
Acara hampir selesai, Aliya hanya melihat dari kejauhan jika Citra berdiri di antara Roby dan orangtunya.
Hal yang sangat mengejutkan, jika ayah Roby mengumumkan soal pertunangan Citra dan putra sulungnya Roby.
Kepala Aliya menggeleng langsung melangkah pergi, berpisah dari teman-teman yang lanjut makan.
Aliya duduk di bangku taman, dirinya masih binggung melihat banyaknya hal aneh yang mulai terungkap. Banyak hal yang terjadi secara dadakan dalam hidup Al, membuat dirinya tidak mengerti alasan mengapa dirinya harus mengetahui hal-hal yang tidak penting, juga banyak hal yang menyakitkan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" suara lembut Roby terdengar, meminta izin untuk duduk di samping Aliya.
Senyuman Aliya terlihat, mempersilahkan Roby duduk di sampingnya. Menatap ke atas langit gelap.
"Kenapa kamu menghindari saya?"
"Karena bapak terlalu banyak ikut campur, tapi bapak brengsek sekali beraninya menjemput Al menggunakan mobil butut, padahal bapak orang kaya." Aliya menatap kesal, Roby hanya tertawa melihat kemarahan Al yang sangat lucu baginya.
"Al yang kaya orang tua saya, bukan saya."
"Dinda, adik bapak?"
"Iya, adik tiri. Ayah saya menikah wanita muda yang memiliki putri." Roby tersenyum meminta Al jangan mempertanyakan soal keluarganya.
"Hidup ini rumit sekali, dalam satu bulan ini banyak sekali yang terjadi di luar nalar. Aliya berpikir hanya Al yang memiliki keluarga paling aneh, keluarga tidak harmonis, tapi pada kenyataannya banyak keluarga berantakan. Bedanya hanya konflik dan cara menyelesaikannya." Tawa Aliya terdengar, merasa lucu dengan keanehan dunia.
Roby menepuk pundak Al, mempertanyakan keadaan Aliya yang memutuskan keluar rumah setelah keluarganya dinyatakan tersangka dalam penyeludupan obat terlarang.
"Al, kamu harus berhenti merusak diri sendiri, mulai sekarang belajarlah menjadi orang dewasa atau kamu bisa mempercayai satu saja orang dewasa yang bisa menjaga kamu dan memberikan contoh yang baik."
"Siapa? Al bahagia dengan kehidupan Al yang berantakan. Seandainya bunuh diri menjadi alternatif kematian terbaik pasti akan Al lakukan, tapi aku tidak ingin kalah dengan takdir semakin dia membuat aku menderita maka semakin aku hancurkan hidup ini." Al tersenyum, dia sudah menemukan banyak orang dewasa, tapi kenyataannya hanya usia yang dewasa, perilakunya mirip binatang.
Orang tua panutan pertama sebagai contoh yang baik, juga orang dewasa pertama yang seharusnya menjadi kebanggaan, tapi Al tidak melihatnya.
"Saya akan menjadi pria dewasa itu untuk kamu, besok hari kelulusan. Daftar kuliah saya akan mengurus semuanya, Aliya kamu berhak melihat cahaya."
"Cahaya apa pak? cahaya neraka." Al menggelengkan kepalanya.
"Aliya, coba berpikir logis sekali saja."
"Pak jangan khawatirkan Al, urus saja hidup pak Roby dengan calon istri bapak yang berstatus janda anak tiga."
__ADS_1
"Apa?" wajah Roby terlihat kaget, keningnya berkerut mendengar ucapan Al.
"Coba kamu ulangi Al?"
Aliya mengerutkan keningnya terlihat sekali jika Roby tidak mengetahui jika Citra memiliki anak.
"Pak Roby tidak tahu jika Citra memiliki anak, bahkan hari ini baru sidang cerai?"
"Dia berstatus janda, tapi mengatakan jika tidak memiliki anak."
"Wow, pak Roby tidak mencintai dia?" Aliya langsung tertawa, sungguh lucu.
"Citra berbohong, atau Papa yang coba menyembunyikannya."
"Sepertinya Aliya salah bicara. Pak Roby jika mencari istri jangan hanya melihat casing saja, tapi bibit bobotnya." Al langsung pamit pergi, tidak ingin melanjutkan pembicaraannya, karena pasti akan menjadi urusan panjang.
"Astaghfirullah Al azim, Papa." Roby langsung melangkah masuk ke dalam hotel, Aliya langsung mengejar dan menahan tangan Roby.
"Pak, marahnya nanti saja. Coba bicarakan baik-baik dengan Citra."
"Aliya!" Citra menatap tajam.
"Cit, apa benar kamu memiliki tiga anak?"
"Aku akan menceritakannya, tinggalkan aku bersama wanita ini."
Citra langsung menarik tangan Al, melangkah menjauhi Roby yang kebingungan.
Tatapan mata Citra tajam, terlihat sekali bencinya dia kepada Aliya yang membocorkan rahasia dirinya.
"Perempuan murahan, bisa tidak kamu sekali saja tidak menyebabkan masalah?"
"Kenapa kamu tidak mengakui anak-anak kamu? teganya seorang ibu yang memiliki lelaki lain dan meninggalkan anak-anak dan tidak mengakuinya bahkan tidak menganggap mereka ada. Apa kurangnya Altha? dia tampan, kaya, suskes, penyayang tidak kalah dengan pak Roby. Apa yang kamu cari?"
"Bukan urusan kamu?"
"Apa yang membuat kamu mencampakkan seorang Altha demi seorang Roby?" Aliya menatap tajam, membentak Citra yang matanya melotot.
"Aku tidak mencintai kamu Citra, kembalilah kepada keluarga kamu. Tidak ada untungnya kamu mendekati aku, kembalilah demi anak-anak kamu." Roby menggenggam tangan Aliya, langsung melangkah pergi meninggalkan Citra.
__ADS_1
"Roby, kamu tidak bisa memutuskan. Ingat Roby kita saling membutuhkan, jika kamu menolak sudah tahu akibatnya?" Citra berdiri dihadapan Roby, memintanya untuk masuk bersama.
"Aku tidak punya rasa kepada kamu, hubungan kita hanya sebatas kamu dan Papa. Aku pastikan akan membatalkan pernikahan kita."
Aliya yang perlahan melepaskan genggaman tangan Roby, langsung berlari kencang meninggalkan dua orang sedang berdebat.
Al berteriak kuat, dirinya merasakan keanehan melihat setiap hubungan yang ada disekitarnya.
"Aku tidak perduli, sebaiknya aku tidak ikut campur. Demi apapun hidup ini sangat sial." Aliya berteriak sambil berlari.
"Kak Al, kenapa lari-larian?" Susan membuka pintu mobil.
"Aku aku melihat sepasang hantu, lebih buruknya aku ada diantara mereka. Seharusnya aku tidak ikut campur, sebenarnya Aliya tidak berniat ikut campur, tapi kebenaran terlihat di depan mata Al." Aliya menggaruk kepalanya, langsung masuk ke dalam mobil.
Al meminta Tio pergi mengambil kopernya yang ada di rumah Udin, sekalian mengantar Udin pulang, lalu pergi menggunakan taksi.
***
Malam semakin larut, Al berjalan kaki sambil menarik kopernya. Mondar-mandir di depan rumah Altha yang sudah gelap, dan Al masih nyaman di luar rumah.
Kepala Al pusing memikirkan apa yang baru dia ketahui, jika Altha dan Roby sampai bertemu mungkin akan ada pertengkaran, tapi jika sampai pertunangan keduanya batal, Aliya akan menjadi orang yang di salahkan.
"Ais sial, aku tidak tahu apapun. Sungguh Aliya tidak mengerti apapun." Al menepuk jidatnya sendiri.
"Dasar ibu kejam, teganya dia tidak mengakui anak-anaknya."
"Bagaimana jika dia balik lagi? sudah pasti Al langsung didepak dari rumah." Al lompat-lompat kesal, karena sudah datang ke pesta.
Gerbang terbuka, Altha menatap Aliya yang duduk dipinggir jalan sambil memeluk kopernya.
"Kamu mabuk?"
"Ya, aku mabuk."
"Jika mabuk jangan pernah masuk ke rumah?"
"Altha, apa hubungan Citra dan pemilik hotel king?" Al menatap Altha yang mengerutkan keningnya.
"Hubungan? Citra dan hotel king pemegang saham terbesar di perusahan keluarga Rahendra, selain aku." Al melangkah masuk.
__ADS_1
***