
Alina masih terdiam melihat Aliya benar-benar kembali, tepat di depan matanya. Langsung menggendong Tika masuk ke dalam mobil.
"Kak Alin ayo kita kembali." Al tersenyum melihat kakaknya yang masih terdiam.
"Aunty, ayo cepat." Tika berteriak meminta Alin segera masuk.
Tatapan Alina masih tajam, melihat Tika dan Aliya tertawa di sampingnya sambil bercerita, mengabaikan dirinya yang sedang menyetir.
"Kak Alin, jangan mengebut ingat kita bersama Tika." Al menyentuh lengan kakaknya agar menurunkan kecepatan.
"Aunty Alin, selalu kebut-kebutan Mami." Tika mengadu kepada Al semua yang Alin lakukan.
Kepala Alina menggeleng, dia masih tidak mengerti bagaimana Tika bisa mengenali Maminya.
Suara tawa Tika terdengar, mencium pipi Alin yang merasa ditipu oleh anak kecil dan dia bisa bersandiwara selama ini.
Aliya juga tersenyum menatap putrinya, bagaimana Tika bisa mengenali Alin dan Aliya.
"Sayang, dari mana kamu tahu?"
Tika merentangkan tangannya, Aliya setiap datang selalu merentang tangannya sedangkan Alina muncul langsung menarik baju, rambut dan tangannya.
Setiap Tika bangun tidur, Maminya selalu ada disisinya, sedangkan Alina harus dicari terlebih dahulu baru terlihat batang hidungnya.
"Selama ini Tika tahu jika Aunty bukan mami kamu?"
"Iya, Tika tahu. Kak Juna juga mengatakannya."
"Kenapa kamu bersikap seakan-akan aku Mami kamu?" Alin mencubit telinga Tika, tapi langsung dilindungi oleh Aliya.
Tika selalu mengingat apa yang Maminya katakan, dia tidak berhak menilai seseorang dari kesalahan yang dia perbuat.
Awalnya Tika juga takut kepada Alina, tapi melihat wajah Alin membuat Tika sedikit lega karena bisa melihat wajah Maminya.
"Tika tidak takut sama Aunty?"
"Takut, tapi lebih takut jika tidak ada Mami disisi Tika." Kesedihan kembali terlihat.
Aliya menakup wajah putrinya, Al berjanji tidak akan pernah pergi lagi dan berjanji akan selalu ada di sisi putra dan putrinya.
Al tahu Tika masih binggung melihat apa yang terjadi, tapi perlahan Al akan menjelaskan.
__ADS_1
"Maafkan Mami yang tidak ada disisi kalian saat kepergian Mora, nanti kita pergi berkunjung ke rumah Dede ya sayang. Tika jangan sedih lagi, kehidupan tidak ada yang abadi sayang." Al mencium kening putrinya sambil meneteskan air matanya, karena sangat merindukan kedua anaknya dan suaminya.
Alina menyentuh tangan Tika, gadis kecil yang pintar. Dia menutupi rasa takutnya dengan canda dan tawa.
Bisa tinggal bersama Tika, juga bercerita dengan Juna membuat Alin merasa dirinya menjadi manusia.
"Tika bahagia punya Mami dan Aunty yang akan menjaga Tika."
Aliya tersenyum, menyentuh tangan kakaknya yang juga merasakan haru. Alin tersenyum dan langsung menepis air matanya, Al berhasil mendidik Tika.
Mobil berhenti di restoran, Tika mengandeng tangan Al dan Alin sambil tersenyum. Dia sangat bahagia bisa melihat Maminya kembali.
Sikap manja Tika terlihat, tidak ingin makan sendiri dan ingin disuap oleh Maminya. Alin menatap tajam, langsung mengambil makanan Tika.
Pukulan mendarat di punggung Alin, Tika langsung menangis melihat Aliya menyuapi Alina, sedangkan dirinya juga lapar.
"Aunty jahat, ini Maminya Tika tahu." Mulut Tika penuh mengunyah makanannya.
"Dia juga adiknya Aunty tahu." Alin juga ingin makan disuap.
Aliya hanya tertawa melihat keduanya bertengkar, Al bahagia melihat kakaknya sedikit berubah dan terlihat ceria.
"Kak, Al baik-baik saja. Kita bisa bahagia bersama kak, dan meniti jembatan saling menggenggam. Kak Alin tidak boleh melepaskan kembali tangan Aliya." Al menyentuh tangan kakaknya, menepuknya pelan.
"Al, aku sudah banyak melenyapkan orang, semuanya aku lakukan dengan sengaja, tidak ada rasa menyesal sedikitpun. Apa aku masih layak dinyatakan sebagai manusia? aku harus kembali di mana tempat aku seharusnya." Alin menatap ke arah minumannya.
Aliya menggelengkan kepalanya, Al dan Alin memiliki kehidupan yang sama, jika Aliya bisa menemukan kebahagiaan maka Alina juga bisa.
"Aunty, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri." Tika mengikuti ucapan Papinya yang selalu tersenyum meskipun dirinya melakukan kesalahan.
"Kamu tidak mengerti Tika."
"Kata Papi, setiap kejahatan ada hukumnya dan kesalahan bukan untuk menghakimi jika kamu selamanya jahat, selama kita hidup berarti ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Benar tidak Mami?" Tika juga binggung dengan ucapannya.
Al menganggukkan kepalanya, kesalahan di masa lalu tidak bisa dikembalikan, tapi masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengubah menjadi lebih baik agar yang terjadi di masa lalu tidak terulang kembali.
Tika memberikan jempolnya, Alina langsung tertawa mencium Tika. Banyak hal yang ingin Aliya bicara, tapi untuk sekarang Al ingin menemui keluarganya kembali.
Alin tersenyum, dia bahagia melihat Aliya kembali dan sebaiknya dia segera melihat suaminya yang sedang sekarat.
"Siapa yang sekarat Aunty?"
__ADS_1
"Papi kamu, hatinya sekarat menahan rindu." Alin tertawa diikuti oleh Aliya yang juga sangat merindukan Altha.
Sebelum pulang ke rumah, Aliya, Alina dan Atika pergi untuk menjemput Arjuna terlebih dahulu.
Mobil Alin berhenti, dari kejauhan sudah melihat Arjuna yang berjalan menuju parkiran. Aliya langsung keluar dan membiarkan Tika dan Alin tetap di mobil.
"Arjuna." Al tersenyum melihat putranya yang menghentikan langkahnya.
"Mami." Juna langsung melangkah memeluk Aliya, Juna tidak kuasai menahan air matanya sehingga tumpah di pelukan Aliya.
Tangan Al mengusap kepala putranya, menepuk pelan punggungnya yang terasa memikul beban berat.
"Juna, kamu kuat sayang. Anak Mami lelaki yang kuat dan mampu melewati masalah ini, besarkan hati kamu, lapang dada dan terima apa yang terjadi meskipun tidak sesuai harapan kamu." Al memeluk erat, kasihan melihat Juna yang kehilangan sandaran.
"Kenapa Mami lama sekali meninggalkan Juna?"
"Maafkan Mami, sekarang Mami di sini. Juna sudah bisa bersandar kepada Mami." Al mengusap air mata putranya, merangkulnya masuk mobil.
Alina menatap Juna yang ternyata cengeng sekali, selama ini dia berusaha menahan air matanya dan sekarang baru bisa dia luapkan di depan Maminya.
"Sudah saatnya aku pergi." Alin menatap Aliya, dan anak-anak.
"Kamu ingin pergi ke mana? ingin melakukan kejahatan lagi?" Juna menatap tajam Alin.
Tatapan Alin tajam, langsung ingin mencubit Juna, tapi langsung berlindung kepada Maminya.
"Aunty tidak boleh pergi, tunggu Papi mengusir Aunty." Tika tertawa mengejek Alina yang harus menjadi supir mereka.
Aliya meminta Alin segera pulang, banyak hal yang ingin Aliya bicarakan, dan dia juga ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.
Kening Alina berkerut, masih penasaran dengan wanita yang membawa Aliya pergi. Salah satu pengacara juga menghilang.
"Siapa nama pengacara itu?" Alin lupa nama yang dia selidiki karena status Anggun sangat bersih.
"Mami, Aunty Anggun tidak pernah terlihat lagi."
Aliya tersenyum, Anggun sudah kembali dan mungkin sedang menemui lelaki yang dicintainya.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1