ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BUKTI


__ADS_3

Beberapa polisi sudah berdatangan ke hotel, pihak hotel juga terkejut secara tiba-tiba kepolisian memaksa masuk salah satu kamar yang disewa. kondisi kamar juga sudah kosong dan orang yang menyewa sudah keluar.


Genta menunjukkan identitasnya dan langsung menerobos masuk, jika pihak hotel menghalangi maka akan terlibat jika ditemukan sesuatu yang mencurigakan. Pintu kamar terbuka, bau amis darah tercium beberapa polisi masuk dan melihat satu tubuh yang tergeletak.


"Jangan sentuh apapun yang akan menjadi bukti." Genta menatap korban yang meregang nyawa dengan cara mengerikan.


Pelaku yang merenggut nyawa sudah terbiasa melakukan kejahatan sehingga kondisi korban sangat mengenaskan. Hal yang membuat Genta heran, darah yang ada di seluruh tempat, tidak sebanding dengan kondisi korban.


"Aku rasa pelaku sangat menyukai darah Gen, lihatlah seluruh tempat penuh tetesan darah. ini bukan kasus biasa." Dokter forensik menatap Genta yang hanya menganggukkan kepalanya membenarkan.


"Kamu selidiki lebih lanjut, aku tunggu hasilnya."


Korban langsung dievakuasi setelah barang bukti di amankan, Genta melihat sesuatu di bawah ranjang, mengambil dan menjadikan barang bukti yang cukup kuat untuk menemukan pelaku sebenarnya.


Pihak hotel tidak mengakui jika mereka mengetahui di kamar sudah terjadi sesuatu yang mengerikan. Genta meminta rekaman CCTV, tetapi pihak hotel mengatakan jika CCTV sudah terhapus semua karena virus.


"Kalian tutupi saja kasus ini, kau pastikan terlibat semua."


"Bagaimana kasusnya Gen?" Yandi menatap kaget banyaknya darah.


"Pak Yandi, saya sudah mengatakan bisa menangani ini, kenapa bapak ada di sini?"


"Di mana Gemal? dia tidak terlihat."


Kedua bahu Genta terangkat, dia tidak mengetahui keberadaan Kakaknya ataupun atasannya yang memang selalu menghilang dan akan muncul jika kasus selesai.


"Pembunuhan berantai, sangatlah unik caranya membunuh." Senyuman Gemal terlihat, menatap sekeliling ruangan yang penuh darah.


"Apa barang bukti yang ditemukan?" Yandi melihat bekas hubungan ranjang.


Genta sudah memastikan jika akan dilakukan pemeriksaan kepada wanita yang sudah berhubungan dengan korban sebelumnya.


"Gen, apa itu?" tangan Gemal menunjuk ke arah bawah meja.


Genta mengambil benda yang tertinggal di kamar hotel, Gemal memperhatikan gelang yang tertinggal di hotel.


Pelaku terlalu bersikap santai sampai tidak mengecek ulang barang yang tertinggal, Genta sangat yakin ada seseorang yang bertugas membersihkan semuanya, tetapi Genta datang lebih dulu.

__ADS_1


Panggilan masuk, Gemal mengumumkan pelaku pembunuhan bernama Irish, hasil penyelidikan keluar dan akan mulai mengajar pelaku.


Kamar langsung disita dan diberikan batas polisi, Genta melangkah keluar bersama Gemal dan Yandi yang masih membicarakan soal kasus.


"Dari mana Gen kamu tahu di sini ada kasus, lokasi dari tempat kita cukup jauh." Langka Gemal terhenti, setidaknya butuh waktu berjam-jam untuk datang ke lokasi.


Tidak mungkin Genta sekedar lewat, tetapi secara tiba-tiba kepolisian pusat yang menangani sedangkan kepolisian sekitar juga tidak mengetahui.


Yandi juga merasakan keanehan, pihak hotel belum sempat membersihkan bekas korban dan Yandi yakin jika pihak hotel sudah bekerja sama.


"Kasus ini sepertinya sudah biasa terjadi di sini dan pertama kalinya ketahuan, lihatlah keamanan yang sangat ketat." Gemal masih menatap Genta yang hanya diam saja.


"Izinkan aku yang menyelesaikan kasus ini, dan aku pastikan segera selesai." Kepala Genta tertunduk.


Yandi dan Gemal polisi yang berpengalaman, Genta tidak ingin banyak bicara jika pada akhirnya dirinya akan terkena hujaman senjata sendiri karena melawan ucapan Gemal tidak akan berkesudahan.


Kepala Gemal mengangguk, mereka akan kembali lebih dulu dan Genta tetap tinggal untuk menyelesaikan kasus secepatnya.


Polisi yang di kerahkan juga dua kali lipat sehingga tidak mudah bagi Irish untuk bisa melarikan dari kasusnya.


Genta masuk mobil, setelah mengantar kepergian Gemal dan Yandi yang pulang lebih dulu.


Genta kaget melihat seseorang yaang tidak dikenali ada di mobilnya. Leher Genta dicekik kuat dan sebuah jarum suntik menancap di lehernya.


Mobil melaju pergi, kesadaran Genta sudah hilang tapi masih bisa memberikan sinyal kepada bawahan untuk segera menemukan keberadaanya.


Topi Genta dibuka, wajah tampannya terlihat jelas membuat wanita yang menatapnya terpesona.


Wajah Genta diusap lembut, senyuman manis terlihat mengagumi soosk pria yang memiliki tubuh indah dan wajah yang tampan.


"Kamu terlalu sempurna, aku tidak tega menyakiti kamu. Ini terlalu indah," ucap Rindi yang sudah mendapatkan laporan jika kepolisian menemukan kasusnya.


Sepanjang perjalanan Rindi tidak bosan melihat wajah Genta, mencium bau tubuhnya yang sangat wangi padahal Genta berkerja di lapangan.


Jari jemari Genta digenggam erat, Rindi menciumnya sangat lembut. memeluk Genta yang masih belum sadarkan diri.


"Bawa aku kembali ke mansion, pria ini harus menjadi milikku. Dia akan menjadi suamiku." Tawa Rindi terdengar mengingat wajah pria yang sempat menolongnya ketika kecelakaan.

__ADS_1


Rindi sangat yakin jika dirinya berjodoh sehingga dipertemukan kembali dan kali ini Rindi tidak akan melepaskan apa yang akan menjadi miliknya.


"Maaf Nona, kita diperintahkan untuk pergi ke markas dan memberikan pelajaran kepada pria ini." Bawahan Rindi mengingatkan niatnya, sebuah senjata sudah ada di kepala, mati akan menjadi pilihan bagi orang yang menolak keinginannya.


Secara terpaksa tujuan langsung diubah kembali ke mansion. Perjalanan menuju mansion cukup jauh sampai Rindi juga tertidur sambil memeluk Genta.


Kesadaran Genta kembali, tetapi tidak membuka matanya sama sekali. Pembicaraan beberapa pria yang menculiknya terdengar jika mereka akan mati di tangan Irish atau mati di tangan Rindi.


Irish memberikan perintah untuk membawa Genta ke markas yang sudah dipersiapkan untuk penyiksaan, sedangkan Rindi memaksa untuk dibawa kembali ke mansion dengan tujuan dirinya sendiri.


Dalam hati Genta mengumpat, dirinya bisa bahaya jika sampai dibawa ke mansion yang tidak sesuai rencananya, pura-pura belum sadar menjadi pilihannya.


"Bagaimana jika kita belok ke markas?"


"Nona Rindi akan membunuh kita,"


"Saat kita kembali ke markas sudah pasti akan dibunuh juga." Beberapa pengawal binggung dengan dua persimpangan yang memiliki tujuan berbeda.


Genta menyadari jika sekarang dirinya ada diantara dua lokasi yang memang harus mereka temukan, jendela terbuka Genta secara diam-diam mengeluarkan sesuatu untuk meninggalkan jejak di antara dua simpang.


Angin malam terasa, Genta menyadari jika dirinya berada di area hutan yang masih asri, dan sudah pasti sangat jauh dari kota.


"Kenapa jendelanya terbuka?" pengawal menutup jendela mobil.


"Kenapa belum menuju Mansion?" Rindi terbangun, melihat ada beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


Seluruh pengawal melihat ke arah Rindi, mereka harus segera pindah mobil karena kemungkian besar mobil Genta memiliki pelacak.


Tawa Rindi terdengar, selama ada dirinya tidak ada pelacak yang akan menemukannya. Rindi keluar mobil memberikan perintah untuk melenyapkan mobil.


Genta juga dibawa pindah mobil, mata Genta masih terpejam namun kesadaran sudah penuh.


"Suamiku kita pulang sekarang, kamu akan segera beristirahat." Rindi mencium pipinya Genta. Tangan Genta mengepal erat ingin memukul wajah Rindi yang berani menyentuhnya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2