ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ORANG GILA


__ADS_3

Perlahan mata Aliya terbuka, menyentuh kepalanya yang terasa sakit karena mendapatkan pukulan.


"Astaga kepalaku putus." Al menyentuh kepalanya yang berdenyut.


"Belum Mami, itu kepalanya masih utuh." Tika memberikan kaca untuk Maminya.


Altha menahan tawa, Aliya tersenyum melihat wajahnya tidak terluka sama sekali. Masih merasa beruntung hanya luka kecil.


"Siapa orang yang masuk ke dalam rumah? penjagaan memang tidak ada?" Al cemberut melihat Altha yang hanya duduk menahan tawa.


Arjuna juga duduk menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku Maminya yang sangat aneh.


"Kenapa juga Mami sudah tengah malam belum tidur? berkeliaran tanpa penerangan." Juna menggelengkan kepalanya, terheran-heran.


Sejak sore area kompleks perumahan mereka sedang rusuh karena ada orang gila yang masuk, para penjaga rumah diminta berjaga dengan ketat, karena dikhawatirkan dia memasuki rumah.


Sampai malam para penjaga masih berkeliaran, mencari keberadaan orang gila yang masuk ke salah satu rumah elit.


Altha hanya mendapatkan kabarnya, meminta penjaga mengawasi anak-anak. Seluruh lampu sengaja dimatikan agar tidak membahayakan.


Aliya melempar Juna dengan bantal, karena tidak mengatakan apapun kepadanya. Aliya tidak tahu jika orang gila memasuki rumah mereka.


"Kenapa hanya mengingatkan Juna? Al juga masih kecil, tega sekali." Aliya menatap tajam Altha yang menundukkan kepalanya masih menahan tawa.


"Mami lucu, dipukul orang gila sampai pingsan." Tika langsung tertawa.


Altha juga langsung tertawa lepas, menyembunyikan wajahnya yang merasa sangat lucu saat melihat orang gila melarikan diri sambil menjulurkan lidahnya kepada Altha.


"Mami pingsan karena dipukul menggunakan cangkul." Tika menutup mulutnya, merasakan lucu.


Altha tidak bisa berhenti tertawa, dia melupakan jika di rumahnya bukan hanya ada tiga anak kecil, tetapi empat anak kecil.


Aliya langsung berdiri, memukuli Altha yang masih mentertawakan dirinya. Kedua tangan Aliya menjambak suaminya yang masih saja tertawa.


Juna juga tersenyum melihat Papanya bisa tertawa lepas, selama satu tahun ini Mama Papanya bahkan jarang berbicara.


Makan bersama saja hampir tidak pernah, Papanya pergi Mamanya di rumah, begitupun sebaliknya saat papanya di rumah Mamanya sibuk bekerja.


"Altha diam."


"Kamu konyol, usia kamu sudah dua puluh tahun. Di depan rumah sudah jelas tulisan, tapi tidak dibaca. Orang gila masuk kamu tabrak, alhasil dipukul." Alt menutup mulutnya agar berhenti tertawa.


"Tidak ada yang lucu, bagaimana jika kepala Aliya dia cangkul?" Al menyentuh kepalanya, tidak bisa membayangkan jika sampai belah.

__ADS_1


"Cangkul tidak ada, hanya pentungan saja mirip cangkul." Juna menimpali, membuat Aliya semakin depresi.


Altha dan Tika tertawa lepas, sungguh lucu melihat Aliya yang wajahnya kesal.


"Keterlaluan, Al bakal menuntut keadilan."


Altha menahan Al untuk pergi, orang gila tidak bisa dia tuntut. Sekarang juga sudah tertangkap dan dibawa ke rumah sakit jiwa.


"Al harus ke rumah sakit, mungkin kepala aku sudah gegar."


Altha menarik tangan Aliya keluar, Altha rasa tidak membutuhkan dokter. Di depan pintu kamar penuh warna merah, orang gila yang memukul Aliya menumpahkan minuman fanta sampai akhirnya terlihat seperti darah.


Kepala Aliya tidak luka sama sekali, Alt tersenyum mengacak rambut Aliya yang terurai.


"Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat."


Aliya kembali ke kamar, sungguh dirinya malu jatuh pingsan karena melihat tumpahan minuman yang dia pikir darah yang keluar dari kepalanya.


***


Altha kembali bekerja seperti biasanya, menatap memori yang dia ambil dari Aliya. Dimas mengetuk pintu langsung memberikan hormat kepada atasannya.


"Tumben, biasanya kamu tidak ada sopan santunnya."


"Biasalah, namanya juga di kantor." Dimas duduk di atas meja memperhatikan memori yang menjadi pusat perhatian Altha.


Dimas hanya diam saja, merasa kasihan juga melihat Altha yang masih banyak keraguan. Alt memiliki banyak tanggung jawab termasuk keselamatan timnya, tapi di sisi lain dia harus menutupi rahasia keluarga.


"Boleh aku memberikan saran?" senyuman Dimas terlihat, meminta Altha bicara baik-baik dengan Citra soal anak, karena apa yang mereka putuskan untuk masa depan anaknya.


Altha setuju, dia tidak akan marah karena pada kenyataannya Altha dan Citra sudah sah bercerai. Surat dari pengadilan juga sudah keluar, Alt baru saja membacanya.


"Aku pergi dulu Dim" Altha melangkah keluar, menepuk pundak Dimas yang juga melangkah bertemu tim yang lainnya.


"Dimas, bisa aku meminta bantuan. Awasi pengacara Anggun, dia ada sangkut pautnya."


Dimas cukup terkejut, Anggun ada terlibat. Berarti sudah pasti Anggun mengenal ayah kandung Mora.


"Telpon saja, mungkin aku juga mengenali pria ini." Dimas menghubungi Anggun, menanyakan keberadaannya.


Selesai mengetahui keberadaannya, Dimas langsung bergegas pergi untuk berbicara sesuatu.


Karena nada bicara pengacara cantik sedang jutek, terpaksa Dimas merayunya dengan kue kesukaannya.

__ADS_1


Di taman Dimas melihat Anggun duduk bersama seorang pria sedang menangis sambil bercerita.


"Aku rasa mengenal pria ini, astaga Roby. Dia pria baik-baik tidak mungkin mencintai istri orang." Dimas tersenyum sinis menyadap pembicaraan keduanya.


Anggun mengucapkan terima kasih, karena dulu Roby sudah banyak membantunya sampai dirinya menjadi seorang pengacara.


Karena kecelakaan yang menimpa Roby, membuatnya harus operasi wajah. Dia juga melupakan sebagian ingatan saat kecelakaan.


Dimas hanya bisa duduk diam, mendengarkan kebenaran jika Amora putri dari Roby purba, ayah kandung yang sedang dicari oleh Altha.


Roby menginginkan hak asuh anaknya, meminta Anggun membantunya sampai akhir.


Dimas langsung melangkah pergi, meninggalkan kue yang dia beli untuk Anggun. Lawan Altha seorang pengacara hebat, Dimas mengakui kehebatan Anggun, dia belum pernah kalah di persidangan.


"Kamu harus memiliki bukti yang kuat Altha, jika tidak Mora bisa jatuh ditangan Roby. Apalagi jika Citra dan Roby menikah, maka Altha tidak punya hak sama sekali." Dimas mencoba menghubungi Alt, tapi panggilannya dialihkan.


Dimas melajukan mobilnya, Anggun bisa tahu jika Dimas sudah datang dan memutuskan untuk pergi kembali.


Roby juga pamit pergi, meninggalkan Anggun yang masih binggung. Dimas mengatakan ingin bertemu dan bicara penting.


"Kenapa Dimas meninggalkan kue ini?" Anggun membuka kue, tertulis kata maaf karena tidak bermaksud berbohong.


Dimas memang terbiasa menyembunyikan identitasnya, karena itu dia tidak dekat dengan siapapun.


***


Mobil Altha tiba di kampus, menunggu Citra pulang mengajar mahasiswanya. Berbicara soal kebenaran mungkin jalan terbaik untuk Amora.


Senyuman Alt terlihat, menatap Citra yang selalu cantik, senyuman Citra terlihat, tapi menatap ke arah lain.


Altha melihat ke arah mobil seseorang, Alt terkejut melihat Roby menjemput Citra pulang bekerja.


"Citra." Altha melangkah mendekati Roby.


Tatapan mata Roby dan Altha bertemu, Roby tanpa ragu langsung menyapa Alt yang dia ketahui seorang polisi.


"Kenapa kamu di sini?"


"Aku ingin bicara sebentar."


"Sorry Altha, aku sibuk." Citra melangkah masuk ke dalam mobil."


"Siapa dia Citra? lelaki yang membuat kamu mengkhianati pernikahan kita." Altha bicara pelan, tapi penuh penekanan.

__ADS_1


"Penikahan?" Roby kebingungan melihat keduanya.


***


__ADS_2