ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RENCANA JAHAT


__ADS_3

Suara bel terdengar, seseorang melangkah masuk setelah pintu terbuka. Kerutan terlihat saat menatap ruangan yang sangat berantakan.


"Kenapa kamu meminta aku datang? kita tidak punya urusan lagi." Reza membuang tumpukkan baju yang berada di atas meja.


Senyuman Dina terlihat, mengunyah makanannya sambil melihat ke arah Reza yang terlihat kesal menatap ruangan.


"Bantu aku terakhir kalinya, cepat atau lambat Genta akan segera menemukan aku. Dia terlalu cerdik untuk dipermainkan." Langkah Dina mendekat duduk di atas meja mendekati wajah Reza.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Aku tahu kamu menyukai Shin, miliki dia. Juna membatalkan pertunangan dan Hana, dia akan segera menikahi Shin." Suara Dina memanasi Reza yang masih diam.


"Itu wajar saja, mereka berdua sama-sama orang berada. Seperti apapun aku berjuang tidak akan mampu memilikinya." Senyuman Reza terlihat dia cukup mengangumi karena harus tahu diri.


Suara Dina bertepuk tangan terdengar, ucapan Reza memang benar dia tidak mungkin mampu menaklukkan Shin apalagi bersaing dengan Juna.


Dia seorang Dokter muda yang sangat hebat, terlahir dari keluarga berada bahkan bisa mudah mendapatkan Shin atas izin keluar besar.


"Za, tidak bisa memilikinya secara baik-baik maka lakukan dengan cara lain. Ikuti rencana aku kali ini, dipastikan dia menjadi milik kamu tanpa takut dengan keluarganya." Tangan Dina terulur meminta kerjasama yang baik.


Mata Reza menatap lain, dia tidak menyambut tangan Dina masih tetap diam mencoba berpikir.


Bukan hal yang baru bagi Reza menemukan wanita licik bagi Dina, sahabat baiknya saja dibohongi dan khianati apalagi Reza yang hanya orang jauh. Mereka hanya bekerja atas suatu yang saling menguntungkan.


"Apa tujuan kamu membantu aku untuk mendapatkan Shin?"


Tiba-tiba Dina diam, hanya melangkah ke arah jendela, membuka gorden memperhatikan lampu di malam hari.


Tidak ada alasan pastinya bagi Dina, dia tidak peduli siapa yang tersakiti, dirugikan, bahkan menderita. Tujuan Dina hanyalah bersenang-senang.


Keluarga Juna sudah terlalu lama bahagia, dia memiliki segalanya dan y

__ADS_1


tidak tahu sulitnya hidup orang-orang seperti Dina.


Jika Juna patah hati setelah menyakiti Hana, keluarga juga akan ikut kecewa. Cinta pertama Juna bertepuk sebelah tangan, begitupun dengan Tika yang pastinya akan terpukul.


"Aku juga ingin membalas Ria, dia sangat licik dan banyak drama. Anak satu ini tidak bisa dianggap remeh, sebelum aku mati mereka harus menangis menderita." Pukulan Dina kuat menghantam kaca.


"Rencana kamu mengerikan Dina. Aku mencintai Shin bukan ingin menyakitinya, dia akan menjadi seseorang yang menderita jika rencana itu kamu lakukan!" Reza berdiri dari duduknya melangkah ingin pergi dan menolak rencana Dina.


"Pergilah! aku akan mengatakan kepada Rindi siapa kamu, dan satu hal lagi. Bersiaplah adik kamu akan mati tidak mampu bertahan di rumah sakit." Ancaman Dina terdengar, Reza mencekik lehernya tidak suka mendengar ucapan Dina.


Kedua pundak Dina terangkat, sekeras apapun Reza berjuang dia tidak akan mampu mengumpulkan dana pengobatan Adiknya.


Jika bukan karena bantuan Dina maka hidup adik Reza sudah lama berakhir, jika hanya mengharapkan gaji tidak mungkin mampu membayar biaya rumah sakit.


"Kamu tidak punya pilihan, ikuti saja rencana ini. Anggap saja membalaskan rasa sakit hati kepada Juna, dia terlalu meremehkan kamu sejak dulu." Tangan Dina menepuk pundak Reza pelan.


Langkah kaki Reza tidak bersemangat, keluar dari kamar Dina. Ucapan Dina benar, untuk membalaskan rasa sakit hatinya kepada Juna, maka sebaiknya Reza mengikuti kesempatan terakhirnya.


Reza melihat ke arah handphonenya, transfer dari Dina untuk biaya pengobatan Adiknya. Reza langsung bergegas pergi ke rumah sakit karena besok Adiknya akan operasi.


Saat tiba di rumah sakit, langkah Reza terhenti saat melihat Juna berada di luar kamar adiknya. Perlahan Juna masuk memperhatikan kondisi pasiennya yang akan melakukan operasi keesokan harinya.


"Masa muda kamu dihabiskan di rumah sakit ini, besok kita berjuang bersama untuk keluar dalam keadaan hidup. Bertahanlah, kamu harus menikmati dunia ini sampai bertemu besok." Senyuman Juna terlihat menatap gadis seumuran dengan Shin sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Reza langsung bersembunyi saat Juna keluar ruangan Adiknya. Reza baru tahu jika Dokter yang akan melakukan operasi ternyata Arjuna.


Tangan Reza sampai gemetaran, dia binggung cara menghadapi Juna saat bertemu besok.


Bodohnya Reza tidak membaca terlebih dahulu dokter yang menangani adiknya. Reza sibuk mencari uang, tanpa memperhatikan apapun paling penting adiknya bisa operasi.


"Apa dia adik kamu? kenapa menghindar?" Juna muncul melihat Reza karena menyadari ada yang memperhatikannya.

__ADS_1


"Selamat malam Dokter Juna?"


"Ternyata memang benar dia adik kamu,"


Kepala Reza mengangguk, adiknya sudah dirawat lebih dari delapan tahun. Reza satu-satunya keluarga dan setelah bertahun-tahun adiknya mendapatkan vonis bisa di operasi.


Juna melihat ke dalam ruangan, dia sudah meneliti kondisi pasien lebih dari tiga tahun. Kondisinya menjadi rahasia medis, Juna berharap hasil baik pasien bangun dari tidur panjangnya.


"Jaga dia, sering-sering mengobrol. Ini pertama kalinya kita bertemu di waktu yang tepat, tapi kamu menghindari aku." Juna langsung pamit ingin beristirahat di ruangannya.


"Juna, tolong selamatkan dia,"


Senyuman kecil Juna terlihat, meminta Reza lebih banyak berdoa. Waktu yang diperlukan untuk operasi juga sangat lama, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di meja operasi.


Keputusan Juna untuk operasi sebenarnya lebih positif, keyakinan Juna 60% pasien bangun.


"Perjuangan panjang kamu semoga membuahkan hasil. Satu pertanyaan aku, kenapa kamu terlihat membenci aku sejak kita satu sekolah?"


"Kamu mengenal aku? tapi kenapa kamu tidak membela?"


"Kenapa aku harus membela? faktanya aku tidak melihat yang terjadi. Jika dulu kamu tidak emosian, maka mungkin beasiswa bisa kamu dapatkan. Jangan salahkan aku yang tidak membela karena aku tidak tahu apapun." Belum selesai Reza bicara Juna sudah melangkah pergi membenci ingatannya soal Reza yang memang satu angkatan dengannya.


Sepanjang koridor Juna kesal, dia baru tahu lelaki yang mendekati Shin dulunya teman satu kelasnya.


"Aku hanya mengobati adik kamu, bukan demi kebahagiaan kamu dan rasa tidak nyaman pada masa lalu. Seharusnya tadi aku katakan meminta dia menjauhi Shin, tapi apa hak aku melarangnya. Juna kamu sudah gila! bagaimana cara aku mengatakan cinta? bagaimana jika aku ditolak, di mana harga diri aku?" Juna membenturkan kepalanya di pintu ruangan.


Pundak Juna ditepuk, Reza tersenyum melihatnya mengembalikan pulpen Juna yang terjatuh.


"Kamu terlihat stres Jun,"


Pintu ruangan Juna terbuka, dia langsung masuk merasa malu jika Reza melihatnya menggila.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2