ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KITA BERSAUDARA


__ADS_3

Pintu ruangan Genta terbuka, Gemal melangkah masuk melihat Genta yang sudah duduk di ranjangnya melihat ke arah luar jendela yang hujan rintik-rintik.


Berhari-hari Genta tidak bicara, Gemal sangat mengkhawatirkannya. Ada perasaan bersalah karena memaksa Genta pergi sampai akhirnya terluka.


"Sampai kapan kamu ingin diam? apa mulut kamu bisu?" Gemal duduk di samping ranjang Genta.


Lama Gemal menunggu jawaban, Genta tidak menjawab sama sekali. Tidak ada yang mengerti pikiran Genta, diamnya menjadi pertanda yang menakutkan.


"Gen, bukan hanya kamu yang memiliki masalah dalam hidup. Kak Gemal juga tahu rasanya memiliki banyak masalah." Tangan Gemal menarik Genta untuk menghadapnya.


"Bagaimana perasaan Kak Gem saat tahu Putra dari keluarga Leondra?" mata Genta merah, meminta jawaban tanpa candaan.


"Hancur ... sangat hancur. Aku membenci hari saat tahu siapa aku, tidak itu hanya mimpi, bukan ini tidak nyata. Aku sudah gila, ini tidak mungkin." Gemal menggelengkan kepalanya tidak bisa menerima kenyataan.


Gemal meremas dadanya, dulu dirinya ingin mengamuk, menghacurkan segalanya, bahkan Gem ingin sekali menghacurkan dunia yang memporak-porandakan hatinya.


Saat kemarahan ada di hati, Gemal ingin menemui sang pencipta meminta penjelasan atas permainan hidupnya. Mengecek ulang takdir hidupnya yang bagaikan lelucon.


"Aku ingin sekali meratakan gunung, mengeringkan lautan, melenyapkan seluruh bangunan, lebih mengerikan lagi ingin membunuh semua yang ada di muka bumi ini." Air mata Gemal menetes, kepala Gem tertunduk sambil menangis.


"Kenapa tidak dilakukan?" Genta mengusap air mata Kakaknya.


Kepala Gemal menggeleng, dirinya tidak bisa melakukan dan memang tidak harus melakukannya. Jika hanya melihat betapa hancurnya hidup Gemal, tidak sebanding dengan hancurnya hati kedua orangtuanya.


Kedua orangtuanya bertahan puluhan tahun dengan hati yang hancur, sedangkan Gemal hanya sesaat. Dirinya tidak punya hak marah, jika Gemal marah sama saja dia menghancurkan hati orang tuanya kesekian kali.


"Jika kamu tahu dia sudah meninggal, semua berakhir Genta. Tetapi jika dikatakan dia menghilang, apa dia masih hidup, apa sudah makan, apa tidurnya nyenyak, setiap apapun yang dilakukan terus memikirkannya. Siapa yang tidak gila? emosi itu musuh diri sendiri Gen, kendalikan emosi kamu." Gemal mengusap punggung Genta yang meremas rambutnya.


"Aku tidak mungkin mampu Kak."


"Kamu mampu bodoh. Dengarkan Kak Gemal." Kedua tangan Gemal menggenggam tangan Genta.


Gemal belajar banyak hal dari kehidupan orang lain, terutama istrinya. Diana wanita yang sangat ceria, heboh, jahil tetapi siapa yang menyangka jika dia pernah ada di kegelapan. Di mengajar Gemal cara berubah dan memperbaiki diri.


Melihat Mama dan Papanya Gemal belajar arti menunggu, dan bertahan. Manusia tidak dinilai betapa hebatnya dia menghadapi masalah, tetapi sabarnya dia disetiap masalah.


Dari Aliya, Gemal memahami satu hal. Ketulusan bukan dinilai dari sedarah, tetapi Kasih sayang. Di usia muda menjadi seorang Ibu dari dua anak sambung, menjadikan keduanya bagaikan berlian.

__ADS_1


"Al seperti pohon rindang, tempat berlindung dari hujan panas, bersantai dan memberikan ketenangan. Aku memahami ketulusan dari Al." Gemal tersenyum mengingat mertuanya.


Mommy Anggun seperti air yang tenang, sedangkan Dimas seperti larva panas yang setiap saat menyembur, tetapi saat air menerpa larva mati.


"Mommy Anggun wanita yang setia, baik dan mencintai keluarganya."


Genta menyingkirkan tangan Gemal, menahan tawanya melihat Gemal bercerita seperti sedang berdogeng untuk Isel sebelum tidur.


Banyak istilah yang Gemal ucapkan, dan terlihat lucu di mata Genta. Meskipun Gemal suka becanda, dia pria yang sangat menyenangkan dan serius.


"Ujian hidup tidak berat Gem karena pasti ada bahagianya."


"Memangnya yang berat apa Kak?"


"Ujian sekolah, dia lebih susah." Gemal tersenyum melihat Genta yang juga tersenyum.


"Isel pernah berkata, jika dia membenci ujian." Tatapan Genta melihat Gemal yang mengangguk.


"Iya, aku tahu. Isel memang pemalas sekolah." Tawa Gemal terdengar, Putrinya mirip dirinya yang pemalas.


"Aku rasa Isel sudah gila seperti Mamanya."


"Isel membenci ujian karena semua teman sekelasnya bodoh, Isel tidak suka menjadi orang satu-satunya yang paham dan memiliki nilai bagus. Aku rasa Isel memang gila." Genta tertawa melihat Gemal yang marah Putrinya disebut gila.


Tangan Gemal mengepal, meletakkan di wajah Genta yang masih tertawa. Meksipun Putrinya gila, Gemal sangat mencintainya.


"Apa yang bisa Genta pelajari dari Kak Gemal?"


Senyuman Gemal terlihat, tawanya juga terdengar. Gemal dengan sombongnya meminta Genta belajar menjadi orang tua yang baik dari dirinya.


"Genta belajar arti berbagi dari Kak Gemal."


"Berbagi? aku memang suka sedekah karena modal untuk diakhirat." Gemal memberikan jempol untuk Genta yang harus rajin berbagi.


Kening Gemal berkerut, tangannya digenggam erat oleh Genta. Bagi Genta, Kakaknya orang yang unik, dan suka berbagi miliknya.


Hidup sebagai Putra tunggal dari keluarga yang sangat terkenal tidak membuat Gemal menjadi orang lain. Gemal merentangkan tangannya untuk Hendrik, menganggap Hendrik bagaikan Kakak kandung.

__ADS_1


Segala sesuatu yang bersangkutan soal keluarga Leondra Gemal izin kepada Kakaknya padahal Gemal pemegang keputusan terbesar.


Hal yang sama Gemal lakukan juga untuk Genta, selayaknya Kakak yang baik. Gemal selalu melibatkan Genta dalam hal apapun soal keluarga.


Keputusan Genta selalu diambil oleh Gemal agar mereka sama-sama merasakan layaknya bersaudara.


"Kenapa Kak Gem melakukanya?"


"Entahlah, aku hanya bahagia memiliki Kakak dan adik. Mama Papa juga bahagia memiliki kalian, Kamu juga harus bangga memiliki dua Kakak lelaki dan Adik perempuan." Gemal menepuk tangan Genta.


"Kak Gem tidak iri?"


Tawa Gemal terdengar, hidup Genta jauh lebih baik dari Gemal. Bahkan Gemal yang canggung mengambil posisi Genta.


"Aku akan jujur Gen, aku anggap Kak Hendrik sebagai Kakak karena tahu rasanya tidak memiliki orang tua. Dan aku meminta maaf kepada kamu."


Sebelum Gemal kembali, Genta sudah lebih dulu tumbuh di dalam keluarga Leondra. Genta yang sejak kecil bersama keluarganya hingga dewasa, bagaimana mungkin Gemal tidak menyayangi Genta selayaknya saudara kandung.


"Aku atasan kamu di kantor, dan aku Kakak kamu di rumah. Kita bersaudara, sesekali bersandar kepada Kakak agar kamu tidak gila sendiri." Pukulan Gemal mendarat, membuat Genta meringis kesakitan.


Genta tersenyum, meminta bantuan Kakaknya untuk meringankan sedikit perkejaannya. Ada banyak hal yang harus Genta lakukan. Setidaknya Genta meminta sebagai adik, bukan bawahan.


"Siapa pria yang meninggal di bangunan tua? kamu yakin mampu menyelesaikan sendiri?" Gemal sudah menyelidiki, jika korban yang meninggal tidak memiliki identitas.


"Aku akan mengatakan jika sudah terbukti benar, Kak Gem bisa membantu Genta."


"Baiklah, aku percaya kamu. Ini kertas yang kamu inginkan." Gemal menyerahkan kertas yang dirinya sembunyikan.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


Curhat dikit ya, besok aja deh.


Soalnya banyak yang minta up banyak, tapi ...

__ADS_1


__ADS_2