
Kening Juna berkerut melihat Tika yang mengomel sendiri, dirinya panik sendiri karena Genta ingin datang.
Mendengar Tika yang mengomel, Shin menghela napasnya, memasukkan nasi menggunakan tangannya.
Kepalanya pusing mendengar Tika, apalagi sudah menganggu keromantisan dirinya dengan suaminya.
"Tika, kamu bisa keluar tidak? urus kak Genta jangan membuat rusuh di sini." Shin memonyongkan bibirnya, memaksa Tika untuk keluar dan tidak menganggu dirinya.
Suara pintu ditutup kuat, Juna dan Shin sama-sama terkejut. Atika sudah pergi tanpa mengatakan apapun.
"Apa yang Tika takutkan dari Kak Genta? dia pria yang sangat lembut." Juna langsung berdiri pamit untuk pergi ke rumah sakit.
Langkah Juna terhenti, langsung mendekati Shin kembali melambaikan tangannya di depan wajah Shin.
"Ay Juna," panggil Shin binggung.
"Warna apa yang kamu lihat? gelap atau berwarna?" Juna langsung duduk, melihat lebih dekat mata Shin.
Shin tersenyum, dirinya terkadang melihat kegelapan juga ada warna yang tidak jelas. Obat-obatan yang Juna berikan cukup bagus untuk proses penyembuhan.
Kekhawatiran Juna salah, Shin tidak perlu melakukan operasi mata. Dirinya melakukan pengobatan secara tradisional karena resikonya juga tidak besar.
"Dunia medis memang sudah hebat, tetapi Shin punya cara sendiri untuk pengobatan." Senyuman Shin terlihat.
"Berapa lama prosesnya? aku sudah menjadwalkan untuk pengobatan." Juna mengambil buku yang Shin raba.
Kepala Shin tertunduk, tidak menyangka jika Juna masih memikirkan dirinya. Jika Shin tahu, dia tidak mungkin melakukan pengobatan sesuai buku, lebih baik menunggu Juna.
"Kapan Shin bisa melakukan pemeriksaan?"
"Tanpa aku jelaskan, kamu jauh lebih paham soal kondisi mata kamu. Akan aku hubungi kapan waktunya, apapun perubahan kondisi mata segera hubungi rumah sakit." Juna langsung pamit pergi.
Tangan Shin menahan tangan Juna, memintanya menjelaskan kondisi matanya sesuai prediksi Juna.
Ucapan Juna benar jika dirinya sangat mengetahui kondisi dirinya, tapi Shin juga ingin tahu secara langsung menurut penghitungan Dokter.
"Kamu hampir mengalami kebutaan permanen, tapi hanya 20% kegagalannya, dan kita memiliki kesempatan besar dengan dunia medis yang sekarang." Panjang lebar Juna mejelaskan apa yang sudah dirinya teliti.
__ADS_1
"Ay Juna terlalu jujur, tidak pernah menutupi kemungkinan buruknya." Shin tersenyum lembut.
"Lebih baik kamu tahu kabar buruknya, sehingga bisa mempersiapkan diri, daripada aku memberikan harapan." Tatapan Juna melihat ponselnya langsung menjawab panggilan.
"Aku pergi dulu." Juna menatap layar ponselnya, ada pemberitahuan soal pengobatan Shin.
"Hati-hati di jalan Ay Jun,"
Juna meminta Shin ikut dirinya, setelah Juna menyelesaikan pekerjaan langsung mengantar Shin ke rumah sakit.
Jika besar kemungkinan, Juna sendiri yang akan melakukan operasi untuk mata Shin. Ada kabar baik dari rumah sakit, soal kondisi Shin.
Lebih cepat lebih baik untuk pengobatan, sehingga Shin juga bisa segera melihat dunia lagi.
"Shin ingin segera melihat dunia lagi, terima kasih Ay Juna."
Arjuna menganggukkan kepalanya, dirinya hanya melakukan tugasnya sebagai dokter. Apalagi Shin orang yang selalu menjaga Tika, tidak mungkin Juna diam saja.
Banyak orang yang menatap ke arah Shin dan Juna yang keluar dari lift, seorang wanita cantik berjalan bersama pria tampan.
"Pacarnya cantik sekali, tapi sayang buta." Suara pelanggan restoran Shin terdengar.
Mobil Juna melaju pergi, senyuman Shin terus terlihat meraba dasbor mobil Juna. Hati Shin merasa bahagia.
"Kenapa kamu tersenyum setelah dihina? apa ini lucu?"
"Memangnya kenapa jika Shin buta? ini bukan kutukan, tapi sesuatu pelajaran juga peringatan." Shin menatap Juna sambil tersenyum.
Kepala Juna menggeleng, dirinya tidak mengerti yang Shin pikirkan, dia terlalu baik atau bodoh.
Sikap Shin beda tipis, antara orang baik dan bodoh. Hidup mengabaikan ucapan, kritikan orang lain bukan hal yang mudah.
"Kamu tahu, orang baik tidak dibutuhkan di dunia ini?"
"Shin tahu, tetapi sebenarnya ada banyak orang baik. Shin bertemu dengan banyak orang baik, pertemuan dengan Tika sebuah kebaikan yang luar biasa. Bukan hanya mendapatkan sahabat, tapi juga keluarga." Mata Shin tertutup, mengingat moments bertemu Tika.
Dulu mereka dua orang yang saling bermusuhan, Shin sangat mengagumi Tika. Dia gadis kuat, ceria juga mandiri. Banyak orang yang iri padanya, termasuk Shin.
__ADS_1
Bekali-kali orang menjatuhkan Tika, tetapi bukan membuatnya jatuh namun semakin kuat sampai akhirnya Shin membuktikan sendiri.
Bertemu Tika membuat Shin bahagia, dia memiliki teman, musuh, lawan yang imbang, teman yang setia, juga saudara yang saling menjaga.
"Shin juga bertemu keluarga Rahendra, ada Papi Alt yang sangat baik, Mami Al yang tegas juga penyayang. Aku semakin iri dengan kehidupan Tika, dia memiliki keluarga yang bahagia." Air mata Shin menetes, tidak mendengar sedikit jawaban dari Juna.
"Setiap orang memiliki cara bahagia, juga masalah sendiri. Jangan bandingkan masalah kamu dengan orang lain, jangan bandingkan kemampuan kamu dengan orang lain. Kamu juga bisa bahagia." Juna menatap Shin yang mengusap air matanya.
Kepala Shin mengangguk, dirinya sangat bahagia saat bisa tertawa bersama Tika, makan bersama keluarganya. Bertemu dengan keluarga Dirgantara dan Leondra yang luar biasa baiknya.
Apapun yang dibelikan untuk Tika, Shin juga mendapatkan. Tanpa membandingkan keluarga dan orang lain, perlakukan sama antara Shin dan Tika.
"Lalu kenapa kamu pisah dengan Tika? aku mendengarkan kalian berpisah tanpa komunikasi."
"Aku takut kehilangan keluarga yang sangat baik, aku hanya takut sehingga memutuskan untuk memberikan jarak wajar." Shin meraba tisu untuk membersihkan hidungnya.
"Kenapa sekarang kembali?"
Sesaat Shin terdiam, tanpa Shin jelaskan Arjuna juga tahu apa yang Tika lakukan di luar pengawasan keluarga.
Awalnya Shin takut kehilangan keluarga baik, tapi dirinya lebih takut jika tidak bisa melindungi Tika dengan kegilaannya.
"Ternyata kamu tahu jika Tika sedang mengejar seseorang, hal ini juga yang membuat aku khawatir." Juna menghentikan laju mobilnya setelah tiba di apartemennya.
"Kak Juna tahu juga, wanita itu masih berkeliaran." Shin langsung terkejut, dirinya pikir Juna selama ini mengabaikan Tika.
Kepala Juna mengangguk, sebagai seorang Kakak sudah menjadi tugasnya untuk melindungi adik-adiknya, tetapi Juna juga memiliki batasan.
Atika bukan anak kecil usia empat tahun, apalagi sepuluh tahun. Juna sedang menghadapi adiknya yang berusia dua puluh tahun, adik kecilnya sudah dewasa, tidak bisa Juna genggam dan paksa untuk melangkah sesuai jalan yang Juna buat.
"Tika, sejak kecil selalu menyimpan dendam kepada siapapun, terutama kepada Mama. Perpisahan Papi dan Mama bukan hanya menggoreskan luka kepadaku, tapi juga Tika." Juna menghela napasnya, kehadiran Maminya penyelamatan Tika, jika tidak Juna juga tidak tahu nasibnya, adiknya juga Papinya.
Tangan Shin menepuk pundak Juna, dirinya berjanji akan mengembalikan Tika kecil yang penuh Kasih sayang bukan dendam, Shin akan melindungi Tika bahkan dengan nyawanya.
Juna tidak perlu khawatir, Shin akan segera kembali pulih dan menjaga sahabat terbaiknya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira