ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SURGA


__ADS_3

Pintu apartemen terbuka, jantung Shin berdegup saat melihat Juna yang membukakan pintu apartemen. Kedatangan Tika dan Shin juga membuat Juna binggung dan heran.


Tika langsung melangkah masuk diikuti oleh Shin, keterkejutan Shin lebih besar saat melihat Li sedang duduk bersama Citra sambil menikmati makanan.


Keduanya mengobrol penuh canda dan tawa, kedatangan Tika menghentikan obrolan serius Citra bersama Li.


"Apa maksudnya membahas soal pernikahan? jangan harap aku mengizinkan kak Juna menikah dengan kamu." Langkah Tika terdengar menggema mendekati Citra yang tersenyum bahagia melihat Tika datang.


"Sayang, Mama hanya bertanya kesiapan Li soal pernikahan," ucap Citra lembut.


"Kamu tidak punya hak atas hidup Kak Juna, jangan atur jalan hidupnya. Kami terlahir dari Mama yang salah, dan di besarkan oleh Ibu sambung. Tika bertanya-tanya di mana surga Tika yang ada dibawah telapak kaki Ibu." Air mata Tika menetes, melihat Citra hanya membuat hati Tika semakin sakit.


Juna yang mendengar ingin menghentikan, tapi Shin menahannya agar Tika bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Maafkan Mama Tika,"


Kepala Tika menggeleng, dirinya tidak membutuhkan kata maaf. Dia hanya menginginkan jawaban di mana surga yang selalu orang katakan ada di bawah telapak kaki Ibu. Beribu-ribu kali Tika bersujud, sebesar apapun mencintai Maminya orang mengatakan surganya ada pada Citra.


Citra yang mengandung, melahirkan dan menyusui, meksipun pada akhirnya meninggalkannya penuh luka.


"Kamu tahu, Tika sangat membenci sekolah karena anak lain selalu mengejek Tika jika tidak punya surga, dan mereka mengasingkan Tika yang hanya memiliki neraka dalam hidup. Ini juga sebab aku selalu bertengkar karena aku punya Mami yang mencintai aku lebih dari surgaku. Apa maaf bisa melupakan sakitnya Tika? tidak bisa." Tangisan Tika terdengar diikuti oleh Citra yang juga meneteskan air matanya.


Shin mengusap punggung Tika, tujuan mereka bukan untuk mencari surga ada pada siapa. Tika yang dulu dan sekarang sudah berbeda.


"Maafkan aku, seharusnya saat itu kita sudah bertemu sehingga kamu tidak terluka. Kamu memang tidak seberuntung anak lain yang bersama Ibu kandungannya, tapi kamu jauh lebih beruntung dari aku Tik. Mempunyai Mama, dan juga Mami yang mencintai kamu." Shin tersenyum manis, dirinya bahkan tidak pernah tahu di mana surganya.


Shin tidak tahu wajah Ibunya, tidak memiliki kenangan apapun. Jika Shin bisa mendapatkan jawaban dari Tuhan, mungkin dia sudah bertanya. Apa Shin harus mati agar bisa menemui surganya?


"Jangan bandingkan keberuntungan orang di atas kamu, tapi rasakan kurang beruntung orang di bawah kamu." Shin mengusap air mata Citra, meminta berhenti menangis, ucapan Tika memang selalu menyakitkan, tapi Shin menjamin tidak ada wanita yang lebih baik dari Tika.


"Maafkan Mama, hanya maaf yang bisa Mama katakan."


"Tante, sabar ya. Akan ada waktunya Tante tertawa bersama Tika, Shin tahu di sini juga bukan hanya Tika yang sakit, Tante merasakan hal yang sama. Anak muda memang selalu menyalahkan tanpa merasakan." Senyuman Shin sangat menenangkan Citra karena penuh ketulusan.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu rasanya berpisah dengan anak seberat apa selain Citra, bertahun-tahun menunggu penuh harapan. Hanya bisa memimpikan tumbuh kembang anak-anaknya melalui hitungan hari. Waktu terasa sangat lama, sedangkan hati semakin rindu, padahal tahu diri tidak mungkin bisa bertemu.


Bayangan saat mengandung, melahirkan menyiksa batin namun menjadi obat rindu, pertanyaan keadaan anak-anak, tumbuh kembangnya tanpa ada jawaban.


"Mama Citra hebat, wanita kuat karena bisa melewati masa sulit dengan siksa batin yang besar. Saat ini jangan katakan maaf, tapi jalani sesuai apa yang tertunda. Mama bisa berjalan keluar bersama anak-anak, meskipun selalu ditolak, terus saja pasti ada waktunya hati mereka luluh. Jangan menyerah selama kita hidup." Shin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasakan sakit dengan ucapannya.


Tangan Citra mengusap kepala Shin, memeluknya lembut agar berhenti menangis. Hanya Shin yang paham apa yang Citra rasakan dan tahu apa yang dirinya pikirkan.


"Kamu pernah bertahan, kenapa sekarang menangis?" Citra mengusap air mata Shin.


Kepala Shin menggeleng, dirinya tahu rasanya menunggu penuh harapan, tapi sekarang harapan Shin tidak akan pernah terwujudkan. Bukan karena dirinya menyerah, tapi memang tidak ada kesempatan.


"Doa Shin hanya satu bisa bertemu Mama dan Papa, melihat wajah mereka meksipun hanya dari kejauhan, tapi mereka sudah meninggalkan Shin tanpa pamitan, belasan tahun aku menunggu, hasilnya mengecewakan." Air mata Shin tumpah dalam pelukan Citra dan bisa melihat perubahan wajah Li.


Liana melangkah pergi tanpa pamitan dengan Citra, bahkan Juna tidak mengantarkan dirinya keluar dari rumah. Tika mengambil ponselnya mematikan CCTV, dan mencari beberapa perekam.


Tika tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka setelah drama tangisan yang dipermainkan oleh Tika dan Shin. Meskipun semuanya nyata kisah hidup mereka.


"Sudah, kamu sudah makan belum? Tika kamu sudah makan Nak?"


"Sudah makan hati, Shin kenapa tadi kamu mencium Pria lain?"


"Kak Genta bukan orang lain, Kakak aku." Shin memeluk Tika yang masih belum melupakannya.


Juna menatap dua orang yang masih berdebat, Citra tersenyum melihat hubungan Shin dan Tika yang seperti saudara kembar.


Juna mendengar ucapan Tika soal Shin mencium Genta berarti Shin sudah tahu hubungan mereka, Genta sudah mengatakan kebenarannya. Kemungkinan besar ada beberapa orang lain yang tahu.


"Juna, kamu tidak pergi. Katanya ingin pulang ke rumah Mami."


"Bagaimana Juna bisa percaya meninggalkan Mama dengan dua makhluk ini?" Juna mengerutkan keningnya melihat tatapan mata Shin dan Tika yang sama tajamnya.


Tawa Citra terdengar, merasa lucu dengan kekesalan Juna yang tidak bisa akur dengan adiknya sendiri.

__ADS_1


"Ada keperluan apa kalian datang?" Juna menatap ponselnya langsung melangkah pergi untuk menjawab panggilan.


Atika duduk di depan Citra, memintanya menjelaskan karakter Li sambil menunjukkan sebuah lambang.


"Li pernah tidak menggunakan lambang ini?"


Sesaat Citra terdiam, mengambil ponsel Tika untuk memperhatikan gambar yang sebenarnya pasaran.


"Ada apa memangnya?"


"Jawab saja, jangan bertanya balik." Tika menatap kesal.


"Mama mengetahui lambang ini sejak kapan? Shin yakin sudah cukup familiar."


Ucapan Shin, Citra benarkan. Jika mempertanyakan soal gelang Li, Citra tidak terlalu memperhatikan. Namun saat melihat lambang mengingatkan Citra pada sesuatu.


"Kalian ikut Mama ke kamar, ini perbedaan lambang dulu dan sekarang." Citra membuka sesuatu dan menyerahkan kepada Tika dan Shin yang cukup kaget melihatnya.


"Ini apa?"


Citra menghela napasnya, lambang yang Tika temukan sudah di ubah. Pada saat Citra muda, lambang hanya dimiliki oleh orang dalam yang mengetahui keberadaan markas ilegal sebuah bisnis besar. Saat pemimpin tewas, lambang langsung bocor dan digunakan sebagai peringatan untuk menghindari bisnis ilegal.


"Berarti kita tidak bisa membedakan orang yang masih menjalani dan orang yang memperingati lambang ini?" Shin memijit pelipisnya.


"Ada bedanya,"


"Apa?" Tika terlihat sangat serius.


"Mereka memiliki tato di tempat khusus sesuai lambang ini, tato ini berwarna merah menandakan masih aktif."


****


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2