ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DARAH BIRU


__ADS_3

Gemal dan Diana benafas lega akhirnya bisa keluar dari hutan, tapi masalah keduanya belum selesai karena kendaraan yang sudah berputar-putar mulai krisis bahan bakar.


"Haduh, kita harus segera menemukan tempat mengisi bahan bakar." Gemal menatap Diana yang tertidur sambil memeluk pinggang.


Melihat wajah Diana, Gemal tidak tega membangunkan dan memutuskan tetap jalan dan berharap segera menemukan tempat mengisi bahan bakar.


"Alhamdulillah, ada jualnya." Gemal tersenyum menyapa wanita paruh baya.


"Dari mana dek, kelihatannya lelah sekali?"


"Kita nyasar di hutan buk, bersyukurnya bisa keluar."


"Hutan di depan sana? Waduh. Kalian orang pertama yang bisa keluar, karena hutan itu bukan hanya banyak binatang buasnya, tapi ada segerombolan orang kanibal dan penjahat kelas atas yang tinggal di sana."


Gemal hanya tersenyum saja, langsung melanjutkan perjalanan kembali ke kota. Membiarkan Diana tidur, karena lelah semalaman ada di hutan.


Suara kendaraan sangat berisik, Diana membuka matanya dan melihat mereka sudah ada di kota.


"Kita di mana Gem?"


"Hampir sampai rumah kamu."


Diana memejamkan kembali matanya, memeluk pinggang Gemal erat. Tubuh Di rasanya ingin demam.


Sesampainya di rumah sedang hari libur, perumahan mewah milik keluarga Diana terlihat ramai karena anak-anak sedang bermain-main di jalanan.


Hari libur dimanfaatkan untuk kumpul keluarga, dan bersantai sambil jalan santai.


Tatapan Altha, Aliya, Dimas Anggun melihat Gemal yang garuk-garuk kepala melepaskan tangan Diana dari pinggangnya.


"Selamat pagi semuanya?"


"Sudah siang." Dean menatap tajam Gemal yang membawa kakaknya.


Dimas langsung mendekat, memegang wajah Diana. Suhu tubuhnya sangat panas dan hidungnya mimisan.


"Diana, kamu kenapa nak?"


Diana langsung bangun tersenyum melihat Mommynya, langsung turun dari motor mengusap hidungnya yang mimisan.


"Di mimisan, sudah puluhan tahun aku tidak mimisan." Senyuman Diana terlihat menatap Gemal.


"Kamu baik-baik saja Di?"


Kepala Diana mengangguk, melihat seluruh keluarga menatapnya binggung.


"Kenapa kalian semua? aku hanya demam, nanti juga sembuh sendiri." Diana langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Dimas menatap Gemal yang langsung turun dari motor mengejar Diana yang berjalan ke rumahnya.


"Dari mana mereka berdua? tidak mungkin dari bersenang-senang." Al menatap suaminya yang langsung melotot.


"Kak Diana mimisan, berarti dia berada di bawah bangunan cukup lama." Juna tersenyum langsung pulang, karena dia selesai olahraga.


Dimas dan Anggun langsung mengejar Diana dan Gemal yang melangkah masuk lebih dulu.


"Diana, kamu yakin baik-baik saja?"


"Iya Gemal. Aku istirahat lebih dulu."


"Dari mana kalian Gemal?" Dimas menatap tajam Gemal.


Gemal menceritakan pertemuan awal mereka di restoran, lanjut mengejar jambret dan rencana ingin melihat matahari, tapi berakhir nyasar di hutan.


Apapun yang terjadi di hutan Gemal ceritakan, dan mereka berhasil keluar dan pulang dengan selamat.


"Sudahlah, kamu juga mandi dan istirahat." Anggun meminta Gemal beristirahat di kamar tamu.


"Tidak Tante, Gemal pulang saja."


"Kamu sudah lelah berkendara, lebih baik mandi. Tante siapkan makanan, lalu tidur dan istirahat." Anggun menatap suaminya yang menganggukkan kepalanya.


Gemal langsung menerima baju ganti dari Dimas, langsung masuk ke kamar tamu untuk mandi. Saat selesai mandi, makanan sudah disiapkan di atas meja.


"Keluarga pak Dimas sangat baik, tidak heran Diana bahagia memiliki sosok ibu yang luar biasa."


"Gemal sudah pulang Mom?"


"Belum sayang, dia sedang beristirahat di kamar tamu."


"Jangan salahkan dia." Diana menceritakan ulang kondisi mereka.


Anggun tersenyum, Dimas mengenal baik siapa Gemal dan tidak mungkin dia berbohong apalagi menyakiti wanita.


"Kamu tidur dan istirahat." Anggun mencium kening Diana yang langsung beristirahat.


Saat Anggun ingin keluar, Diana menggenggam jari jemarinya. Mata Diana terpejam, sambil menceritakan beban yang sedang dia tanggung.


Anggun mendengar semua cerita Diana sampai tertidur, barulah Anggun keluar melihat suaminya yang duduk santai.


"Daddy, ada yang ingin Mommy pertanyakan?"


Dimas mengerutkan keningnya, meminta Anggun duduk dan menjelaskan apa yang dia pikirkan.


"Apa benar Gemal tidak tahu asal usulnya?" Anggun menatap ke arah kamar tamu.

__ADS_1


"Pertanyaan apa itu Anggun? aku tidak suka kamu membicarakan identitas seseorang." Dimas menatap tajam istrinya yang langsung menundukkan kepalanya meminta maaf.


Dimas tidak ingin membahas soal keluarga Gemal, hidup Gemal sudah cukup sulit dan sekarang dia sedang menata hatinya yang setengah hancur.


"Diana tahu siapa Gemal sebenarnya? dia anak keluarga Leondra yang hilang puluhan tahun yang lalu."


"Sayang, siapa yang masih percaya hal konyol ini?"


"Di memiliki buktinya, ibu Gemal meninggalkan identitas Gemal kepada Diana. Dia bukan anak sembarang Daddy." Anggun menceritakan apa yang Diana katakan, meminta Dimas untuk berhati-hati soal Gemal.


"Sayang, aku tidak peduli dengan masa lalu dia. Gemal anak yang cerdik, dan tidak mudah dikendalikan. Biarkan ini menjadi masalah dia, minta Diana untuk tetap diam, dan perlahan melupakannya." Dimas bicara sangat tegas.


Dean menatap mommy dan Daddy-nya yang membicarakan keluarga Leondra, Dean menunjukkan surat kabar soal keluarga Leondra yang ada di negara mereka.


Dimas langsung melihat pemberitaan, jika istri dari generasi ke empat keluarga Leondra memutuskan untuk melakukan perawatan kesehatan, dan menetap sementara.


"Apa ini takdir?"


"Apapun yang terjadi, selama mereka tidak melibatkan putriku. Maka aku tidak peduli."


Anggun dan Dean menatap sinis Dimas yang selalu bersikap dingin, selalu mengatakan tidak peduli, tapi diam-diam mengawasi.


Dean langsung masuk ke kamar Gemal yang sudah tidur, melihat ekspresi wajah Gemal yang memang sangat tampan.


"Kak Gem, kamu keturunan darah biru ya?


Gemal mengerutkan keningnya, melihat ke arah suara bisik-bisik ditelinga yang ternyata bocah kecil yang tidur bermain kaki di sampingnya.


"Kenapa kamu di sini?" Gemal menatap sinis.


"Aku ingin melihat keturunan darah biru." Dean tersenyum, menyentuh tangan Gemal mencari warna darahnya.


Suara Gemal tertawa terdengar, ocehan Dean sangat konyol karena meminta Gemal menunjukkan darah birunya.


"Ini darah kotor, bukan darah biru." Senyuman Gemal terlihat, memeluk Dean yang terus memaksa ingin melihat darah Gemal.


Keduanya menatap ke langit kamar, bercerita banyak hal soal Diana yang selalu menjadi musuh bebuyutan Dean, tapi dia sangat menyayangi kakak perempuannya.


"Kak Gemal, bagaimana bisa menjadi keturunan darah biru?"


"Astaga Dean, aku tidak perlu bekerja mengejar penjahat jika keturunan bangsawan. Mencari uang untuk sesuap nasi juga sulit."


"Kak Gemal tahu soal keluarga Leondra?"


Dean menceritakan soal keluarga Leondra, dan mereka memiliki seorang putra generasi kelima yang memiliki gelar bangsawan.


"Dean, kamu enak sejak kecil hidup berkecukupan, bisa disanding dengan keluarga bangsawan. Berbeda dengan kak Gemal yang keturunan darah kotor, bahkan asal usul juga tidak jelas. Ayo kita bangun dan berhenti membicarakan orang kaya." Gemal memejamkan matanya, dirinya lelah memikirkan harta orang lain.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2