ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ORANG GILA


__ADS_3

Seluruh persiapan pernikahan, diurus oleh Mommy dan Mam Jes. Dibantu oleh Aliya yang mengetahui banyak hal soal wedding organizer.


Diana dan Gemal masih menjalani aktivitas sehari-hari untuk bekerja, meskipun sibuk keduanya masih menyempatkan waktu untuk bertemu.


Suara langkah kaki Diana berlarian keluar ruangan, Gemal mengirimkan pesan sudah menunggu di lobi.


"Diana tunggu." Albar menarik tangan Diana, meminta sedikit waktu untuk bicara.


"Kita bicara nanti saja, aku buru-buru." Di menepis tangan, melangkah cepat.


Albar berlari menahan Diana untuk memberikannya sedikit waktu untuk bicara, sikap Di yang mengabaikannya tidak menunjukkan sikap profesional sebagai rekan kerja.


"Sialan! kamu tahu jika ini sudah bukan jam kerja. Jika kamu ingin membahas pekerjaan, temuin di ruangan meeting. Minggir!" Suara Diana teriak terdengar, mendorong Albar menjauh.


Gemal melihat dari dalam mobilnya, langsung melangkah keluar untuk menemui Diana yang masih berdebat dengan seseorang.


"Sayang, ada apa? siapa dia?" Gemal merangkul Diana, tersenyum menatap Albar.


"Pria gila, dia tidak waras."


"Siapa Diana kamu?"


"Oh ... perkenalkan saya Gemal, calon suaminya Diana." Tangan Gemal terulur, tapi tidak mendapatkan balasan.


Albar tersenyum, meminta Gemal berhati-hati karena Diana bukan wanita baik-baik. Dia sudah memiliki tunangan, tapi masih mendekati pria lain.


"Kamu harus tahu, jika perempuan ini sudah menggoda saya dan ingin menginap di hotel. Bahkan setiap hari dia masuk ke ruangan dokter Calvin, berlama-lama di sana."


Gemal melepaskan rangkulannya, menatap Alber yang menjelekkan Diana secara langsung dihadapannya.


"Kamu sudah gila Albar, kapan aku mendekati kamu?" Diana ingin sekali merobek mulut kotor Alber.


"Jangan munafik Dokter Di, saya tahu hubungan gelap anda dengan Dokter Calvin." Tatapan sinis Alber terlihat menatap wajah Gemal yang terlihat marah.


Albar langsung meninggalkan rumah sakit, melihat sekilas Diana yang meyakinkan Gemal jika semuanya tidak benar.


"Gem, aku berani bersumpah. Aku dan Papa hanya membicarakan pekerjaan." Di menggenggam tangan Gemal, memintanya berpikir mengunakan logika.


Gemal langsung menepis tangan Diana, berjalan tanpa mengatakan apapun. Di mengerutkan keningnya melihat sikap Gemal.


"Woy, jangan kekanakan Gemal!" Di langsung mengejar, masuk mobil melihat Gemal yang wajahnya menyeramkan jika sedang marah.


Mobil langsung melaju, rencana makan malam batal. Gemal tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Kamu kekanakan Gem, aku tidak menyukainya. Sikap diam seakan aku salah, seharusnya mempercayai aku bukan orang lain. Pernikahan apa yang kita jalanin, jika tidak ada kepercayaan." Di menarik baju Gemal untuk meresponnya.

__ADS_1


"Diamlah Di, aku tidak ingin bertengkar."


Pukulan di dasbor mobil terdengar, Diana binggung kesalahannya di mana? tidak ingin bertengkar tetapi dirinya diabaikan.


Pertengkaran pertama yang membuat Diana kecewa, Gemal lebih mempercayai Albar yang tidak dia kenal sikapnya.


Mempercayai Alber sama saja Gemal menyudutkan dirinya, dan menuduhnya wanita malam yang bersedia dibawa sembarangan lelaki.


"Gem, apa aku seperti wanita murahan di mata kamu?" Di meminta mobil berhenti.


"Sebaiknya kita pulang, aku tidak ingin berdebat." Gemal melepaskan tangan Diana.


"Gemal, aku tidak bisa bersama kamu jika masalah ini tidak kita bicarakan sekarang." Di menarik tangan Gemal.


Mobil langsung diberhentikan di pinggir jalan, Gemal menatap Diana tajam ingin mendengar penjelasan.


Diana tidak perduli Gemal percaya atau tidak, tapi dia bukan wanita gampangan yang bisa keluar dengan sembarang lelaki.


"Kamu seharusnya lebih percaya aku Gem."


"Kenapa aku harus mempercayai kamu? selama ini tidak ada cerita soal pria sialan tadi. Kamu bertengkar dengan dia, karena secara tiba-tiba aku datang." Gemal menatap sinis Diana yang mengerutkan keningnya.


"Kamu gila ya? bisa-bisanya menuduh tanpa bukti. Jijik banget aku sama kamu Gem, benar-benar kecewa." Di langsung ingin keluar mobil, tapi Gemal menahan tangannya.


"Pertama, ini bukan sesuatu yang penting untuk diceritakan, karena bersangkutan dengan pekerjaan dan yang kedua, aku malu Gem membicarakan Papa kamu. Sekarang kamu sedang menuduh aku berselingkuh." Tangan Gemal langsung ditepis kuat oleh Diana.


Gemal langsung menjalankan mobilnya, dia ingin mendengar langsung dari Calvin. Hal apa yang dibicarakan sehingga selalu bertemu.


Tangan Di memijit pelipisnya, langsung melepaskan cincin dari jarinya. Meletakkan ke sembarang tempat, mengikuti apapun yang Gemal inginkan.


Diana sudah sangat kecewa, lelaki yang dia pikir dewasa, mandiri dan bisa saling percaya. Hanya karena ucapan orang yang bahkan tidak dikenal membuat hubungan renggang.


"Ternyata aku salah mengenal kamu Gem? sekarang terbongkar sudah buruknya sikap kamu dalam menyingkapi masalah." Air mata Diana menetes, tidak ingin melanjutkan hubungan mereka.


Tuduhan Gemal meksipun tidak secara langsung diucapkan, sudah menghacurkan hatinya dan membuat kecewa sangat besar.


"Kamu sibuk bekerja untuk apa Di?"


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, terserah kamu. Aku tidak ingin membahas apapun."


"Apa maksudnya kamu? ingin mengundur pernikahan?"


Senyuman Diana terlihat, menggelengkan kepalanya. Di bukan hanya menunda dan mengundur pernikahan.


Diana tidak ingin meneruskan rencana pernikahan mereka, dan sikap tidak percaya Gemal menjadi akhir hubungan mereka.

__ADS_1


Di tidak ingin menyesal di tengah jalan pernikahan, lebih baik sakit di awal daripada sakitnya setelah tertawa, lalu banjir air mata.


"Kamu ingin mengakhiri hubungan kita, setelah ketahuan. Lucu." Gemal tertawa kecil.


"Iya, aku sudah ketahuan. Lebih baik .kita akhiri hubungan."


"Ini semua gara-gara Calvin!"


"Gemal, dia Papa kamu. Silahkan menuduh dan menganggap buruk aku, tapi jangan kamu sakiti perasaan orang tua kamu."


"Bagus Diana, bela saja terus. Kamu luar biasa." Gemal menghentikan mobilnya di depan rumahnya.


Suara Gemal memanggil nama Calvin terdengar di seluruh ruangan, Diana langsung mengejar meminta Gemal berhenti.


Keluarga sedang berkumpul di ruang tamu, melihat hasil desain gaun pengantin yang hampir selesai.


"Sayang, di mana Diana? Mam Jes menatap putranya.


"Di mana Calvin?"


Anggun, Jessi dan Aliya kaget, Gemal berteriak memanggil nama membuat semuanya binggung dan takut.


Diana menarik tangan Gemal, memintanya untuk berhenti. Memalukan membahas sesuatu yang tidak benar.


Calvin keluar dari ruangan kerjanya bersama Dimas dan Altha, melangkah mendekati Gemal yang terlihat emosi.


"Kenapa Gemal? kerasukan jin preman." Dimas geleng-geleng melihatnya.


"Calvin, ada hubungan apa kalian?" Gemal menatap Papanya yang sudah duduk.


"Sayang, tidak sopan memanggil nama nak. Jika ada masalah, bicarakan baik-baik jangan emosi." Mam Jes menatap Diana yang meneteskan air matanya.


"Calvin, kamu sudah tua tidak tahu malu. Seharusnya ...." Gemal memegang kepalanya yang dilempar.


"Sudah gila kamu Gem? meksipun aku sudah tua, jauh lebih tampan dari kamu." Suara Calvin meninggi meminta Gemal menyingkir.


Diana menarik tangan Gemal, memintanya untuk keluar dan menyelesaikan masalah berdua.


"Ujian pernikahan seperti ini Diana, munculnya orang-orang gila." Calvin geleng-geleng melihat putranya yang jahil.


***


follow Ig Vhiaazaira


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2