ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEKHWATIRAN


__ADS_3

Panas Genta sudah turun, infus sudah terpasang di tangannya. Papa Calvin mengacak rambutnya tidak tahu jika Genta memang sering mengalami mimisan.


"Berapa banyak hal yang tidak aku ketahui soal anak ini? aku mengaku sebagai Papanya, tapi tidak tahu apapun."


Tangan Altha menepuk pundak Calvin, menguatkan hatinya berharap Genta baik-baik saja dan penyakit yang di derita hanya sakit biasa.


Mam Jes masih menggenggam tangan Genta, dulu Kakek Ken sudah berpesan untuk memperhatikan Genta, jangan membiarkannya banyak pikiran atau memaksa untuk mengingat apapun.


Ternyata pesan itu peringatan jika Genta sedang sakit, namun hanya Kakek dan Nenek yang tahu. Genta terlalu tertutup soal dirinya.


Juna mengambil darah, meminta semua keluar agar Genta beristirahat. Cukup Shin yang menjaganya, sisanya akan bergiliran.


Atika tidak melangkah keluar sedikitpun, masih berdiri di belakang Shin yang menemani Kakaknya.


"Tika, aku tidak ingin kehilangan."


"Dia tidak akan pergi ke manapun, bagaimana kita bisa bertahan?" Tika memeluk Shin dari belakang menatap wajah Genta yang terlelap karena obat.


"Kamu tunggu di sini, aku ingin ke lab untuk melihat hasilnya langsung." Shin melangkah keluar meninggalkan Tika sendirian.


Tika duduk di samping Genta, mengusap kepalanya meminta maaf karena dirinya tidak mengetahui apa yang Genta rasakan. Seharusnya sejak awal Tika sudah menyadari jika kekasihnya sakit.


"Ayang, jangan sakit. Kita belum banyak menghabiskan waktu bersama, Ayang juga belum meminta restu." Air mata Tika keluar, tidak bisa menahan kesedihannya melihat lelaki yang dicintainya terbaring tidak berdaya.


Di dalam lab Juna bersama Hendrik mengecek kondisi darah, Hendrik menyerahkan laporan soal bagian dalam tubuh.


"Kamu prediksi sendiri Jun, Kak Hendrik tidak berani." Hendrik hanya duduk bersama Rindi memperhatikan Juna.


Pintu terbuka, Shin melangkah masuk mendekati Hendrik yang mempunyai prediksi sesuai ucapan Juna jika sampai benar pasti menjadi kabar sedih untuk semua orang.


"Kak itu tidak benar?"


"Kak Hendrik tidak berani komentar, kita lihat saja hasilnya." Hendrik mengusap kepala Shin untuk lebih kuat.


Rindi melangkah mendekati Juna, memperhatikan tanpa menyentuh. Juna menghela napasnya berharap dirinya salah. Ada catatan soal kesehatan yang diberikan Kakek Ken kepadanya, namun Juna tidak tahu milik siapa?


"Infeksi,"

__ADS_1


"Apa?" Juna melihat ke arah Rindi yang melangkah pergi.


Rindi pernah melihat langsung seseorang yang memiliki penyakit leukimia, dan berbeda dari Genta. Dia memiliki fisik yang kuat, sedangkan pasien leukimia kebanyakan sulit diselamatkan. Jika sakitnya parah seharusnya Genta pasti tahu, dan melakukan pengobatan.


"Aku juga tahu seseorang yang memiliki penyakit leukimia, bahkan sering melihatnya. Bagaimana kamu bisa mengatakan hal yang berbeda?" Juna mengecek kembali datanya.


Kesempatan hidup untuk penyakit leukimia sangat kecil, namun ada. Rindi yakin saat Genta kecil dia memiliki penyakit leukimia dan sudah melakukan kemoterapi juga pengobatan.


"Mungkin dia sudah dinyatakan sembuh, dan hanya perlu menjaga pola hidup sehat."


"Darimana kamu tahu Kak Genta dulu leukimia?" Shin mendekati Rindi yang sangat yakin dengan prediksinya.


"Aku mengalami sendiri, jika sekarang kangker masih ada di tubuhku mungkin sudah stadium 4."


"Rindi benar, saat kecil Genta mengalami sakit parah. Papa Ken yang melakukan perawatan secara diam-diam, mungkin Genta melupakan saat dirinya kecil jika sering sakit-sakitan." Papa Calvin meminta Juna lanjut memastikan.


Shin mengusap air matanya, berharap Kakaknya hanya terkena efek saja. Jika kemungkinan buruk sakit lamanya kambuh.


"Sayang, jangan menangis." Papa mengusap air mata Shin.


"Bagaimana nasib Kak Genta Pa? apa yang bisa Shin lakukan?" air mata Shin tidak tertahankan, memeluk Papanya meluapkan kesedihannya.


Cukup lama Hendrik, Juna, Shin, Rindi dan Papa Calvin menunggu hasil laporan. Juna mengambil hasil tes membaca detail langsung tersenyum hampir meremas kertas.


Shin berlari mengambil kertas, membaca isinya langsung menyerahkan kepada Papa Calvin meminta dijelaskan, Shin tidak mengerti.


"Mimisan bisa terjadi pada infeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rhinitis atau sinusitis. Selain mimisan, biasanya pasien akan mengeluhkan demamĀ atau nyeri pada daerah wajah. Lendir juga bisa timbul karena proses peradangan yang terjadi. Kak Genta mengalami infeksi pada hidungnya. Rindi benar tidak Juna?" Rindi tertawa melihat Juna yang menganggukkan kepalanya.


Papa Calvin tersenyum, memeluk Shin erat. Memintanya berhenti khawatir karena Genta kelelahan, mungkin karena pernah sakit saat kecil, jika lelah atau banyak pikiran mengalami mimisan hebat sampai demam.


Juna dan Hendrik juga bernapas lega, mengakui jika Rindi memang pintar dan ingatannya sangat kuat.


"Ayang, kepala Rindi sakit."


"Kanker otak kamu Rindi?" Shin memegang kepala Rindi.


"Aku terlalu banyak berpikir, otak aku yang setengah gila merasa tersakiti. Sekarang waktunya tidur, Ayang Genta membuat Shin berpikir keras." Rindi melangkah pergi menuju kamarnya untuk tidur.

__ADS_1


"Kak Hendrik, Rindi kenapa?"


"Efek obat, dia memang banyak berpikir saat tahu Genta sakit." Senyuman Hendrik terlihat, merangkul Shin untuk menemani Genta dan memberikannya obat.


Pengobatan Genta juga tidak harus ke rumah sakit, karena Juna bisa mengatasinya. Selama tidak memburuk, dan Genta bisa menjaga kesehatannya maka semuanya baik-baik saja.


"Pa, Genta baik-baik saja. Apa hidungnya patah? subuh tadi dia bertanding dengan Gemal sampai babak belur." Gemal nyegir, Papa Calvin yang mendengar memukul punggung Putranya yang keterlaluan melukai Adiknya sendiri.


"Ternyata ini semua gara-gara Kak Gem, membuat seisi rumah panik." Juna menggelengkan kepalanya.


Gemal meringis kesakitan, melangkah keluar sambil memeluk Hendrik. Mengadu jika Papanya main tangan.


Di ruang tamu semuanya duduk diam menunggu hasil, anak-anak juga tenang dan tidak ada yang mengeluarkan suara.


"Ma, lihatlah Papa memukul Gemal."


"Berapa usia kamu Gem? anak sudah tiga masih saja suka mengadu." Mam Jes mengusap punggung Gemal yang mengeluh sakit.


Papa Calvin menunjuk Gemal yang menyerang Genta, keduanya bertarung. Gemal memukuli Adiknya sampai terluka, padahal Genta sedang lelah sehingga sampai jatuh demam dan mimisan.


Mam Jes menatap tajam Gemal yang geleng-geleng kepala, Genta yang sakit namun dirinya yang disalahkan.


"Apa kamu kekurangan lawan Gemal? kenapa adik kamu dipukuli?"


"Sebenarnya niat Gemal baik Ma, tidak tahu jika dia sedang sakit. Tenaga Genta juga kuat, sampai Gemal sakit pinggang."


"Bagaimana kondisi Genta sebenarnya Juna?" Aliya menatap Putranya yang langsung menjelaskan detail kondisi Genta saat kecil, kemungkinan infeksi karena kelelahan.


"Bagaimana penanganannya?" Di menyelidiki infeksi hidung, dan cukup buruk.


Arjuna menjelaskan detail kepada Diana jika kondisi Genta tidak seburuk yang dipikirkan, Juna baru ingat saat mereka pergi ke luar negeri kondisi Genta memang kurang sehat, dan masih bertahan sampai saat ini. Mungkin karena dipukuli akhirnya tumbang.


"Kak Genta enak, sakitnya dijaga dua wanita. Mereka bertiga cinta segitiga." Gion menunjukkan foto ketiganya yang sedang tidur.


"Gion, kamu awal yang membuat masalah, baru Ria, lanjut Isel. Bisa tidak menjaga privasi orang?" Di merampas kamera Putranya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2