
Tatapan Genta dan Atika bertemu, keduanya masih saling pandang bahkan hidung keduanya bersentuhan. Suara tangisan Rindi terdengar memanggil Genta sebagai suaminya, meksipun banyak pengawal yang menahannya untuk segera meninggalkan lokasi.
"Suamiku, lepaskan." Rindi berteriak histeris.
Kening Tika berkerut menatap wajah Genta yang ketakutan mendengar ucapan suamiku, bahkan merinding merasa geli.
Tangan Genta mengusap wajahnya bekas ciuman Rindi, tangan Tika mengepal erat merasakan kesal.
"Kenapa dia memanggil kamu suami?"
"Tidak tahu, mungkin terobsesi atau halusinasi. Bahkan pipi aku juga dicium, dasar perempuan gila." Tangan Genta masih mengusap pipinya.
Tubuh Genta semakin terdorong karena ada yang menimpa punggungnya, kedua tangan Tika memeluk pinggangnya sedangkan dua tangan Genta masih menahan di dinding.
"Woy ... astaga. Shin berjuang sendiri, kalian berdua enak berpelukan." Hentakan kaki Shin terdengar, wajahnya langsung cemberut.
Genta menoleh, saat Tika melihat ke arahnya. Tangan Tika menutup mulutnya yang tidak sengaja mencium pipi.
Genta merangkak keluar, satu tangannya menarik Tika yang juga berjalan duduk mengikuti instruksi Genta.
Ketiganya langsung pergi, melihat rumah yang dihancurkan. Bibir Shin masih monyong melihat Tika yang biasanya sangat kuat mendadak lemah.
"Cepat masuk mobil." Genta membuka pintu untuk Tika dan Shin.
Tika menyerahkan ponselnya agar Genta bisa menghubungi anggotanya yang sudah bergerak ke arah markas. Mobil yang Genta kendarai kebut-kebutan di jalanan setapak, mengejar mobil yang di kendarai oleh Melly.
Saat masuk lubang, Genta menahan tubuh Tika agar tidak terbentur, sedangkan Shin sudah terjungkal ke depan, kepalanya menghantam dasbor mobil.
"Kak Genta, Tika sudah menggunakan sabuk pengaman tidak perlu di lindungi lagi, Shin yang terjungkal." Ekspresi kesal Shin semakin terlihat.
"Kamu duduk di belakang, bagaimana caranya menahan?" senyuman Genta terlihat meminta maaf, mengusap kepala Shin.
Atika memalingkan wajahnya tersenyum lebar, rasa marah mendadak hilang saat jantungnya berdegup kencang. Suara Shin mengoceh seperti nyanyian cinta yang menenangkan.
__ADS_1
Genta memperingati Tika dan Shin untuk berpegangan kuat, kecepatan mobil dua kali lipat agar bisa menghentikan laju mobil Melly.
Tika menggeluarkan senjata, mobil melewati kendaraan yang membawa Melly untuk melarikan diri. Tika membuka pintu mobil, langsung berdiri mengarahkan senjata ke ban mobil, sampai mobil tidak bisa di kendalikan menabrak pohon besar.
Melihat aksi Tika, Shin menatap kagum juga takut. Genta melangkah keluar dan melihat beberapa orang berlari berhamburan karena polisi sudah berdatangan.
Suara tembakan terdengar di hutan yang gelap gulita, aksi kejar-kejaran terjadi secara besar-besaran. Tika mengecek mobil tidak melihat keberadaan Rindi dan Melly yang berhasil melarikan diri.
"Mereka melarikan diri, kalian berdua tetap di sini aku akan melakukan pengejaran." Genta berlalu pergi meninggalkan dua wanita yang masih melihat sekitar.
Bagaimana kondisi markas?" Shin mengambil tablet dan melihat kekacauan di sana. Irish tidak terlihat dari banyaknya daftar orang-orang yang tertangkap.
"Irish juga berhasil melarikan diri Tik, misi kita gagal." Shin memejamkan matanya sesaat, merasa kesal karena harapan mereka tidak sesuai.
Senyuman Tika terlihat, menatap layarnya yang menunjukkan beberapa mobil berhasil melarikan diri. Alasan Tika tidak mempercayai kepolisian karena banyaknya pengkhianatan.
Ada pihak dalam yang meyelamatkan Irish, Melly dan Rindi. Tika merasa sedikit lega karena mereka tidak sepenuhnya gagal, banyak bisnis Melly yang tertangkap.
"Kenapa kamu tersenyum? kita sudah gagal." Suara tablet dilempar terdengar.
Tangan Tika menggenggam jari jemari Shin, meksipun mereka gagal menangkap tiga penjahat yang seharusnya membayar mahal pembuatannya. Ada beberapa sisi positif yang didapatkan.
Di markas ada beberapa transaksi ilegal yang berhasil dihentikan, beberapa wanita muda yang diperdagangkan juga berhasil digagalkan, penjualan obat terlarang juga berhasil dilenyapkan.
"Kita ambil sisi positifnya saja Shin." Senyuman Tika terlihat.
"Kamu terlihat aneh Tika, awalnya kamu sangat terobsesi untuk menangkap Melly, tapi sekarang santai sekali." Shin menatap kesal melihat beberapa polisi membawa banyak tawanan.
"Aku rasa hari ini akan sibuk karena banyak penjahat yang tertangkap," ucap Tika santai sambil melihat Genta yang melepaskan jaketnya.
Mata Shin melihat ke arah pandangan Tika, tersenyum lucu melihat sahabatnya yang tidak bisa membohongi Shin jika sedang terpesona dari pria tampan. Shin sangat berharap dugaannya benar, jika Genta dan dirinya memiliki hubungan darah.
Tujuan Shin ingin menemukan Irish dan Melly hanya ingin memastikan jika dirinya memang terikat dengan Genta, Shin tidak peduli dengan lukanya cukup mendapatkan satu keluarga menjadi harapan besar dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja Dek?" tangan Genta mengecek tubuh Shin.
"Hati Shin sakit, ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada mereka. Siapa aku Kak Genta? Shin takut berharap lebih." Senyuman Shin terlihat, meminta maaf karena egois merasa perjuangannya sia-sia.
Kepala Genta mengangguk, dirinya juga sama memiliki banyak pertanyaan. Jika kebenaran sangat sulit didapatkan, Genta yakin akan ada waktu yang paling tempat untuk kebenaran terungkap tanpa menghacurkan hati yang sebenarnya memang sudah retak.
"Kamu baik-baik saja Tika?" Genta mendekati Tika yang masih berdiri diam di depan mobil.
Kaki Tika mengalir darah, Genta meminta maaf jika dirinya lancang. Tubuh Tika terangkat ke atas mobil, Genta menyobek celana panjang Tika, melihat luka di kakinya.
Kening Shin berkerut melihat Tika yang meringis kesakitan, Shin menatap luka di lengannya langsung ditutupi memilih untuk ke rumah sakit agar Juna yang mengobati.
Senyuman Shin terlihat, bukan hanya dua A yang bisa bermesraan di hutan membuat Shin menjadi nyamuk. Shin juga berharap bisa bermesraan di rumah sakit.
"Luka kaki kamu parah sekali, kita harus ke rumah sakit. Ini bisa diamputasi." Shin mendorong Genta untuk berjalan ke mobil.
Mata Tika menatap tajam, melihat Shin yang menganggu moments indahnya. Genta sependapat untuk ke rumah sakit terdekat agar Tika segera diobati.
"Kak Gen, kita harus balik ke kota sekarang. Tika harus di obati di rumah sakit besar."
"Aku rasa tidak seburuk itu?" Genta meminta bawahan untuk mengurus sisanya karena Genta harus mengantar Tika.
"Kak, Shin tidak percaya Dokter di sini, bisa saja mereka komplotan Melly. Kita harus membawa ke rumah sakit keluarga, di sana paling aman." Shin menarik Genta masuk mobil.
"Jangan lebay Shin, aku baik-baik saja." Tika berjalan masuk ke dalam mobil.
Shin mengomel mengikuti gaya Mami Al yang bisa menembus lagi ke tujuh, jika mengamuk mungkin juga bumi dibelah menjadi dua. Shin tidak akan membiarkan terjadi, jika pada akhirnya dia dipisahkan dari suaminya.
"Berhentilah membicarakan suami halu yang tidak nyata." Tika menutup mulut Shin agar berhenti mengomel.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1