
Bermalam-malam Aliya menjaga Altha yang mendadak demam, Al sudah menyiapkan obat yang baru dia dapatkan.
Perlahan Aliya mengobati punggung yang terluka, kepala Altha juga mempunyai luka jahitan.
"Sudah aku duga, kamu akan tersakiti jika melihat kebenarannya. Sebesar itu cinta kamu Altha, bahkan menangis di dalam tidur." Al mengusap air mata yang mengalir di pipi.
Kedua tangan Altha juga ada luka, wajahnya juga ada luka pukulan, bibirnya juga terluka. Kemarahan membuat Alt menyakiti dirinya sendiri.
"Bukan hanya hati kamu yang tersakiti, tapi tubuh kamu juga." Mata Aliya terpejam, tidur di samping Alt yang masih menangis di dalam mimpinya.
Sudah subuh Aliya belum juga tidur, menjaga Altha yang sedang demam. Tatapan mata Al melihat sebuah album, langsung mengambil dan melihatnya.
Album penikahan Altha dan Citra yang penuh kebahagiaan, senyuman keduanya terlihat sangat lepas. Pasangan yang sangat serasi, satu tampan dan cantik membuat Aliya tersenyum.
Beberapa foto saat Altha menjadi polisi, bahkan beberapa momen dirinya naik pangkat. Juga foto kebersamaan saat Citra menjadi dosen juga mahasiswi peringkat utama.
Foto-foto saat kelahiran Juna yang menambah kebahagiaan mereka, lalu kelahiran Atika. Aliya tidak melihat foto kebersamaan saat kelahiran Mora, hanya ada foto Mora saat bayi.
Keharmonisan Altha dan Citra sudah renggang sejak awal kehamilan, karena Citra merasa bersalah terhadap kelalaiannya yang mengkhianati Altha.
Kesibukan Alt hanyalah alasan Citra untuk melepaskan rasa bersalahnya, sehingga memilih untuk berpisah.
Citra takut Altha tahu kebenaran mungkin akan lebih menyakitkan lagi, lebih baik Altha sakit dari awal.
"Kenapa kamu ada di sini?" sudah aku katakan keluar." Alt melangkah ke kamar mandi dan membanting pintu kuat.
Aliya melangkah ke kamar mandi, melihat Al menguyur tubuhnya dengan air.
"Kenapa kamu marah kepada aku? apa kamu mencintai aku?" Al menatap tajam punggung Altha yang menoleh tanpa membalik badan.
"Cinta? aku tidak berani membicarakan cinta. Aku tidak percaya cinta, sebaiknya kamu pergi." Suara dingin semakin terdengar, Alt bahkan tidak ingin melihat wajah Aliya.
"Kamu cemburu Altha, tapi kamu cemburu kepadaku atau Citra?" Aliya melangkah mendekat, Alt berteriak meminta Aliya menjauh.
Aliya menarik tubuh Alt untuk menatapnya, kedua tangan Aliya memeluk leher Altha membuat padangan mereka bertemu dan menyatukan hidung.
"Apa kamu mengingat aku?" Al memeluk erat, membiarkan air menguyur tubuh mereka berdua.
Altha memejamkan matanya, Alt tidak bisa mengingat apapun bayangan Roby bersama Citra bahkan memeluk bayi. Bayangan Aliya tertawa bersama Roby kembali muncul diingatan.
__ADS_1
"Ingat aku kak, ingatlah aku kak Altha." Al memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya.
"Siapa kamu? apa yang kamu inginkan dari aku?" Alt ingin melepaskan pelukan, tapi Al sangat kuat memeluknya.
"Sedikit saja ingat aku, sedikit saja aku muncul dalam ingatan kamu. Tolong aku kak Altha, Aliya takut dan kesepian. Setiap hari aku menangis sampai air mata kering." Al mengusap air yang membasahi wajahnya.
Altha melihat wajah Aliya, dirinya tidak bisa mengingat apapun karena belum pernah melihat Aliya selain karena masalah.
Darah mengalir di jalanan, dua remaja berlari kencang karena dirinya pulang kemalaman dan hujan. Langkahnya terhenti saat melihat gadis kecil terlempar kuat ke atas mobil dan menggelinding jatuh.
Gadis remaja menggenggam erat tangan lelaki di sampingnya, menariknya untuk melarikan diri saat melihat kecelakaan di bawah guyuran hujan.
Mata remaja lelaki bertemu dengan gadis kecil yang mengulurkan tangannya meminta digenggam.
"Kamu gadis kecil di bawah hujan, itu kamu?" Altha mematikan air shower melihat wajah Aliya yang basah.
"Ya, itu aku. Seharusnya hari itu kamu membiarkan aku mati, sehingga aku tidak tersakiti semakin jauh." Al mengusap wajahnya, meremas rambutnya berteriak kuat menyalahkan Altha.
Kemarahan Aliya terdengar mencekik Altha yang saat itu ada dihadapannya, menatapnya tanpa rasa iba.
Aliya mencaci maki Altha, seharusnya Alt tidak meninggalkannya, tidak membiarkan dirinya berada ditangan orang yang salah.
Altha terdiam, mengingat jelas ada seorang wanita juga datang bersama suaminya, dia memanggil nona muda.
Melihat ada orang yang mengenal akhirnya Altha pergi membiarkan gadis kecil diselamatkan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Sungguh Altha tidak tahu jika itu sudah menjadi awal yang menyakitkan bagi Aliya, mereka saja tidak saling mengenal.
"Kenapa kamu marah kepadaku? tidak sekalian kamu marah kepada Tuhan." Alt melihat Aliya duduk sambil melamun.
Saat melihat ibu angkatnya mati bunuh diri Aliya mencari keberadaan Altha, wajah pemuda yang tidak pernah dia lupakan.
Melihat Altha menjadi seorang polisi, Al selalu membuat masalah agar menjadi orang kuat dan bisa bertemu, Al hanya ingin membuktikan jika Altha salah memilih orang.
"Seharusnya aku mati di jalanan, tapi kamu menyelamatkan aku. Hari itu juga kamu berkata sebelum pergi ...." Al memejamkan matanya, tidak ingin melanjutkan ucapannya.
"Aku meminta kamu membalas kebaikan aku." Al menatap Aliya yang menendang kakinya kuat.
"Kamu membuat aku menderita Altha, kenapa aku harus membalas dengan melindungi anak kamu. Aku benci kamu?" Al melangkah pergi.
__ADS_1
Altha menatap Aliya aneh, sudah diselamatkan tapi bukan berterima kasih, tetapi semakin membenci.
Selesai mandi Altha melihat laporan soal kejadian lima belas tahun yang lalu, hari dia melihat Aliya ditabrak mobil dan tergeletak di jalanan.
Hari yang sama saat pembantaian di rumah mewah yang menewaskan banyak orang, bahkan asisten rumah tangga juga menjadi korban.
Foto anak kembar juga terlihat, tidak ada yang bisa bertanggung jawab terhadap kasus ini karena ditutup tanpa penyelidikan detail.
"Siapa pelakunya? apa Aliya yang membunuh semua orang di sana? di mana kembaran Aliya? apa dia juga tewas?" Alt melihat daftar yang meninggal, tapi tidak ada keterangan anak kecil usia lima tahun.
Aliya masuk ke dalam kamar, Altha langsung menutup kembali berkas yang dia selidiki.
"Sudah aku katakan jangan selidiki kasus lima belas tahun yang lalu, jika kamu menemukan pelakunya maka aku akan membunuh kamu?" Al menatap tajam.
Altha mengambil senjatanya, melempar ke arah Aliya meminta melakukannya.
"Apa kamu membunuh mereka semua?"
"Apa kamu takut?"
"Pelakunya bukan orang luar, dan salah satu dari kalian menjadi saksi juga pelaku." Al meminta Aliya mengangkat senjata.
"Suatu hari aku akan membunuh kamu, tapi tidak sekarang." Al melempar balik senjata Altha.
"Apa tujuan kamu datang ke sini?"
"Membalas dendam." Al tersenyum manis.
Altha langsung maju, mencengkram lengan Aliya kuat. Meminta Aliya menjelaskan tujuan untuk menikah.
"Jika kamu ingin balas dendam lakukan dengan baik, jangan sampai ketahuan." Altha melepaskan cengkraman meminta Aliya keluar.
Tatapan Aliya tajam, dia memang memiliki janji kepada Altha untuk balas budi, tapi balas dendam belum terungkap jika ada yang harus dia hancurkan.
"Aku akan menemukan pelaku kasus pembunuhan itu." Alt melihat foto anak kembar.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1