
Suara tawa terdengar masih mengejek Gemal dan Diana, Di hanya tertunduk malu meminta pembelaan Daddy-nya, karena meminta bantuan Gemal sama saja bohong. Suaminya sendiri yang memancing banyak orang untuk menggodanya.
"Kalian berencana bulan madu ke mana Gem?" Dika menatap Gemal yang masih tertawa.
"Mungkin beberapa hari atau minggu pulang ke negara Papa, sekalian memperkenalkan Diana dengan keluarga dan membawanya ke makam generasi satu sampai empat." Gemal mengunyah makanannya.
Pukulan dipunggung Gemal kuat, dia langsung teriakan kesakitan melihat Papanya yang suka sekali memukul dirinya.
"Keterlaluan, Nenek Kakek kamu masih sehat Gem. Ada di depan kamu, Mama dan Papa juga belum almarhum. Beraninya kamu mengatakan sampai generasi keempat." Calvin terlihat marah melihat putranya tertawa.
Gemal memegang perutnya, tidak bisa menahan diri. Dirinya tidak bermaksud menghilangkan nenek kakek, apalagi orangtunya.
Mulutnya hanya asal sebut saja, tidak menyangka jika Papanya menyadari ucapnya.
Bukan hanya Gemal yang tertawa, Kakek Ken juga tertawa terpingkal-pingkal melihat keributan kecil cucu dan anaknya.
"Diana bersedia ikut ke sana?" Mam Jes mengusap rambut Di.
"Diana ikut ke manapun Gemal pergi." Di tersenyum memeluk Mam Jes.
"Jangan lama-lama, nanti Mommy kangen." Anggun memeluk Putrinya yang sudah harus menuruti perintah suami.
Rencana bulan madu Diana dan Gemal sudah keduanya bahas sebelumnya, bahkan Gemal sudah bicara dengan Altha soal Arjuna yang akan lanjut sekolah di luar negeri.
Juna akan ikut langsung dengan Gemal dan menunjukkan tempat kuliah lama Gemal, terutama untuk siswa terbaik.
Alt juga tidak terlalu mengkhawatirkan Putranya jika ada yang menjaganya, terutama ada keluarga besar Gemal.
Kakek dan neneknya ada di sana, Calvin dan Jessi juga dalam satu bulan pasti akan kembali ke sana untuk melakukan pekerjaan, sekaligus menjenguk Juna.
"Juna, kamu tinggal di rumah nenek saja. Kakek dan Nenek hanya tinggal berdua, jika ada kamu sedikit ramai." Nenek menatap Juna yang langsung melihat ke arah Maminya.
Segala keputusan ada pada Maminya, jika Al mengatakan iya maka Juna tidak pernah membantahnya.
Mam Jes mengerti dengan tatapan Juna, langsung menyentuh tangan Aliya untuk meyakinkannya jika Juna aman berada di Mansion.
"Al, kamu bisa mengawasi Juna di sana, dan dia bebas melakukan apapun kecuali membawa pacar untuk bermalam. Agama masih sangat dijaga." Mam Jes mengejek Juna yang sudah pasti tahu cinta-cintaan.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin lebih baik Juna tinggal bersama Nenek dan Kakek Ken. Tidak ada pacaran ya Juna? teman boleh, pacaran belum." Al memperingati putranya yang menganggukkan kepalanya.
"Dalam kepala Juna hanya ada belajar, tidak ada perempuan dalam hidupnya kecuali mamiku." Dika tertawa melihat senyuman Juna.
Tika mendengar rencana bulan madu Diana, langsung ikut duduk mendengarkan. Tika juga ingin ikut mengantar kakaknya.
"Siapa saja yang pergi?" Altha menatap Calvin.
"Aku dan Jessi, Mama dan Papa juga kembali. Pengantin dan Arjuna," jawab Calvin.
"Atika juga mau ikut, Tika ingin mengantar kak Juna." Tangan Tika terangkat tinggi.
"Kamu sekolah Tika, ada ujian juga." Altha menatap tajam putrinya.
Suara teriakan Tika terdengar, langsung memeluk Maminya meminta pembelaan karena dirinya ingin ikut. Tika berjanji tidak nakal, menuruti perintah Diana asalkan dia bisa pergi mengantar kakaknya ke sekolah baru.
Aliya mencoba menjelaskan kepala putrinya, jika tidak ada yang bisa pergi. Al juga ingin pergi, mengantarkan putranya, tetapi Al tidak bisa.
Ada banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan, apalagi Atika ingin ujian, Ria dan Juan juga sudah sekolah.
"Tika tidak punya urusan di sini Mommy, Tika tetap ingin ikut." Tatapan Atika langsung tajam.
"Masih bisa ditunda Mami, tapi pergi mengantar kak Juna satu kali seumur hidup." Tika langsung ngambek kepada Maminya.
Aliya memutuskan diam sesaat, putrinya Tika memang sangat terbiasa keinginan harus dituruti.
Al menganggukkan kepalanya, mengizinkan Tika untuk pergi bersama Diana, dan tidak akan melarangnya.
"Bagi Mami hal yang penting, tidak penting bagi Tika, maka lakukanlah. Terserah kamu." Al langsung diam.
Diana menahan tawa, jika Aliya sudah mengatakan terserah dunia langsung kebalik. Sebelum dirinya bersikap dingin.
Tatapan Juna juga sudah tajam, meminta adiknya Tika mendekati Maminya untuk meminta maaf.
Tika langsung melangkah pergi, melaporkan kepada adik-adik jika Diana dan Gemal akan bulan madu, Arjuna juga ikut bersama untuk melihat Mansion keluarga Gemal.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Ria, Juan, Dean menatap keluarga yang sudah diam tidak membicarakan soal jalan-jalan keluar negeri.
__ADS_1
"Mami, Ria juga ingin ikut kak Di bulan madu."
"Terserah kamu." Al tidak ingin membatah lagi.
Tika saja tetap memaksa ingin pergi, apalagi Ria yang selalu berdebat habis-habisan, sampai akhirnya menangis.
Dean juga sudah merengek kepada Mommynya, memaksa untuk ikut. Anggun sudah berusaha menjelaskan jika Dean harus sekolah, tetapi tetap tidak ingin mendengarkan.
"Tidak ada yang boleh pergi, baik Dean, Tika, Juan apalagi kamu Ria. Pendidikan penting, jadi utamakan. Kalian pikir kak Juna senang jauh dari keluarga, kak Juna pergi demi pendidikan." Suara Juna terdengar tegas membuat adik-adiknya diam.
Bibir Ria monyong, langsung menarik baju Gemal minta digendong. Duduk dipangkuan Gemal yang masih sibuk makan cemilan.
"Ria ikut kak Gemal saja, bukan ikut kak Juna." Ria memeluk Gemal.
Calvin langsung tertawa, Ria si kecil yang licik. Dia tidak ingin membatah kakaknya, tapi tidak mengurangi sedikitpun keinginan tetap untuk ikut, dan merayu orang lain yang bisa menguntungkannya.
Gemal langsung melotot, menarik hidung Andriana. Menasihati Ria untuk sekolah, nanti saat libur sekolah baru jalan-jalan ke sana dan menjenguk Juna.
"Kesempatan tidak datang dua kali, Ria tidak bisa menunggu."
"Ria, kamu bisa tidak berhenti menganggu hidup orang lain?" Diana menatap sinis.
Tatapan mata Ria sinis, langsung menarik rambut Diana dan memeluk erat Gemal meminta perlindungan. Ria kesal sekali dengan ucapan Diana yang mengatai dirinya sebagai pengganggu.
Gemal tertawa melihat tingkah Ria, meminta Diana berhenti untuk membalasnya. Ria hanya jahil sama seperti Di.
"Kapan rencana berangkat Gem?"
"Besok atau tidak besoknya lagi Daddy, tergantung Diana. Soalnya dari semalam bermain sampai Diana kelelahan, takutnya semakin lelah." Gemal langsung bangkit dari kursinya, menghindari Diana yang menatapnya setajam Elang.
Juna menggenggam tangan Maminya yang semakin dekat keberangkatan Juna, semakin terlihat murung dan sedih. Al belum siap melepaskan putranya, dan masih terus mengkhawatirkannya.
"Mami, jika tidak mengizinkan Juna pergi cepat, kita undur saja tahun depan." Juna mengusap telapak tangan Aliya.
"Tidak Juna, pendidikan kamu penting. Juna hanya harus menghubungi Mami setiap hari dan apapun yang dilakukan harus izin terlebih dahulu." Aliya tersenyum melihat putranya yang sangat pengertian.
"Mami masih punya Tika, jangan sedih." Atika memeluk dari belakang, mencium pipi Maminya.
__ADS_1
Al mengusap air matanya, tidak rela anak-anaknya cepat besar sehingga harus berpisah.
***