ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERPUKUL


__ADS_3

Keretakan rumah tangga Tika yang baru seumur jagung terlihat, Aliya menyadari ketidakharmonisan rumah tangga Putrinya.


Tatapan Tika terhadap suaminya tidak seindah dulu, Genta juga lebih memilih diam dan menjauhi istrinya demi menghindari keributan.


"Apa yang terjadi kepada rumah tangga mereka? biasanya diawal menikah terlihat bahagia, tapi tidak dengan Genta dan Tika." Al menatap Kakaknya yang berdiri memperhatikan ke arah mobil Tika yang melaju pergi.


"Pasti ada sesuatu, kita orang tua tidak bisa ikut campur,"


"Al tidak ikut campur, tapi mereka belum berpengalaman dalam berumah tangga. Tugas sebagai orangtua mencoba menjadi penengah dan menasihati agar rumah pertengkaran mendapat solusi." Al menghela napasnya, meminta pendapat Diana yang melamun.


"Aku lebih penasaran kondisi Shin, bagaimana rumah tangganya dan Juna?"


Aliya dan Diana langsung bergegas turun untuk mengikuti mobil Tika yang pastinya menuju apartemen Juna. Setiap hari Tika selalu pergi dan jarang sekali berada di perusahaan.


Langkah Diana terhenti saat buntutnya yang selalu membuat onar masuk mobil lebih dulu. Diana hanya bisa pasrah saja membiarkan Isel ikut.


"Mami, Mama kita ingin pergi ke mana?"


"Apartemen Uncle Juna,"


"Ye. Ketemu dengan Aunty Shin." Isel lompat-lompat duduk di belakang dengan penuh semangat.


Mobil Aliya tidak berhasil mengejar Tika karena kecepatan yang di atas rata-rata. Al semakin tidak nyaman mengikuti Tika yang semakin pendiam.


"Sel, jika kamu diam tiba-tiba, biasanya karena apa?"


"Emh ... Isel marah, kecewa, sakit hati, kesal, dan banyak pikiran. Paling seringnya ...."


"Kamu tidak pernah diam." Diana menutup mulut Putrinya yang bisa-bisanya sakit hati dan banyak pikiran padahal Diana menyediakan segala kebutuhan tanpa harus dia bersusah berpikir.


"Mama ini emosian sekali, tidak sadar wajahnya hampir keriputan." Isel langsung menjauh sebelum cubitan mendarat di pahanya.


"Anak kurang ajar,"


"Bukannya itu mobil Genta, sepertinya dia juga mengikuti Tika?"


Diana melihat ke arah mobil, teriakan Isel terdengar memanggil Genta karena dia tahu mobil Uncle yang selalu membawanya jalan-jalan.

__ADS_1


Mobil Tika tiba di apartemen, langsung berjalan masuk seperti biasanya. Suara pertengkaran Juna dan Shin terdengar. Tika langsung masuk melihat Shin yang menangis histeris meminta cerai.


"Aku ingin pulang, kamu tidak seharusnya menahan aku di sini." Shin menarik tangan yang digenggam oleh Juna.


"Aku suami kamu,"


"Sudah aku katakan ceraikan aku!"


"Jika kalian bercerai, aku juga akan menceraikan Kak Genta. Kita pergi bersama-sama ke tempat yang jauh dan menenangkan diri." Tika meneteskan air matanya memeluk Shin erat.


"Kenapa kamu melakukan ini Tika? semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kamu. Aku ingin menenangkan diri, lebih baik kamu pergi." Shin melepaskan pelukan, mendorong Tika untuk menjauh.


"Setiap hari selalu mengusir aku, kita temui Reza bersama-sama untuk menemukan jawabannya. Jikapun terjadi sesuatu, kamu harus menerimanya karena Kak Juna juga tidak mempermasalahkannya." Kepala Tika dan Juna melihat ke arah pintu yang membunyikan bel.


Mendengar ada tamu, Shin langsung berlari ke kamarnya. Tika tersentak kaget saat menyadari Genta ada di dalam apartemen, melihat tangannya yang mencengkram kuat kartu.


Pukulan Genta mendarat kepada Juna, masalah kondisi Shin memburuk namun dirahasiakan darinya.


"Ini alasan kamu menikah Shin? aku akan membawa Shin,"


"Tidak ada yang bisa membawa istriku. Kamu tidak punya hak atas Shin, dia menjadi tanggungan Juna." Tatapan mata Juna tajam, menarik tangan Genta yang seharusnya lebih baik diam.


"Kamu menyembunyikannya Juna!"


"Aku hanya menyembunyikan aib istriku! apa bagusnya jika banyak orang yang tahu, selama Reza tutup mulut tidak ada solusinya. Aku mencoba menjaga mental Shin agar perlahan dia menerima dan berlapang dada atas apa yang terjadi karena aku mencintainya menerima semua masa lalunya. Apa yang akan Kak Genta lakukan? membunuh Reza! silahkan jika itu solusinya." Juna menepis tangan Genta kuat, menahan emosinya yang memuncak karena usaha Juna dianggap kesalahan bagi Genta.


Suara bel berbunyi masih belum berhenti, Genta menatap ke arah Tika yang hanya diam saja.


"Sejak kapan ini terjadi? sampai kapan kamu menyembunyikan ini dari aku Tika? kamu tahu aku tidak suka ada rahasia di antara kita." Perasaan Genta sangat kecewa kepada istrinya.


"Selamanya, aku tidak ingin banyak orang yang tahu. Semuanya ini sudah terlalu menyakitkan bagi Shin,"


"Aku Kakaknya, apapun yang terjadi kepada aku berhak tahu?!" mata Genta merah merasakan sesak dadanya.


Pintu terbuka, Juna menunjukkan senyuman meminta maaf kepada Maminya karena lama membukakan pintu.


Aliya terlihat marah, meminta Juna menyingkir. Kemarahan Aliya terdengar menunjuk jarinya yang hampir putus menekan bel, tapi tidak ada satupun yang membuka.

__ADS_1


"Hayo kalian semua pasti menyembunyikan makanan." Isel berlari ke dapur mencari makanan, tanpa menyadari adanya pertengkaran.


Pintu kamar Shin terbuka, Isel menatap Shin yang menyisir rambutnya. Senyuman lebar terlihat, memperhatikan makanan di atas meja.


"Aunty, boleh Isel meminta ini?" senyuman Isel lebar, memasukkan makanan ke dalam saku bajunya setelah mendapatkan anggukan dari Shin yang tidak melihat ke arahnya.


Melihat Shin diam, Isel langsung mendekat. Menunjukkan senyuman melihat wajah Shin yang juga melihat dirinya.


"Aunty cantik ...."


"Aku cantik, wajah ini petaka dalam hidupku. Semua orang menginginkannya hanya untuk kepuasan semata. Aku menjijikkan, semua ini karena wajah." Shin menutup matanya, tangannya meraba-raba ke atas dalam laci meja.


Langkah Isel langsung mundur, Shin menggunting rambut panjangnya sambil mengoceh akan merusak wajahnya karena hidupnya tidak ada gunanya hanya menanggung malu.


"Aunty jelek, seperti itu jelek." Tangisan Isel terdengar, berlari kencang memanggil Mamanya.


Diana yang sedang berdebat dengan Juna langsung melihat Isel. Makanan keluar semua dari mulutnya karena menangis ketakutan.


"Kenapa Isel?"


"Aunty tidak cantik lagi, rambutnya digunting semua." Tangisan semakin besar karena merasa bersalah sudah mengatakan cantik.


Arjuna langsung berlari kencang, menendang pintu yang terkunci. Genta juga membantu menendang pintu, sampai keduanya berhasil masuk melihat rambut berserakan di segala tempat.


Tubuh Genta melemas melihat adiknya yang memukuli wajahnya agar menjadi jelek. Juna langsung memeluk, menggenggam tangan Shin yang meremas kuat.


"Sayang, jangan seperti ini."


"Aku hanya membuat malu,"


"Tidak, aku bangga memiliki kamu. Tolong kembali menjadi Shin yang ceria, Shin yang selalu berisik, dan membuat kekacauan. Aku merindukan kamu, tolong jangan sakiti diri sendiri." Air mata Juna menetes, memeluk erat istrinya yang sudah tenang.


Tangisan Diana dan Aliya juga terdengar, tangan Juna meminta semuanya keluar dan bersikap tidak tahu apapun. Shin akan semakin terpukul jika keluarga tahu dia membawa aib.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2