
Hasil pemeriksaan mata Shin keluar, Tika langsung terduduk lemas. Sudah berusaha menahan diri, meskipun Shin terlihat santai saja, Tika sangat ketakutan.
"Bagaimana hasilnya Ay Jun? berapa lama Shin buta?" senyuman Shin masih terlihat, meraba sekitarnya.
"Belum bisa dipastikan Shin, kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan, semoga saja hasilnya baik." Juna masih membaca laporan soal mata Shin.
Kepala Shin hanya mengangguk, dirinya tidak masalah menunggu berapa lama. Tangan Shin mencari keberadaan Tika.
"Tika, kamu di mana? bisa menjadi mata untuk Shin."
"Aku di sini, kamu membutuhkan apa?" air mata Tika menetes, menggenggam erat tangan sahabatnya.
Suara pelan terdengar dari Tika yang meminta maaf, apa yang terjadi kepada Shin kesalahan dirinya. Tika tidak bisa menjaga janji mereka, Shin selalu ada untuknya dalam kesulitan apapun. Saat Shin dipukul, dirinya hanya diam saja. Tika tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Jangan menangis, kita sudah lama saling mengenal. Ini masalah aku dan keluargaku, kenapa kamu harus bertanggung jawab?" Pelukan Shin sangat lembut, mengusap punggung Tika yang terisak menangis.
Shin meminta Tika merahasiakan kondisinya kepada Genta, perasaan Shin tidak nyaman jika Genta tahu.
Apa yang sedang Genta selidiki, pasti sesuatu yang sangat penting. Hatinya juga pasti hancur, jika tahu Shin mengalami kebutaan.
Kapan Shin akan melihat lagi, bukan hal yang penting, Shin hanya khawatir jika banyak yang terluka karena kebutaannya terutama Tika dan Genta.
"Tika, aku baik-baik saja. Jangan merasa bersalah sedikitpun, aku bisa bangkit. Kamu percaya aku." Tangan Shin menggenggam erat meyakinkan Tika jika dia baik.
"Kenapa kamu begitu percaya dengan Genta?"
"Entahlah, aku merasa aman bersamanya. Dia menjadi sosok Kakak, juga Ayah untukku. Ini perasaan tulus,"
"Bagaimana jika dia tahu?"
"Biarkan saja, tapi jangan buat siapapun khawatir soal kondisi ini." Shin menundukkan kepalanya, meminta Tika fokus di perusahaan.
Seharusnya Shin ada di sisinya saat Mami Al menyerahkan perusahaan, tapi kenyataannya Shin masih terbaring dan tidak menepati janji.
"Kamu bukan hanya sekedar sahabat Shin? kamu tahu aku juga merasa tersakiti."
"Iya, aku tahu. Luka kamu menjadi lukaku, begitupun sebaliknya. Ini hanya sementara, Ay Jun sudah memastikan jika mata aku akan melihat kembali." Kepala Shin mengangguk menyakinkan.
"Namanya Arjuna bukan Ayjun, jangan sembarangan mengubah nama." Tika memperbaiki ucapan Shin.
__ADS_1
Tawa Shin terdengar, mengulangi ucapannya membuat Tika kesal. Shin tidak bisa menyebut Ar, tapi selalu Ay.
Perdebatan keduanya terdengar, Shin tetap dengan pendirian memanggil Ay Jun, meskipun Tika sudah menjelaskan bekali-kali.
"Cukup, apa yang kalian ributkan? terserah dia saja Tika, mau Ar ataupun Ay mana nyamannya." Juna menatap tajam dua wanita yang sudah siap saling pukul.
"Ay Juna juga suka dipanggil Ay." Shin menjulurkan lidahnya.
"Apa artinya Ay, ayam atau anjing." Tika langsung pamit untuk pergi ke kantor, karena ada meeting.
"Astaghfirullah Al azim, Ay Jun lihat mulut Tika. Ay nama panggilan sayang, bukan sebutan binatang." Tangan Shin mengusap dada.
Helaan napas Juna terdengar, sementara waktu Shin beristirahat di rumah sakit. Juna akan mengawasi perkembangan kondisi Shin.
Jika memungkinkan dalam beberapa hari bisa pulang, tapi soal mata akan diobati secara perlahan, Juna pastikan tidak akan lama, Shin akan melihat seperti sedia kala.
"Ay Jun, jangan terlalu berpikir keras, apalagi berusaha keras. Shin baik-baik saja ini bukan hal yang menakutkan." Tangan Shin memberikan jempol, tapi membelakangi Juna.
Tangan Juna menarik Shin untuk menghadapnya, tawa Shin langsung terdengar meminta maaf, karena belum terbiasa.
Senyuman Juna terlihat, baru pertama kalinya memilih pasien yang terluka parah, tapi terlihat biasa saja. Tidak ada ketakutan sama sekali, biasanya orang lain akan stress dan trauma, sangat berbeda dengan Shin.
***
Tatapan Juna tajam, melihat Shin yang berjalan berkeliling koridor sambil tertawa. Dia menabrak kursi tunggu, dinding, pintu, tempat sampah, bahkan orang juga ditabrak.
Suara tawa terdengar bahagia, Juna terheran-heran. Merasa Shin seperti wanita gila yang menyukai kebutaannya.
"Astaga ini lucu sekali, aduh ... apa ini?" Shin meraba tubuh yang tinggi.
Wajah Shin mendekat wajah orang yang ditabrak, mencium bau aroma tubuhnya. Shin langsung tahu siapa orang yang ada di hadapannya.
"Apa sekarang kamu gila? tertawa sendiri."
"Tidak, Shin hanya merasa lucu. Ayo kita pulang, Tika belum datang menjemput Shin." Bibir Shin monyong.
Suara langkah kaki terdengar, Genta berdiri dihadapan Shin sambil tersenyum. Shin tahu siapa yang datang dari langkah kakinya.
"Hai kak Genta, lama tidak bertemu."
__ADS_1
"Maafkan aku baru datang, karena baru kembali. Bagaimana kondisi kamu?" Genta mengusap kepala Shin lembut.
Tangan Shin langsung memeluk lengan Genta, berjalan bersama untuk pulang ke apartemen. Shin sudah rindu apartemennya.
"Juna, bagaimana kondisi Shin?"
"Apa Tika tidak menjelaskan?" Juna masuk ke dalam lift bersama.
Genta sudah mendengar penjelasan Tika jika Shin baik-baik saja, tapi Genta ingin mendengar secara langsung dari dokter yang menangani.
Kepala Juna mengangguk, kondisi Shin jauh lebih baik, lukanya cukup parah, tapi berada lama di rumah sakit membuat kondisinya pulih cepat.
Shin juga wanita kuat dan mandiri, dia tidak banyak mengeluh, melawan sakitnya sehingga Juna mengizinkan untuk pulang.
"Aku mengenal kamu sudah lama Jun, jangan berbohong."
"Aku tidak berbohong, kondisinya baik. Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih buruk yang memang seharusnya Kak Genta ketahui." Tatapan Juna melihat tangannya yang digenggam oleh Shin.
Lift terbuka, Shin dan Genta langsung keluar. Tangan Shin melambai, melihat Tika yang datang terlambat. Bau parfum Tika sangat Shin kenali, sehingga langsung tahu siapa yang ada di depannya.
Genta membantu Shin masuk ke dalam mobil, Tika masih bicara dengan Juna sambil memperhatikan Genta yang belum menyadari kondisi Shin.
"Om tua sangat mencintai Shin, dia pasti terkejut sekali jika tahu."
"Om tua? siapa dia? apa mungkin Genta?" Juna menatap adiknya yang menganggukkan kepalanya.
Senyuman Juna terlihat, Tika salah menilai Genta. Dia bukan pria yang bisa mudah jatuh cinta, apalagi tertarik dengan wanita.
Cinta, bukan sesuatu hal yang diprioritaskan bagi pria seperti Genta. Juna sangat mengenal baik siapa Genta, dan banyak mendengar soal sikapnya.
"Kak Genta sendiri yang mengatakannya."
"Tika, orang seperti Genta memiliki banyak rahasia yang tidak bisa diungkapkan, pikirkan baik-baik." Juna langsung melangkah pergi.
Mulut Tika menganga, ucapan Kakaknya benar. Genta pria gila kerja, tidak mungkin mudah membuka hati dengan siapapun.
"Apa artinya cinta bagi pria dingin seperti Genta? kenapa dia mendekati Shin?" Tika berteriak kuat, meminta Genta tidak menyentuh sahabatnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira