuk, Juna melihat nomor Tika menghubungi. Juna langsung menjawab dan mempertanyakan kabar adiknya.


Pembicaraan Tika dan Juna terdengar serius, Juna tahu keputusan Maminya untuk Tika memimpin perusahaan sudah bulat, dan Juna menyetujuinya.


Berbicara di telepon tidak terlalu puas, Juna akan membahasnya kembali saat tiba di rumah. Juna masih di jalan menuju pulang.


[Tika, rindu kak Juna.]


[Kakak juga, maaf lama tidak bertemu.] Juna tersenyum melihat Mamanya yang memegang ponsel Juna.


Tangan Juna menggenggam erat, menyakinkan Mamanya untuk bertemu Atika. Meksipun Tika memiliki sikap keras, dia sebenarnya sangat penyayang.


"Juna, Mama tidak yakin. Tika membenci Mama."


"Jangan bicara sembarangan Ma, Juna yakin perlahan kita perbaiki." Juna mengeratkan genggaman tangannya.


Perasaan Juna juga sama tidak enaknya, nada bicara Tika terasa dingin. Atika yang biasanya penuh canda dan tawa, mendadak serius sesuatu yang jarang terjadi, bahkan baru pertama.


Di kamarnya Tika tersenyum sinis, menatap tajam ke arah gambar yang menakutkan. Tika melempar cat kuku ke lukisan sampai hancur.


"Tidak tahu malu, masih berani menunjukkan muka." Tika tertawa sangat besar, tapi hatinya terasa hancur.


Selesai menghancurkan lukisan, Tika keluar kamar melihat suasana rumah yang sibuk. Bau masakan menyengat hidung, sambutan makan malam.


Tika menuruni tangga, tatapannya sinis tidak merespon siapapun yang menyapanya. Hati Tika dalam keadaan tidak baik.


"Atika, sebentar lagi kak Juna sampai, kita menunggu di kolam." Al mendekati Tika yang membuka pintu rumah.


Senyuman Tika terlihat, langsung balik arah. berjalan bersama Aliya ke arah kolam berenang yang biasanya ada tempat makan khusus jika ada acara kecil-kecilan.


Suara teriakan Ria terdengar, dia bermain bebek di kolam sambil bernyanyi sangat heboh. Kolam menjadi panggung Ria.


Tatapan mata Tika melihat langit malam, makanan sudah penuh dihidangkan di atas meja. Al hanya mengatakan untuk menyambut kepulangan Tika dan Juna.


Panggilan masuk ke ponsel Tika, langsung diangkat tanpa mengeluarkan suara. Tika tersenyum mendengar suara Shin yang mengkhawatirkannya.


[Apa kamu baik-baik saja?]


[Tidak, aku dalam keadaan tidak baik, mungkin sebentar lagi akan hancur berkeping-keping. Apa aku sanggup bertahan? aku rasa kali ini gagal.] Senyuman manis Tika terlihat, langsung mematikan ponselnya, tanpa mendengarkan ucapan Shin sampai selesai.


"Kakak Tika, ayo bermain." Ria melambaikan tangannya.


Kepala Tika menggeleng, hanya tersenyum mengawasi adiknya yang masih berjoget sambil bernyanyi.


Arjuanda juga datang, langsung duduk di samping Tika. Memberikan minuman untuk Kakaknya.

__ADS_1


"Kak Tika tumben banyak diam?"


"Benarkan? kak Tika biasa saja." Senyuman Tika terlihat, memeluk adik lelakinya.


Suara Ria turun dari bebek terdengar, berlari kencang ke dalam pelukan Juna. Rengekan Ria manja terdengar.


Arjuna menggendong adik bungsunya, mencium pipi Ria yang tertawa sangat bahagia. Ria merindukan kakak lelakinya yang jarang pulang.


Teriakan Juan juga terdengar, langsung memeluk Juna sangat erat. Ketiganya berpelukan saling melepaskan rindu.


"Kak Juna, apa kabar? Tika rindu sekali." Atika memeluk erat Kakaknya.


"Baik, bagaimana kabar kamu? sekarang Tika kecil kak Juna sudah tumbuh menjadi wanita dewasa." Arjuna mengusap punggung adik kesayangannya.


Melihat keempat anaknya berkumpul Altha merasa terharu, mengusap punggung Juna memintanya untuk duduk menunggu Maminya siap.


Alt menggendong Juan, sedangkan Arjuna menggendong Ria untuk duduk di kursi masing-masing.


Suara canda dan tawa terdengar, Juna tersenyum melihat adik-adiknya yang sangat lucu.


"Semuanya sudah kumpul, Mami ingin memperkenalkan seseorang yang akan bergabung dengan keluarga kita." Al tersenyum melihat keempat anaknya.


Tepuk tangan Ria terdengar, memukul meja tidak sabar dengan seseorang yang ingin dikenalkan.


Al langsung masuk ke dalam, merangkul Citra untuk berjalan bersamanya menemui anak-anaknya.


Senyuman Citra terlihat, menatap Juna yang juga tersenyum. Juan mengerutkan keningnya, Ria menatap binggung sampai mengeluarkan makanannya.


Tatapan Citra melihat Atika yang tidak memiliki ekspresi apapun, tidak ada senyuman ataupun menunjukkan kemarahan, ekspresi Tika datar seakan tidak mengenali Citra.


"Siapa Nenek ini?" Ria melipat tangannya di dada.


"Halo Nek, salam kenal. Aku Adjuanda, panggil saja Juan." Juan turun dari kursinya, mencium tangan Citra.


"Jangan panggil Nenek, panggil Mama Citra." Al menegaskan suaranya.


Ria dan Atika menyebut Mama secara bersamaan, keduanya langsung tertawa lucu. Ucapannya Maminya sangat mengejutkan.


"Kenapa harus Mama? apa dia istri baru Papi? Mami bercandanya lucu sekali." Tika geleng-geleng kepala.


"Iya, Kak Tika benar. Kita hanya punya satu Mami dan Papi, tidak boleh ada yang lain." Wajah Ria menunjukkan ketidaksukaan.


Aliya meminta Citra duduk di sampingnya, Al menegur Tika dan Ria yang harus bisa membedakan candaan juga hal serius.


Kepala Ria tertunduk, meminta maaf kepada Citra langsung mencium tangannya memperkenalkan diri.

__ADS_1


Tangan Citra mengusap kepala Ria, saat dirinya meninggal Juna mungkin seumuran Ria. Sekarang Juna sudah dewasa.


"Kamu cantik sekali Ria, hati kamu sebaik Mami Aliya." Senyuman Citra terlihat.


"Ria mirip Papi, Mama siapa sebenarnya? kenapa baru datang sekarang? apa kita keluarga?" Ria menatap Citra yang kurus, dan tangannya juga gemetaran.


Al meminta Ria duduk, karena Maminya yang akan menjelaskan. Al meminta Tika menyapa Citra.


"Atika, kamu sudah besar." Tangan Citra mengulur kepada Ria, tapi tidak ditanggapi.


"Kenapa tangan kamu gemetaran? ada penyakit. Aku belum cuci tangan, tidak ingin menyebarkan virus sehingga membuat kamu berumur pendek." Senyuman Tika sangat manis, meminta maaf jika dia tidak bisa menyambut tangan Citra.


Sendok yang Juna pegang langsung terlepas, menatap adik perempuannya yang sudah siap makan. Aliya sama terkejutnya, begitupun dengan Altha.


Secara tidak langsung Tika menyumpahi Citra mati cepat, penyakit Citra seakan-akan hukuman untuk hidupnya.


"Tika, Mami tidak pernah mengajari kamu bicara kasar. Minta maaf secara baik-baik." Al meminta Tika berhenti makan.


Senyuman Tika terlihat, langsung berdiri menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Citra.


"Maaf,"


"Sudahlah Aliya, biarkan Atika makan." Citra menggenggam tangan Al.


Mata Aliya melihat tangan Citra yang gemetaran juga terasa dingin, Tika menunjukkan sikap dirinya tidak mengenal Citra sama sekali.


"Atika, Mami pernah mengatakan ini. Sampai kapanpun, Mami tidak akan bisa menjadi Mama kamu? aku tetap Ibu tiri bagi kamu dan Juna, kamu tidak boleh melupakannya." Al menatap tajam mata Tika.


"Ya, Tika tahu, Mami baru saja mengingatkan Tika jika pada kenyataannya aku hanya anak tiri. Sebaik apapun Ibu tiri, tidak akan sebaik Ibu kandung. Benarkan?" Tawa Tika terdengar, mengunyah makanannya menatap Citra yang matanya berkaca-kaca.


Arjuna menatap Tika, menyentuh pundak adiknya yang terlihat tenang, tapi sedang menahan rasa sakit yang teramat dalam.


"Maafkan kak Juna."


"Maaf untuk apa? Tika tahu sampai kapanpun Mami tetap Ibu tiri, Tika bangga memiliki Ibu tiri, aku baik-baik saja." Tika menepis tangan Kakaknya, tidak perlu menguatkan dirinya, karena Tika sejak kecil sudah bertahan.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2