
Kedua tangan Juna tergenggam erat, mendengar suara keran air. Tatapan mata sangat tajam, tidak terlihat seperti Juna yang cuek dan dingin.
Tendangan kuat menghantam pintu, Reza yang sedang berdiri di depan wastafel kaget melihat Juna dengan mata merah.
Pukulan kuat menghantam wajah Reza, pertengkaran dua orang saling pukul terjadi di dalam toilet.
Wajah Reza babak belur mendapatkan pukulan bertubi-tubi, darah keluar dari mulut dan hidungnya bahkan telinga juga mengeluarkan darah.
Kepala Reza juga terbentur kuat di lantai, tangan Juna juga berdarah karena terlalu kuat memukul sampai Reza muntah darah.
Tubuh Reza terlempar keluar kamar mandi, Tika yang baru masuk lututnya lemas melihat kakaknya yang menyerang secara habis-habisan.
Juna tidak ingin mendengarkan apapun yang Reza katakan, hatinya terlanjur terbakar atas apa yang terjadi kepada Shin.
Tangan Juna ditarik Tika secara paksa, menahannya untuk berhenti. Reza bisa mati ditangan Juna jika Tika tidak memeluknya dari belakang.
"Kak Juna!"
Kondisi Reza sudah tidak bisa bangkit, wajahnya penuh dengan darah. Matanya terpejam dalam kondisi tidak berdaya.
"Apa yang kamu lakukan kepada Shin?"
Senyuman Reza masih terlihat menatap Tika, kaki Tika langsung menendang wajah Reza yang langsung menyemburkan darah.
Juna melangkah ke ranjang, menyentuh wajah Shin yang masih belum juga sadar, melihat ada benturan di kepalanya.
Air mata Juna menetes, mengangkat tubuh Shin langsung memeluknya. Membalut dengan selimut tebal.
"Shin, maafkan aku." Juna mengeratkan pelukannya.
"Aku akan bertanggung jawab." Suara Reza terbata-bata melihat bajunya dan Shin berhamburan di lantai.
Tawa Juna terdengar, meletakkan kembali Shin di atas tempat tidur. Juna meminta Tika memakaikan baju kepada Shin.
Langkah Juna mendekati Reza menganggukkan kepalanya, Reza akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Semua kejahatannya bersama dengan Dina harus dipertanggungjawabkan. Juna tidak akan membiarkan Reza menghirup udara bebas.
Selama hidupnya Reza akan penuh penderitaan, Juna tidak peduli apa yang terjadi antara Reza dan Shin karena ada dirinya yang akan bertanggung jawab.
"Kamu juga memiliki adik Reza, dia berhasil melewati masa komanya. Kamu akan merasakan sakit yang aku rasakan,"
"Jangan sakiti adikku Juna,"
__ADS_1
"Kamu yang mulai duluan, menyentuh Shin sama saja kamu merusak kehidupan adik kamu." Senyuman sinis Juna terlihat, memastikan Reza akan hancur melebihi dirinya.
Perut Reza diinjak-injak, Juna melemparkan baju yang sudah tergeletak. Menatap sinis Reza yang memegang kakinya memohon agar Adiknya tidak disakiti.
Melihat Reza masih bisa memohon, emosi Juna yang belum reda menghantam kepalanya hingga tidak sadarkan diri.
"Kak, bagaimana dengan Shin?"
"Apa yang bagaimana? kita bawa dia ke rumah sakit. Satu lagi Tika, apa yang kamu lihat hari ini anggap saja tidak terjadi. Jika ada yang bertanya, katakan Shin disekap bersama Reza." Juna menggendong Shin yang sudah mengenakan baju.
"Kenapa? kita harus menghancurkan hidup Reza?"
"Aku juga ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa membiarkan Shin terluka jika mengetahuinya." Juna menatap tajam, mendengar suara berlarian.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Shin?"
"Itu akan menjadi urusan aku, dengarkan saja apa yang Kak Juna katakan." Kepala Juna mengangguk melihat Tika mengusap air mata.
Gemal datang bersama beberapa polisi, Tika sudah memberikan laporan soal hotel, dan meminta tim penyidik.
"Shin, bagaimana kondisinya?"
"Kak Gemal, selidiki soal Reza. Aku akan membawa Shin ke rumah sakit." Juna melangkah pergi meminta Tika yang melakukan apa yang Juna perintah.
Tidak ada hal yang paling penting, bisa menemukan Shin sudah lebih dari cukup bagi Juna. Dia cukup bersyukur karena dipertemukan dalam keadaan baik.
"Shin, mulai hari ini kita hadapi berdua. Kamu jangan takut, Ay akan selalu mendampingi kamu suka maupun duka. Kamu cukup bangun, dan berada di sisiku." Air mata kembali menetes, Juna merasa sangat hancur jika Shin sampai tahu apa yang terjadi.
Sampai di rumah sakit, dugaan Juna tepat. Ada benturan di kepala Shin yang menyebabkan kesadarannya hilang cukup lama.
Beberapa dokter membantu Juna untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kepala Shin, kondisi yang sebenarnya sangat Juna takuti.
Selesai pemeriksaan, Shin di bawa ke ruangan rawat. Keluarga sudah berkumpul dan menunggu di depan pintu.
"Juna, bagaimana kondisi Shin?" Genta menatap Adiknya yang masih belum sadarkan diri.
Kepala Juna menggeleng, dia belum bisa memastikan selama Shin belum bangun. Juna memiliki prediksi buruk karena benturan kepala Shin membuat trauma.
"Apa Shin akan bangun?"
"Tentu Kak, tapi Juna rasa dia mungkin tidak mengingat kita. Ini hanya sementara karena kepala mendapatkan pukulan." Juna menatap Mam Jes yang terhentak duduk mendegar kondisi Shin.
__ADS_1
"Sudahlah, ini hanya prediksi. Kita cukup bersyukur Shin kembali bersama kita. Hilang ataupun tidak ingatnya tidak penting, kita semua ada di sini yang akan mengingatkan kepada keluarganya." Papa Calvin mengusap kepala Shin meminta putrinya segera bangun.
Di sofa Tika hanya duduk diam, memejamkan matanya menangis di dalam hatinya. Teriakkan Tika histeris, namun suaranya tidak terdengar di luar.
Tika akan menyimpan semuanya di dalam hatinya, tidak ada yang bisa Tika lakukan kecuali mempercayai kakaknya yang menjamin semuanya akan baik.
Tangan Genta mengenggam jari jemari Tika, meminta beristirahat karena sudah kehabisan tenaga mencari Shin. Tika tidak berani menatap suaminya karena dirinya menyembunyikan rahasia yang sangat besar.
"Shin pasti baik-baik saja Tik,"
"Iya Ayang, Tika tahu itu. Hanya saja Tika merasa bersalah karena gagal menjaganya." Air mata Tika menetes, langsung cepat menepisnya.
Semuanya tenang menunggu Shin membuka matanya, berharap prediksi Juna salah. Meksipun benar, tidak seburuk yang mereka khawatirkan.
Kepala Shin bergerak, membuka matanya sambil mengerutkan keningnya menatap lampu yang terang di langit kamar.
Tangan Juna menutup arah pandangan, mendekati wajah Shin melihat mata yang tidak berkedip sama sekali.
"Shin, apa kamu mengingat aku?" Juna memastikan, tubuhnya langsung ditarik oleh Aliya untuk menjauh.
Seluruh orang berkumpul mengelilingi ranjang, hanya Tika dan Juna yang berjarak jauh. Keduanya saling pandang menundukkan kepala menunggu respon Shin.
"Aku siapa? kalian siapa?"
Tika yang mendengarnya langsung memegang dadanya, Juna hanya tersenyum kecil memejamkan matanya bersyukur dugaannya benar.
Shin lupa apa yang terjadi karena benturan kuat, meksipun hanya sementara setidaknya bisa menghindari amukan banyak orang, juga menjaga Shin agar tidak terlalu terpukul.
"Minggir, kalian menutup jalan." Kedua tangan Shin menyingkap, meminta semua orang menjauh, dia ingin melihat pria pertama yang dia lihat.
Tika langsung mendekat, meminta Shin mengingat dirinya. Bertahun-tahun bersama tidak mungkin Tika terlupakan.
"Kamu pelakorr ya?" Tangisan Shin terdengar karena Tika menampar wajahnya.
"Apa yang kamu rasakan? ingat kami semua perlahan saja." Juna mengenggam tangan Shin erat.
"Apa kamu suami aku? ganteng." Kedua tangan Shin menutup wajahnya karena malu.
Semua orang masih panik, tapi melihat tingkah Shin langsung ingin tertawa. Melihatnya genit kepada Juna, bahkan menatap malu-malu.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira