
Mata Altha terbuka merasakan sesuatu mencium matanya, melihat Aliya ada di hadapannya.
"Kamu ingin bangun jam berapa? meskipun Al tidak pernah ibadah, bukannya kamu harus ibadah." Al mengusap wajah suaminya yang tidak bisa berkedip.
"Jam berapa ini?"
"Ayo bangun, sekarang sudah jam setelah lima. Juna dan Tika sudah menunggu." Aliya masuk ke kamar mandi.
Altha duduk melihat jam di ponselnya, masih binggung dengan tingkah Aliya. Alt masih mengumpulkan nyawanya.
"Ayang, ayo cepat nanti Atika menangis." Al langsung keluar kamar.
Altha langsung masuk kamar mandi, melangkah keluar mengganti bajunya untuk sholat.
Tatapan Altha terkejut melihat Aliya menggunakan mukenah, Atika dan Arjuna sudah menunggunya.
"Papi ayo sini." Tika sudah berdiri untuk sholat.
Altha mengusap kepala Arjuna langsung menjadi imam sholat mereka, suasana hati Altha terasa tenang dan bahagia melihat ke arah belakang putra dan putrinya.
Aliya mencium tangan Altha, langsung mencium pipinya dan menutup mata Atika.
"Ini ibadah pertama Aliya, rasanya bahagia." Al tersenyum bahagia.
"Kamu tahu tidak bacaannya?" Alt menahan tawa.
Aliya langsung melayangkan pukulan, seharusnya Altha memuji dirinya dan mengatakan kata-kata puitis, dan menyemangati Aliya bukan mempertanyakan bacaan sholatnya.
"Mami tidak tahu bacaannya? sama Tika juga. Sering lupa Tika." Suara tawa Atika terdengar.
Altha juga tertawa, langsung mencium pipi putrinya memeluknya erat karena sangat menggemaskan.
"Belajar lagi ya sayang." Alt mengusap kepala Putrinya.
Arjuna tersenyum melihat adiknya sangat bahagia, Papinya juga bisa tertawa lagi. Melihat moments seperti ini sudah cukup membuat Arjuna bahagia.
"Juna kamu hafal tidak?" Al merangkul Juna sambil tersenyum.
"Mami jangan mempertanyakan Juna, tanyakan diri Mami sendiri." Senyuman Juna terlihat merapikan bekas sholatnya.
Altha meminta anak-anak keluar, dia ingin bersiap-siap untuk pergi bekerja. Aliya langsung menutup pintu lanjut tidur di atas ranjang.
__ADS_1
"Bangun Aliya, jangan banyak alasan dingin." Alt menarik kuat tangan Al yang merengek ingin tidur.
"Masih mengantuk."
"Tidur di kamar kamu sendiri, setelah jam dua belas siang." Alt menjatuhkan Aliya dari atas rajang.
"Suami kejam."
Aliya langsung melangkah keluar, langkah Al terhenti melihat pintu kamar Juna yang tidak tertutup rapat.
Perlahan Aliya membuka, melihat Juna duduk di pinggir ranjang menatap sebuah foto keluarganya.
Senyuman Aliya terlihat, mengusap punggung Juna yang berusaha untuk menerima jika kehangatan keluarga cukup menjadi kenangan.
"Mi, Juna sudah berusaha menata kembali hati yang retak, sungguh Juna sedang mengikhlaskannya." Foto diletakkan di atas meja, Juna hanya bisa melihat bingkai foto untuk selamanya.
"Jangan dipaksa Jun, Mami tahu menata hati yang retak tidak mudah. Kamu tidak harus memaksa diri nanti semakin sakit. Kamu tahu apa yang tidak bisa di genggam?" Al memeluk Juna yang juga membalas pelukan Aliya.
"Angin, bayangan, air, apa lagi Mi?"
Aliya tersenyum, angin bukan hanya tidak bisa digenggam, tapi tidak bisa dilihat hanya bisa dirasakan. Bayangan bisa dilihat, tapi dia pengkhianatan paling nyata, terlihat hanya saat matahari menyinari, dan menghilang di dalam kegelapan.
Arjuna tidak harus langsung merelakan apa yang terjadi, terus berjalan dan habiskan hari dengan hal yang bermanfaat.
Segala yang terjadi akan memiliki akhir, tidak perduli jalan apa yang dipilih.
"Mami kehilangan orang tua saat berusia lima tahun, lalu diangkat oleh orang lain dan mengalami kekerasan sejak kecil hingga dewasa. Kamu tahu alasan Mami tidak menyerah?" Al langsung berdiri, melangkah membuka gorden melihat ke arah luar menatap langit yang mulai terang.
"Mami ingin mengalahkan dia." Al menunjuk ke langit.
"Apa yang ingin Mami kalahkan? langit hanya menatap kita siang dan malam."
Kepala Aliya mengangguk, dia ingin langit menyerah dan berpaling untuk melihatnya menderita. Jika takdir terus mempermainkannya, maka Al akan terus ikut bermain entah sampai kapan permainan itu.
"Mami kesepian, menyalahkan keadaan."
Aliya menggelengkan kepalanya, dia tidak merasa kesepian ditengah banyaknya manusia. Bahkan dirinya selalu bersembunyi agar bisa menenangkan diri, tapi apa daya dunia bukan semakin sepi, namun bertambah ramai.
"Juna, perpisahan paling menyakitkan bukan perceraian, tapi kematian. Kamu bisa melihat Papa Mama kamu di tempat yang berbeda, sedangkan mami, sejauh apapun berlari dan mengejar tidak pernah menemukan ujung." Al berjongkok dihadapannya Juna yang meneteskan air matanya.
"Mami ingin menemui mereka diakhirat?"
__ADS_1
"Iya, ingin aku pertanyakan kenapa kalian kejam? sudahlah kamu ingin makan apa Mami siapkan?" Aliya melangkah keluar, tidak menunggu jawaban Juna.
Al berdiri melihat Altha sudah dilantai bawah bersama Atika, melihat keduanya yang sedang mengobrol bersama.
"Mama, Papa, kenapa Aliya dilahirkan? kenapa kalian mati secara tidak wajar? kenapa tidak kalian bunuh saja Al?" Aliya berteriak kuat membuat Tika, Altha dan Juna kebingungan.
"Kalian tidak pernah memberikan jawaban, jika ada orang yang paling aku benci di dunia ini. Kalian orang yang paling Al benci, Al benci Mama Papa." Cengkraman Aliya erat di tangga.
Senyuman Aliya terlihat langsung melangkah ke bawah melihat Altha yang tidak berkedip sama sekali, Tika langsung memeluk Aliya erat.
"Mami kerasukan hantu di kamar mandi ya?"
"Tika, Mami sedang marah bukan kerasukan." Al langsung duduk di lantai.
Atika tertawa, dia tidak takut sama sekali melihat Aliya. Baginya saat Al marah sebuah pertanda lucu, tidak ada yang menyeramkan dari wajah Aliya.
Juna juga turun, menggelengkan kepalanya langsung menunju ruangan sarapan. Aliya memang ibu gila yang dari pagi sudah teriak-teriak.
"Apa yang harus kita makan Mami?"
"Apapun yang ada di meja?" Al kaget tidak ada makanan sama sekali.
Altha hanya bisa geleng-geleng kepala, langsung menyiapkan susu untuk anak-anak sedangkan Aliya hanya duduk memainkan ponselnya, mengobrol bersama Atika.
"Al, kamu jangan pernah berniat pergi ke rumah lama itu sendirian." Altha menatap tajam.
Meksipun Aliya tidak mengatakan langsung, Alt bisa membaca dari kekesalan Aliya pagi ini. Dia ingin menutut orang tuanya yang sangat kejam.
Mengasingkan kehidupan mereka, dan mati tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Kenapa?"
"Kamu tidak akan mendapatkan jawaban dari apa yang ingin kamu pertanyakan. Dengarkan aku sekali ini saja, jangan pernah pergi sendiri." Alt menekan ucapan agar Aliya mengerti.
Senyuman Al terlihat, tidak memberikan jawaban apapun. Al tidak takut mati, dia hanya takut jika dirinyalah yang sudah membunuh banyak orang.
Jika kebenaran itu terungkap, sekalipun mati Al akan menyambutnya penuh kebahagiaan.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1