ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HARUS MEMILIH


__ADS_3

Berkali-kali Altha merayu anak dan istrinya untuk liburan, dia besok harus sibuk bekerja kembali.


Aliya masih duduk santai sambil menonton TV, Atika juga dengan santainya tidur di paha Maminya, mengabaikan Altha yang cemberut.


Altha yang kesal langsung mematikan listrik rumah, Aliya dan Atika saling tatap melihat kekesalan lelaki dewasa yang memaksa untuk liburan di hari cutinya.


Suara Juna berteriak terdengar, dia sedang mandi dan air mati karena listrik juga padam.


"Mami, tolong Juna. Mata Juna buta, tidak bisa melihat." Suara teriakan menggema.


"Astaga, Altha kekanakan." Al langsung melangkah ke kamar Juna, melihatnya yang meraba dinding.


Kepala Juna penuh shampoo, suara Aliya tertawa juga terdengar langsung mengambil air untuk membasuh wajah putranya.


Listrik hidup kembali setelah Aliya marah-marah, Juna juga kesal langsung melanjutkan mandinya.


"Ayang, kenapa kekanakan sekali?" Aliya bertolak pinggang melihat Altha yang menarik selimut menutup kepalanya.


Aliya langsung tertawa, merasa lucu dengan tingkah suaminya. Sekarang Al tahu jika Alt tidak bisa berdiam diri di rumah, dia selalu ingin beraktivitas.


"Ayo kita menonton bioskop." Al menarik tangan suaminya.


"Aku mengantuk." Al menolak untuk keluar.


"Sudah tua jangan ambekkan." Tangan Aliya menarik paksa agar Altha mengikuti keinginannya.


"Al ada hal penting yang harus kita bicarakan soal hubungan kita." Altha duduk sambil menatap wanita cantik di sampingnya.


Sebuah surat resmi dari atasan sudah turun, penikahan keduanya sudah lebih dari enam bulan. Altha sudah bisa mengurus surat-menyurat untuk mendaftarkan pernikahannya.


Proses mendaftarkan juga membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, sedangkan perjanjian satu tahun sudah tercatat jika keduanya resmi suami istri.


"Apa alasan kamu menunjukkan ini kepada Aliya? kamu bisa memutuskan sendiri tanpa bertanya." Al mengembalikan surat yang bahkan Al sendiri belum membacanya.


Kepala Altha tertunduk, Al benar jika Altha bisa mengurusnya sendiri dan memutuskan ingin lanjut atau mengakhiri pernikahan.

__ADS_1


Masalahnya bukan status penikahan yang tercatat atau tidaknya, Alt tidak ingin menjalin penikahan hanya tertulis.


"Kamu ingin aku menjadi istri dan melayani kamu? karena itu membahas soal anak." Al tertawa lucu tidak pernah Al bayangan akan mengandung.


"Memangnya salah?"


"Aku tidak ingin hamil, aku tidak ingin memiliki anak. Altha sudah aku katakan jika hanya sekedar saling memuaskan Al siap, tapi untuk hamil Aliya menolak." Tatapan Aliya tajam, dia tidak akan pernah hamil apalagi memiliki anak dari rahimnya.


Altha mengerutkan keningnya, Aliya tidak memberikan alasan dirinya menolak untuk memiliki anak.


Dalam pernikahan bukan hanya soal hubungan intim, Altha tidak pernah memprioritaskan hal itu, tetapi dia ingin hubungan baik.


"Aku tidak bisa menyentuh kamu, jika kamu menolaknya. Hubungan kita bukan sekedar saling memuaskan, tapi ibadah. Anak itu rezeki Aliya, kenapa kamu menolak rezeki?" Altha tidak habis pikir, banyak pasangan yang menanti momongan, sedangkan Aliya menghindarinya.


Altha tidak akan memaksa Aliya untuk bercerita, juga tidak memaksa untuk meminta penjelasan. Setidaknya sebagai seorang suami, Alt sudah tulus untuk memberikan nafkah lahir dan batin.


Aliya langsung melangkah keluar kamar, Alt sungguh tidak paham alasan Aliya. Alt pikir setelah kasus keluarga Al berakhir sikap Aliya berubah, lebih terbuka dan siap meniti kehidupan bersamanya, tapi ternyata belum. Aliya masih memiliki hal lain yang dia tutupi.


"Aku tidak akan memaksa, kamu berkah memutuskan pilihan." Altha menyimpan kembali surat yang entah kapan akan dia urus.


***


Terpaksa Altha menghentikan acara menonton, mengubahnya menjadi makan malam bersama.


"Papi, minggu depan Mami menikah kita harus memberikan kado juga membeli baju baru." Juna menatap sebuah butik.


Aliya setuju dengan Juna, mereka harus datang di acara pernikahan Citra dan Roby.


"Kita beli baju couple." Al memilih baju untuk Altha dan Juna sedangkan Atika hanya duduk diam melihat baju untuk adiknya Mora.


"Mami, apakah Mora juga akan pergi meninggalkan kita?" Tika menatap Aliya yang membawa baju untuknya.


Aliya tersenyum langsung duduk bersama Tika, mengusap kepala si kecil yang masih binggung dengan keluarganya.


"Tidak ada yang namanya saudara yang saling meninggalkan, Mora tidak pergi dia hanya tinggal bersama Mama, sedangkan Tika bersama Papa." Al mengerti alasan Altha meninggalkan Tika bersama Citra.

__ADS_1


Kening Tika berkerut, dia masih tidak terima jika dipisahkan dengan adiknya.


"Sebenarnya, Tika juga bisa bersama Mora dan Tinggal bersama Mama." Senyuman Al terlihat, mengembalikan baju Tika ke tempat semula.


"Jika Tika di sana harus berpisah dengan Papi dan Mami, Tika tidak mau. Kenapa Mora tidak tinggal bersama kita?"


Al tersenyum tipis, Mora masih kecil dan membutuhkan perhatian khusus terutama ASI. Jika Mora tinggal bersama Aliya dan anak-anak yang lain dia akan kehilangan kasih sayang ibu.


Sebaik apapun ibu sambung, ibu kandung tetap yang terbaik. Mora juga masih belum mengerti apapun, berbeda dengan Juna dan Tika.


"Hidup ini adil Tika, hanya saja terkadang kita binggung untuk memilih. Tika pasti ingin Mama dan papa bersatu kembali, tapi Mami pergi dari hidup kalian. Jika Tika sayang mama maka izinkan Mora yang ada di sisi Mama, sedangkan Tika menjaga papa. Kalian dua wanita hebat yang harus menjaga kedua orang tua kalian." Al memeluk Tika lembut.


Jangan membandingkan nasib anak yatim-piatu dan anak yatim juga anak-anak yang kehilangan salah satu orang tuanya karena perceraian.


Mereka memiliki luka masing-masing, meskipun Atika tinggal bersama Papanya, masih mempunyai banyak waktu untuk bertemu Mamanya, begitupun dengan Mora.


"Sekarang pilihan ada kepada Tika, mengizinkan Mama bahagia, atau Mama sendirian."


"Tika akan tinggal bersama Mami, tapi mami harus janji kepada Tika tidak akan pergi dan berpisah dengan Papi." Tika menunjukkan jari kelingkingnya, Al langsung menyambutnya sambil tersenyum.


Senyuman Altha juga terlihat, menatap Mora yang memilih baju untuk adiknya.


"Terima kasih sudah membuat Tika mengerti."


"Bukan ini tujuan kamu meminta Atika satu minggu di sana, karena kamu tidak ingin kehilangan Atika dan Juna." Aliya tertawa kecil, Altha terkadang ada liciknya, menggunakan perasaan anak-anak untuk dibandingkan.


"Aku takut Aliya jika suatu hari kehilangan semuanya, hanya Tika dan Juna yang aku miliki. Apa aku bisa membahagiakan mereka?" Alt duduk sambil tersenyum melihat putrinya.


"Bisa, aku sudah berjanji akan menjaga mereka. Kamu tidak sendirian, ada Al yang bertugas menjaga anak-anak." Senyuman manis Al terlihat.


"Benarkah? kamu juga tingkahnya seperti anak-anak, karena itu tidak ingin memiliki anak." Tatapan mata Altha tajam, menyindir Aliya yang sudah cemberut.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2