ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMBUAT EMOSI


__ADS_3

Suara rusuh terdengar, kepala Rindi pusing melihat Tika dan Shin yang bertengkar karena memilih baju bayi yang berjenis kelamin laki-laki.


"Sudah jangan bertengkar, apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian? beli saja semuanya seperti kekurangan uang saja." Suara Rindi kesal terdengar menatap dua wanita yang masih bertatap tajam.


"Kak Hendrik berpesan untuk tidak berlebih-lebihan, bayi yang baru lahir akan tumbuh dengan cepat sehingga bajunya tidak terlalu dibutuhkan." Tika membuang semua baju yang dia pilih, meminta Shin merapikannya.


"Shin tidak mau membeli baju." Tangisan Shin terdengar memukul punggung Tika yang memarahinya.


"Ya sudah kita makan saja." Tawa Rindi terdengar yang langsung diikuti oleh dua wanita.


Pelayan yang melihat baju berantakan hanya bisa geleng-geleng kepala, sudah berantakan tidak membeli.


"Inilah namanya pembeli adalah raja, tidak tahu diri sudah dilayani, tapi tidak menghormati dan menghargai. Raja Fir'aun Iya." Hentakan kaki pelayan terdengar menatap sinis tiga wanita yang beranjak pergi.


Di dalam restoran mewah, Shin memesan banyak makanan membuat Tika dan Rindi kebingungan.


"Siapa yang makan Shin?"


"Aku, ini pesanan Shin. Kalian pesan sendiri,"


"Rakus!" Tika memesan makanannya, Rindi juga hanya memesan sedikit karena perutnya sudah sesak.


Melihat Shin yang makan lahap menbuat selera Tika hilang, tidak nyaman lagi mengunyah makanannya karena Shin seperti orang kelaparan.


Rindi juga menatap heran, dia yang hamil dan Shin yang kelaparan. Bahkan masih meminta punya Tika.


"Kenyang,"


"Jika makanan sebanyak ini membuat kamu belum kenyang, luar biasanya isi perut besarnya." Tika meminta bill, sudah pusing melihat Shin yang sangat suka makan.


Setelah membayar Tika berjalan lebih dulu, suara tangisan anak kecil terdengar. Seorang ibu menggendongnya mencoba mendiamkan.


Wajah Tika terlihat kesal, sedangkan Shin mendekat menenangkan si kecil yang ada dalam pelukan Mamanya.


"Ayo kita pulang," Rindi memanggil keduanya.


Tangan Shin ditarik oleh Tika, berjalan ke arah mobil. Rindi kaget mendengar Shin merayu Tika untuk pergi ke tempat yang cukup jauh hanya sekedar makan mie.


Rindi menolak, perutnya sudah mulai sakit, tidak ingin mengambil resiko dengan melakukan perjalanan jauh.


Mendengar keluhan Shin, Tika sependapat mereka bisa pergi lain waktu berdua. Terlalu berbahaya membawa Rindi yang sedang hamil tua.


"Tika tidak sayang Shin." Air mata menetes dari pelipis mata.

__ADS_1


"Aku mengatakan nanti, kita perginya berdua saja. Jika terjadi sesuatu kepada Rindi kita yang harus bertanggung jawab, jangan kekanakan begitu saja menangis." Suara Tika mengomeli terdengar, meminta Shin diam.


Bibir Shin monyong karena kesal keinginannya tidak dituruti, Shin menyebalkan sudah beberapa minggu. Dia terlalu sensitif, dan apapun yang diinginkan harus dituruti.


Suasana mobil tiba-tiba terasa, Rindi lebih tidak nyaman lagi dikarenakan semuanya diam.


"Bagaimana kondisi Rara, Rin?" Tika menatap ke arah Rindi yang mengusap perutnya.


Rara sudah pulih, hanya saja dia masih membutuhkan banyak adaptasi. Reza yang mengurusnya dan selalu mengawasinya, mengajari banyak hal agar Rara bisa mengetahui apa saja yang dia tidak ketahui selama delapan tahun.


"Mengapa Reza tidak melamar Hana? peran Hana cukup penting dalam penyembuhan Rara." Shin menatap Rindi yang mengangkat kedua pundaknya.


Dia tidak bisa memaksa Reza untuk menikahi siapa yang menjadi pilihan Rindi, Reza bukan anak kecil dia akan mengatakan jika sudah menemukan tambatan hatinya. Rindi tidak harus turun tangan.


Apapun yang menurut Reza baik, maka Rindi menyetujuinya. Lelaki tahu mana yang tepat untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya.


"Kamu semakin dewasa semenjak hamil?" kekaguman Tika terlihat, salut dengan pikiran Rindi yang mempercayai Adiknya untuk membebaskan memilih wanitanya.


"Kasihan Kak Ana semakin tua, usianya hampir dua puluh delapan tahun. Belum juga menikah." Shin bicara sendiri tidak ingin bicara dengan Tika dan Rindi yang memarahinya.


Menikah bukan karena mengejar usia, apalagi karena ucapan orang yang terus mempertanyakan kapan dan kapan. Menikah harus ada kesiapannya, bukan semaunya yang menikah.


"Menikah bukan karena dia baik saja,"


"Aku dan Ay Jun menikah karena apa?"


Sesampainya di rumah Shin berlari masuk ke kamarnya, membanting pintu marah tanpa alasan. Tika memilih mengabaikan, masuk ke ruangan kerjanya untuk mengecek kondisi perusahaannya.


Suara Shin menangis terdengar, mengadu kepada Tika sambil memegang anak kucing yang sudah mati.


"Tika, tolong. Anak aku mati,"


Tangan Tika mengepal hampir menghantam wajah Shin yang mengejutkannya dengan suara tangisan, hanya karena anak kucing sudah teriak-teriak histeris.


"Ada apa Shin? kerjaan kamu menangis saja." Tika menatap sinis Adik iparnya yang seperti anak kecil.


"Atika jahat, tidak sayang Shin lagi." Tangisan semakin kuat memeluk anak kucing.


Tarikan napas Tika panjang, tersenyum manis menanyakan baik-baik penyebab tangisan yang mengguncang satu rumah.


"Ada apa?"


"Mati, kucing Shin mati." Anak kucing diletakkan di telapak tangan Tika.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu punya kucing? dapat di mana?"


Shin berjalan lebih dulu, menunjukkan kepada Tika arah taman belakang rumah mereka. Ada segerombolan anak kucing beserta Ibunya yang berada di dalam semak tanaman.


Tika mengambil sebuah kotak, memasukkan kain barulah mengambil kucing dan Ibunya yang mengeong.


"Lalu ini bagaimana?"


"Kita makamkan saja." Tika menggali tanah, membungkus anak kucing dengan kain lalu memasukkannya ke dalam tanah.


"Tunggu dulu, Shun belum doa,"


"Berdoa setelah dikubur, bukan saat masuk liang." Emosi Tika sudah tingkat atas, ingin sekali mengubur Shin sekalian.


Setelah di makamkan, Shin berdoa sangat lama membuat Tika mengantuk. Pelan-pelan melangkah mundur ingin meninggalkan Shin sendirian di taman belakang.


Suara tangisan kembali terdengar, Shin mengomel sambil membawa kardus anak kucing melangkah masuk.


Tika sudah bersembunyi di kamar mandi mengabaikan Shin yang terlihat aneh, emosi Tika sangat tinggi melihat tingkah laku Shin.


"Assalamualaikum Shin,"


"Kak Gen, beli makanan untuk anaknya Shin." Tangan Shin menunjukkan anak kucing dan Ibunya.


Senyuman Genta terlihat, meminta bantuan penjaga yang membelinya. Genta mengusap kepala Adiknya yang begitu menyukai hewan.


"Lucu ya?"


"Emh, seperti Shin yang cantik dan lucu." Senyuman lebar terlihat.


"Di mana Tika?"


"Tidak tahu, dia jahat sama Shin. Kita tidak berteman lagi,"


Kening Genta berkerut, dua wanita bertengkar kembali. Jika sudah perang dingin Genta memilih mundur, daripada ambil resiko.


Saat tiba dikamar Tika langsung memeluknya, menjelaskan Shin yang selalu menyusahkan. Tika sampai hampir memukulnya.


"Kak Gen, Tika mulai besok mulai aktif di perusahaan. Soalnya keadaan sedang kacau, kasihan Mami menghandle sendiri." Tika meminta izin suaminya yang merespon baik.


"Boleh sayang, tapi jangan terlalu lelah." Pelukan Genta erat.


"Tunggu ... kenapa bau parfum wanita? Ayang dari memeluk siapa?" teriakan Tika menggema langsung marah.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2