ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HOTEL


__ADS_3

Senyuman Genta terlihat menatap dua wanita yang tertawa lepas sambil berlarian mengelilingi ayunan.


"Kapan kalian tumbuh dewasa? rasanya aku masih melihat dua wanita yang selalu pulang babak belur, baju kotor, rambut acak-acakan." Senyuman Genta terlihat, tidak pernah dirinya pikiran jika dua wanita yang sangat dihindarinya akan menjadi Adik dan wanita yang dicintainya.


"Shin, ayo naik." Tika menarik tangan Shin untuk duduk di atas pohon.


"Kalian tahu tidak ini jam berapa? kuntilanak juga takut melihat kalian." Genta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Tika dan Shin lompat sambil teriak memeluk erat Genta.


Tawa Genta terdengar, memeluk keduanya yang ketakutan. Sebelum ditegur masih bisa cekikikan tertawa, sekarang ketakutan.


"Lihat jam berapa ini? semua orang tidur hanya kalian berdua yang berkeliaran. Jika ada yang mendengar suara tawa kalian pasti ketakutan." Genta menggenggam tangan keduanya untuk kembali.


"Ayo kita tidur di hotel." Tika menarik tangan Genta yang matanya sudah tajam.


"Kalian berdua belum menjawab pertanyaan Kak Gen, kenapa bisa ada di sini? menggunakan baju tidur di tempat seperti ini."


Shin dan Tika saling pandang, keduanya serempak menjawab jika tidak sengaja kebetulan sedang bermain. Awalnya balapan, tapi berujung main ayunan.


"Ayo kita pulang?"


"Kalian tidak sedang mengikuti Am?"


"Tidak," jawaban Shin dan Tika sama.


Genta duduk di kursi, membuat Tika dan Shin binggung. Keduanya duduk diantara Genta, mempertanyakan apa yang baru saja terjadi.


"Kak, apa Papi Am melarikan diri?"


"Dia penjahat tingkat apa?" Tika juga merasa penasaran.


Tidak banyak hal yang dia temukan soal penyelidikan Am, sejauh yang Genta ketahui Am pria yang sangat kasar, tapi dia sangat royal dengan uang.


Harta dan wanita prioritas baginya, dia tidak memiliki istri setelah berpisah dengan Irish, Am menghabiskan waktunya dengan bisnis Bar di luar negeri. Dia memiliki beberapa saham di perusahaan besar.


Kedatangan Am bertujuan untuk menguasai harta yang sudah dia tinggalkan untuk Shin. Melihat lokasi rumah yang strategis, dia berencana membuka cabang Bar terbesar.


Tanpa mengusik siapapun terpaksa dia berencana membuat penduduk sekitar pindah lokasi, dengan menakuti dan memberikan harga murah.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kecelakaan Tika?"


"Dia tidak berencana membunuh, hanya saja menakuti jika lokasi rawan kecelakaan." Genta sudah melakukan interogasi dengan beberapa orang yang terlibat.


"Menakutkan secara tidak lucu," Tika menghela napasnya.


"Orang yang diperintahkan tidak berpengalaman dalam kejahatan, sehingga kondisi pemuda yang bersama Ria jika sampai tertabrak tidak mungkin selamat,"


"Mereka semua mendapatkan hukuman Kak?"


"Ya, semuanya termasuk Am, tapi Kak Gen tidak yakin dia bisa dihukum berat. Pilihan terakhir dia meninggalkan negara ini, dan dilarang keras kembali dengan alasan apapun." Genta mengusap kepala Shin, melarangnya sementara waktu untuk kembali ke rumah pelangi.


Shin menganggukkan kepalanya, memeluk Genta erat. Shin berharap masalahnya dan Am hanya sebatas tanah, tidak ada hal bahaya lainnya.


"Kak Genta tahu siapa pria yang bermalam bersama Am?"


"Saat kami tiba dia tidak mengatakan siapapun, kemungkinan wanita yang bersamanya hanya wanita bayaran."


Senyuman Shin terlihat, mengangguk mengerti. Tika memperhatikan wajah Shin yang masih saja penasaran soal Dina.


"Besok aku akan bertanya langsung dengan Kak Ana, jangan dipikirkan lagi." Tika menepuk wajah Shin untuk tersenyum manis.


"Kalian berdua tidur di hotel saja, besok pagi kita menjenguk Ria." Genta berdiri, menggendong Shin di punggungnya yang sudah terlelap tidur.


Senyuman Tika terlihat, mengusap kepala Shin. Tangan Tika menggenggam baju Genta karena tidak bisa menggandeng tangannya.


"Kak Gen sengaja menangkap Am karena ingin dia pergi dari negara ini? tidak ingin dia mengusik Shin lagi." Tika sependapat dengan Genta, siapapun orang yang ada di masa lalu Shin, dan pernah menyakitinya tidak pantas muncul dihadapan mereka.


Kepala Genta mengangguk, Tika sangat memahami pikirannya. Tidak peduli bagaimana caranya, Genta tidak mengizinkan siapapun yang memiliki memori buruk bersama adiknya kembali.


Jika Am tidak bisa pergi secara baik-baik, maka Genta akan membuatnya pergi dengan terpaksa.


"Lalu bagaimana dengan kita? hubungan kita sudah berapa bulan? Kak Genta tidak pernah menemani Tika? berbeda dengan waktu awal berpacaran." Bibir Tika maju ke depan dengan wajah memelas.


"Sudah Papi Alt peringatan, menjalin hubungan dengan pria yang bekerja seperti Kak Gen, kamu harus memiliki tingkat kesabaran yang berlipat-lipat." Tawa Genta terdengar melihat kekasihnya yang selalu kesepian.


"Awas saja jika nanti sudah menikah, Tika pastikan tidak akan lepas." Tika memeluk tiang hotel, menunggu Genta yang sedang menyewa kamar.

__ADS_1


Shin sudah dipindahkan ke kamar, Tika masih menunggu di lobi menolak untuk tidur. Genta keluar melihat Tika yang menatap lampu.


"Jika sudah mengantuk masuk kamar, ini kuncinya." Genta menyerahkan kunci kamar.


Beberapa staf tersenyum melihat Putri pemilik hotel ada di lobi, apalagi bersama pria tampan.


"Permisi ini ada minuman, dan makanan ringan dari hotel,"


"Terima kasih, bisa Tika memesan makanan lain. Aku tidak butuh cemilan, hanya butuh makan." Senyuman Tika terlihat, menunggu makannya.


Staf yang membawakan makanan menyukai sikap Tika yang sangat ramah, bisa berteman dengan siapapun meksipun berbeda usia.


"Makanan ini aman?"


"Tentu saja Nona, jika tidak enak kita akan mengganti dengan yang baru,"


"Tidak tidak, bukan begitu." Tangan Tika meminta staf mendekatinya.


Kebiasaan di hotel ada beberapa orang jahil yang memasukkan obat untuk pasangan pengantin, mungkin saja di dalam makanan Tika juga ada.


"Atika, apa yang kamu katakan?" Genta menarik Tika yang berbisik, tapi terdengar olehnya.


"Kenapa? siapa tahu ada? Tika hanya antisipasi, benar tidak Kakak? siapa yang menolak pria setampan dia." Tika tertawa diikuti oleh beberapa orang.


Candaan Tika diladeni membuat Genta malu, bahkan Tika berencana mengadakan pesta pernikahannya di hotel. Staf yang bertugas harus sudah paham, Tika langsung request dari jauh-jauh hari.


"Tunggu, jika semua makanan diberikan obat itu bukannya mereka akan bercinta semua. Hotel kita memangnya muat?"


Atika tertawa lepas, dia mengadakan pesta pernikahan bukan pesta bercinta. Makanan tamu tidak mungkin ada obatnya.


"Kalian semua silahkan pergi, jangan dengarkan ucapan Tika." Genta menutup mulut Tika agar berhenti bicara.


"Dia polos sekali Kak Gen,"


"Kamu juga bercandanya tidak lucu, jika mereka salah paham. Bisa bahaya Tika,"


"Calon suamiku sayang, tenang saja. Tika sudah biasa bercanda di sini, Mami setiap meeting selalu meninggalkan Tika bersama staf." Tangan Tika mengusap wajah Genta yang hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah jahil kekasihnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2