ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENERIMANYA


__ADS_3

Suasana ruangan Papa Calvin mendadak hening, Gemal masih mengaruk-garuk kepalanya masih binggung dengan pemikiran keluarganya yang menerima Rindi.


"Ma, kenapa diam saja? jika tidak mengizinkan Hendrik maka kita cari jalan lain." Papa Calvin angkat bicara melihat anak-anaknya.


"Mama menyerahkan kepada Hendrik karena dia yang menjalani, sudah tahu suka dan duka maupun resikonya." Mam Jes menatap Hendrik yang mencoret-coret kertas.


"Gemal rasa tidak ada sisi sukanya, Rindi seorang psikopat. Bisa saja saat tidur, dia membunuh Kak Hendrik. Ini mengerikan." Gemal masih dengan pendapatan tidak setuju.


Papa Calvin meminta pendapat Genta dan Shin yang hanya diam saja tidak tahu harus melakukan apa.


"Menurut Genta mana yang terbaik bagi keluarga saja," tangan Genta garuk-garuk kepala.


Semua orang menatap ke arah Shin, senyuman Shin terlihat membela Rindi yang sebenarnya memiliki hati yang baik. Dia hanya memiliki obsesi untuk hidup bersama Papanya yang sudah meninggal.


Kasih sayang Papanya sangat besar, meksipun sejak kecil Rindi memiliki kelainan dari cara berpikir. Kebanyakan orang menilainya hanyalah seorang anak yang berbeda, tapi di mata Papanya Rindi Putrinya sangat istimewa sehingga selalu dijaga.


Kepergian Papanya Rindi membuat beberapa orang memanfaatkan untuk keuntungan pribadi, Shin yakin keluarga Rindi memiliki kekayaan yang diwariskan kepadanya.


Alasan Irish dan Melly melindungi Rindi tidak mungkin jauh dari kekayaan, Rindi bukan hanya diperalat untuk menjadi pembunuh, tapi sebagai alat penghasil uang.


"Beberapa kali Rindi yang sudah menyelamatkan aku dan Tika, secara tidak langsung otaknya yang melebihi orang normal menjadi penyelamat orang lain." Shin menatap seluruh keluarga yang membenarkan ucapan Shin.


"Adikku sayang, bukan Kak Gemal tidak setuju, tapi ini mustahil." Gemal menatap Hendrik yang masih diam.


"Kak Gem, Shin yakin jika Rindi diobati secara sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang baik."


"Papa sepemikiran dengan Shin, anak satu itu memiliki keistimewaan." Papa Calvin meminta Shin memanggil Rindi.


"Itu Rindi bersama Tika melakukan apa?" Mam Jes melihat ke arah rekaman CCTV.


Semua orang melihat ke arah layar besar, Tika mengikuti Rindi yang sedang melakukan sesuatu. Gemal dan Genta langsung berlari keluar karena jika sampai ada yang jatuh bisa celaka.


Tatapan Hendrik dan Shin tajam, Rindi mengetahui apa yang dia lakukan berbahaya, meminta Tika menyingkir dan membiarkan dirinya sendiri yang mendekati maut.


"Apa yang dia lakukan?"


"Ada tekanan listrik, jika sampai dipegang bisa berbahaya." Shin menghela napasnya karena Gemal dan Genta datang lebih cepat.

__ADS_1


Aksi bahaya yang Rindi lakukan bisa membuat maut, Mam Jes memintanya untuk masuk ke ruangan bersama Tika.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


"Tika tidak tahu, Rindi memaksa untuk mengikutinya." Tatapan Tika tajam, melihat Rindi yang memonyongkan bibirnya.


"Kamu tahu tidak apa yang kamu lakukan berbahaya? jangan lakukan apapun tanpa izin!" suara Hendrik meninggi menatap Rindi yang menundukkan kepalanya.


"Berapa nyawa kamu Rindi? nekat sekali." Gemal geleng-geleng kepala keheranan.


Wajah Rindi terlihat kesal, dirinya tahu jika bahaya karena itu dia melakukan agar tidak mencelakai orang lain.


Shin menatap Tika yang sangat mengetahui soal teknologi, tetapi memilih diam dan tidak memperingati Rindi sama sekali. Jika sampai Rindi terkena sengatan listrik pasti langsung merenggut nyawanya.


Mata Shin dan Tika bertemu, senyuman Tika terlihat masih menguap untuk pamit keluar. Dirinya tidak tahu apapun soal masalah yang dilakukan Rindi.


Gemal menahan tangan Tika, memintanya tidak membuat ulah. Jika tidak Gemal akan melaporkan kepada Diana soal kejahilan Tika.


"Kenapa? Tika tadi tidur, lalu Rindi membangunkan. Sekarang Tika ingin lanjut tidur." Tangan Tika melambai, berlari kencang meninggalkan ruangan.


Shin sangat yakin Tika sedang melakukan penelitian, dia bahkan menjadikan Rindi alat uji coba teknologi terbarunya.


"Semua wanita ini memiliki kejeniusan masing-masing, nikmatnya proses." Papa Calvin menggenggam tangan istrinya yang banyak mengucapkan istighfar.


Rindi diminta untuk duduk di samping Shin, tatapan mata keduanya bertemu. Tanpa mengatakan apapun langsung tertawa membuat para lelaki garuk-garuk kepala.


"Rin, kamu siap menikah?" Mam Jes bicara sangat pelan.


Kepala Rindi melihat ke arah Shin, tidak ada jawaban dari mulut Rindi hanya fokus menatap Shin yang langsung menampar wajah Rindi untuk berhenti menatapnya.


"Kamu mencintai Kak Hendrik, sudah siap menikah? kamu tahu tugas istri dan Ibu?"


"Tahu, melayani suami."


"Siapa yang mengajari kamu?" Gemal menatap serius.


"Tika yang mengajari, katanya setiap suami pulang harus dilayani, nanti punya anak ... Rindi tidak ingin punya anak, dia hanya membuat repot saja." Tatapan mata Rindi tajam, tidak menyukai anak kecil.

__ADS_1


Gemal langsung tertawa, tujuan pernikahan pastinya menginginkan anak. Melihat Rindi yang tidak ingin memiliki anak ada baiknya karena mengurangi para wanita gila.


"Anak itu rezeki, ujian, dan kebahagiaan. Pernikahan memang tidak seharusnya mengutamakan keturunan, namun anak menambah kebahagiaan." Nada bicara Hendrik sangat pelan.


"Nanti tidak sayang Rindi lagi, nanti dia mengambil Ayang." Air mata Rindi menetes.


Mam Jes mendekati Rindi, mengusap kepalanya lembut. Saat nanti sudah memilikinya, Rindi pasti akan menyayangi darah dagingnya melebihi cinta terhadap apapun bahkan tidak bisa dibandingkan dengan nyawa.


Cinta terhadap anak, istri ataupun suami berbeda rasanya. Mam Jes mencintai suaminya, tapi rasa cinta kepada anak-anak tidak bisa dibandingkan dengan apapun.


"Kita bisa berpisah dengan suami, tapi tidak mungkin mampu berpisah dengan anak-anak." Senyuman Mam Jes terdengar lembut.


Senyuman Hendrik terlihat, tidak bisa dirinya bayangan rumah tangganya akan jadi seperti apa. Melihat sikap lembut Mam Jes mengingatkan Hendrik kepada Ibunya, jika Ibu tahu soal kondisi Rindi pasti akan sangat menyayanginya dan memberikan cinta seutuhnya.


Melihat tatapan tulus Hendrik, Shin tersenyum bahagia. Harapan Rindi memiliki pelindung ada di depan mata. Shin tahu Hendrik sama seperti Rindi sedang mencari jati diri dalam kebaikan.


"Kak, Shin setuju. Apapun pilihan Kak Hendrik itu yang terbaik." Shin tersenyum manis, dibalas dengan senyuman juga.


"Gemal ikut saja, semoga jodoh yang Allah berikan memang terbaik. Kak Hendrik harus banyak sabar." Gemal merangkul Genta yang ikut saja dengan keputusan keluarga.


"Bagaimana Hen? kamu putuskan hari ini. Jika bersedia menikahi Rindi kita pertahankan dia, tapi jika kamu menolak kita bawa Rindi ke tempat pengobatan yang ada di pegunungan untuk menenangkan pikirannya." Papa Calvin bicara tegas, menatap Putra pertamanya.


"Kenapa harus sejauh itu? biarkan Rindi bersama Mama."


"Tidak bisa Mam, Rindi bisa berbahaya." Gemal menatap Kakaknya yang masih berpikir.


"Rindi ingin dibuang, haruskah Rindi ikut Papa." Air mata Rindi menetes, menarik baju Shin menggelengkan kepalanya.


"Mulai saat ini kamu ikut aku, dan aku akan bertanggung jawab lahir dan batin." Senyuman Hendrik terlihat sangat yakin.


Mam Jes dan Shin langsung berpelukan, meneteskan air mata menyambut bahagia untuk Rindi.


"Terima kasih Kak." Shin memeluk erat Hendrik, Mam Jes juga memeluk erat.


"Awas ... ini punya Rindi." Kedua tangan Rindi menyingkirkan Mam Jes dan Shin.


Mata Shin langsung menatap sangat tajam, begitupun dengan Rindi yang menatapnya mematikan. Hendrik langsung memeluk keduanya agar tidak bertengkar.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2