
Suara Kenan tertawa bersama Yandi terdengar, mengejek Helen yang menjadi korban buli. Aliya muncul bersama Juna.
"Kak Al, lihat mereka berdua mengejek Helen terus." Mata Helen menatap sinis penuh amarah.
"Ken, panggil yang lainnya untuk makan bersama." Al langsung duduk melihat makanan yang membuat cacing perutnya demo.
Kenan memberikan jempol, mengetuk kamar Dimas dan Anggun pelan, lalu melangkah ke kamar Diana dengan gedoran kuat.
Altha juga keluar, masih menggendong Tika yang tidur dalam pelukan. Tika baru sudah mengamuk, karena gagal melihat matahari terbit.
Memarahi Juna yang tidak membangunkannya, padahal dia ingin sekali melihatnya. Kekesalan Tika diarahkan kepada Juna, bahkan kesal juga dengan Maminya yang membela Juna.
"Masih tidur?" Al mengusap rambut Tika, meminta pindah ke pangkuannya.
"Jangan sayang, Tika sudah berat nanti kamu kelelahan." Alt meminta Aliya langsung makan, karena terlihat sekali dari wajahnya sudah kelaparan.
Suara langkah kaki bertabrakan terdengar, Tika membuka sebelah matanya melihat Kenan membawa Dika dan Diana yang berjalan sempoyongan.
Alt hanya bisa geleng-geleng kepala, Kenan kewalahan membawa dua orang yang belum sadar sepenuhnya.
Dimas menarik lengan Diana, mendorong Kenan agar menjauhi putrinya membuat Kenan dan Dika langsung jatuh.
"Aw ... sakit." Dika langsung duduk melihat Kenan yang menimpanya.
Diana dibawa duduk di kursi, Dimas memercikkan air ke wajah bantal Di yang langsung menutup wajahnya.
"Anak perempuan hobinya bangun siang."
"Ini baru jam lima pagi Daddy, kenapa berisik sekali?" Kepala Diana langsung jatuh di pundak Daddy-nya.
"Ini sudah hampir jam sebelas siang kak Di, tidur seperti orang pingsan." Juna melanjutkan makannya, menatap sinis Diana yang terkejut.
Rencana melihat matahari terbit gagal total, Aliya mengambil ayam goreng meletakkan di hidung Di yang langsung membuka mulutnya ingin makan.
"Di mana kak Anggun?" Al melihat seluruh orang yang sudah makan bersama.
Dimas membiarkan Anggun tidur, Aliya dan Helen yang kepo saling tatap. Anggun wanita yang sangat disiplin, dia tidak pernah bangun siang.
Aliya mempunyai banyak pertanyaan, tapi Dimas mengabaikan. Tidak memberikan jawaban sama sekali.
Al langsung berdiri, berlari ke arah kamar Anggun sekalipun Altha dan Dimas sudah berteriak.
Pintu kamar terbuka, Al langsung mengunci dan melihat Anggun yang ada di atas ranjang. Tubuhnya ditutupi selimut tebal.
"Kak Anggun sakit?" Al menahan tawa menarik selimut Anggun.
"Aliya, jangan jahil. Tubuh aku sakit tidak bisa bergerak." Anggun membuka matanya melihat Aliya yang sudah tiduran di sampingnya sambil mengelus perut.
__ADS_1
Suara Aliya tertawa melihat ekspresi wajah Anggun yang kelelahan, bahkan untuk mengerakkan tubuhnya saja malas.
"Berapa ronde kak?"
Tangan Anggun menepuk pelan Aliya yang pertanyaannya memalukan, langsung menutup wajahnya dengan selimut.
"Kak Dimas lama puasa, sekali berbuka tidak ingat-ingat." Al menatap Anggun yang tertawa kecil.
Keduanya berbicara hal yang di luar pembicaraan biasanya, Anggun yang kalem sedikit terbuka.
Dia juga mengakui jika tubuhnya tidak bisa melayani suaminya, karena belum terbiasa dan sangat malu.
Aliya sampai bekali-kali merinding membayangkan apa yang Anggun ceritakan, mengingat kembali saat malam pertamanya.
"Al rindu malam pertama."
"Kamu sudah lama, jadi sudah terbiasa Al." Anggun langsung berusaha duduk.
"Siapa bilang kak? kita malam pertama pada saat selesai pesta. Altha bahkan mengunci pintu agar Tika tidak menganggu." Al tersenyum, meraba tubuhnya yang mendapatkan sentuhan lembut.
Anggun menganggukkan kepalanya, Altha kuat juga menikah satu tahun tapi tidak menyentuh.
"Berapa ronde Al?"
"Hanya satu, besok dua, besok lagi tiga akhirnya tidak ingin berhenti. Hasilnya ini." Tangan Al mengusap perutnya, senyumannya sangat lebar.
"Dimas janji hanya satu kali, minta lagi, lagi sampai aku bilang tidak kuat lagi. Bangun tidur minta lagi." Anggun menatap kesal, tubuhnya terasa remuk.
Suara ketukan pintu terdengar, Dimas meminta Aliya membuka pintu. Meneriaki keduanya agar berhenti membicarakan aib rumah tangga, apalagi soal berhubungan.
Altha juga meminta Aliya keluar, tidak menganggu pengantin baru apalagi dengan sikap Al yang kepo.
"Sayang, ayo keluar." Altha mengetuk pintu bekali-kali.
"Anggun, kamu jangan terlalu polos mengungkap semuanya kepada Al." Dimas cemas melihat istrinya yang tidak pernah berbohong.
Aliya dan Anggun sudah tertawa cekikikan, harapan Dimas terlambat karena Anggun sudah membongkar aib begitupun dengan Aliya.
"Mommy, buka. Diana juga ingin mendengar aib." Di tersenyum melihat Daddy-nya menempel di pintu.
"Mami, Tika juga mau."
Pintu terbuka, Diana dan Tika langsung berlari masuk. Mendorong pintu dan menguncinya agar Dimas dan Altha tidak bisa masuk.
"Diana jangan bercanda." Dimas mengetuk pintu.
"Ini pembicaraan wanita Daddy, jangan ikut campur." Di tersenyum melihat Mommynya baru selesai mandi.
__ADS_1
"Ada cerita apa?" Tika tidur menggunakan paha Aliya menjadi bantal.
Suara tawa empat wanita terdengar, Dimas dan Altha angkat tangan langsung melangkah mundur membiarkan aib terbongkar.
Helen mengetuk pintu, membawakan Anggun makan karena sudah kehabisan tenaga hanya untuk keluar kamar.
"Kak Anggun makan dulu, dia sudah kehabisan tenaga di makan kak Dimas." Al mempersilahkan Helen bergabung bersama mereka.
Tika menunjuk ke arah leher Anggun, tanda merah yang sama dengan Maminya.
"Kenapa Uncle makan Aunty sampai merah seperti ini?" Tika juga menatap Maminya yang selalu dimakan oleh Papinya.
"Ada ya manusia makan manusia?" Helen tersenyum melihat Anggun memuji masakannya.
Diana menepuk pundak Helen, dia harus sering-sering bermain dengan Di agar melihat manusia kanibal memakan manusia.
Helen merinding berterima kasih dan tidak akan pernah bersedia mengikuti Diana pergi ke manapun.
"Mi, Tika besar nanti juga bakal di makan ya?"
"Iya dong, di makan suami kamu." Di tertawa, Aliya sudah menatap tajam.
"Tika tidak ingin punya suami, tidak mau." Wajah Tika langsung merajuk, memeluk Maminya.
Diana menjulurkan lidah, tidak memercayai Atika yang setengah waras. Saat remaja nanti, Aliya dan Altha bakal kewalahan untuk menjaga Tika yang gonta-ganti pacar.
Tatapan Elen melihat ke ranjang Anggun, ada noda merah dan langsung mengambilnya menunjukkan kepada Aliya. Noda yang sama saat Al dan Altha selesai pesta nikah.
"Apa ini namanya darah virgin?" Helen mencium baunya membuat Aliya berteriak geli dan ingin mual.
"Kamu ingin tahu, ayo malam ini kita ke bar. Di sana pertemuan pertama sebelum bercinta." Diana berbisik kepada Elen yang kebingungan.
Aliya langsung tertawa bersama Anggun, Diana juga langsung kecewa karena Helen tidak bisa dia goda, karena terlalu bodoh.
Atika kebingungan melihat darah yang Elen buang, langsung menatap Aliya yang tersenyum memeluk putrinya.
Al langsung menasehati Tika untuk tidak sembarangan dekat dengan laki-laki demi menjaga kehormatan seorang wanita.
"Mami terluka saat selesai pesta, sampai berdarah ya? maafkan Tika, karena tidak tahu." Tika langsung ingin memberitahu kakaknya.
Diana langsung menahan Tika, memberikan pengertian kepada si kecil agar tidak menyimak ocehan konyol mereka.
***
follow Ig Vhiaazara
LIKE coment Dan tambah favorit
__ADS_1